"Dasar anak Kunti!"
"Aku bukan anak Kunti! berhenti memanggilku anak Kunti! namaku Kalingga Arsana!"
Kalingga sering di panggil anak Kunti oleh teman temannya dan para warga di tempat dia tinggal, bukan tanpa alasan, itu karena dia lahir dari rahim seorang perempuan yang sudah di kubur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tertipu
"Ada di ...... Innalillahi apa mungkin di bawa binatang! tadi aku menyimpannya di dalam kain bekas ini" kaget Rumi karena Ari Ari bayi itu tidak ada di sana.
"Bagaimana ini Mbah?" tanya Kaelan panik
"Aku akan cari di sekitar sini, mungkin di bawa monyet, mereka sering usil" ucap Prawira dan jadilah mereka keliling untuk mencari Ari Ari bayi Maryani.
"Ya Allah, kemana Ari arinya, bagaimana kalau di ambil mahluk halus" gumam Kaelan.
Srak.
"Apa itu?"
Mereka terkejut saat tiba tiba ada sesuatu yang terjatuh dari atas pohon, dan saat senter Abidin menyorot ke arah suara, itu adalah sebuah Ari Ari yang masih terlihat segar.
"Ternyata di sini, pasti ulah monyet kak" ucap Prawira segera mengambil Ari Ari itu
"Ayo kita pergi dari sini sebelum larut malam" ucap Abidin dan mereka bergegas pergi dari sana.
Di balik pohon beringin besar, Jayandanu menatap kepergian empat orang itu dengan seringai tipis di bibirnya, dia sudah berhasil membawa Ari Ari bayi Maryani dan menukar Ari Ari itu dengan milik salah seorang bayi yang baru lahir dari kampung Sukun, supaya mereka tidak kembali ke kampung cadas dan curiga kalau Ari Ari bayi Maryani sudah dia curi.
"Hahaha.. pergilah sejauh apapun bayi Kunti, kamu akan tetap kembali ke kampung cadas" gumam Jayandanu tertawa
Jayandanu segera kembali ke tempat Malak, mereka akan menyembunyikan Ari Ari bayi itu di suatu tempat yang tidak akan diketahui siapapun bahkan oleh Arsana ataupun jin kuat lainnya, mereka sengaja melakukan itu supaya tidak ada jin lain yang akan menantang mereka karena kebanyakan jin dari hutan mahoni ada pendukung Arsana bahkan bawahannya.
°°°°°°°°°°°°
Pagi hari di kampung Mahoni.
"Kaelan, bangun nak kamu belum shalat subuh ini sudah pukul setengah enam" ucap Karna
"Iya yah, ayah sudah shalat? bayi Kaelan dimana? Ari Arinya bagaimana?" tanya Kaelan
"Astagfirullah, kamu banyak sekali bertanya mirip adik kamu, semuanya sudah di urus Mbah Rumi, sekarang bayi kamu sedang disusui anaknya Panca" jawab Karna
"Di susui anaknya Mbah Panca? siapa?" tanya Kaelan
"Purnama, kamu lupa ya kalau purnama baru melahirkan dua bulan yang lalu, air susunya banyak katanya jadi dia tidak keberatan, lagipula anaknya sama perempuan" jawab Karna
"Berarti Purnama jadi ibu susu bayi Kaelan ya yah?" tanya Kaelan
"Iya, kamu beruntung karena bayi kamu di sayangi semua orang, cepat shalat sana" jawab Karna dan Kaelan mengangguk.
Selesai mandi dan shalat, Kaelan pergi ke arah rumah Panca bersama adik angkatnya Kaini, putri bungsu Karna dan istrinya Aini yang baru berusia sama dengan Prawira, enam belas tahun. mereka mengobrol banyak tentang sekolah Kaini dan juga apa saja yang di pelajari di sekolah yang sudah berdiri selama lima belas tahun di kampung mahoni itu.
"Assalamu'alaikum" sapa Kaelan dan Kaini
"Wa'alaikumussalam, mau jemput bayi kamu ya, sini tadi di adzani Zaher karena kamu lama sekali tidurnya" jawab Panca
"Kurang ajar sekali kak Zaher mengadzani anak Kaelan, harusnya Kaelan yang adzani Mbah" protes Kaelan
"Kamu lama soalnya, harusnya setelah kamu ambil dari dalam kubur itu kamu adzani, dia semalaman menangis jadi terpaksa kak Zaher adzani baru setelah itu dia diam, kamu boleh beri dia nama" jawab Zaher yang sudah rapi karena dia adalah seorang guru di sekolah Mahoni.
"Kakak mau mengajar? berangkat dengan Kaini sana" ucap Kaelan yang matanya terlihat sekali sembab.
"Iya, kakak mau ke sekolah, kamu lihat anak kamu, supaya rasa rindu kamu terobati pada ibunya, tapi wajahnya tidak cantik seperti Maryani, dia cantik seperti kamu" ucap Zaher bercanda menghibur Kaelan
"Kaelan tampan kak, tidak mungkin jadi cantik" keluh Kaelan
"Lihat saja sana, wajahnya mirip kamu" jawab Zaher lalu pamit untuk bekerja dan mencium tangan Panca, Mahira istri Panca dan mengecup kening istrinya Purnama.
"Bagaimana rasanya mencium tangan mertua yang usianya sama dengan kak Zaher, atau perlu Kaelan panggil kakak Om?" tanya Kaelan karena memang usia Panca dan Zaher menantunya hanya selisih dua tahun, Panca empat puluh lima dan Zaher empat puluh tiga tahun.
"Rasanya seperti kembali muda, Prawira ayo berangkat sekolah" panggil Zaher sama sekali tidak tersinggung
"Iya kak, Kaini kamu sudah kerjakan tugas matematika dari kak Zaher?" tanya Prawira
"Sudah, kak Paramitha yang bantu" jawab Kaini
"Paramitha memangnya ke rumah kamu?" tanya Panca
"Semalam mampir dengan Om Prama, katanya mau pinjam catatan untuk Prana karena Prana sakit kemarin" jawab Kaini
Kaelan melihat begitu besar perbedaan antara kampung Mahoni dan kampung cadas, di kampung Mahoni begitu banyak perubahan, ada sekolah, klinik bahkan lampu sudah ada di sana Meskipun terbatas, bahkan televisi juga ada dan bisa di tonton bersama di balai desa untuk yang tidak mampu membeli televisi.
Berbeda dengan kampung cadas yang tidak ada lampu, tidak ada sekolah karena anak anak hanya akan di sekolahkan sampai SD saja di kampung Mahoni, setelah lulus mereka akan membantu orang tua mereka di kebun atau di sawah. tak ada klinik karena orang sakit hanya akan di obati oleh Narno, dan untuk dukun beranak hanya Rumi saja yang masih ada karena di kampung itu tidak ada yang sehebat Rumi dalam membantu persalinan.
"Anak ayah cantik sekali, kamu kenal ayah kan, jangan lihat wajah orang lain selain ayah ya" ucap Kaelan
"Kamu menangis semalaman?" tanya Panca
"Iya, Kaelan berharap Maryani ikut Kaelan tapi dia tidak datang" jawab Kaelan
"Jangan gila, Maryani sudah meninggal dan ikhlaskan dia, Maryani yang kamu lihat itu adalah qorinnya" ucap Panca
"Tapi dia seperti nyata Mbah, hanya saja sentuhannya terasa dingin, tatapannya masih penuh cinta dan begitu terlihat nyata" jawab Kaelan
"Jangan terlena dengan sesuatu yang fana Kaelan, yang harus kamu utamakan sekarang adalah anak kamu" ungkap Panca
"Iya Mbah, saya boleh titip... Saya belum berikan dia nama"
"Kalau begitu segera berikan dia nama" ucap Panca
"Kalingga Mbah, Kalingga Arsana adalah nama putriku, Kaelan suka nama itu setelah memimpikan menggendong seorang bayi yang di panggil Kalingga oleh kakek Arsana" jawab Kaelan mengecup kening Kalingga
"Nama yang indah, aku pernah mendengar nama itu dan sekarang anakmu memiliki nama itu juga, semoga jadi anak yang Soleha" ungkap Panca
"Aamiin yaa rabbal aalamiin"
"Kaelan mau ke rumah bapak dan ibu Mbah, tolong titip Kalingga karena Kaelan mau melihat keadaan mereka" ucap Kaelan
"Pergilah, nanti di jaga Istriku dan putriku" jawab Panca
"Oek ... Oek... Oek..."
"Kenapa menangis nak" ucap Kaelan
"Sepertinya Kalingga gelisah karena kamu mau pergi, atau mungkin karena ada sesuatu yang menggangu dia" ucap Panca
"Ko pusarnya ada darahnya Mbah!" panik Kaelan saat melihat baju yang di pakai Kalingga ada setitik darah di pusarnya.
"Pergi panggil Mbah Rumi dan Nurdin" ucap Panca mengambil Kalingga dari gendongan Kaelan