JANGAN DIBACA!!!
ASLI, BUKAN TIME TRAVEL, YA!
HANYA KISAH ASAL PENUH PERKETYPOAN!
KALAU UDAH BACA, YA JANGAN NYESEL! BISA MENYEBABKAN MUAL DADAKAN, GANGGUAN SUSAH TIDUR, DIABETES BERLEBIHAN, DAN BUCIN DADAKAN.
(Gejala di atas berdasarkan survey dari zaman kuno hingga saat ini).
Bagai bulan yang tertutup awan, aku harus membuang semua hal tentangku, semua jati diriku, dan melanjutkan hidup sebagai kembaranku sendiri.
Terasa susah. Namun, itulah yang harus kulakukan. Hanya karena paksaan sang ayah dan juga kesalahan yang sepenuhnya bukan milikku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggrek, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa Si Bodoh Itu.
Adriana terbangun beberapa jam kemudian, perutnya meronta minta diisi. Gadis kecil itu melangkah ke kamar mandi untuk mencuci muka dan segera keluar kamar. Dia berjalan ke arah dapur sambil menengok ke kiri dan kanan. "Kenapa sepi sekali?" katanya lirih, Adriana merasa sedikit heran karena tidak melihat satu pun pelayan di rumahnya. Gadis kecil itupun mengangkat bahunya acuh dan meneruskan langkahnya.
Di dapur, hal serupa juga terjadi. Rumah ini seakan tak berpenghuni saja. Adriana menghampiri kulkas dan mengambil beberapa buah dari dalam sana, meski tak terlalu mengenyangkan, tapi lumayan untuk mengganjal perutnya yang meronta kelaparan.
Saat akan kembali ke kamarnya, dia berpapasan dengan sang Ibu. "Ah, bagus kamu ada di sini, sebentar lagi orang yang akan menata rambut kamu akan datang," ucap Desita dengan senyum puas, mungkin wanita ini senang dia tak perlu repot-repot ke kamar Adriana.
Adriana mengangguk mengerti kemudian gadis kecil itu duduk di sembarang tempat. Desita menatap tak suka kelakuan anak kecil itu. "Apa yang sedang kamu lakukan di situ?" katanya dengan nada kesal.
"Duduk," jawab gadis kecil itu singkat.
"Aku juga tahu kalau kamu sedang duduk, yang jadi masalahnya, ngapain kamu duduk di bawah? Rian tak pernah melakukan hal aneh seperti itu?!" jelas Desita.
"Ahh, maaf mom, aku tak ingat. Aku kan mengalami sedikit syok," ucap Adriana memberi alasan sekenanya.
"Ya sudah, duduk yang benar! Dan juga makan sesuatu yang lebih mengenyangkan," kata Desita sambil melirik buah yang ada di tangan Adriana.
"Segini sudah cukup kok mom," balas gadis kecil yang diharuskan menyamar sebagai kakaknya tersebut.
"Aku tak akan mati hanya karena melewatkan satu kali jam makan, mom," lanjut Adriana dengan senyum menyindir.
Baru saja Desita akan membalas, bel rumah mereka berbunyi. "Argh, aku lupa memanggil pelayan sementara. Sungguh merepotkan harus melakukan semuanya sendiri," keluh Desita, kakinya melangkah untuk membukakan pintu bagi tamu yang datang.
"Permisi, saya dari salon 'Senja Berwarna', pagi menjelang siang nyonya yang menawan," ucap sang tamu saat pintu sudah dibuka oleh Desita. Nada suara pria yang datang itu sedikit aneh dan tak enak didengar, terkesan ada nada melambai manja setiap dia mengucapkan sesuatu.
"Ahh, syukurlah kamu sudah datang. Mari masuk dan buat anak saya menjadi tampan," ajak Desita.
"Baik nyonya," balas si pria sambil tersenyum centil.
Si pria yang dari salon mengikuti langkah Desita, dia melirik anak kecil dengan potongan rambut yang sangat tak rapi. "Oh Tuhan, ya ampun, itu jenis potongan apa? Siapa yang membuat potongan asal seperti itu? Sungguh malang rambut tak berdosa yang indah Tiara Tara, kenapa harus disiksa dengan potongan tak jelas dan hancur begitu?" kata si pria histeris dengan alay-nya.
Adriana berkedip heran menatap balik pria itu, ada ya orang seaneh dia. Ah, kenapa tak ada, sedangkan yang seaneh Ibunya pun ada kok. Di mana lagi bisa mendapat seorang Ibu yang menyuruh anak perempuannya menggantikan anak laki-laki mereka, dan yang lebih parahnya, si anak juga menurut tanpa melawan. Yah, dunia memang penuh keanehan. Jadi biarkan saja.
"Makanya saya memanggil anda! Saya percayakan semuanya pada anda, oke!" kata Desita cepat. Dia berharap ke-alay-an orang ini tak akan mengurangi kecakapan dia dalam bekerja. Jangan sampai orang ini banyak bicara, tapi kerjaannya tak becus semua.
"Tenang saja, biarkan jari-jari bermain sebentar dan memberikan hasil yang memuaskan. Putra anda pasti akan lebih tampan daripada sebelumnya," katanya sambil meniup ujung jemarinya yang cukup lentik untuk ukuran pria.
Adriana hanya mengikuti arahan pria itu dalam diam, dia tak banyak tanya dan bicara, saat ditanya mau model rambut seperti apa, gadis kecil itu hanya diam saja tanpa menjawab. Desita sebagai orang tua mengatakan kalau dia menyerahkan semua pada si pria saja, mau model apapun juga boleh asal cocok dengan wajah anaknya.
Setengah jam lebih sedikit berlalu, si pria yang berbicara dengan nada melambai tersenyum puas menatap hasil potongan rambut Adriana yang dia kira pria. "Bagaimana? Sudah bagus atau ada yang kurang?" tanyanya sambil menangkup kedua tangannya, berpose imut minta dipuji, tak cocok sekali dengan postur badannya yang cukup besar.
"Sudah bagus, saya puas dengan hasilnya," puji Desita, tak lupa wanita itu menyerahkan lembaran uang ratusan ribu sebagai bayaran, tentunya ditambah dengan uang bonus karena hasil yang memuaskan.
"Nanti saya akan panggil lagi kamu kalau saya butuh jasa kamu," kata Desita.
"Terimakasih nyonya, selain cantik ternyata anda sangat baik hati. Kalau begitu saya permisi dulu karena pekerjaan saya sudah beres," ucap orang itu diselingi pujian sebelum dirinya berpamitan.
"Ya, saya juga berterimakasih dan kamu boleh pergi," timpal Desita, dia mengantar orang tersebut ke pintu depan, setelah orang tadi selesai merapikan semua barang yang dibawanya.
Desita kembali menghampiri Adriana, dia terlihat puas karena Adriana bisa semirip itu dengan Adrian. Meski kembar, bukan berarti selalu mempunyai tingkat kemiripan. Ada juga kembar tapi tak identik sama sekali bukan.
"Ah, aku harus memanggil pelayan baru untuk sementara selama kita masih berada di sini," kata Desita kemudian berlalu meninggalkan anaknya.
Adriana kembali ke kamar, dia melihat ponsel sang kakak yang sekarang menjadi miliknya bergetar, layar yang biasanya berwarna hitam kini menyala dengan terang. "Siapa yang menelepon kakak, ya?" tanyanya menyambar ponsel yang tergeletak di atas meja.
"Si bodoh?" kata itu meluncur ketika Adriana membaca nama yang tertera di layar ponsel, kening gadis itu mengernyit, merasa bingung dengan nama yang disimpan sang kakak di ponsel ini.
"Biarkan saja, nanti akan kukirim pesan singkat saja," lanjut gadis itu dengan cepat. Tangannya mengetik pesan untuk si penelepon.
'Maaf, aku lagi malas terima telepon, kamu pasti tahu apa yang menimpa keluarga aku, kan?' begitu kira-kira pesan yang dikirim oleh Adriana, permintaan maaf dan alasan yang masuk akal untuk tak menerima telepon dari siapapun.
Tak lama ponsel itu kembali bergetar. 'Aku? Kamu? Tumben banget lo,' balasan yang datang membuat Adriana merasa telah melakukan kesalahan, mana dia tahu sang kakak memakai bahasa gaul lo-gue dengan teman-temannya.
'Gue masih terguncang, jadi tolong maklumi aja! Gue istirahat dulu!' Adriana mengikuti gaya bahasa sang kakak, meski lewat pesan singkat dia masih tak terbiasa melakukannya.
'Okey, rehat yang banyak lo, trus balik lagi main bareng kita-kita! Biarkan adik lo tenang di alam sana!' Adriana tersenyum kecut membaca pesan terakhir yang dikirim oleh 'Si bodoh' ini.
"Kamu salah, bukan adikku yang tenang di alam sana, tapi temanmu yang telah pergi! Pantas kakak ngasih nama kamu 'Si bodoh' ternyata kamu memang benar-benar sangat bodoh!" dengus Adriana, dia merasa sedikit terhibur karena bertukar pesan dengan teman kakaknya.
ayang bebeb disuruh jd tukang parkir 😝😝😝😝