Ali, seorang pemuda berusia 23 tahun, terjebak dalam kebuntuan hidup—menganggur dan bermimpi membangun bisnis, tetapi tak memiliki modal. Namun, segalanya berubah ketika tanpa sengaja ia membangkitkan kekuatan untuk menjelajahi dunia paralel. Di sana, ia menemukan teknologi canggih, harta tanpa batas, serta buku-buku seni bela diri yang dapat ia bawa kembali ke dunia nyata. Dengan kecerdasan dan tekadnya, Ali memanfaatkan semua yang ia peroleh untuk menaklukkan dunia. Uang, teknologi, dan keterampilan bertarung kini ada di tangannya. Inilah kisah seorang pemuda yang melangkah dari nol menuju kejayaan—mengubah takdir dan menapaki jalan menuju puncak dunia!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyligh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8 BERKENALAN
Malam di Tengah Jalanan Mencekam
Suasana di jalan yang gelap itu begitu mencekam. Tiga mayat tergeletak di aspal, darah mereka mulai mengering di bawah cahaya lampu jalan yang temaram. Udara dingin malam menusuk, membawa keheningan yang menyeramkan.
Alana berdiri kaku di samping mobilnya, matanya membelalak memandangi tubuh-tubuh yang tak lagi bernyawa itu.
Dengan suara bergetar, ia bertanya, "Ba-bagaimana dengan mereka? Kenapa… kenapa mereka tidak bergerak?"
Ali, yang masih berlumuran darah, melirik sekilas ke arah tiga begal yang terkapar di tanah.
"Tidak usah takut," katanya datar. "Mereka sudah mati. Orang-orang seperti itu tidak layak diberi belas kasihan."
Alana menelan ludah. Meski hatinya lega karena selamat, rasa ngeri tetap menggumpal di dadanya.
"Tapi… gimana kalau polisi tahu kamu yang membunuh mereka?" tanyanya ragu.
Ali hanya mengangkat bahu, ekspresinya tetap tenang.
"Kalau polisi tahu? Ya, saya tinggal bilang kalau saya hanya membela diri. Lagipula, lebih baik mereka yang mati daripada saya."
Ia menghela napas pelan, lalu menatap Alana.
"Ayo pergi. Ini sudah larut malam."
Alana masih tertegun, tetapi akhirnya mengangguk. Ia menyalakan mesin mobil, meninggalkan lokasi dengan mayat-mayat berserakan seperti korban pembantaian.
Perjalanan di Malam Hari
Suasana di dalam mobil hening. Alana masih sibuk mencerna kejadian tadi, sementara Ali duduk santai di kursi penumpang, menatap keluar jendela.
Setelah beberapa menit, Alana akhirnya memberanikan diri untuk berbicara.
"Ma… maaf, Kak. Kita belum kenalan. Nama Kakak siapa?" tanyanya dengan suara sedikit grogi.
Ali menoleh sebentar, lalu tersenyum tipis.
"Tidak sopan menanyakan nama seseorang kalau kamu belum memperkenalkan diri dulu," katanya santai.
Alana tersipu. "Oh, maaf! Namaku Alana. Kalau Kakak?"
Ali terkekeh, mencoba mencairkan suasana. "Santai aja, gak usah gugup gitu. Nama saya Alinasr. Panggil aja Ali atau Al."
Alana mengangguk pelan. Suasana di antara mereka mulai sedikit lebih ringan.
"Oh iya, Kak. Rumah Kakak di mana? Dari tadi kita jalan terus, tapi aku gak tahu tujuannya," tanya Alana heran.
Ali tertawa kecil sambil menggaruk kepalanya. "Oh, iya! Hampir lupa. Saya nginep di Hotel The Westin Jakarta."
Alana melirik sekilas. "Oh, Kakak tinggal di hotel? Kenapa gak di rumah sendiri? Sebelumnya Kakak tinggal di mana?"
"Saya dari Makassar, Sulawesi Selatan. Baru sampai Jakarta tadi siang. Kamu sendiri?"
"Aku tinggal di Bintaro," jawab Alana.
Percakapan mereka berlanjut dengan ringan, membahas hal-hal kecil sepanjang perjalanan.
Tiba di Hotel
Tak lama kemudian, mobil Alana berhenti di depan Hotel The Westin Jakarta.
Ali melepas sabuk pengamannya dan berbalik ke arah Alana.
"Besok kita keluar makan yuk, aku traktir sebagai tanda terima kasih karena Kakak sudah nolongin aku," kata Alana dengan senyum tulus.
Ali mengangguk. "Boleh, jam berapa?"
"Nanti aku kabari. Udah ada kontak Kakak di HP-ku, kan? Yaudah, sampai jumpa besok!" kata Alana, masih tersenyum.
Ali tersenyum tipis dan keluar dari mobil. Setelah memastikan Alana pergi, ia berjalan masuk ke dalam hotel.
Di meja resepsionis, seorang pegawai hotel langsung memperhatikan baju Ali yang berlumuran darah.
"Pak, Anda tidak apa-apa? Kenapa baju Anda ada darahnya?" tanya resepsionis itu dengan ekspresi khawatir.
Ali tetap berjalan santai dan menjawab ringan, "Gak apa-apa, Kak. Cuma tadi jatuh dari motor."
Resepsionis tampak ragu, tetapi tidak bertanya lebih lanjut. Ali melangkah ke lift dan menuju kamarnya.
Malam yang Tenang
Setelah sampai di kamar, Ali segera melepas bajunya dan masuk ke kamar mandi. Air dingin mengalir membasuh darah yang menempel di kulitnya.
Saat ia selesai dan keluar dari kamar mandi, tiba-tiba terdengar ketukan di pintu.
"Tok, tok, tok."
Ali berjalan mendekat dan membuka pintu. Di depan pintu berdiri resepsionis tadi, membawa kotak P3K.
"Pak, ini untuk mengobati luka Anda," kata resepsionis dengan ramah.
Ali mengernyit. "Oh, terima kasih. Tapi kenapa repot-repot sih, Kak?"
"Di hotel ini, keselamatan dan kenyamanan tamu adalah prioritas kami," jawab resepsionis dengan senyum sopan.
Ali menerima kotak P3K itu dan mengangguk. "Terima kasih, ya."
Setelah resepsionis pergi, Ali menutup pintu, meletakkan kotak itu di meja, dan duduk di tempat tidur.
Matanya menatap langit-langit, pikirannya melayang.
"Bisnis apa ya yang bagus untuk saya bangun?" gumamnya.
Namun, rasa lelah mulai menguasai tubuhnya.
"Ah, sudahlah. Besok saja kupikirkan. Lebih baik tidur dulu, capek banget!"
Ia menguap, lalu mematikan lampu.
Dalam hitungan menit, Ali sudah terlelap, membiarkan malam menutup lembaran kisah yang baru saja ia lalui.
...Kalau sudah dibaca jangan lupa untuk like,komen dan berikan dukungan biar authornya rajin upload gaiss....
BELEUNG BELENG....