Edelweiss Javanica adalah seorang gadis cantik keturunan Jawa Eropa. El memiliki mata hazel sama seperti ibunya sehingga membuat banyak orang terhipnotis oleh tatapannya.
El juga seorang primadona kampus. Siapapun pasti mengenal si gadis cantik, pintar, kaya, ramah dan baik. Apalagi dia juga mempunyai kekasih yang tampan. Sungguh hidupnya terlihat begitu sempurna hingga banyak gadis yang iri padanya. Bahkan mereka memimpikan hidup seperti dirinya.
Namun ternyata hidupnya tak sesempurna yang terlihat. Kekasih tampannya sering membentak bahkan memukulnya jika ada pria lain yang menatap kagum padanya.
Akankah Edelweiss bertahan dengan kekasih posesif nya? Atau dia akan menemukan tempat bersandar yang baru dan lebih nyaman?
Baca kisah selengkapnya di SORRY, But I Love You.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isthiizty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menabuh Genderang Perang
"Shitt..... siapa gadis culun itu sebenarnya. Aku kira dia bodoh dan idiot. Ternyata dia licik juga," ucap Kennan yang begitu kesal mengingat 3 syarat yang di ajukan El padanya.
Flashback On
"Pertama jangan bicara ketus padaku dan bicaralah dengan nada manusia normal."
"What? Maksudmu aku manusia up normal?" El hanya mengangkat kedua bahunya sebagai jawaban.
"Kedua jangan memerintahku sesuka hatimu. Karna aku bukan babu disini."
"Kau itu akan jadi sekertarisku sudah sewajarnya aku memerintahmu. Dasar gadis aneh."
"Aku tau isi otakmu itu. Kau pikir aku mau jika kau menyuruhku melakukan hal-hal aneh."
"Emang apa isi otakku?"
"Aku tau di dalam otakmu itu sudah tersusun banyak rencana untuk mengerjaiku. Dan membuat aku dengan sendirinya angkat kaki dari perusahaan ini."
"Shitt..... dasar gadis licik. Ternyata gue gak bisa ngremehin si culun ini." umpat Kennan di dalam hatinya.
"Dan yang terakhir ini poin terpenting," ucap El yang sudah kembali menyungingkan senyum liciknya.
"Kau juga harus dengar dan melakukan apa pun yang aku katakan."
"Hey yang benar saja. Aku atau kau yang sebenarnya CEO disini?" Kennan menatap tajam El yang sedang duduk dengan santainya sambil memaikan kuku-kuku di jarinya.
"Shitt......" umpat Kennan lagi dan lagi karna El justru tidak menjawab perkataannya. Dan hebatnya baru gadis ini satu-satunya wanita yang berani melawannya. Entah sudah berapa kali Kennan mengumpat dan mengeluarkan sumpah serapah di dalam hatinya. Baru hari pertama saja sudah benar-benat membuatnya sangat kesal, bagaimana hari-hari berikutnya jika dia jadi sekertaris baru Kennan.
"Aku juga akan mengajukan persyaratan untukmu," ucap Kennan.
"Aku tidak mau. Jika kau tidak setuju silahkan cari sekertaris yang lain. Lagi pula aku bekerja disini juga bukan kemauanku. Ini semua hanya karna permintaan uncle Michael."
Kennan yang sangat kesal hanya bisa mengumpat gadis di depannya di dalam hati.
Flashback Off
Kau sudah menabuh genderang perang denganku. Kita lihat saja siapa yang akan memenangkan pertarungan ini. Dan akan aku pastikan kau memohon kepadaku agar bisa keluar dari perusahaan ini.
Kennan duduk di kursi kebesarannya dan mulai memikirkan cara bagaimana membuat sekertaris barunya tidak betah bekerja di perusahaannya.
El melihat jam bulgari di pergelangan tangannya dan sudah menunjukan waktu istirahat. Dia segera membereskan berkas-berkas di atas meja yang di berikan Sean tadi karna dia ingin segera makan siang di kantin. Tidak sarapan pagi membuat perutnya sudah mulai keroncongan.
Bunyi telepone di meja menghentikan aktivitasnya membereskan berkas-berkas. Dia langsung mengangkat panggilan telepon tersebut.
"Hallo dengan sekertaris tuan Kennan Mallory disini. Ada yang bisa saya bantu," tanya El dengan suara lembut dan ramah.
Kennan terbengong mendengar suara El. Dia seakan terhipnotis, suara lembutnya benar-benar menenangkan setiap orang yang mendengarnya. Tidak seperti saat bicara dengannya tadi, terdengar ketus dan menyebalkan.
"Hallo apa ada orang disana?" Suara El dari sebrang telepon membuat Kennan tersadar. Dia berdehem untuk menghilangkan keterkejutannya.
"Bawakan makan siang ke ruanganku."
Heisss.... ternyata si CEO menyebalkan yang menelpon. Tau gitu gak aku angkat tadi.
"Maaf tuan ini waktunya saya istirahat. Jika tuan ingin meminta bantuan silahkan hubungi saya setelah makan siang."
"Hey yang benar saja kau. Aku sudah lapar dan aku tidak bisa konsentrasi kerja kalau perutku kosong," ucap Kennan dengan suara mulai meninggi.
"Bisa tidak ngomongnya gak usah ngegas gitu," ucap El sewot. Sungguh lapar membuatnya mudah emosi.
"Oke sorry. Nona Edelweiss Javanica yang terhormat tolong bawakan makan siang ke ruangan saya. Karna saya masih sibuk dengan pekerjaan yang menumpuk," ucap Kennan dengan suara yang di buat selembut mungkin.
"Pppfff....hahahhaha." El yang belum pernah mendengar suara Kennan yang begitu lembut justru tertawa terbahak. Suaranya sungguh terdengar begitu menggelikan di telinganya.
"Hey siapa yang menyuruhmu mentertawakanku?" Sentak Kennan dari sebrang telepone.
"Maaf.. maaf..." ucap El sambil berusaha menghenyikan tawanya.
"Jika anda ingin makan siang silahkan pergi ke kantin atau membeli makanan via online sendiri. Karna saya juga sudah lapar ingin makan siang sendiri," ucap El setelah menghentikan tawanya.
"Hey kau ini sekertaris ku. Kau saja yang memesankan makanan. Apa kau mau pekerjaanku berantakan dan membuat perusahaan ini bangkrut? Apa kau tidak kasihan dengan ribuan karyawan yang menggantungkan hidupnya di perusahaan ini?" Kennan berkata panjang lebar membuat El mau tidak mau menuruti permintaannya.
"Baik saya akan membawakan makan siang keruangan anda." El langsung menutup telepone setelah mengatakannya.
Kennan langsung tersenyum puas saat El menutup telepone. Pertarungan baru akan di mulai.
Dengan mulut yang masih terus menggerutu, El memesan makan siang via online. Dan memutuskan ikut memesan untuk dirinya.
Setelah menunggu sekitar 20 menit pesanannya telah sampai. Dia meletakan makanan untuk dirinya di atas meja kerja dan kini berjalan gontai membawa makanan Kennan ke ruangannya.
Tokk.. tokk.. tokk..
"Masuk..!"
El masuk keruangan Kennan dan berdiri di depan pria tampan itu.
"Tuan ini makan siang anda. Mau diletakan di mana?"
"Suapi aku!" ucap Kennan tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas-berkas di mejanya.
"Whatt??? Yang benar saja. Kau kan bisa makan sendiri," sahut El dengan nada kesalnya.
"Kau tidak lihat aku sedang sibuk. Tanganku harus menandatangi berkas-berkas ini dan ini semua harus selesai sebelum jam pulang kerja. Kau cukup menyuapiku apa susahnya sih?" ketus Kennan yang kini menatap tajam kearah El.
Dengan perasaan kesal dan terus menggerutu. El duduk di kursi di hadapan Kennan, dia meletakkan box makan siang berisi sushi di meja. Setelah membukanya El mulai mencapit sushi dengan sumpit di tangannya.
"Buka mulutmu," ucap El yang sudah mengarahkan sepotong sushi ke mulut Kennan.
"Kau ini terlalu jauh. Kau pindah duduk di sampingku. Agar aku lebih mudah menjangkau makananku," ucap Kennan yang masih pura-pura fokus membaca berkas didepannya.
El akhirnya pindah posisi duduk di samping Kennan setelah menarik kursi dan memindahkannya. Bibirnya terus mengerucut karna sangat kesal dengan permintaan Kennan yang sangat banyak.
"Sekarang buka mulutmu dan jangan banyak protes!"
Kennan membuka mulutnya dan sekilas melihat bibir El yang mengerucut dan itu justru membuatnya gemas.
Sudah hampir 15 menit El menyuapi Kennan namun sushi di box masih banyak. Dia kini yakin jika Kennan sekarang sedang mengerjainya. Kalau saja pria itu tidak membawa-bawa nasib karyawan mungkin El sudah meninggalkan ruangan itu dari tadi karna sangat kesal.
"Buka mulutmu lagi, kenapa lama sekali sih mengunyahnya," gerutu El yang sudah hampir kehilangan kesabaran.
"Kau tidak lihat masih ada makanan di mulutku?"
Bukannya menjawab El justru menyuapkan sushi ke mulutnya sendiri. Dia sudah sangat lapar, jika harus menunggu Kennan selesai makan bisa-bisa dia pingsan. Apa lagi dia butuh tenaga ekstra untuk menghadapi pria menyabalkan disampingnya.
"Hey kenapa kau memakan makanku?" Kennan menatap tajam pada gadis di sebelahnya.
"Kau pikir kamu saja yang lapar? Aku juga lapar. Kalau aku mati kelaparan di ruangan ini apa kau mau bertanggung jawab?" Sahut El dengan suara yang tak begitu jelas karna masih mengunyah makanan di mulutnya.
Dan pada akhirnya makan siang itu pun di habiskan oleh mereka berdua.
gimn Megan thort