Tentang rasa dan tujuan yang tak pernah selaras dengan kenyataan, dimana keduanya bertolak belakang, lalu memilih tak searah. Adella ayu Prasetyo, gadis malang yang terombang-ambing antara keluarga dan cintanya.
Harapan untuk menemukan dalang dalam rencana pembunuhan sang Ayah kandas ketika hatinya berperan dalam pencarian tersebut serta sebagai ajang balas dendam untuk mendapatkan keadilan untuk sosok pahlawan dalam dunianya.
Begitu pula dengan Alaska Regantara, yang mencoba mencari seseorang yang membuat keluarganya hancur lebur, dan bersumpah akan menghancurkan keluarga itu seperti kehancurannya. Kisah ini seperti benang kusut yang sulit dilerai namun memiliki kemungkinan, kedua insan yang terlibat memiliki teka-teki yang sulit ditebak dan dipecahkan.
Akan kah dua orang yang memiliki tujuan balas dendam itu dapat memecahkan perihal hati mereka? Atau justru mereka terfokus untuk tujuan yang sama?
Inilah kisah terumit yang mereka buat sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachmadila Adelia Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Taruhan (revisi)
Suara gesekan antara sepatu dengan lantai terdengar nyaring di lapangan indoor yang sore ini ramai oleh anak-anak basket yang tengah berlatih, bahkan ada beberapa siswi yang tidak pulang dan sengaja duduk di tribun untuk menonton mereka latihan. salah satunya adalah Caca, alasannya sudah pasti karena sang kekasih yang tengah berlatih. Caca tidak sendiri, ia ditemani oleh Fira yang saat ini sibuk bermain ponsel, katanya malas melihat anak basket latihan.
Jelas Caca tahu kenapa, karena di tengah lapangan sana ada Alaska yang notabenenya mantan kekasih Fira. Caca tidak tahu dengan jelas kenapa mereka mengakhiri hubungan mereka saat itu, mungkin karena Fira yang tidak berniat menjalin hubungan, dan juga Alaska yang selalu menyamaratakan semua wanita.
jika keduanya sudah memiliki pandangan masing-masing dan itu berlawanan, jadilah berakhir.
"Ra, Alaska ganteng banget tau, ga nyesel Lo mutusin dia?"
Fira menoleh pada Caca, "Engga." singkat, jelas, dan padat. Tapi entah kenapa, Caca melihat dari wajah Fira jika gadis itu masih belum sepenuhnya move on.
satu tahun, bukanlah waktu yang singkat. ada berapa banyak kenangan yang mereka ukir di satu tahun tersebut, ada berapa banyak momen manis yang mereka jalani kala itu, melupakan bukan hal yang mudah.
"Yakin Lo udah move on? kayanya kemarin ada yang kesel kalo Alaska godain cewe lain, terus pas kemarin dia minta nomor Adella, gua rasa Lo beda deh," ujar Caca dengan nada menggoda.
ia melihat raut wajah Fira dengan sangat jelas saat Alaska meminta nomor telepon Adella, biasanya Fira lah yang heboh ketika sahabatnya punya gebetan, tapi kemarin? Fira justru banyak terdiam.
"Ngaco aja Lo, dah sana tuh Rafa udah selesai." tunjuk Fira.
Benar saja, latihan sudah selesai. Caca langsung berlari menghampiri Rafa dengan membawa satu botol air mineral dan handuk kecil untuk mengelap keringat yang membanjiri wajah laki-laki itu.
"Ga pulang?" tanya Rafa sembari mengelap keringatnya. Caca menggeleng, lalu membantu laki-laki itu dengan mengambil handuk yang berada di tangan Rafa.
"Adel udah pulang?" tanya Rafa.
"Udah, dia bilang ada urusan penting jadi dia pulang duluan."
"Ca, minum buat kita berdua ga ada? masa Rafa doang sih," ujar Alfi yang sedari tadi duduk di dekat mereka bersama dengan Alaska. Caca menjulurkan lidahnya untuk menanggapi pertanyaan Alfi.
"Eh bentar, kok Lo malah nanyain Adel sih ke pacar Lo? kok Caca juga marah Lo nanyain cewe lain?"
Caca dan Rafa saling pandang beberapa detik, Caca sudah tahu mengenai hubungan kekeluargaan antara Rafa dan Adella. mereka sudah berteman selama bertahun-tahun, sejak mereka kelas 1 SMP, jelas ia tahu segalanya. lagipun pada saat itu Adella belum setertutup sekarang, jadi sudah banyak yang Caca dan Fira tahu.
"Dia kan sahabat gua, sering sama gua, Rafa juga udah anggap dia sahabatnya juga."
"Tau, lebay Lo," kata Alaska sembari menoyor kepala Alfi hingga laki-laki itu berdecak sebal.
Alaska mengambil tasnya, kemudian berpamitan untuk pulang karena hari sudah semakin sore. Alfi yang tidak ingin menjadi nyamuk antara Rafa dan Caca, maka ia pun ikut pamit.
"Al, kemarin Adella nemenin Alika?" tanya Alfi, Alaska mengangguk, membenarkan pertanyaan Alfi. "Lo suka sama dia?" tanya Alfi lagi dengan ekspresi menggoda.
Alaska menghentikan langkahnya, ia menoyor kepala sahabatnya itu. "Dari mana Lo buat kesimpulan kaya gitu? kapan gua bilang kalo gua suka sama dia, kenal aja baru kemarin," kata Alaska.
"Gimana kalo kita taruhan?" tawar Alfi yang mendapati pelototan dari Alaska. "Kalo lo berhasil pacaran sama Adella selama dua bulan tanpa rasa, gua akan traktir Lo selama sebulan. Tapi kalo sampe Lo punya perasaan, berarti Lo yang harus traktir gua selama sebulan, gimana?" lanjut Alfi.
"Ga tertarik."
"Traktir apapun selama dua bulan deh, tanpa nolak."
"Ga minat."
"Traktir selama tiga bulan, apapun yang Lo minta," tawar Alfi.
"Lo pikir perasaan main-main?" tanya Alaska garang. bukannya takut, Alfi justru terkekeh hingga membuat Alaska bingung karena saat ini laki-laki itu sudah tertawa kencang seolah ia baru saja melawak.
"Itu artinya Lo belum move on kan dari Fira? ngaku aja sih," ledek Alfi.
Alaska memutar bola matanya, ia memasukkan kedua tangannya ke saku celana dan berjalan meninggalkan Alfi begitu saja.
Lantas Alfi mengejar sahabatnya yang satu itu, "Oke, kalo sampe Lo bertahan tanpa rasa sama dia dan ngebuktiin kalo semua perempuan itu cuma Mandang duit, gua bakal turutin semua kemauan Lo selama 4 bulan ke depan, lebih tepatnya sampai kita ujian kenaikan kelas, dan sebaliknya, kalo Lo kalah ya Lo harus ngelakuin hal yang sama, gimana?" Alaska masih enggan untuk menerima tawaran tersebut, meskipun pandangan tentang wanita masih sama, tapi tetap saja ia masih punya hati nurani untuk mempermainkan hati seseorang karena ia juga punya adik perempuan, ia tidak bisa membayangkan bagaimana adiknya berada di posisi Adella.
"Belum move on nih," gumam Alfi
Alaska menoleh garang pada Alfi, "Oke deal."
Mereka saling berjabat tangan, tanpa mereka sadar jika taruhan ini adalah awal dari kehancuran. Mungkin mereka lupa, akan ada risiko di setiap tindakan.
***
Adella berlari kecil menuju markas, malam ini hujan mengguyur ibukota dengan deras hingga membuat tubuhnya basah kuyup karena lupa membawa jas hujan, beruntung jaraknya tidak terlalu jauh hingga ia bisa cepat sampai.
ia masuk ke dalam, dan melihat beberapa orang sibuk di meja rapat, ada pula yang sibuk latihan di ring, dan ada juga yang sedang bermain biliard.
"Ka Adel," panggil seseorang dari meja rapat, entah sedang membahas apa mereka di sana.
Adella menghampiri Dewa, orang yang memanggilnya tadi, mungkin ingin menyerahkan berkas yang beberapa hari lalu ia minta. kemarin ia tidak sempat untuk datang karena tubuhnya sangat lelah setelah menemani Alika seharian di rumah sakit.
"Ini, yang kemarin ka Adel minta." Adella mengambil duduk di sebrang dewa.
Tanpa basa-basi, ia langsung membuka lembar demi lembar daftar nama pasien rumah sakit di mana Ayahnya di rawat beberapa Minggu yang lalu. Matanya terus bergerak ke kanan dan ke kiri untuk memastikan tidak ada nama yang terlewat, hampir saja ia putus asa karena tidak menemukan nama yang ia cari, tetapi ketika di lembar terakhir matanya langsung terfokus pada satu nama.
GALEN LEORNADO.
apakah dia ada hubungannya dengan kematian ayahnya yang mendadak seperti dugaan dewa sebelumnya? tapi bukan kah orang suruhan Gavin yang menyamar tidak melihat seseorang yang mencurigakan?
Dan yang menjadi pertanyaan besar di kepalanya adalah kenapa orang bernama Galen ini berlari ketika ia hampiri saat di pemakaman? bukankqh itu mencurigakan?
"Kenapa?" tanya Gavin yang baru saja datang dengan Rafa dan ikut bergabung.
Adella menggeleng, "Ngerasa aneh aja, di pemakaman hari itu gua lari ngejar seseorang, Abang inget kan?" tanya Adella pada Gavin, laki-laki itu langsung mengangguk.
"Gua ngerasa curiga aja sama orang ini, dia ga sengaja ngejatuhin sapu tangan dan ada nama di sana, Galen Leonardo. ketika Dewa nanya apakah ada yang mencurigakan, mendadak gua inget nama dia karena saat di pemakaman itu dia emang mencurigakan, dia lari disaat gua mau nyamperin dia. Dan tepat dihari Ayah meninggal, gua ketemu sama orang yang namanya Galen di taman, makanya gua minta Dewa buat minta daftar pasien," ujar Adella sambil menyodorkan kertas yang Dewa berikan.
"Dan bener ada nama Galen Leonardo hari itu."
Gavin memeriksa nama yang dimaksud oleh adiknya, dan benar.
"Tapi kita ga bisa ngambil kesimpulan gitu aja," ujar Rafa yang di angguki oleh beberapa orang.
Gavin meminta Dewa untuk segera mencari tahu mengenai orang yang bernama Galen Leonardo yang saat ini menjadi tersangka.
***
Entah kesialan macam apa yang tengah menimpa gadis yang saat ini sedang mencak-mencak sembari menyusuri jejeran rak makanan.
"Bisa-bisanya gua ditinggal, dasar Abang laknat," ujar gadis itu. Ia mengambil makanan apa saja hingga keranjang belanjaan penuh. "Ih kok penuh?" tanyanya pada diri sendiri dengan nada kesal.
tentu saja ia kesal, Abang nya mengajak dirinya keluar untuk mengunjungi pasar malam yang berada tidak jauh dari komplek perumahannya, tetapi mendadak ia ditinggal dengan alasan kekasihnya tengah mengalami masalah besar, apa dia tidak memikirkan adiknya jika ditinggal seorang diri?
Fira meletakkan keranjang tersebut di lantai, lalu mengambil satu keranjang lagi, "Awas aja nanti di rumah ya Bang, gua giling sampe hancur," gerutu gadis itu.
Fira beralih menuju rak minuman, dan mengambil asal beberapa minuman ukuran besar. ketika melihat dua keranjangnya sudah penuh, maka Fira berniat untuk membayarnya ke kasir.
Tapi keranjang yang berisi minuman terlalu berat untuk ia bawa, lagi-lagi ia berdecak sebal. "Ga mandiri banget sih, punya kaki dong," ujarnya pada keranjang merah tersebut.
"Lo waras, kan?" tanya seseorang. mendengar pertanyaan tersebut, emosi Fira kembali naik, ia menoleh dan hendak memaki orang tersebut tetapi makiannya tertahan ketika melihat laki-laki yang kini berdiri di hadapannya.
Seketika ia mematung dengan mulut yang terbuka, laki-laki itu terkekeh lalu membawakan keranjang berisi minumannya ke kasir.
Fira masih diam ketika belanjaannya sudah selesai di total, beberapa kali mba-mba kasir memanggilnya tetapi ia masih terpanah dengan ketampanan laki-laki yang tadi membantunya.
"Biar saya aja yang bayar mba, sekalian ini," ujar laki-laki itu sembari menyodorkan air mineral miliknya.
"semuanya jadi 389.000 kak." Laki-laki itu mengeluarkan dompetnya dan memberikan beberapa lembar uang.
setelah itu laki-laki tersebut meninggalkan Fira tanpa mengatakan apapun. seseorang menepuk bahu Fira hingga gadis itu tersadar.
"Mba permisi saya mau bayar."
"Oh iya maaf ya," kata Fira lalu ia langsung membawa plastik belanjaannya.
Saat hendak keluar ia tidak sengaja melihat sebuah kartu di lantai, melihat foto laki-laki di kartu tersebut, ia langsung mengambilnya. Ternyata kartu tersebut adalah kartu pelajar milik laki-laki tadi.
"Galen Leonardo," gumamnya.
***
sukses selalu buat author na 🙏🤗
papaygo😙
oklh sukses selalu buat author 😌