NovelToon NovelToon
Cinta Tak Bertuan - Unmanned Love

Cinta Tak Bertuan - Unmanned Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Petualangan / Contest / Nikahkontrak / Duniahiburan / Konflik Rumah Tangga- Terpaksa Nikah
Popularitas:98.6k
Nilai: 4.8
Nama Author: Otom

Sejak bapaknya seolah tidak lagi mempedulikannya, dia mulai berpetualang di luar rumah. Dia mencari teman-teman yang bisa mengisi hari-harinya yang kosong.

Hanya Jono, supir keluarga mereka yang masih peduli padanya. Namun kepedulian Jono tidak cukup, dia merasa harus mengenal dunia luar yang tampaknya lebih berwarna.

Akhirnya dia terjerumus ke dunia gelap. Apakah Agni akan berhasil keluar dari kegelapan itu?

Saat dia akhirnya memutuskan untuk menikah dengan seorang Bos Preman dia sudah senang karena tidak lagi harus melayani laki-laki lain, namun ternyata suaminya itu kerap mengabaikannya. Bagaimana akhir kisah cinta Agni? Ikuti terus kisahnya hanya di "Cinta Tak Bertuan".

Visual ada di episode 27 🙏

Selamat membaca!

Follow me on IG: @tomsonsilalahi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Otom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kesal

Selama sebulan, Agni belajar dengan sangat giat di rumah, dia mengurangi aktivitasnya di luar rumah.

“Anak mama sedang apa?” Zora, ibu Agni masuk ke kamar Agni saat Agni lagi mengerjakan beberapa soal-soal yang diberikan Pak Regar.

Agni tidak menjawab pertanyaan Zora, dia pura-pura asyik dengan soal yang ada di depannya. Padahal di dalam hatinya Agni sangat merindukan Zora. Sangat jarang mamanya itu punya waktu untuknya, hingga Agni sudah terbiasa, kalau pun Zora tidak ada, dia sepertinya sudah bisa hidup tanpa kasih sayangnya.

“Serius amat, lagi ngerjain apa sih?” Zora duduk di samping Agni, di tepi tempat tidur Agni yang empuk.

Agni pura-pura serius, dia senyum sebentar pada mamanya itu dan pura-pura serius lagi. Lagi-lagi dia harus menahan diri untuk tidak memeluk mamanya, dia protes pada mamanya itu, dia mau menunjukkan bahwa dia bisa hidup tanpa Zora.

“Kata om Jono, Agni akhir-akhir ini semakin sering mengurung diri di kamar. Nggak apa-apa kali, sesekali main di luar, berbaur dengan teman-teman yang lain!” Zora mendekati Agni, dia melihat kertas yang sedang diamati Agni. Dia tahu bila Agni sedang kesal padanya.

“Maafkan mama, nggak pernah ada waktu untuk Agni!” Zora kembali duduk di tempat tidur berwarna jingga itu.

Agni masih tidak melirik ke arah Zora.

Karena dicueki begitu, Zora akhirnya berdiri dan beranjak dari kamar itu. Dia tidak ingin mengganggu Agni yang pura-pura sibuk itu. Di samping itu, dia juga sangat lelah, ingin rebahan, istirahat dari semua aktivitas padatnya.

Agni mendengar suara pintu tertutup. Kemudian dia mengehtikan aktivitasnya, dia membaringkan badannya di atas tempat tidur. Dia menyesal tidak menegur mamanya saat mamanya menyapa dan ingin bercakap-cakap dengannya.

Agni tidak bisa konsentrasi lagi dengan soal-soal yang diberikan Pak Regar, dia memutuskan untuk tidur saja.

***

“Minggu depan, Agni ikut olimpiade matematika, mama bisa datang?” Agni bertanya pada Zora di meja makan sebelum berangkat ke sekolah.

“Minggu depan, hari apa nak?” Zora menghentikan mengembalikan sendoknya di atas piring, dia tidak jadi menyuapkan potongan sosis yang hendak dimasukkannya ke dalam mulut. Dia heran mengapa tiba-tiba Agni mau berbicara padanya pagi itu.

“Kalau sibuk nggak apa-apa, ma, lupakan saja!” Agni kesal karena pertanyaan itu, dia yakin jika Zora akan banyak alasan untuk tidak datang menyaksikannya mengikuti olimpiade matematika.

“Agni…!”

“Nggak apa-apa, ma, orang lain mungkin lebih membutuhkan mama daripada saja, lagian cuma olimpiade doang, kok!” potong Agni. Agni pura-pura tegar. Ingin sekali dia protes tapi yang keluar dari mulutnya adalah kepasrahan saja, seolah dia sudah tahu jika mamanya itu akan mempunyai seribu alasan untuk tidak meluangkan waktu untuknya. Dia benar-benar merasa tidak dipedulikan di dalam rumah ini. Punya orang tua tetapi seperti tidak punya, sakit. “Lebih baik tidak punya orang tua sama sekali,” sungtu Agni di dalam hati.

Bahasa Agni sangat tajam menusuk hati Zora. Dia ingin sekali melihat Agni, menemaninya di saat-saat penting seperti ini, namun dia juga tampaknya tidak ada waktu, akan ada acara besar yang sudah direncanakan jauh-jauh hari di Bandung.

“Agni, kalau mama ada waktu pasti mama datang, kok!” Zora berusaha membujuk Agni yang tampaknya sudah kesal.

“Nggak ma, beneran, nggak apa-apa!” Agni menatap mamanya, dia berusaha menunjukkan keseriusan kata-katanya, namun di dalam hati dia sudah sangat kesal. Dia bingung pada dirinya sendiri, mengapa dia berlaku demikian padahal dia sudah sangat kesal.

Namun sebesar apapun usaha Agni untuk meyakinkan Zora kalau dia tidak apa-apa, Zora tahu apa yang ada di dalam hati Agni. Semain besar usaha Agni menutupi perasaannya semkain gampang Zora menangkap apa yang ada di dalam hatinya itu.

Zora ingin menlanjutkan kata-katanya, namun dia tidak tahu akan mengatakan apa lagi, semakin dia memberi jawaban, dia tahu Agni akan semakin menutupi perasaannya, dan akan semakin kesal, dia kemudian memilih diam saja.

“Aku pamit dulu ma, hati-hati ntar di jalan, mau berangkat lagi kan hari ini?!” Zora mengangkat tasnya dan meningglkan mamanya, tidak ada salim pagi itu.

“Agni kabari tanggal dan tempatnya ya!” Zora sedikit berteriak melihat Agni yang sudah membelakanginya.

“OK!” Agni teriak, tanpa menoleh ke belakang.

***

Agni sampai di gerbang sekolah dan memberi pesan pada Jono untuk tidak menjemputnya nanti. Seperti biasa, Jono hanya meng-iyakan saja pesan itu. Dia tidak mau bertanya lebih jauh lagi mengapa Agni tidak mau dijemput.

Agni membuka pintu mobil dan hendak keluar, namun dia mengingat sesuatu yang akan disampaikan pada Jono.

“Oh, iya, om, jangan pernah cerita pada mama tentang apa-apa yang aku lakukan selama mama tidak di rumah, om tidak berhak mengata-ngataiku di belakang, atau om digaji untuk itu?” Agni menatap Jono dengan sungguh-sungguh, dia tidak tega sebenarnya mengatakan semua itu pada Jono namun dia terbawa perasaan, kekesalannya akhirnya dilampiaskan pada Jono, om yang baik yang selalu ada waktu untuknya.

“Baik, non, tidak akan lagi!” Jono mengangguk.

***

“Agni!” suara yang tidak asing lagi memanggil namanya. Agni menoleh, dia melihat Elisa yang berlari menuju gerbang. Hampir saja dia kena tabrak motor kalau saja tidak direm mendadak.

“Jalan pake mata, dong!” teriak pengemudi itu ke arah Elisa yang sudah sampai di seberang jalan persis di depan gerbang sekolah, di hadapan Agni yang syok melihat kejadian itu.

“Nggak jalan kok, gw lari keles!” Elisa masa bodoh dengan si pengemudi motor itu.

“Merasa nggak bersalah pula, dasar!” dia bersungut, cukup kencang untuk di dengar Elisa.

“Dasar apa? Udah tahu di depan sekolah, lagi ramai-ramainya, pake ngebut juga, lu yang dasar!” Elisa membela diri.

Pengemudi itu tancap gas, dia tidak mau meladeni Elisa. Dia takut pula dikeroyok, bisa-bisa dia bonyok di sana kalau Elisa sempat memprovokasi teman-temannya untuk menyalahkannya.

Agni menarik tangan Elisa yang masih menatap motor yang semakin menjauh itu.

“Lu juga salah kok, nyebrang nggak lihat-lihat dulu, hati-hati dong sekali lagi!” Agni menasehati sahabatnya itu.

“Lu sahabat siapa sih sebenarnya, dia apa gw?” Elisa tidak terima dengan kata-kata Agni yang menasehatinya, dia merasa dipojokkan dengan kejadian itu.

“Justru karena lu sahabat gw dong, makanya gw nasehati, kalau tadi dia sahabat gw dan dia di sini, pasti dia juga kok yang gw nasehati,” Agni melotot pada Elisa yang tidak mau disalahkan.

“Ah, lu bisa-bisanya aja!” Elisa berjalan memasuki sekolah.

“Terserah deh, semoga besok-besok tidak terjadi lagi deh pokoknya!” Agni mengikuti langkah kaki Elisa.

***

“Maaf pak, kayaknya saya nggak bisa mengikuti olimpiadenya, cari yang lain saja ya!” Agni menghadap pada Pak Regar.

“Loh, kok begitu? Ini tinggal seminggu lagi, kenapa dari dulu nggak ngomong?” Pak Regar kelabakan.

Agni diam saja dia tidak mau menyampaikan alasan mengapa dia tiba-tiba memutuskan untuk tidak mengikuti olimpiade itu.

“Soal-soalnya sudah dikerjakan kan?” Pak Regar masih berharap Agni akan mewakili sekolah.

“Sudah pak!” Agni menjawab, namun tidak menatapa Pak Regar.

“Bagus. Sekarang, kenapa tiba-tiba mau mengundurkan diri?” Pak Regar mulai mengeluarkan kalimat persuasif walau Agni mendengarnya seperti sebuah pertanyaan yang mengintimidasi.

“Nggak apa-apa, pak!” Agni masih tidak berani menatap Pak Regar.

“Loh, pasti ada apa-apa dong, tidak ada sesuatu hal terjadi tanpa alasan, tidak ada istilah nggak apa-apa, kalau orang mengeluarkan frasa itu, pasti memang akrena ada apa-apa, sekarang cerita ke bapak, ada apa?” Pak Regar memegang pundak Agni.

“Nggak apa-apa, pak, beneran!” Agni masih tidak ingin bercerita pada Pak Regar.

“Agni, aku tahu kamu pasti punya masalah kan? Cerita ke bapak ya! Kalau ada hal-hal yang ingin kau ungkapkan, ungkapkan ke bapak, ingat, bapak akan selalu ada waktu untukmu!” Pak Regar membujuk Agni.

“Andai bapak adalah orang tuaku!” Agni akhrinya berbicara.

Bersambung…

Tinggalkan jejak ya kaks, like, komen dan vote, bisa bgt juga ngasih kopi, biar melek dulu awak yang nulis ini. Danke ❤

Jangan lupa tekan favorite, agar dapat notif kalau novelnya sedang up! 🙏

1
KIA Qirana
Oke, Thor
nambah dukungan 👍👍👍
Dhina ♑
Semangat awal, ayo laju terus, Up, Up, Up
Rianty Aksan
Duh... Lama Banget Up nya...
Bang Otom: maaf bgt ya kak, lagi fokus di app lain, segera kalau udah lumayan g hetik lagi, aku ke sini lagi ya kak🙏🙏🙏
total 1 replies
Desy Nchie
q berharap agni tau ka kshan dy terus di bohongi victor walau dy pnh berkata akan mencintai victor apa adanya tp tidak sprt tu juga ka..
Muliahati Ziliwu
Kasian agni sampai kpn viktor bs menjaga dirinya dan rumah tangganya dari nafsunya
Muliahati Ziliwu
Moga boneka setan segera dibuang oleh mbok ratih heheeee
Rina Wardani
walaupun victor berhasil menghapus video itu diponsel agni,percuma elena masih bisa mengirimkan kembali,lagipula hasil pergulatannya ma elena vicktor menghasilkan janin dirahim elena,mau tidak mau suatu hari nanti victor hrs bertanggung jawab,mungkin dia akan menikahi elena secara diam2,dan jangan lupa siska masih nunggu dirumah bersiap utk memuaskan victor
jadi agni klu boleh saranin sih,bertemulah ma polisi tampan itu siapa tahu dia adalah sandaranmu kelak 😁🤭✌️
Desy Nchie
pokonya q berharap agni tau soal video itu dan kehamilan ellena trs agni pergi jauh deh bwa kedua ank kembr nya
Muliahati Ziliwu
Viktor rupanya da cinta dgn agni moga aja viktor benar2 bertobat
Rianty Aksan
Wow .. Licik Banget Kamu Victor
Desy Nchie
kshan agni selalu saja di bohongi victor
Muliahati Ziliwu
Hah elena baru sadar kalau viktor gila manusia yg ga bs diatur apalg fikendalikan rasakan elena ingin merusak hdp agni dan anak2nya kamu sendiri yg menderita
Muliahati Ziliwu
Mampus elena makan tuh blm tau siapa viktor moga aja elena lgsg keguguran karena dibanting sama viktor trus agni pergi ninggalin viktor dgn mw,bawa kedua anaknya
🌹Rose❤️❤️
banyak kali bintang2nya. Untung aku pintar, makanya tahu apa yang dibintangin itu. 🤣🤣🤣🤣
Bang Otom: wkwkwkwkw
total 1 replies
Yuli Amoorea Mega
agni kabur bawa anak"nya biar victor kapok
Desy Nchie
tp q berharap agni tau soal video itu ka agni pergi dr hotel dan bwa ank nya sblm victor pulang..
Desy Nchie
next ka up nya ko lama
.penasaran bngt
Tami
lanjuut bang
Bang Otom: siaaaap kaka
total 2 replies
Elisabeth Ratna Susanti
lanjut 😍
Bang Otom: siap kaka
total 1 replies
Muliahati Ziliwu
Semoga agni sadar dan tau perselingkuhan viktor dan elena ayo agni beri pelajaran pd viktor jgn jd wanita bodoh terus menerus buat viktor benar2 sadar dgn menghilang membawa anakmu jauh dr dirinya kejar kebahagiaanmu dgn pria yg tulus dan setia
Bang Otom: amiiiin
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!