Larisa Kurniawati adalah gadis belia yang mengandung karena kecelakaan. Sejak kecil ia memiliki kehidupan yang malang karena sering disia-siakan oleh ayahnya. Karena hamil di luar nikah, ia di tuduh menjual diri dan diusir dari rumah.
Namun pada akhirnya, ia dapat melahirkan anak jenius yang berhasil membawanya pada kehidupan yang mapan. Ia merupakan anak dengan kelebihan yang luar biasa. Sehingga, Orang-orang banyak yang mengincarnya untuk di manfaatkan. Akankah kecerdikan anak genius ini mampu melindungi sang ibunda? Bagaimana kelanjutan kisah antara ibunda dengan ayah kandungnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rara_Ifani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Batal Menikah
Malam itu Larisa merasa bimbang, apakah ia harus meminta restu terlebih dahulu pada ayahnya atau tidak. Larisa masih takut bertemu ayahnya lantaran ia sudah diusir dari kontrakan. Larisa pun meminta pendapat Anton tentang hal itu.
"Anton," panggil Larisa pada calon suaminya.
"Iya Larisa..?"
"Kamu ingin mengatakan sesuatu padaku..?" tanya Anton.
"Sebenarnya aku ingin meminta restu ayahku jika besok kita hendak menikah. Tapi aku takut," ucap Larisa.
"Beritahu saja Larisa, bagaimanapun ayahmu sekarang adalah orang tuamu satu - satunya bukan..? dan ayahmu juga yang akan jadi wali nikah kamu nanti," ucap Anton.
"Baiklah.. aku akan mengirimkan pesan padanya. Aku belum siap datang menemuinya malam ini," ucap Larisa.
"Tidak apa - apa Larisa, yang penting kamu sudah memberi kabar pada ayahmu untuk meminta restu," ucap Anton.
"Aku antar kamu pulang ya sekarang," ucap Anton.
"Iya Anton," ucap Larisa.
"Kamu istirahatlah dulu, besok pagi kita akan melangsungkan akad pukul 10 Larisa," ucap Anton sambil mengelus rambut Larisa.
"Siap calon imamku," jawab Larisa sambil tersenyum.
Anton kemudian langsung berpamitan pada pujaannya.
"Larisa masuklah dulu... sampai jumpa besok," ucap Anton tersenyum bahagia.
"Baiklah Anton aku masuk dulu ya.. Assalamu'alaikum," ucap Larisa.
"Wa'alaikumussalam," ucap Anton.
Larisa kemudian masuk rumah dan mempersiapkan busana yang cocok untuk akad nikahnya dengan Anton.
Ia memilih kebaya peninggalan ibunya dulu yang masih bagus untuk di pakaiannya.
"Ibu.. aku dan Anton akan menikah besok."
"Do'akan aku bahagia dengan Anton ya bu."
"Semoga aku dan Anton jadi keluarga kecil yang sakinah, mawaddah dan warohmah" ucap Larisa dalam hati.
Keesokan harinya, pukul 06.00 pagi Larisa memberitahu pak Ahmad bahwa ia izin tidak masuk kerja untuk hari ini. Larisa menyampaikan maksudnya itu lewat pesannya via whatsapp.
"Assalamu'alaikum Pak Ahmad, saya izin libur kerja dulu pak kerena hari ini saya akan menikah."
Saya mohon do'a restunya pak, jika bapak berkenan hadir pada akad nikah saya.. nanti akan di langsungkan pukul 10 pagi pak di kediaman lama bapak yang saya tempati" isi chat Larisa via whatsapp.
"Wa'alaikumussalam nak Larisa, bapak usahakan akan datang nanti," ucap pak Ahmad.
Pak Ahmad langsung memberi tahu kabar itu pada Brian yang merupakan keponakan dari pak Ahmad sendiri.
"Halo Brian, bapak tadi mendapat kabar bahwa Larisa akan melangsungkan akad nikah hari ini pukul 10 pagi," ucap pak Ahmad.
"Apa pak Larisa menikah hari ini..?" tanya Brian terkejut.
"Iya nak, Larisa merencanakan pernikahan dadakan di rumah itu."
"Baik pak terimakasih infonya," ucap Brian.
"Aku akan mencegah pernikahan itu terjadi," ucap Brian dalam hati.
Brian sangat terkejut dan berencana menggagalkan pernikahan mereka. Brian merasa benar - benar gila karena Larisa dan ia tak ingin jika Larisa di miliki orang lain
Sejak malam hari Larisa memang tak bisa tidur karena persiapan akad yang mendadak. Larisa juga mencari berkas untuk syarat akad nikahnya nanti dengan Anton.
"Alhamdulillah, semua berkas sudah lengkap."
"Aku tinggal menyiapkan makanan dan minuman untuk orang-orang yang datang kemari." ucap Larisa dalam hati.
Selama ini Larisa memang terbiasa sendiri, ia tak ingin merepotkan atau terlalu bergantung pada orang lain selagi dia bisa melakukannya sendiri.
Setelah memberi tahu pak Ahmad, Larisa mengetuk pintu tetangga kanan kirinya untuk mengundang mereka pada saat akad nikah berlangsung.
"Permisi pak Jepri, saya akan menikah nanti bapak dan ibu Jepri datang ya jadi saksi saya" ucap Larisa.
"Baiklah nak.. kami akan jadi saksi kebetulan kami juga libur kerja hari ini" ucap mereka.
"Terimakasih bapak dan ibu Jepri," ucap Larisa.
Kemudian Larisa mengetuk pintu tetangga lainnya rupanya sudah berangkat kerja, banyak orang yang pergi pagi-pagi untuk mengais rezeki.
Larisa pun kembali kerumahnya untuk berhias, dia memoleskan make up natural untuk acara akadnya nanti.
Namun, tiba-tiba Larisa merasa pusing saat merias diri.
Badan Larisa terasa lemas dan tak bertenaga.
"Aahhh... kenapa kepalaku terasa pusing sekali,"
Larisa berdiri dari meja rias untuk duduk di atas ranjang. Pandangan Larisa juga tampak kabur dan tiba-tiba bruuuukkkk... dia pingsan di samping ranjang kamarnya.
Saat itu Bu Jepri baru saja datang ke rumah Larisa dan memanggilnya berkali-kali tapi tak ada jawaban.
"Assalamu'alaikum.... assalamu'alaikum nak Larisa. Nak Larisa, kamu ada di dalam kan..?" tanya ibu Jepri.
Karena tak mendengar jawaban, bu Jepri langsung masuk dan mengecek keadaan di dalam.
"Semua ruangan tampak rapi tapi di mana Larisa..?" batin bu Jepri.
Seketika itu, bu Jepri terkejut melihat Larisa yang ambruk di samping ranjang kamarnya.
Bu jepri teriak minta tolong untuk mengangkat tubuh Larisa, kebetulan saat itu mobil pak Ahmad baru saja datang.
"Pak tolong pak, Larisa pingsan," ucap bu Jepri.
"Apa, Larisa pingsan...?" ucap pak Ahmad.
"Ayo pak kita bawa ke rumah sakit sekarang," ucap bu Jepri.
Mereka berdua langsung membawa Larisa ke rumah sakit umum terdekat.
Pak Ahmad juga menghubungi Brian dan memberitahu tentang kondisi Larisa sekarang.
"Halo nak Brian... Larisa baru saja pingsan," ucap pak Ahmad.
"Apa Larisa kenapa pak...?" tanya Brian.
"Entahlah, dokter masih memeriksanya sekarang," jawab pak Ahmad
"Dia di mana pak sekarang..?" tanya Brian lagi.
"Saya membawanya ke RS Dr. Hasan Sadikin, Jl. Pasteur No. 38 Kota Bandung," ucap pak Ahmat.
"Tolong selamatkan dia pak... pindahkan dia ke ruang perawatan terbaik. Soal biaya biar saya yang tanggung, ucap Brian.
"Iya nak Brian," ucap pak Ahmad.
"Astaga Larisa, kamu benar-benar membuatku panik, hampir saja aku menyuruh orangku untuk menculikmu," ucap Brian.
Masih pagi Brian sudah di buat panik dengan kabar nikah dadakan dan sekarang ia mendengar Larisa tak sadarkan diri di rumah sakit.
"Ohhh Larisa.. kamu benar-benar membuatku gila," ucap Brian.
Sementara itu, Anton sudah tiba di tempat tinggal Larisa. Anton datang bersama seorang penghulu yang akan menikahkan mereka. Ia mengetuk pintu berkali - kali tapi tak ada jawaban juga.
"Tok tok tok.... Assalamu'alaikum Larisa ini aku Anton," ucap Anton memanggil calonnya.
"Assalamu'alaikum Larisa," ucapnya lagi.
"Sepertinya rumah ini tak ada orang nak" ucap pak penghulu.
Anton kemudian menelpon Larisa dan di angkat oleh bu Jepri tetangganya.
Kriingg.. Kriingg... Kriingg.. handphone Larisa berdering.
"Iya, halo ini siapa ya..?"
"saya bu Jepri tetangga Larisa," ucap bu Jepri.
"Halo, saya Anton bu calon suaminya Larisa," ucap Anton.
"Larisa dimana bu sekarang...?" tanya Anton.
"Larisa di rumah sakit nak, dia pingsan tak sadarkan diri sekarang," ucap bu Jepri
"Di rumah sakit mana bu Jepri..?"
"RS Dr. Hasan Sadikin nak," ucap Bu Jepri.
"Baik bu terimakasih, saya akan ke sana sekarang," ucap Anton.
*Di rumah sakit*
Setelah dokter memeriksa kondisi Larisa, dokter mengatakan pada pak Ahmad tentang keadaan Larisa sekarang.
"Bagaimana dok kondisi karyawan saya..?" tanya pak Ahmad.
"Saat ini pasien sedang hamil muda pak, usia kandungannya sekitar dua bulan setengah. Dia mengalami hipoglikemia atau gula darah rendah yang membuat pasien merasa pusing dan pingsan. Pasien benar-benar harus menjaga asupan dan nutrisinya pak saat hamil," ucap pak dokter.
"Selain itu, pasien juga harus banyak istirahat sekarang," jelas pak dokter.
"Baik dok terimakasih," ucap pak Ahmad.
Pak Ahmad sedikit terkejut, "gadis sepolos itu bagaimana mungkin hamil di luar nikah" batin pak Ahmad.
Saat Anton datang, Larisa masih terbaring di rumah sakit dan belum juga sadarkan diri.