NovelToon NovelToon
INVINCIBLE DIVINE EMPEROR NINE HEAVENS HAREM

INVINCIBLE DIVINE EMPEROR NINE HEAVENS HAREM

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Harem / Kultivasi
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Noxalisz

Di dunia kultivasi yang luas, Xiao Chen adalah anomali—diturunkan dari langit dengan ketampanan dan kekuatan absolut tanpa batas. Dibesarkan di Hutan Sunyi oleh Qing Yan, ia tumbuh tanpa memahami asal-usulnya. Saat berusia 15 tahun, ia memulai perjalanan menjelajahi dunia, mengungkap misteri dirinya, menghadapi berbagai faksi, serta membangun hubungan dengan wanita dan kekuatan yang mengguncang tiga alam.

bonus langsung 10 episode pertama

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noxalisz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayangan di Balik Senyuman

Keesokan harinya, Wei Zhen memberikan jawabannya.

Dia berdiri di aula utama, menghadap Qin Wuya yang duduk dengan ekspresi percaya diri. Di belakang Wei Zhen berdiri Xiao Chen, Wei Ling, Feng Mo, dan beberapa murid senior. Di sisi lain, Lin Yao, Su Mei, dan kedua murid laki-laki Qin Wuya berdiri di belakang ketua mereka.

"Aku sudah mempertimbangkan tawaranmu, Tetua Qin," kata Wei Zhen. Suaranya tenang, tapi tegas. "Dan aku memutuskan untuk menolak."

Senyum Qin Wuya tidak berubah. Tapi ada sesuatu di matanya—kilatan dingin yang muncul dan menghilang dalam sekejap. "Menolak? Itu keputusan yang... berani."

"Kau menyebutnya berani. Aku menyebutnya tepat." Wei Zhen meletakkan sebuah kantong kain di atas meja. "Ini lima puluh Batu Spiritual Menengah. Sebagai tanda terima kasih karena sudah datang sejauh ini. Aku harap kita tetap bisa hidup berdampingan dengan damai."

Qin Wuya menatap kantong itu, lalu menatap Wei Zhen. "Damai. Tentu saja." Dia mengambil kantong itu tanpa melihat isinya. "Tapi aku ingin mengingatkan sesuatu, Wei Zhen. Dunia ini berubah. Sekte-sekte kecil seperti kita tidak bisa bertahan sendiri selamanya. Suatu hari nanti, kau akan menyadari bahwa kau butuh sekutu. Dan saat hari itu tiba..." Dia tersenyum. "...aku mungkin tidak akan datang dengan tawaran yang sama."

Dia berbalik dan berjalan keluar. Kedua murid laki-lakinya mengikuti. Su Mei mengekor dengan ragu-ragu.

Lin Yao adalah yang terakhir beranjak. Sebelum melangkah keluar, dia menoleh ke arah Xiao Chen. Mata hijaunya bertemu mata ungu keemasannya.

"Sampai jumpa di turnamen," katanya pelan.

"Aku akan menunggumu," jawab Xiao Chen.

Lin Yao mengangguk kecil, lalu berjalan keluar.

Setelah rombongan Qin Wuya pergi, Wei Zhen menghela napas panjang. "Dia akan membalas. Aku tahu dia akan membalas."

"Tapi tidak hari ini," kata Xiao Chen. "Dan tidak besok. Dia butuh waktu untuk merencanakan sesuatu." Dia mengambil kantong Batu Spiritual yang tadi sempat disentuh Qin Wuya—tapi yang ini berbeda. Ini adalah kantong yang sama yang dibuat Xiao Chen tadi malam, berisi seratus Batu Spiritual Tingkat Tinggi. "Sementara itu, kita punya ini."

Wei Zhen menatap kantong itu seperti menatap bom yang belum meledak. "Aku masih tidak percaya kau bisa... membuat Batu Spiritual. Itu seharusnya tidak mungkin. Bahkan Grandmaster Formasi tidak bisa menciptakan energi spiritual dari ketiadaan."

"Aku tidak menciptakannya dari ketiadaan." Xiao Chen memiringkan kepala, memikirkan cara menjelaskannya. "Aku hanya... mengambil energi yang sudah ada di sekitar kita, dan memadatkannya menjadi bentuk yang lebih murni."

"Energi di sekitar kita?" Wei Zhen mengerutkan kening. "Maksudmu Qi alam?"

"Mungkin. Aku tidak tahu istilahnya." Xiao Chen menyerahkan kantong itu. "Yang penting, ini cukup untuk mendaftar turnamen, kan?"

"Lebih dari cukup. Ini... ini terlalu banyak."

"Kalau begitu, gunakan sisanya untuk sekte. Beli pil untuk murid-murid. Perbaiki formasi pelindung. Beri mereka fasilitas yang lebih baik." Xiao Chen menatap halaman di mana para murid sedang berlatih. "Kau bilang mereka membutuhkan sumber daya. Sekarang kau punya sumber daya."

Wei Zhen menggenggam kantong itu erat-erat. Wajahnya menunjukkan konflik—antara harga diri dan kepraktisan. Akhirnya, kepraktisan menang. "Aku tidak tahu bagaimana cara membalasmu."

"Tidak perlu. Anggap saja ini investasi." Xiao Chen tersenyum. "Aku ingin melihat seberapa jauh sekte ini bisa tumbuh."

Pengumuman tentang pendaftaran turnamen menyebar seperti api di musim kemarau.

Dalam hitungan jam, seluruh kota tahu bahwa Sekte Awan Kelabu, sekte kecil yang hampir tidak pernah diperhitungkan, akan berpartisipasi dalam Turnamen Rekrutmen Murid Sekte Pedang Langit. Para pedagang di pasar berbisik-bisik. Para kultivator independen mengangkat alis. Bahkan beberapa sekte kecil dari kota tetangga mengirim pesan untuk bertanya apakah itu benar.

"Kau yakin ini ide yang bagus?" tanya Feng Mo saat mereka bersiap-siap di halaman. "Ini akan menarik perhatian. Mungkin perhatian yang tidak kita inginkan."

"Perhatian adalah pedang bermata dua," jawab Xiao Chen. "Tapi selama kau tahu cara memegangnya, pedang itu tidak akan melukaimu." Dia duduk di bangku batu dekat kolam, memperhatikan para murid yang berlatih lebih keras dari biasanya. Berita tentang turnamen telah menyuntikkan semangat baru ke dalam sekte. "Lagipula, bukankah ini yang kalian inginkan? Kesempatan untuk membuktikan diri?"

Feng Mo duduk di sampingnya. Hubungan mereka sudah lebih santai sekarang—Feng Mo sudah tidak lagi melihat Xiao Chen sebagai ancaman misterius, melainkan sebagai... sesuatu yang lain. Teman, mungkin. Atau mentor tak resmi.

"Aku sudah berkultivasi selama dua belas tahun," kata Feng Mo. "Aku baru mencapai Tahap Pemurnian Qi tingkat 9. Di turnamen nanti, aku akan berhadapan dengan murid-murid dari sekte menengah yang mungkin sudah mencapai Pendirian Fondasi. Bagaimana aku bisa bersaing?"

"Dengan percaya diri," jawab Xiao Chen. "Dan dengan teknik yang tepat."

"Teknik? Kami hanya punya beberapa teknik Fana tingkat Rendah dan Menengah. Itu tidak cukup."

Xiao Chen merenung sejenak. Lalu dia mengangkat tangannya, dan sebuah gulungan muncul di telapaknya—terbentuk dari cahaya keemasan yang perlahan memadat menjadi gulungan fisik. "Ini. Aku membacanya dari salah satu gulungan di perpustakaan, tapi aku membuat beberapa... penyesuaian."

Feng Mo menerima gulungan itu dengan tangan gemetar. Dia membukanya, dan matanya langsung membelalak. "Ini... ini Teknik Pedang Aliran Air Fana tingkat Tinggi! Tapi aku belum pernah melihat versi seperti ini. Gerakannya lebih efisien, aliran Qi-nya lebih halus—"

"Aku hanya menghilangkan bagian yang tidak perlu dan menambahkan apa yang menurutku masuk akal."

"Kau... menciptakan ulang teknik kultivasi?" Feng Mo menatapnya dengan ekspresi antara kagum dan ngeri. "Itu biasanya butuh Grandmaster Teknik bertahun-tahun!"

"Aku belajar dengan cepat." Xiao Chen bangkit. "Ajarkan itu pada murid-murid lain. Kita masih punya waktu sebelum turnamen."

Latihan di Sekte Awan Kelabu berubah intensitasnya.

Setiap pagi, para murid bangun sebelum fajar. Mereka berlatih jurus pedang, membentuk segel, mengumpulkan Qi. Zhang Yuan, yang sekarang sudah mencapai Tahap Pemurnian Qi tingkat 4, memimpin sesi pemanasan dengan semangat yang menular. Wei Ling dan Feng Mo berlatih bersama, menggunakan teknik baru yang Xiao Chen berikan.

Dan Xiao Chen sendiri... terus membaca.

Dia sudah menghabiskan hampir semua gulungan di perpustakaan Sekte Awan Kelabu—tidak banyak, hanya sekitar lima puluh gulungan, kebanyakan tentang dasar-dasar kultivasi, sejarah Alam Fana, dan teknik-teknik tingkat rendah. Tapi itu cukup untuk memberinya pemahaman yang solid tentang bagaimana dunia ini bekerja.

Sekarang dia membaca gulungan yang lebih spesifik: Gulungan Klasifikasi Pil Fana, Gulungan Material Artefak, Gulungan Dasar-Dasar Formasi. Semuanya diserap, dianalisis, dan disimpan dalam pikirannya yang luar biasa.

"Kau tidak pernah berhenti membaca," komentar Wei Ling suatu sore. Dia duduk di samping Xiao Chen di beranda, membawa dua cangkir teh. "Apa kau tidak bosan?"

"Bagaimana mungkin aku bosan?" Xiao Chen menerima cangkir itu dengan kedua tangan. "Setiap gulungan adalah jendela ke bagian baru dari dunia ini. Semakin banyak yang kubaca, semakin aku menyadari betapa sedikit yang kutahu."

Wei Ling menyesap tehnya. "Kau tahu, kadang-kadang kau terdengar seperti orang tua yang bijaksana. Tapi kau juga terlihat seperti... yah, seperti dirimu."

"Apakah itu pujian?"

Wajah Wei Ling memerah. "Lupakan saja."

Mereka terdiam sejenak, menikmati angin sore yang berhembus. Matahari mulai terbenam, mewarnai langit dengan nuansa jingga dan ungu.

"Xiao Chen," kata Wei Ling pelan. "Apa kau akan pergi setelah turnamen?"

Pertanyaan itu menggantung di udara.

"Aku akan pergi," jawab Xiao Chen jujur. "Bukan karena aku tidak suka di sini. Tapi karena ada begitu banyak hal yang harus kulihat. Begitu banyak tempat yang harus kujelajahi."

Wei Ling menatap cangkir tehnya. "Aku tahu. Aku hanya... berharap kau akan tinggal lebih lama."

"Aku masih di sini sekarang." Xiao Chen menatapnya dengan lembut. "Dan aku akan memastikan sekte ini kuat sebelum aku pergi."

"Janji?"

"Janji."

Malam itu, setelah semua orang tidur, Xiao Chen berdiri di halaman sendirian.

Tangannya menyentuh kain emas di balik jubahnya. Setiap malam, dia melakukan ini—memegang kain itu, mencoba merasakan sesuatu. Kadang-kadang, ada getaran samar. Denyutan yang nyaris tidak terdeteksi. Seolah kain itu mencoba memberitahunya sesuatu, tapi suaranya terlalu jauh, terlalu sayup.

"Suatu hari," bisiknya pada kain itu. "Aku akan menemukanmu. Siapa pun yang membuatmu. Apa pun yang kau coba sampaikan."

Angin malam bertiup, dan untuk sesaat, pola-pola formasi di kain itu bersinar sedikit lebih terang.

Xiao Chen tersenyum.

Lalu dia berbalik dan berjalan kembali ke kamarnya, siap untuk hari esok.

Di kejauhan, di jalan menuju Kota Hutan Hijau, Qin Wuya dan rombongannya berhenti untuk beristirahat. Api unggun kecil menerangi wajah mereka.

"Tetua," kata Wang Tao, salah satu murid laki-laki. "Apa yang akan kita lakukan sekarang?"

Qin Wuya menatap api. "Kita tunggu. Turnamen akan diadakan dalam enam bulan. Sekte Awan Kelabu akan mengirimkan perwakilan mereka. Dan saat mereka kalah—karena mereka pasti akan kalah—reputasi mereka akan hancur. Saat itulah kita bergerak."

"Dan pemuda berambut putih itu?"

"Xiao Chen." Qin Wuya menyebut nama itu dengan nada yang sulit diartikan. "Dia berbeda. Aku tidak tahu apa dia sebenarnya, tapi dia berbahaya." Dia menoleh ke arah Lin Yao, yang duduk terpisah dari yang lain, menatap bintang. "Lin Yao."

"Ya, Tetua?"

"Kau berinteraksi dengannya. Apa pendapatmu?"

Lin Yao terdiam sejenak. Lalu dia berkata, "Dia tidak memiliki kultivasi. Tapi dia adalah orang terkuat yang pernah kutemui. Dan dia... baik."

"Baik?" Qin Wuya tertawa kecil. "Kebaikan adalah kelemahan di dunia ini."

"Tidak selalu, Tetua." Lin Yao menatap api. "Kadang-kadang, kebaikan adalah kekuatan yang paling menakutkan."

Qin Wuya tidak menjawab. Tapi di balik matanya, rodanya berputar. Dia tahu Lin Yao benar tentang satu hal—Xiao Chen berbeda. Dan untuk menghadapi sesuatu yang berbeda, dia mungkin perlu strategi yang berbeda pula.

Api berderak. Malam semakin larut. Dan di kejauhan, di balik pegunungan dan hutan, sebuah turnamen menunggu.

1
TGT
good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!