Perjuangan cinta yang juga harus membutuhkan restu.
"kamu itu terlahir dalam adat apa? sadar gak sih kamu????"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pasaribu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Acara Gereja
Pagi itu suasana kampung terasa lebih hidup dari biasanya. Sejak matahari belum terlalu tinggi, keluarga besar sudah mulai berdatangan ke rumah calon pengantin perempuan. Rumah yang biasanya tenang kini dipenuhi suara sapaan, tawa, dan percakapan dalam bahasa Batak yang bersahut-sahutan.
"Ka, kaka nampak cantik banget......" ucap adiknya paling bungsu pada Kakanya yang juga sebagai calon pengantin itu, Sarma. Dia tersenyum menanggapinya. Dia terlihat sangat anggun dipadukan dengan kebaya pink dan bentuk rambut yang membuatnya terlihat elegan.
"Pak, kursinya sudah disusun?" tanya Ibu Sarma.
"Sudah. Itu sudah diatur tadi,"
Di halaman rumah telah dipasang tenda sederhana. Kursi-kursi disusun rapi menghadap bagian depan rumah tempat kedua keluarga nantinya akan duduk bersama.
Suasana di rumah Asido juga terdengar ramai, keluarganya cukup banyak yang bersiap-siap untuk segera pergi.
Asido yang baru selesai sarapan ikut membantu beberapa kerabat mengangkat barang-barang yang akan dibawa.
"Dokter pun disuruh kerja juga rupanya," goda salah satu Nantulangnya.
"Kalau di kampung, semua jadi kuli, Nantulang," jawab Asido sambil tertawa.
"Baguslah. Jangan mentang-mentang punya klinik besar jadi nggak bisa di suruh lagi." sahut Tulangnya.
Menjelang siang, rombongan keluarga laki-laki mulai bersiap menuju rumah pihak perempuan.
Abang Asido, Saut tampak rapi dengan kemeja putih dan jas hitamnya. Meski berusaha terlihat tenang, wajah gugupnya masih terlihat jelas.
"Tenanglah, Bang." bisik Asido.
"Kau nanti juga akan merasakan." balas abangnya.
Asido tertawa kecil sambil memukul lengan abangnya.
"Saut? Cepat itu, Mang...." panggil ibunya.
"Udah siap, Mak." sahut Saut datang menghampiri.
"Cincin udah kan, Mang?" tanya ibunya lagi.
"Oh iya....." balas Saut pura-pura kaget.
"Tuh kan..... kamu gimana sih?" gerutu ibunya.
Saut tertawakan kecil sambil meraih tangan ibunya, "sudah pastinya kok..... Nggak mungkin lupa kan....?"
"Issss cepatlah itu, jangan bercanda....." ucap ibunya.
Rombongannya pergi dengan tiga bus penuh. Asido, Abangnya dan orangtuanya naik mobil yang berbeda dari bus itu. Rombongan keluarga laki-laki itu berangkat langsung menuju gereja di tempat pihak perempuan.
Sesuai tradisi yang mereka jalankan, pemberkatan martuppol terlebih dahulu dilaksanakan di gereja sebelum acara adat dan makan bersama di rumah pihak perempuan.
Di halaman gereja, keluarga laki-laki dan keluarga perempuan mulai berdatangan dari arah yang berbeda.
Untuk pertama kalinya hari itu, kedua keluarga besar berkumpul dalam suasana yang lebih resmi.
Calon pengantin perempuan datang bersama orangtua dan saudara saudaranya.
"Horas!"
"Horas!"
Salam demi salam bersahutan di halaman gereja antara pihak keluarga laki-laki dan perempuan. Juga antara pihak laki-laki dengan jemaat gereja itu.
Tak lama kemudian lonceng gereja berbunyi. Seluruh jemaat dipersilahkan masuk. Suasana yang tadinya ramai perlahan berubah khidmat.
Di depan altar, kedua calon pengantin duduk berdampingan menerima pemberkatan martuppol dari pendeta.
Sesekali calon pengantin perempuan menundukkan kepala mendengarkan firman. Tangannya menggenggam kertas acaranya dengan erat, tanda gugup yang masih belum hilang sejak pagi.
Di sampingnya, Saut juga berusaha terlihat tenang. Namun, beberapa kali ia menarik napas panjang dan merapikan posisi duduknya.
Pada satu momen, ketika jemaat sedang menyanyikan lagu pujian, keduanya tanpa sengaja saling menoleh.
Mata mereka bertemu. Tak ada kata-kata. Hanya senyum kecil yang muncul di wajah masing-masing.
"Untuk kalian berdua..... Hari ini bukan hanya tentang sebuah acara. Hari ini adalah sebuah janji di hadapan Tuhan dan jemaat."
Gereja menjadi semakin sunyi.
"Kalian mungkin berpikir bahwa pernikahan dibangun oleh rasa cinta. Itu benar. Tetapi cinta saja tidak cukup."
Beberapa jemaat mengangguk pelan.
"Karna ada hari-hari ketika perasaan sedang tidak baik. Ada hari ketika pasangan kita menyenangkan, tetapi ada juga hari pasangan kita mengecewakan."
Pendeta itu berhenti sejenak.
"Itulah sebabnya Tuhan tidak hanya mengajarkan tentang cinta, tetapi juga kesetiaan dan komitmen."
Kedua calon mempelai menundukkan kepala mendengarkan.
"Komitmen bukan sekadar berkata, 'Aku mencintaimu.' Komitmen adalah berkata, 'Aku tetap memilihmu bahkan ketika hidup tidak sesuai harapan."
Abang Asido melirik calon istrinya sesaat. Di saat yang hampir bersamaan, perempuan itu juga menoleh.
Mereka sama-sama tersenyum yang penuh haru.
Saat itu juga, di kursi jemaat Asido tersenyum tipis.
"Bahagia selalu, Bang...." ucapnya dalam hati.
Pendeta tersenyum kepada kedua calon mempelai.
"Hari ini kalian berdiri di awal perjalanan. Masih banyak hal yang akan kalian pelajari. Tetapi selama Tuhan yang menjadi pusat rumah tangga kalian, dan tetap memegang kesetiaan serta komitmen yang kalian ucapkan hari ini. Tuhan akan menuntun setiap langkah kalian."
"Amin," sahut jemaat lebih lantang.
Kedua calon mempelai kembali menatap ke depan. Dan masih sempat saling menatap.
"Lihatlah mereka," bisik salah satu Nantulang pelan.
"Masih saling pandang terus......"
"Namanya juga calon pengantin."
Keduanya terkekeh kecil sebelum kembali mengikuti jalannya ibadah.
Setelah khotbah selesai, Pendeta menutup Alkitabnya lalu memandang kedua calon mempelai.
"Pada saat ini, saya mempersilahkan kedua calon mempelai untuk maju ke depan altar."
Saut berdiri lebih dulu, lalu mengulurkan tangan kepada calon mempelai perempuan. Dengan senyum gugup, Sarma menerima uluran tangan itu dan berdiri di sampingnya.
Keduanya melangkah perlahan menuju depan altar.
Dari bangku jemaat, keluarga besar memperhatikan dengan penuh haru.
"Anak kita, Pak....." ucap ibu Asido pada suaminya dengan senyum tulus.
Suaminya hanya membalas dengan senyum.
"Hari ini kalian datang bukan karna paksaan siapapun. Melainkan karna keputusan dan kesediaan kalian sendiri untuk melangkah menuju pernikahan yang diberkati Tuhan."
"Kami bersedia," jawab keduanya hampir bersamaan.
Pendeta mengangguk. Kemudian seorang pelayan gereja maju membawa kotak kecil berisi sepasang cincin.
Pendeta membukanya lalu berkata.
"Cincin ini adalah lambang kesetiaan, kasih dan komitmen. Bentuknya yang melingkar tanpa ujung mengingatkan bahwa kasih dan kesetiaan harus terus dipelihara sepanjang perjalanan hidup bersama."
Kedua calon mempelai mendengarkan dengan seksama.
Pendeta kemudian menyerahkan cincin kepada calon pengantin pria terlebih dahulu.
"Silahkan kenakan cincin ini kepada calon istrimu sebagai tanda kesungguhan hatimu."
Dengan tangan yang sedikit gemetar karna gugup, Saut mengambil cincin itu. Ia menatap perempuan di hadapannya beberapa detik. Perempuan itu tersenyum malu.
Perlahan, cincin itu disematkan ke jari manis tangan kirinya.
Tepuk tangan kecil terdengar dari beberapa anggota keluarga. Kemudian giliran calon pengantin perempuan menerima cincin satunya.
"Silakan kenakan cincin ini kepada calon suami mu. Sebagai tanda komitmen dan kesetiaan yang akan kalian pelihara bersama."
Sarma menarik napas sebelum menyematkan cincin ke jari tangan calon suaminya.
Saat cincin itu terpasang sempurna, tepuk tangan jemaat terdengar lebih meriah. Asido juga tepuk tangan dengan penuh haru.
Beberapa keluarga tersenyum bangga. Ada pula yang diam-diam menyeka air mata haru.
Pendeta kemudian mengangkat kedua tangannya.
"Mari kita berdoa bagi kedua calon mempelai ini."
Seluruh jemaat menundukkan kepala.
"Amin" ucap semuanya serentak.