NovelToon NovelToon
Dilema Cinta Kedua

Dilema Cinta Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Single Mom / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:454
Nilai: 5
Nama Author: Larasa

Nayra Lovarisa, 32 tahun, seorang influencer sukses dengan kehidupan yang sudah sempurna, karier mapan, bisnis berkembang, dan memiliki putra yang menjadi dunianya.
Selama empat tahun, hanya mereka berdua. Tanpa kekurangan, sampai sosok Om Rara muncul menjadi penolong baik hingga tanpa sadar membuat anaknya menyukainya.
Awalnya Nayra tidak terganggu malah terbantu dengan sang tetangga sampai kemudian anaknya punya harapan lebih, ingin menjadikan pria itu sebagai ayah sambungnya.

Bagaimana kisah ini selanjutnya? Nayra yang punya banyak pertimbangan, Rayyan yang tidak menyerah menjodohkan sang Mama dan Om Rara yang menyadari perasaannya apa mampu meluluhkan hati janda satu anak itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7. Tujuan baik

"Mama aja ngga sih yang ngantar kuenya."

"Rayyan aja, Mama kan capek habis buat banyak kue. Jadi sekarang giliran Rayyan yang bertugas antarnya." Katanya manis sekali membuat rasa lelah yang di rasakan Nayra sedikit berkurang, tapi tentu wanita itu tak menurutinya begitu saja.

"Atau kita bisa berdua antarnya?" Nayra memberikan usul yang membuat putranya menggeleng cepat.

"Kayak gitu sama aja bohong, tetap aja bikin Mama capek." Balasnya. "Tapi kalau ujung-ujungnya bukan aku yang anter berarti sia-sia aja dong aku nurutin Mama buat istirahat di rumah dan enggak jadi les renang?"

Nayra membenarkan dalam hati, tapi tidak langsung setuju dengan tawaran putranya, ia masih mempertimbangkan tindakan yang di ambilnya.

Ia tahu Putranya adalah anak yang cukup pintar dan bisa di percaya, masalahnya kue yang akan anak itu bawa tidak hanya satu atau dua tapi lebih dari lima.

Kue-kue berukuran sedang itu di masukkan ke dalam boks untuk di berikan pada tetangga di lantai yang sama dengan tujuan untuk menjalin hubungan yang baik.

Masalahnya Rayyan adalah anak yang ceroboh, banyak tanya tanpa peduli kondisi dan sedikit seenaknya. Sebagai orang baru ia takut putranya membuat beberapa orang tidak senang hingga membuat masalah ke depannya.

"Tapi hati-hati ya! Nanti bawanya satu-satu aja supaya enggak berat." Nayra melangkah menuju meja makan yang tersusun kue-kue yang akan di bagikan ke tetangga lalu menyerahkan satu pada Rayyan. "Di mulai dari unit yang di depan lift dulu aja."

Rayyan mengangguk semangat perihal berbuat baik ataupun mengenal orang baru, lalu dengan sedikit berlari keluar dari pintu unitnya tanpa menutupnya lagi.

Diam-diam Nayra mengintip Rayyan sedang bicara dengan penghuni unit lain dengan ramah membuatnya tersenyum bangga sekaligus khawatir.

Harusnya anak seusia itu memiliki rasa takut, tapi beda dengan putranya yang suka berkenalan dengan siapapun yang di temuinya menimbulkan rasa khawatir karna bisa saja Rayyan berinteraksi dengan orang yang salah yang bisa saja mencelakainya.

Cepat-cepat Nayra mundur saat melihat putranya hendak mendekati unit mereka. Ia mengambil satu boks kue lagi bertepatan dengan Rayyan masuk dengan antusias.

"Orang di sana namanya Tante Mila, Ma. Dia anak kuliah yang milih tinggal di apartemen karna terjamin keamanannya dari pada ngekos biasa."

"Pantasan lama ternyata kamu banyak tanya ternyata." Nayra sambil memberikan boks ke Rayyan. "Nanti kalau orangnya ogah-ogahan jawabnya mendingan kamu jangan tanya-tanya lagi ya."

"Bukannya Mama pernah bilang kalau bertetangga harusnya saling mengenal? Terus kalau enggak ngobrol gimana mau kenalnya?"

"Iya, tapi di sini..." Nayra diam menyadari salah memberikan jawaban maka anaknya akan membantah dengan jawaban uniknya. Ia tidak mungkin memberikan penjelasan kalau tetangga di sini tidak sama dengan orang-orang yang tinggal di kontrakan mereka dulu yang bisa menimbulkan pertanyaan baru bagi sang anak. "Orang-orang itu beda-beda, ada yang capek habis kerja atau jalan-jalan terus denger kamu nanya-nanya mulu yang ada mereka pasti marah."

Rayyan mengangguk. "Pantas aja tadi Om Rara marah pas Rayyan nanya."

"Om Rara?"

"Itu loh Om yang tinggal di samping unit kita kita."

"Gatra bukan Rara."

"Iya, emang itu namanya. Tapi aku susah sebutnya, Ma. Enakkan panggil Om Rara aja."

"Susah?" Naya mengamati putranya dengan tidak yakin. "Dia ngga marah kamu bilang gitu?"

"Enggak, dia malah senang." Rayyan menyakinkan sang Mama dengan antusias. "Mama tahu ngga, Om Rara tadi pagi undang aku ke unitnya. Terus aku jawab iya, Om nanti kapan-kapan aku hampir sekarang enggak bisa soalnya mau bantu Mama dulu. Terus dia muji aku baik."

"Beneran?"

Rayyan mengangguk cepat. "Iya, Om Rara baik deh. Aku jadi seneng tinggal di sini soalnya ada temannya, tapi di tempat tinggal kita sebelumnya aku juga senang. Bedanya kalau di sini aku ngga bakal takut keluar malam buat main sambil nunggu Mama pulang kerja lagi."

"Baik banget dia, tapi kamu juga ngga boleh sering-sering ke unit dia. Kita baru aja kenal jadi kita ngga tahu aslinya orang itu gimana." Nayra memilih untuk menasehati putranya alih-alih melarang atau terlalu mengizinkan.

Sebagai ibu, ia tahu semakin keras menolak maka putranya semakin penasaran. Nayra mengetahui karakter anaknya seperti itu ketika anak itu diam-diam pergi ke kolam renang umum dan ia mengetahuinya dari orang lain.

"Jadi aku boleh sering main ke unitnya Om Rara, Ma?" Tanya Rayyan memastikan.

"Boleh, selagi dia izinkan dan kamu ngga nakal juga. Tapi ke sana kamu jangan sering-sering ya, takutnya dia bosan terus siapa tahu dia kasar ke kamu."

Rayyan menggeleng. "Om Rara mah baik banget, Ma. Padahal kejadian kemarin aku... aku mau antar kue ke tetangga, Ma!"

Nayra mengerutkan kening, merasa aneh dengan putranya, tapi tak menanggapinya. Saat akan mengintip putranya bercengkrama dengan tetangga tiba-tiba saja Nayra mendengar ponselnya di sofa yang tak jauh darinya berdering.

Di sana tertera nama Haviza, sahabat sekaligus adik dari pemilik apartemen ini, membuat Nayra tanpa ragu langsung menjawabnya.

"Tumben nelepon sore-sore, Za." Kata Nayra pertama kali.

"Aku mau ngomong sesuatu, tapi sialan bangat aku malah kejebak macet ngga jauh dari apartemen kamu. Kayaknya aku sampainya agak malam."

"Mulutnya, Za. Ingat kamu lagi hamil!" Tegur Nayra. "Ngga papa, kamu hati-hati nyetirnya."

"Astaga, iya aku lupa. Nay... aku kangen banget kue bikinan kamu. Kalau kamu enggak sibuk boleh dong bikinan nanti pas udah sampai bisa langsung aku makan."

"Kebetulan banget aku lagi bikin terus bagi-bagi buat tetangga. Rencananya nanti malam mau anterin ke rumah kamu, tapi kamu duluan ke sini."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!