Jay menikmati hari-harinya yang tenang dan santai—kerja sama rumahnya dengan yayasan berjalan lancar, bersama Malakos dan makhluk dimensi lain. Namun kedatangan Rara mengubah segalanya: batas antar dimensi retak parah, dunia paralel hilang tanpa bekas, dan rumah serta Desa Wening akan ikut lenyap jika tidak dihentikan.
Terpaksa keluar zona nyaman, Jay menjelajahi Titik Diam di seluruh Indonesia dan bertemu orang-orang dengan cara pandang berbeda. Di perjalanan ini, dia menemukan rahasia buku tua yang selalu mengikutinya, serta hubungan kakeknya dengan sang pencipta.
Dengan sikap santainya yang khas, Jay harus membuktikan bahwa berguna tidak selalu perlu kerja keras. Ketika menghadapi sumber Titik Diam yang menyebabkan kekacauan, dia harus memilih: akhiri semua cerita agar tidak ada kehancuran, atau temukan cara agar semua dunia hidup berdampingan—sambil tetap punya waktu buat main game dan makan snack!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kucing samge, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 2: "PUSAT PERBELANJAAN YANG SUNYI" part 3
Buku tua Jay masih melayang di udara, tulisan emasnya bersinar dengan cahaya kebiruan yang semakin kuat—bahkan memantulkan bayangan kecil pada dinding atrium yang tampak seperti goresan kuku di kayu. Makhluk gaib yang mengelilingi atrium berdiri diam, sosok mereka yang tadinya tampak menakutkan kini terlihat lebih tenang namun tetap membawa aura yang mencekam di setiap gerakan tipis mereka. Cahaya dari pola melingkar di lantai menyebar ke setiap sudut CITRA MALL, membuat bayangan panjang dari tiang atrium terpampang seperti sosok yang siap menyerang kapan saja.
Buku tua Jay masih melayang di udara, tulisan emasnya bersinar dengan cahaya kebiruan yang semakin kuat. Makhluk gaib yang mengelilingi atrium berdiri diam, beberapa di antaranya mengangkat tangan tipis seperti ingin bertanya—jari-jari mereka yang transparan seolah menyentuh udara tapi tidak menyentuh apa-apa. Lampu neon yang tadinya terasa mencengkeram kini tampak lebih hangat, namun cahaya warnanya masih membawa nuansa mengganggu yang membuat kulit merinding.
Suara napas tipis dari makhluk gaib terdengar jelas di tengah kesunyian—seolah mereka sedang bernapas dalam-dalam merasakan setiap detil barang di mal. Ada yang mengangkat tangan tipis seperti ingin bertanya, gerakan mereka lambat tapi penuh dengan ketegangan yang bisa merusak ketenangan setiap saat. Cahaya dari pola melingkar di lantai menyebar ke setiap sudut CITRA MALL, menerangi sosok gaib yang kini terlihat lebih jelas—wajah mereka kosong tapi mata maya mereka yang tak terlihat seolah menatap langsung ke arah kamu yang sedang membaca ini.
Maaf ya! Ada beberapa bagian yang terulang karena kurang hati-hati saat menyusunnya. Ini versi yang sudah diperbaiki tanpa pengulangan kata dan tetap menjaga esensi adegan:
Jay mengakhiri keripik yang ada di tangannya dengan gigitan terakhir yang lambat, lalu mengeluarkan selembar kertas dari dalam tasnya sambil tubuhnya sedikit menyendot ke depan. Dia menuliskan sesuatu dengan cepat menggunakan pulpen tua yang selalu dibawanya—jari-jari mengendur seolah tidak mau bergerak lebih cePat dari yang perlu. Sementara menulis, dia mengeluarkan napas panjang dan menguap lebar hingga rahangnya terdengar mengeluarkan bunyi kecil, mata terkunci sebentar sebelum kembali terbuka dengan susah payah.
Sementara itu, Rara berdiri di belakangnya dengan pundak yang menggigil, pandangannya melintas ke setiap sudut atrium seolah ada yang akan menyerang setiap detik. Pak Slamet berdiri di sebelahnya dengan tangan yang gemetar menepuk permukaan meja kecil di dekatnya, wajahnya berkeringat dingin meskipun ruangan terasa dingin. Kedua mereka menatap Jay dengan pandangan yang berganti antara harapan dan ketakutan.
Rara menutup bibirnya seketika seolah ingin menangis tapi takut mengganggu makhluk di sekeliling. Pak Slamet mengulurkan tangan ke arah lampu neon yang mulai berkedip, jari-jari menggerutu akibat usia. Suara musik di atrium terus mengalir, nuansa yang tadinya mencengkeram kini berubah menjadi lebih mendalam—seolah lagu itu akhirnya menemukan irama yang sebenarnya.
Jay menggeser badan ke kursi di dekatnya, tubuhnya menyamping seolah mau menyandar ke dinding. Dia mengeluarkan napas panjang dan menguap lagi, mata hampir tertutup sebelum terpaksa membukanya kembali. Gerakan tangannya saat menulis terlihat lesu dan tidak presisi, seolah otaknya sudah beristirahat jauh sebelum tubuhnya bisa mengikutinya.
Lantai granit di tengah atrium semakin mengkilap, mencerminkan bayangan makhluk gaib yang kini sudah tidak lagi tampak seperti sosok kosong—bayangan mereka memanjang melengkung di permukaan licin seolah ingin merayap keluar dari pantulan itu. Wajah mereka yang tadinya bidang datar mulai menunjukkan lekukan yang mirip dengan ekspresi manusia—ada yang tampak penasaran dengan mata maya yang seolah menusuk jauh ke dalam jiwa, ada yang terlihat lega namun lekukan wajahnya membentuk bentuk yang tidak proporsional, bahkan ada yang seolah sedang tersenyum meskipun tidak ada bibir yang bisa dilihat, lekukan itu membentang terlalu lebar hingga menyentuh bagian dahi mereka. Jay berjalan ke tengah pola melingkar, buku tua menyusulnya dari atas dan menghentikan diri tepat di atas kepalanya—bayangan buku itu menutupi sebagian wajah Jay, membuatnya tampak seperti sosok yang sedang dikendalikan dari atas.
“Kalau kalian hanya ingin merasakan kehidupan modern… ya sudah, tapi tidak perlu mengambil tubuh manusia dong—ada cara yang jauh lebih mudah kok.” ujar Jay dengan suara yang jelas namun nada nada nya terkesan pasif, matanya melihat satu per satu sosok gaib yang ada di sekelilingnya tapi pandangannya cepat melesat seperti tidak mau terlalu lama menatap. “Barang-barang di mal ini dibuat untuk dinikmati kan? Cuma ingat aja, mal ini tempatnya beli barang bukan tempat tinggal atau cari kesenangan cuma-cuma. Hidup ini nggak ada yang gratis—kalau mau rasain apa adanya, ya harus sesuai sama aturan tempatnya juga.”
Saat kata-katanya terdengar, salah satu makhluk gaib yang mengenakan baju kantor wanita bergerak perlahan ke arah toko pakaian di dekat atrium—gerakan tubuhnya melayang pelan tapi setiap langkahnya membuat lantai granit di bawahnya memancarkan kilatan kebiruan yang menjijikkan. Wajahnya yang tadinya bidang datar kini menampilkan lekukan ekspresi yang tidak rata: bagian atas wajah melengkung ke depan seperti sedang mengerutkan kening dalam keraguan, sementara bagian bawah membengkok ke belakang seolah tertarik oleh sesuatu di baliknya—tidak ada mata yang jelas terlihat tapi area di mana seharusnya mata berada tampak lebih gelap seperti lubang hitam yang menyedot cahaya. Dia menjentikkan jari-jari tipisnya yang bergerak tidak sinkron di depan pintu toko yang sudah terbuka, lalu memasuki ruangan dengan hati-hati—bayangannya membelok di setiap sudut rak pakaian seolah mencari sesuatu yang tersembunyi. Beberapa saat kemudian, sosok itu muncul kembali mengenakan rok kerja baru yang masih terbungkus plastik—plastik itu menempel tidak rata di tubuhnya dan mulai terbengkalai sedikit di bagian pinggul, dia berdiri di tengah lorong, mengangkat kedua lengan seolah ingin merasakan tekstur kain yang menyentuh tubuhnya—lekukan wajahnya melengkung lebih lebar lagi, seolah tersenyum tapi bentuknya menyimpang hingga membuat tulang rahang seolah akan terlepas.
Langsung saja, makhluk gaib lain mengikuti langkahnya. Ada yang masuk toko elektronik dan memegang headset tanpa menyentuhnya secara langsung—cahaya samar muncul dari produk itu, seolah merespons kehadiran makhluk gaib. Ada yang duduk di kursi taman mal yang terletak di sudut atrium, tubuhnya sedikit menekuk seolah merasakan kenyamanan dari busa yang sudah tua. Ada juga yang berdiri di depan toko makanan cepat saji, mengendus udara seolah bisa mencium aroma hidangan yang tidak ada.
“Lihat kan? Gak perlu ribet mengambil tubuh manusia.” ucap Jay sambil tersenyum dengan bibir yang hanya sedikit mengangkat, tubuhnya tetap bersandar di kursi tanpa mau berdiri penuh. Lalu dia melirik ke arah kamera dengan pandangan yang langsung menyentuh—gerakan kepalanya hanya sedikit memutar, seolah sudah capek bahkan hanya untuk melakukan gerakan kecil itu. “Kalau kamu yang sedang baca ini juga suka mencoba barang baru di mal atau hanya duduk-duduk menikmati suasana… sekarang kamu tahu kan, mungkin kamu tidak sendirian.” Kata-katanya keluar pelan, suara sedikit lesu seolah dia tidak mau terlalu mengeluarkan tenaga bicara.
Suara musik di atrium mulai berubah menjadi irama yang lebih menyenangkan—lagu tahun 90-an yang tadinya terasa lambat dan mencengkeram kini berjalan dengan kecepatan yang tepat, dengan nada yang penuh dengan kenangan manis. Cahaya dari pola melingkar di lantai mulai membentuk lingkaran besar di tengah atrium, dengan garis-garis yang menyebar ke arah setiap toko di mal. Buku tua Jay terbuka lebih lebar, menampilkan tulisan baru yang muncul dengan sendirinya:
“ꁴꄲꋊꋬ ꋬꂵꋬꋊ ꒯꒐ꃳ꒤ꋬ꓄—ꂵꋬꀘꁝ꒒꒤ꀘ ꍌꋬ꒐ꃳ ꃳꄲ꒒ꏂꁝ ꂵꏂꋪꋬꇙꋬꀘꋬꋊ ꀘꏂꁝ꒐꒯꒤ꉣꋬꋊ ꂵꄲ꒯ꏂꋪꋊ ꂵꏂ꒒ꋬ꒒꒤꒐ ꃳꋬꋪꋬꋊꍌ-ꃳꋬꋪꋬꋊꍌ ꒯꒐ ꂵꋬ꒒. ꃳꋬ꓄ꋬꇙ ꋬꋊ꓄ꋬꋪ ꒯꒐ꂵꏂꋊꇙ꒐ ꋬꀘꋬꋊ ꇙ꓄ꋬꃳ꒐꒒ ꇙꏂꇙꏂ꒒ꋬꂵꋬ ꁴꄲꋊꋬ ꒐ꋊ꒐ ꋬ꒯ꋬ.”
Tiba-tiba, semua lift yang tadinya bergerak liar kini berhenti di lantai dasar dan pintu-pintunya menutup rapat. Mereka mulai beroperasi dengan normal, bergerak dari satu lantai ke lantai lain dengan bunyi yang halus dan teratur. Pintu-pintu toko yang semula terbuka tutup secara bergantian, hanya menyisakan toko-toko tertentu yang tetap terbuka sebagai bagian dari zona aman yang baru dibuat.
Pak Slamet berdiri di dekat Jay, matanya penuh dengan kagum saat melihat makhluk gaib yang kini sedang menikmati setiap barang di mal dengan damai. “Mas Jay… selama tiga puluh tahun aku selalu merasa ada yang salah di sini… tapi aku tidak pernah menyangka mereka hanya ingin merasakan hal-hal yang sama seperti kita.”
“Kalau kamu mau tahu Pak Slamet, kadang-kadang yang membuat kita takut cuma karena kita tidak mengerti.” jawab Jay sambil mengambil biskuit dari tasnya dan memberikannya kepada Pak Slamet. “Mulai sekarang, kamu tidak perlu merasa takut lagi ketika ada suara langkah di malam hari ya. Mereka cuma sedang menikmati mal ini seperti kita.”
Makhluk gaib yang sedang mencoba pakaian di toko luar mulai berkumpul kembali di atrium, membawa berbagai barang yang mereka suka—sebuah tas kerja baru, sebuah buku catatan kosong, bahkan sebuah bunga palsu dari toko dekorasi. Mereka menyusun barang-barang itu di tengah pola melingkar, membentuk tumpukan kecil yang mulai memancarkan cahaya kebiruan yang lembut. Suara mereka yang tadinya terdengar seperti banyak orang yang berbicara kini menjadi paduan suara yang harmonis, menyatu dengan musik di atrium.
MAKHLUK GAIB: “ꀘ꒐꓄ꋬ ꃳ꒐ꇙꋬ ꂵꏂꋪꋬꇙꋬꀘꋬꋊ… ꓄ꏂꀘꇙ꓄꒤ꋪ ꀘꋬ꒐ꋊ… ꇙꏂꋊ꓄꒤ꁝꋬꋊ ꉣ꒒ꋬꇙ꓄꒐ꀘ… ꋪꋬꇙꋬ ꒯ꋬꂵꋬ꒐ ꌦꋬꋊꍌ ꇙꋬꂵꋬ ꇙꏂꉣꏂꋪ꓄꒐ ꂵꋬꋊ꒤ꇙ꒐ꋬ ꋪꋬꇙꋬꀘꋬꋊ…”
Jay mengangguk perlahan dengan gerakan kepala yang lambat, tidak mau menggerakkan tubuh lebih dari yang perlu—dia sudah duduk di kursi yang sebelumnya ditempatkan di tepi zona aman. Sambil tetap menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, dia mengeluarkan snack yang tersisa dari saku tasnya dengan jari-jari yang mengendur, lalu memasukkannya ke mulut dengan gigitan yang tidak tergesa-gesa. Dia hanya mengamati makhluk gaib yang kini sudah mulai berinteraksi satu sama lain dari tempat itu—badan sedikit menyendot ke samping, pandangannya terkadang hampir tertutup karena rasa kantuk yang masih menyelimuti, namun tetap bisa melihat ada yang saling bertukar barang, ada yang duduk berdampingan di kursi taman mal, bahkan ada yang seolah sedang menari lambat mengikuti irama musik.
“Kalau kamu yang sedang melihat ini juga punya tempat yang membuatmu merasa nyaman—baik itu mal, taman, atau hanya kamar sendiri—jaga tempat itu dengan baik ya.” ujar Jay sambil melihat langsung ke arah kamera, matanya penuh dengan makna. “Karena kamu tidak pernah tahu siapa saja yang juga merasa nyaman di sana bersamamu.”
Batas antar dimensi yang semula mulai retak dan tampak rapuh kini mulai menutup dengan sempurna, dengan pola melingkar di lantai sebagai penjaga yang stabil. Cahaya dari zona aman menyebar ke seluruh CITRA MALL, membuat gedung itu tampak lebih terang dan hidup meskipun tidak ada satu manusia pun di dalamnya selain Jay, Rara, dan Pak Slamet. Musik yang terdengar kini benar-benar menyenangkan, dengan irama yang membuat hati merasa tenang dan sedikit meriah.
Pak Slamet mulai mencatat semua yang terjadi di buku catatannya, wajahnya penuh dengan kegembiraan setelah sekian lama merasa tertekan oleh rahasia mal itu. Rara berdiri di samping Jay, mengambil buku tua dan menutupnya dengan hati-hati sebelum menyimpannya kembali ke tasnya. Makhluk gaib yang ada di atrium mulai memberikan sinyal bahwa mereka sudah siap untuk menikmati malam mereka dengan damai.
“Nah kan… jauh lebih baik daripada harus mengambil tubuh manusia kan?” ujar Jay dengan senyum yang hangat, lalu melihat ke arah pembaca satu kali lagi. “Ingat ya teman-teman… setiap tempat punya cerita sendiri. Kalau kamu merasa ada yang tidak beres, coba cari tahu dulu ya sebelum merasa takut. Dan jangan lupa selalu bawa snack—kalau bisa bagi juga sama yang lain, baik yang bisa dilihat atau tidak.”
Semua makhluk gaib mulai menyebar ke setiap sudut zona aman yang sudah dibuat, masing-masing menikmati barang-barang yang mereka pilih dengan damai. Musik di atrium terus bermain dengan irama yang menyenangkan, sementara cahaya dari pola melingkar di lantai menyala dengan stabil. CITRA MALL yang tadinya terasa sunyi dan menyeramkan kini menjadi tempat yang penuh dengan kehidupan—bahkan jika sebagian besar kehidupan itu tidak bisa dilihat dengan mata telanjang.
(EPISODE SELESAI)