NovelToon NovelToon
Ibu Susu Untuk Reina

Ibu Susu Untuk Reina

Status: tamat
Genre:CEO / Single Mom / Janda / Hamil di luar nikah / Romansa / Ibu susu / Tamat
Popularitas:29.6k
Nilai: 5
Nama Author: Chika Ssi

Gendis baru saja melahirkan, tetapi bayinya tak kunjung diberikan usai lelahnya mempertaruhkan nyawa. Jangankan melihat wajahnya, bahkan dia tidak tahu jenis kelamin bayi yang sudah dilahirkan. Tim medis justru mengatakan bahwa bayinya tidak selamat.

Di tengah rasa frustrasinya, Gendis kembali bertemu dengan Hiro. Seorang kolega bisnis di masa lalu. Dia meminta bantuan Gendis untuk menjadi ibu susu putrinya.

Awalnya Gendis menolak, tetapi naluri seorang ibu mendorongnya untuk menyusui Reina, putri Hiro. Berawal dari menyusui, mulai timbul rasa nyaman dan bergantung pada kehadiran Hiro. Akankah rasa cinta itu terus berkembang, ataukah harus berganti kecewa karena rahasia Hiro yang terungkap seiring berjalannya waktu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chika Ssi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8. Lepas Hubungan

Bibir Gendis terkatup rapat. Dia tidak sanggup mengungkapkan alasannya berubah. Dulu dia begitu menyukai kopi susu dan pancake untuk sarapan.

Kini Gendis harus mengesampingkan keinginan dan kesukaannya demi Reina. Bayi mungil yang bahkan tidak ada hubungan darah dengannya. Kini dia juga merasa akan segera dijauhi oleh Ayaka, sahabat yang datang menolong ketika Gendis ada di titik terendah.

"Ndis, jawab!" Nada bicara Ayaka mulai meninggi.

Gendis sempat tersentak. Mata perempuan tersebut berkaca-kaca ketika menatap sang sahabat. Dadanya sekarang terasa seperti diimpit dengan berton-ton batu.

"Aku ...." Gendis terdiam sejenak, menarik napas dalam, dan mengembuskannya kasar.

"Aku akan menjadi ibu susu Reina, Aya. Aku hanya ingin hidup dan dekat dengannya. Sekarang alasanku tetap bertahan hidup lebih kuat dengan melihat Reina." Suara Gendis bergetar dan matanya semakin berkabut.

"Bukankah aku sudah bilang untuk menjauhi keluarga itu? Kenapa kamu nekat? Mereka hanya akan memberikan luka kepadamu." Suara Ayaka terdengar begitu dingin layaknya es kutub utara yang sulit mencair.

"Kenapa aku harus menjauhi mereka? Katakan!" Suara Gendis berubah menjadi lebih tinggi dengan dada yang kini naik turun.

"Jika kamu percaya padaku, maka jauhi saja. Jangan pernah tanya apa alasannya. Itu sangat menyakitiku, Ndis." Ayaka menyambar tasnya dari atas meja dan berjalan cepat menuju pintu.

"Jika kamu benar-benar peduli, maka ungkapkan alasannya! Itu akan lebih masuk akal, Aya! Bukannya hanya diam ketika aku menanyakan alasan kenapa harus menjauhi mereka!" Air mata Gendis tumpah karena rasa sesak yang terus menghantam dada.

Ayaka tetap melangkah menjauh. Dia menggenggam tuas pintu dan berdiam sejenak. Perlahan, perempuan itu menoleh.

Tatapan Ayaka datar, tetapi seperti menyimpan rasa sakit. Bibirnya sedikit berkedut ketika mengulaskan senyum yang terasa kaku. Perlahan perempuan tersebut membuka bibirnya.

"Aku sudah memperingatkanmu, Ndis. Sebenarnya aku kecewa karena kamu nggak mau dengerin aku. Tapi, ketika kamu merasakan apa yang kurasakan suatu hari nanti, kamu akan tahu alasan kenapa aku mau kamu menjauhi mereka." Ayaka kembali menatap pintu di hadapannya.

"Jika saat itu tiba, datang dan minta maaf kepadaku. Aku nggak akan ke mana-mana."

Satu detik, dua detik, tiga detik, perempuan itu diam-diam sedang menunggu perubahan keputusan Gendis. Namun, yang dia dapatkan hanya keheningan yang menjerat. Ayaka akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Gendis.

Setiap langkah yang diayunkan oleh Ayaka, sebanyak itu juga terlontar doa dalam hati. Dia tidak mau Gendis bernasib sama dengannya. Dia mulai masuk ke elevator, tetap menatap pintu apartemen Gendis hingga pintu besi di depannya tertutup rapat.

Sementara itu, Gendis kembali terjerat oleh sunyi. Kini dia benar-benar tak memiliki siapa pun. Ada sedikit rasa bersalah terhadap Ayaka.

"Maaf, Aya ... aku hanya ingin benar-benar merasa hidup setelah kehilangan bayiku."

***

Hari-hari berikutnya, tubuh Gendis mulai bisa menyesuaikan. Lidahnya kadang merindukan rasa yang biasa dicecap, tetapi setiap kali keinginan muncul, dia mengingat tatapan Reina. Itu cukup membuatnya bertahan.

Empat minggu berjalan seperti maraton. Pemeriksaan rutin, diet ketat, hingga tubuh Gendis terbiasa. Wajahnya sedikit pucat, tetapi matanya justru lebih tenang.

Hingga akhirnya, hari itu tiba. Pagi terasa asing bagi Gendis ketika sebuah mobil hitam berhenti di depan apartemennya. Ren turun dari kursi penumpang, mengenakan setelan jas. Rambut hitamnya tertata rapi, mata tajamnya menyapu lingkungan sekitar dengan cepat.

“Naiklah, Bu. Saya diminta Pak Hiro untuk menjemput Anda,” kata Ren singkat.

Gendis mengangguk, memasukkan tas kecil ke bagasi. Perjalanan terasa panjang meski kota hanya dipenuhi hiruk pikuk seperti biasa. Tak banyak kata terucap di antara mereka, hanya terdengar suara mesin mobil dan deru angin yang menyusup lewat kaca.

Sesampainya di kediaman Hiro, gerbang besar terbuka perlahan, memperlihatkan halaman luas dengan pepohonan yang tertata. Rumah itu tampak megah, tetapi bagi Gendis, bangunan itu seperti benteng tinggi yang akan menelan kebebasannya.

Ren menoleh sekilas, menatap Gendis dengan tatapan yang sulit dibaca. Tak ada senyuman pada bibirnya. Tatapannya pun datar sepeeti biasa.

“Semoga Anda nyaman tinggal di sini,” kata Ren dengan suara lirih, hampir seperti bisikan.

Lelaki tersebut turun lebih dulu, kemudian membukakan pintu untuk Gendis. Gendis keluar dari sana dan langsung diantar menemui Hiro. Begitu pintu terbuka ruangan bernuansa merah muda dengan hiasan ala-ala putri dalam dongeng menyapa penglihatannya.

"Pak, Bu Gendis sudah datang." Suara Ren memecah keheningan ruangan itu.

Hiro menoleh, lalu tersenyum tipis kepada Gendis. Dia mengangguk pelan dan meminta Gendis untuk duduk di dekatnya. Ren keluar dari kamar Reina, barulah perempuan tersebut melangkah mendekati Hiro.

Namun, alih-alih duduk di depan Hiro, Gendis memilih untuk mendekati kotak bayi tempat Reina tertidur pulas. Perempuan tersebut menyentuh pipinya dengan lembut, sehingga membuat bayi tersebut menggeliat. Pipi Reina menggembung sehingga membuat kulitnya berubah kemerahan.

"Lucunya," gumam Gendis sambil tersenyum tipis.

"Ayo kita bicarakan lagi soal kontrak." Suara Hiro terdengar begitu tenang dan dingin.

"Aku sudah menandatanganinya, bukan? Jadi tidak perlu dibahas. Aku sudah menyetujui semua meski mungkin terasa menyesakkan. Bagiku sekarang, Reina adalah duniaku. Tak peduli dengan kehidupanku yang akan tak nyaman, selama Reina aman dan nyaman dalam dekapanku ... semuanya tak akan menjadi masalah." Gendis terus menatap Reina tanpa mau menoleh sedikit pun kepada Hiro.

"Kalau begitu istirahatlah. Kamu akan tinggal di sisi Reina. Aku minta bantuannya." Hiro beranjak dari kursi.

Lelaki tersebut berjalan menuju pintu yang tak benar-benar tertutup rapat. Ketika memegang tuas pintu, dia berhenti sejenak. Hiro menoleh ke arah Gendis dan menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.

Sore harinya, Reina dibawa keluar dari kamar bayi. Wajah bayi tersebut cerah, matanya berbinar, seolah mengerti sesuatu yang istimewa akan terjadi. Gendis duduk di sofa, jantungnya berdegup lebih kencang daripada biasa.

Hiro menyerahkan Reina ke pelukannya. “Cobalah. Dia sudah siap.”

Jemari Gendis bergetar saat menyentuh kulit halus itu. Wajah Reina menempel di dada, mencari-cari dengan gerakan kecil. Air mata hampir jatuh di sudut mata Gendis, tetapi dia menahannya.

Wajah Hiro mendadak berubah kemerahan ketika Gendis mulai membuka kancing kemejanya. Lelaki itu berdeham, kemudian membuang pandangan. Pengasuh Reina tersenyum simpul melihat tingkah sang majikan.

Baru saja Gendis hendak menyusui Reina untuk pertama kali, tiba-tiba terdengar suara ribut di luar rumah. Suara langkah kaki cepat, bentakan samar, dan dentuman pintu pagar yang keras membuat suasana hening buyar seketika.

Hiro segera menoleh ke arah jendela, rahangnya menegang. “Tetap di sini,” katanya singkat, lalu bangkit.

Pelukan Gendis pada Reina semakin erat. Bayi itu merengek kecil, terganggu oleh kegaduhan yang tiba-tiba muncul. Pada detik itu, Gendis sadar apa pun yang sedang menunggu di luar, akan menguji bukan hanya keberaniannya, tetapi juga keputusan besar yang baru saja dia ambil.

1
Ana Akhwat
Sebenarnya ceritanya bagus,hanya karena terlalu banyak dramanya akhirnya saya lompati langsung baca di akhir bab🤭
Nani heri Upitarini
sat set dong....bergerak dlm senyap,...
Ika Yanti Unyil
setelah lewati berbagai hal.akhirnya hiro bisa bersatu dengan gendis
aksara bener2 superhero untuk mereka
terima kasih bacaannya thor
terus semangat berkarya thor ❤️❤️❤️❤️
Surati
bagus ceritanya 👍🙏🏻 bikin mewek. salut sama penantian cinta dan semangatnya Hiro.🥰🥰 semangat Thor 💪🙏🏻
Debora Dwi
mungkin Reina anak kk Hiro, suami Yumi? 🤔
Esther
Happy ending.
Akhirnya sah Hiro dan Gendis
Meski ada hati yang terluka dibalik kebahagiaan mereka.
Semangat Aksara
tiara
akhirnya berakhir bahagia kehidupan Hiro dan Gendis.terima kasih karyanya thor semangat berkarya sehat selalu
Bisa Pesan Cover di Saya: Makasiiih kakkk, sudah bersedia baca karyaku yang jauh dari kata sempurna ini sampai akhir. Baca juga karya baruku yaaa
total 1 replies
ovi eliani
Alhamdulillah akhirnya syah juga , cinta sejati diantar mereka sdh terlaksana melalui akad nikah yg sakral semoga bahagia , menjadi keluarga SAMAWA Hiro dan gendis BTW jgn Lupa Buatin adek buat Reina ya thor , semangat thor di tunggu cerita yg lainnya, klo bisa squel nya cerita hiro dan gendis menceritakan hiro dan gendis anaknya aksara , tetima kasih author🙏
ovi eliani: oke siap Insya Allah🙏
total 2 replies
ovi eliani
Alhamdulillah akhirnya hiro sadar semoga semua berakhir dengan bahagia , baik hiro gendis dan reina bersatu sampai kakek nenek . terima kasih ini cerita yg kunantikan istimewa . vote dan bunga untuk mu thor semangat thor selalu berkarya yg terbaik 🙏
Esther
Hiro terselamatkan demi Gendis dan Reina.
Alyanceyoumee: Assalamualaikum. Thor permisi, ikut promo ya.🙏

Hai Kak, Baca juga di novel ku yang berjudul "TABIR SEORANG ISTRI"_on going, atau "PARTING SMILE"_The End, Biar lebih mudah boleh langsung klik profil ku ya, Terimakasih 🙏
total 1 replies
ovi eliani
terkadang aku baca cerita author ada harapan hiro sembuh, terkadang harapan palsu pliss thor jgn membuat cerita ini seolah ingin panjang dan menyakit kan banyak orang, berilah secerca harapan buat mereka gendis , jiro dan reina , terutam yg baca. jgn terlaku berlarut dalam cerita menyedihkan hinga membuat pembaca kadang menanti kadang tidak diaini pwrlu ketegasan. maaf ini hanya komentar thor semangat thor🙏
ovi eliani: saya suka gaya elo👍
total 2 replies
Esther
😭😭 nangis lagi bacanya
Esther
semoga hasil pemeriksaan lanjutannya baik...semangat Hiro untuk sehat
ovi eliani
ngak busa berkata apa semua kata sefihb, bahagia semua menjadi satu, semoga hasil ya baik hiro bisa sehat, semua karena kekuatan cinta meteka bertiga saling yayangi satu sama lain terima kasih thor ceritanya keren banget perjuangan yg tak mengenal rasa lelah dan cinta yg sesunggunya.
Esther
ceritanya bagus 👍👍
Esther
semoga Hiro mendapatkan kesembuhan dan mendampingi Reina sampai dewasa.
Aksara....pengorbananmu untuk Gendis dan Hiro begitu luar biasa
ovi eliani
Subahanallah, ya Allah semoga berhalan lancar, Hiro bisa sembuh dari sakitnya karena waki nikah reina adalah hiro biarkan mereka menjadi keluarga kecil bahagia, di mana hiro fendis dan reina bersatu. ubtyk aksara tetima kasih cari wanita yg lain untuk mu. buat author keren keren👍
tiara
huhuhu bingung kasian Hiro juga Aksara,mereka orang-orang yang baik tapi menghadapi situasi yang sulit
Esther
masih berapa part nih episode sedihnya😭.
Hiro-Gendis-Aksara......kemana hati akan berlabuh
tiara
huhuhu sediih jadinya kan, apakah Gendis menikah dengan Aksara ya, karea Hiro sepertinya kritis
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!