NovelToon NovelToon
Mencintaimu Menyakitkan

Mencintaimu Menyakitkan

Status: tamat
Genre:Patahhati / Lari Saat Hamil / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:3M
Nilai: 4.9
Nama Author: Indriani Sonaris

Aiden yang telah terbiasa menikmati rasa sakit karena mencintai Agneta. Ia sudah menutup hati untuk wanita manapun. Menjadi sosok yang dingin dan begitu tak tersentuh.
Sejak Agneta memilih Davero, ia memilih pergi menjauh meninggalkan Indonesia. Dan mulai menetap di Negara A tepatnya di kota N dan mulai merintis kariernya di sana.
Tetapi takdir mempertemukan dirinya dengan masalalunya. Masalalu yang merupakan kesalahannya...
Catherin....
Akankah Catherin meluluhkan hati Aiden, dan menggantikan posisi Agneta di dalam hatinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indriani Sonaris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7

Catherinemengeratkan

mantel yang ia gunakan. Ucapan Aiden tadi siang terus saja terngiang di

telinganya. Ada rasa bahagia didalam hatinya mengingat kalau Aiden masih

menganggapnya begitu penting walau hanya sebagai teman.

                “Aku ingin kita

seperti dulu tetapi aku takut. Aku takut semakin jatuh cinta padamu dan

mengulang kesalahan yang sama,” gumamnya.

                Ia takut kembali harus

terluka karena cinta. Cinta ini sungguh menyesakkan dadanya dan membunuhnya

secara perlahan. Di sisi lain rasa rindu tetapi di sisi lain lagi ia sangat

ketakutan. Takut kembali jatuh karena cintanya.

                “Mom...”

                Panggilan itu

membuatnya menoleh.

                Tatapan polos itu

selalu mengingatkannya pada cinta itu. Cinta yang masih tertanam di lubuk

hatinya.

Catherine tidak pernah menunjukkan

kelemahannya di hadapan Jasmine. Ia selalu menampilkan sosok Ibu yang selalu

tegas, disiplin dan kuat.

                “Kenapa keluar? Kamu belum

tidur, Hm?” seru Catherine yang saat ini berdiri di dekat kolam renang.

                “Aku haus dan ingin

mengambil minum. Mommy belum tidur?” tanyanya yang kini berdiri di hadapan

Catherine.

Catherine berjongkok di hadapannya.

                “Kalau begitu ayo kita

tidur,” seru Catherine membawa Jasmine ke dalam gendongannya dan membawanya ke

dalam kamar setelah mengambilkan air minum.

                “Mom...” panggil

Jasmine saat tubuhnya di rebahkan di atas ranjang oleh Catherine.

                “Hmm...”

                “Apa benar pernikahan

Mom dan Uncle Robert di percepat?” tanya Jasmine.

                “Kamu tau dari mana?”

tanya Catherine.

                “Grandpa,”

                Catherine hanya diam

tak menjawabnya.

                “Mom, bisakah jangan

menikah dengannya,” ucap Jasmine.

                “Kenapa?”

                “ Mine tidak

menyukainya, dia tidak baik,” serunya.

                “Kamu tau dari mana kalau

dia tidak baik?” seru Catherine.

                “Kelihatan dari

sikapnya saja, apalagi dia baik padaku hanya di depan Mom saja.”

                Catherine hanya

menampilkan senyuman kecilnya. “Kamu belum mengenalnya, lama kelamaan juga

kalian akan akrab. Sudahlah jangan pikirkan itu, sebaiknya kamu fokus dengan

study mu.”

                “Apa aku tidak boleh

berpendapat?” seru Jasmine yang begitu pintar.

                Melihatnya seperti ini

selalu mengingatkannya pada sosok Aiden yang tidak pernah menyerah dan selalu

ingin penjelasan yang bisa ia terima.

                “Mom sedang tidak

ingin membahas ini, Sayang.”

                “Mom selalu saja

menghindar setiap aku bertanya hal ini,” seru Jasmine dengan wajah cemberut.

                “Kenapa kamu ingin

tau, bocah kecil.” Catherine dengan gemas mengelus rambut Jasmine. “Kamu ini

bocah kecil yang ingin cepat dewasa.” Kekehnya.

                “Apa sih Mom, aku kan

memang sudah dewasa,” kekehnya.

                “Benarkah sudah

dewasa? Coba mana sini Mom lihat yang sudah dewasa itu,” serunya menggelitik

tubuh Jasmine.

                “Ah Mom geli, haha...”

                Mereka berdua tertawa

terbahak-bahak.

                Aiden baru saja sampai

di kantornya. Ia mengambil duduk di kursi kebesarannya dan hendak mengambil

sebuah berkas yang ada di atas mejanya, sebelum dering handphone mengalihkan

perhatiannya.

Ia menatap layar handphone nya.

                Devara...

                Ada keraguan didalam dirinya untuk menerima panggilan itu. Aiden telah meninggalkan

masa lalu nya  5 tahun lalu dan ia tidak

ingin ada hubungan lagi dengan masa lalunya. Ada ketakutan didalam hatinya.Ia

bahkan benar-benar tidak ingin mendengar kabar apapun dari orang-orang di masa

lalunya.

                Aiden mengingat saat

terakhir ia melihat Dave dan Agneta. Hatinya hancur lebur saat harapannya

pupus, hatinya seperti di koyak saat melihat Agneta lebih memilih Davero.

                Aiden memang tidak

menyalahkan Agneta, ia sadar kalau cinta Agneta hanya untuk Dave dan itu tidak

bisa di paksakan. Tetapi Aiden juga tidak bisa mengesampingkan rasa saktitnya

yang begitu dalam. Bahkan setelah 5 tahun berlalu, ia masih merasakan sakit

juga trauma akan cinta.

                Dering handphone nya

kembali menyadarkan dirinya dari lamunan tentang masa lalu.Dan nama Devara

masih muncul di sana.

                Ada apa...? batin Aiden.

                Setelah

mempertimbangkan cukup lama, Aiden akhirnya menerima telpon itu.

                “Akhirnya kamu mau menerima

telpon ini.”

                “Ada apa, Vara?” tanya Aiden.

                “Emm kamu masih mengingatku?”

                “Ada apa?” tanya Aiden seakan tidak ingin berlama-lama.

                “Tante Elena masuk rumah sakit dan keadaannya kritis. Dia ingin bertemu

denganmu, Aiden.”

                “Aku sibuk.”

                “Bagaimanapun dia Ibu mu. Dan hanya kamu yang dia miliki saat ini.”

                “Bukankah ada kalian,” seru Aiden.

                “Aiden, kembalilah dan beri kesempatan untuk Ibu mu. Aku tidak

berbohong, keadaannya sangat kritis.”

                Aiden termangu di

tempatnya mendengar penuturan dari Devara.

                “Aku tunggu kabarmu saat datang kemari.”

                Devara menutup telponnya membuat Aiden menurunkan tangannya yang tengah

memegang handphone di telinganya.

                Kembali ke Indonesia??

                Bagaimana kalau ia

kembali bertemu dengan Agneta. Apa dia akan sanggup?

                Jasmine baru saja keluar

dari area sekolahnya. Ia celingak celinguk mencari Ibu angkatnya dan mobil yang

datang menjemputnya.

                “Ibu Angkat apa belum

datang yah?” gumamnya.

                Jasmine berdiri

menunggu jemputan di depan sekolah. Suasana mulai sepi karena para siswa sudah

banyak yang di jemput pulang.

                Dari sudut kanan

keluarlah sosok pria dengan menggunakan jaket dan penutup kepala. Sosok tinggi

itu sungguh mencurigakan dan berjalan mendekati Jasmine.

                “Adik kecil.”

                “Iya Paman?” seru

Jasmine pada sosok yang kini berdiri di sampingnya.

                “Bisakah kamu

mengantarku ke Jl. Xxx.”

                “Maaf Paman, tapi aku

tidak bisa mengantarmu. Jalan itu ada di depan sana. Paman hanya tinggal belok

ke arah kiri.” Jasmine menjelaskannya dengan pintar.

                “Aku takut salah, ayo

antar aku.” Sosok pria itu tiba-tiba menarik tangan Jasmine membuatnya

ketakutan.

                “Tidak Paman, lepaskan

aku!” jeritnya.

                Karena takut security

yang tadi masuk ke dalam sekolah kembali keluar, sosok pria itu langsung membawa

Jasmine ke dalam gendongannya dengan membekap mulutnya.

                “Emmm...!!!!”

                Jasmine berontak

meminta di lepas, tetapi cengkraman pria itu sangat kuat dan membawa Jasmine ke

mobil miliknya.

                “Jasmine?” gumam Aiden

yang kebetulan melewati jalan itu. Ia segera meminggirkan mobilnya dan berlari

menuju ke arah Jasmine yang kini sudah di paksa masuk ke dalam mobil.

                “Lepaskan dia!”

                Aiden meluncurkan

bogemnya hingga mengenai rahang pria itu. Jasmine terlempar dari gendongannya.

                “Uncle Tampan!”

panggil Jasmine berusaha kembali berdiri.

                Karena keributan itu

juga, Security yang berjaga di sekolah langsung menghampiri mereka. Karena

kaget melihat banyak orang yang datang, sosok itupun memilih kabur menggunakan

mobilnya.

                “Catat plat nomornya,”

seru Aiden yang di angguki security.

                Aiden berjalan

mendekati Jasmine yang menangis.

                “Kamu tidak apa-apa?”

tanya Aiden meneliti Jasmine takut ada luka.

                “Aku baik-baik saja,

Uncle.” Ucapnya menghapus air matanya.

                “Syukurlah. Jemputanmu

belum datang?” tanya Aiden yang di jawab anggukan kepala oleh Jasmine.

                “Kalau begitu ayo Uncle

antar kamu pulang.”

                “Tapi bagaimana kalau

jemputannya datang?” seru Jasmine.

                “Biar security ini

yang memberitau.”

                “Tapi anda siapanya

Jasmine? Kami tidak bisa membiarkan Jasmine pergi dengan sembarang orang,” seru

Security itu.

                “Dia temannya Jasmine,

Pak. Dia orang baik,” seru Jasmine.

                “Baiklah kalau Jasmine

memang mengenal anda dengan baik,” seru Security itu.

                “Ayo Mine.”

Jasmine menganggukkan kepalanya dan menerima

uluran tangan Aiden untuk berjalan mendekati mobil Aiden.

                Sebelum sampai ke rumah,

Aiden sudah sempat membelikan makanan siap saji dan es cream untuk Jasmine.

Awalnya Aiden mengajak Jasmine untuk makan siang bersama, tetapi Jasmine

menolak karena takut orang rumah mencarinya.

                Setelah menempuh

beberapa menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di rumah Jasmine yang

terlihat cukup besar dan begitu elegant.

                “Ini rumahmu?” tanya

Aiden saat mereka sampai di depan gerbang rumahnya,

                “Iya Uncle, ayo masuk

dulu,” ajak Jasmine.

                “Tidak, lain kali

saja. Sekarang kamu masuk gih,” seru Aiden yang di angguki oleh Jasmine.

                “Uncle tampan terima

kasih banyak,” ucap Jasmine spontan memeluk Aiden hingga membuat Aiden mematung

kaku.

                “Sampai jumpa Uncle.”

Jasmine melepaskan pelukannya dan menuruni mobil.

                “Ada apa denganku?”

gumam Aiden saat merasakan ada kehangatan familiar yang di salurkan oleh

Jasmine untuk dirinya.

                “Gadis itu, kenapa aku

begitu menyukai bocah kecil itu,” gumamnya menatap Jasmine yang kini masuk ke

area rumahnya.

                “Jasmine!”

                Catherine membuka

pintu kamarnya dengan kencang membuat Jasmine menoleh ke arahnya.

                “Mom?”

                Catherine berjalan

cepat mendekati Jasmine kemudian menariknya ke dalam pelukannya. “Bagaimana

keadaanmu? Apa mereka menyakitimu?”

                “Tidak apa-apa kok

Mom, untuk ada Uncle tampan yang menolongku,” seru Jasmine melepaskan pelukan

Catherine.

                “Uncle Tampan?” seru

Catherine mengernyitkan dahinya bingung.

                “Iya Mom, dia yang

nolongin aku,” ucap Jasmine.

                Aiden...

                “Apa kamu sudah berterima kasih pada Uncle Tampan itu?” tanya Catherine.

                “Sudah Mom.”

                “Anak pintar.” Catherine

mengusap kepala Jasmine dengan lembut.

                “Mom, bisakah kita

undang Uncle Tampan untuk makan malam bersama?” seru Jasmine. “Aku ingin

mengajaknya makan malam bersama. Dan memperkenalkannya pada Mommy.”

                Catherine terpaku

mendengar penuturan Jasmine barusan. Bagaimana mungkin mereka bisa bertemu dan

makan malam bersama. Bisa-bisa Aiden mengetahui identitas Jasmine. Hal yang

paling ia takutkan. Ia takut Aiden akan merebut Jasmine darinya.

                “Aku yakin Mom akan

suka padanya. Dia sangat baik,” puji Jasmine. “Apalagi dia sangat tampan, lebih

tampan dari Uncle Robert.”

                “Kamu ini ngomong apa

sih,” seru Catherine merasa tak nyaman. “Sudahlah sebaiknya kamu istirahat saja

dulu. Mom akan menemui Ibu angkat dulu.”

                Catherin saat ini

tengah berada di kantor polisi mengenai kasus percobaan penculikan pada

putrinya kemarin.

                “Bagaimana Pak, apa

ada kabar?”

                Polisi yang berada di

hadapan Catherin hanya menghela napas dan mempersilakan Catherin untuk duduk

dengan tenang. Catherine menurut dan kini duduk di hadapan polisi hanya

terhalang sebuah meja kerja.

                “Bagaimana?”

                “Kami masih belum bisa

menemukan pelakunya. Sepertinya si perlaku ini sudah mempersiapkan segalanya.

CCTV di jalan itu pun rusak juga di depan gerbang sekolah anak anda CCTV nya

mati. Kami mencari mereka hanya berpegang pada nomor polisi mobil itu yang

ternyata itu sebuah mobil yang di curi. Kini mobil itu tampak rusak dan

terbakar hangus hingga kami tidak bisa mencari sidik jari atau tanda-tanda dari

si pelaku,” ucap polisi tersebut membuat Catherine merenung.

                “Kalau tidak salah,

saya dengar kalau putri anda di selamatkan oleh seorang pria. Bisakah anda

meminta pria itu untuk datang kemari. Kami butuh keterangan dari saksi mata,

dan hanya dia yang melihat sosok penculik itu.”

                Catherine terpaku di tempatnya

saat mendengar penuturan dari polisi. Bagaimana dia bisa meminta Aiden untuk

bersaksi. Itu sama saja semua rahasianya akan terbongkar.

                Tidak bisa! Catherine

tidak bisa melakukan itu. Kalau Aiden mengetahui mengenai Jasmine, ia takut

Aiden akan memisahkannya dengan Jasmine dan mengambil alih hak asuh. Catherine

tidak bisa membiarkan itu terjadi.

                “Bagaimana Ny.

William?”

                “Saya tidak mengenal

pria itu, tetapi saya akan berusaha mencari keberadaannya,” seru Catherine

merahasiakan fakta dirinya mengenal Aiden.

                “Baiklah kalau begitu,

kami juga akan terus melacak keberadaan penculik itu,” ucap Polisi.

                “Terima kasih Pak.”

                Setelah itu Catherine

pergi meninggalkan kantor polisi. Ia menghubungi pengasuh Jasmine untuk selalu

berada di sisi Jasmine dan akan ada dua bodyguard yang melindungi Jasmine juga

pengasuhnya.

                “Kau kelihatan tidak

sehat.”

                Seruan itu membuat

Catherine menoleh dan terlihat Aiden masuk ke dalam ruangannya.

                “Bukan urusanmu! Dan

bisakah anda mengetuk pintu dulu sebelum masuk ke dalam ruangan ini, Mr.

Aiden!” seru Catherine dengan nada dingin.

                “Aku sudah mengetuk

beberapa kali, dan kamu malah sibuk dengan berbagai macam pikiranmu.” Seru

Aiden membuat Catherine terdiam.

                “Apa kamu terkena

masalah?” tanya Aiden dengan santai duduk di hadapan Catherine yang hanya

terhalang meja kerja.

                “Aku baik-baik saja,”

seru Catherine.

                “Baiklah kalau

begitu,” seru Aiden dengan santai. “Ini beberapa berkas kerja sama dengan

perusahaan Horlang. Kamu hanya tinggal menandatanginya dan membaca kembali

perjanjiannya,” ucap Aiden menyerahkan berkas kepada Catherine.

                Catherine menerima

berkas itu dan membacanya. Aiden memang begitu handal, pekerjaannya sangat

memuaskan dan bahkan Catherine merasa begitu terbantu oleh Aiden. Aiden

memahami dirinya dan apa yang ia inginkan.

                “Sepertinya kamu puas

dengan pekerjaanku,” seru Aiden saat melihat raut wajah Catherine.

                Catherine melihat ke

arah Aiden. “Jangan terlalu berbangga diri dulu.”

                Aiden hanya tersenyum.

“Aku akan mengambil cuti beberapa hari ke depan,” serunya membuat Catherine

mengernyitkan dahinya.

                “Aku akan ke

Indonesia,” seru Aiden saat melihat raut wajah Catherine yang seakan menanyakan

kenapa.

                “Oh.”

                Catherine menjawab

seperti itu, walau hatinya merasa cemas dan ada ketakutan. Mungkinkah Aiden akan

kembali bertemu dengan Agneta, dan apa perasaannya pada Agneta masih ada.

Bagaimana kalau mereka kembali menjalin hubungan.

                Catherine

menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan pemikiran itu. Untuk apa dia

mengkhawatirkan hal itu. Toh ada tidaknya Agneta, perasaan Aiden tetap bukan

untuk dirinya.

                “Kenapa?” tanya Aiden

yang masih menatap Catherine.                “Tidak

ada. Kalau begitu kamu tidak perlu mengkhawatirkan pekerjaan.”

                “Baiklah.”

1
Siarsazkia Siarsazkia
setelah bertahun ku tunggu akhirnya
Elok Pratiwi
tidak menarik
Amrisa Simatupang
jgn macam macam Aiden,ntar ada mine yg kedua Lo.. nikahi mommy mine dulu
Amrisa Simatupang
ayo mine jgn menyerah... ayo Aiden berjuanglah 🙏😁
Amrisa Simatupang
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
bunda R2
lanjut up lg kak thor,,,udah lama baru up lg😁
bunda R2
👍👍
Amrisa Simatupang
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹😂🌹
Rinnie Hassan Azhoeri
thor ini kenapa di ulang lagi....
maunya sih extra part nya saja thooor....
hehehe maaf yaa....
Susi Yanti
udah , cuma sampai dsn critanya ?
Tulip
Aiden sdh mulai nih mesumnya mau kumat
Tulip
🤣🤣🤣🤣
Tulip
🤣🤣🤣🤣yok kita bentur kepala aiden
Tulip
masak gak tau dg isi hati sendiri aiden... dulu gimana waktu sm agneta terbakar gak lihat agneta sm varo. pengen tak getok tu si aiden
Tulip
e. e. e. masih kok cemburu kan cath kamu anggap sahabat
Tulip
dasar gak peka aiden, masak gak tau alasan cathetrin pergi.
Tulip
merasa ya aiden tersindir. samalah dgmu aiden saat sm cathren menyebutkan nama wanita lain.
Tulip
masak lupa dg kesalahan masa lalu ketika bersama ageta. sungguh terlalu
Tulip
mmmm anknya aiden dg masa lalunya kali ya
faa
bener banget takdir d dunia novel ada d tangan autor😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!