NovelToon NovelToon
Api Di Brantas: Kisah Jatuhnya Singhasari

Api Di Brantas: Kisah Jatuhnya Singhasari

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Restu Agung Nirwana

Di lembah Brantas yang tenang, Wira hidup sebagai pemuda desa biasa, tanpa nama besar, tanpa warisan, dan tanpa tahu bahwa darah yang mengalir di tubuhnya menyimpan rahasia berbahaya. Ketika desa tempat ia tinggal dibakar dalam pusaran perebutan kuasa antara Gelang-Gelang, Singhasari, dan para penguasa yang saling mengkhianati, Wira kehilangan segalanya dalam satu malam. Dari reruntuhan itu, ia dipaksa melarikan diri, bertahan hidup, dan perlahan menapaki jalan yang mengubahnya dari anak desa menjadi pendekar yang disegani.

Di bawah bimbingan Ki Rangga, bersama sahabat setianya Panca, Wira melewati latihan keras, perburuan, pengkhianatan, dan pertarungan hidup-mati. Sementara itu, Jayakatwang dan kekuatan-kekuatan besar lain bergerak di atas panggung sejarah, menjatuhkan kerajaan dan membangun tatanan baru.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33: Larisa

Wira mengucapkan nama itu dengan suara yang hampir pecah.

“Larisa.”

Begitu nama itu keluar dari mulutnya, seluruh ruangan bawah tanah bergetar pelan.

Bukan getaran besar yang langsung meruntuhkan batu, melainkan getaran halus seperti pintu tua yang lama menahan beban akhirnya mulai bergerak. Debu jatuh dari langit-langit. Lampu minyak kecil di tangan Watu bergetar, membuat bayangan di dinding menari singkat. Ki Rangga refleks menegakkan tubuh, sementara Jaya langsung menoleh ke pintu besi di belakang. Panca menahan napas dengan wajah tegang. Arya tidak bergerak, hanya menatap ke arah dinding utama seolah sudah menunggu sesuatu sejak lama. Danar sendiri memejamkan mata sesaat, seperti orang yang baru mendengar bunyi yang telah ia tunggu bertahun-tahun.

Lalu terdengar bunyi berat dari balik lantai.

Satu kali.

Dua kali.

Kemudian suara gesekan panjang, disusul batu besar yang perlahan bergeser.

Wira memandang ke arah dinding utama ruangan. Pada ukiran besar yang terletak di sana, garis tengah yang selama ini tampak mati mulai terisi cahaya samar dari bawah, seperti aliran tipis yang merambat melalui celah-celah batu. Cahaya itu tidak terang, tetapi cukup untuk membuat simbol di dinding terlihat hidup. Seolah nama yang baru diucapkan tadi telah membuka sesuatu yang lama ditahan.

“Terbuka,” bisik Watu.

Panca menoleh cepat. “Pintu yang mana?”

“Pintu terakhir,” jawab Watu.

Ki Rangga mengangkat senjatanya sedikit. “Bukan sekarang kita bahas. Ada suara dari atas.”

Benar saja, benturan pada pintu besi di ujung ruangan berubah menjadi lebih keras. Ada sesuatu yang dipukul berulang kali. Mungkin alat. Mungkin bahu manusia. Mereka tidak punya banyak waktu.

Danar menatap Wira, lalu menunjuk ke bagian tengah lantai. “Ke lingkaran itu.”

Wira mengerutkan dahi. “Untuk apa?”

“Karena nama itu bukan hanya membuka pintu,” kata Danar. “Ia juga menuntun siapa yang berhak masuk pertama.”

Raden Seta langsung melangkah ke tengah ruang bersama Wira. Ki Rangga, Jaya, Panca, Arya, Watu, dan Danar mengikuti di belakang. Di atas lingkaran batu, kini terlihat garis halus yang memanjang ke arah panel di dinding sebelah kanan. Panel itu belum terbuka sepenuhnya, tetapi celah kecil sudah tampak. Udara dingin mengalir dari dalamnya.

Wira menatap celah itu dengan jantung berdebar keras. “Jadi ini jalan ke mana?”

Danar menjawab singkat, “Ke ruang sisa.”

Panca langsung mendecak. “Aku tidak suka namanya.”

Jaya menatapnya datar. “Kau tidak suka apa pun.”

“Benar,” balas Panca. “Dan untuk sekali ini itu sangat masuk akal.”

Ki Rangga menatap Wira. “Kau baik-baik saja?”

Wira tidak langsung menjawab. Ia menatap nama Larisa yang masih terngiang di kepalanya, lalu ke ayahnya, lalu ke pintu yang semakin bergetar di belakang. Rasanya semua bergerak terlalu cepat sekaligus terlalu lambat. Namun ada satu hal yang ia pegang: ia sudah sejauh ini. Ia tidak mungkin mundur sekarang.

“Masih,” jawabnya akhirnya.

Watu menekan bagian batu kecil di samping lingkaran. Panel di dinding kanan bergeser lebih lebar, menyingkap lorong sempit yang turun dengan kemiringan tajam. Lorong itu jauh lebih gelap daripada semua jalur yang mereka lalui tadi. Cahaya dari ruang catatan terakhir hampir tidak menjangkaunya.

“Masuk,” kata Watu.

Mereka bergerak cepat. Wira masuk lebih dulu setelah Danar. Lorong itu sempit dan licin, dindingnya batu halus seolah sering dilalui atau memang sengaja dibuat untuk orang-orang tertentu. Di belakang mereka, suara di ruangan utama berubah menjadi gaduh. Pintu besi kemungkinan sudah hampir dibuka.

Jaya menyalakan lampu kecil saat mereka menuruni lorong. Cahaya tipis itu menyingkap dinding yang dipenuhi ukiran kecil, sebagian berupa nama, sebagian lagi berupa tanda silang dan lingkaran. Semakin jauh mereka turun, udara menjadi lebih dingin. Wira merasakan kulit lengannya merinding.

Arya berjalan di belakang Wira. “Ruang ini bukan untuk banyak orang.”

Danar menoleh ke belakang sekilas. “Tidak pernah.”

Panca berjalan di belakang sambil mengeluh pelan, “Aku harap ada alasan bagus kenapa kita terus turun seperti ini.”

Raden Seta mengamati dinding. “Ada nama-nama lama di sini.”

Watu yang berada paling belakang menjawab, “Nama yang tidak sempat dipindahkan.”

Wira menelan ludah. Ia melihat ukiran di dinding. Beberapa nama pudar, sebagian hanya tinggal jejak. Namun ada satu yang membuat langkahnya hampir terhenti.

“Laras.”

Ia menoleh ke Watu. “Namanya ada di sini.”

Watu mengangguk pelan. “Karena dia pernah masuk ke ruang ini.”

Danar tidak menoleh, tetapi suaranya terdengar berat. “Dan dia yang terakhir kali menutup jalur ini.”

Wira mempercepat langkah mengikuti Danar. Lorong itu akhirnya berujung pada ruang yang sedikit lebih luas, setengah bundar, dengan satu meja batu di tengah dan rak-rak kecil di sepanjang dinding. Di sisi jauh ruang itu tampak pintu kayu tua yang tertutup rapat dengan dua papan silang.

Di atas meja batu, ada kain putih yang sudah menguning. Di bawahnya, bentuk sebuah kotak panjang samar terlihat.

Wira berhenti.

“Ini apa?”

Danar berdiri di samping meja itu. “Sisa yang tidak sempat dipindahkan.”

Panca mengernyit. “Sisa apa lagi?”

Watu menjawab, “Catatan, segel, dan satu benda yang dulu dipakai untuk menahan pintu.”

Ki Rangga menatap Danar. “Kalau benda itu masih di sini, kita harus memakainya.”

Danar mengangguk. “Tapi bukan sekarang. Ada satu hal yang harus kalian lihat dulu.”

Ia mengangkat kain putih itu perlahan. Di bawahnya tampak sebuah peti sempit, bukan besar, tetapi lebih panjang dari peti biasa. Permukaannya penuh goresan. Di bagian tengah ada ukiran yang sangat mirip dengan tanda pada liontin, cincin, dan papan-papan sebelumnya. Wira menahan napas.

Danar menatap peti itu lama, lalu membuka penutupnya dengan hati-hati.

Di dalamnya, terletak beberapa lembar kulit kayu, satu segel tanah liat yang retak, dan seikat rambut yang diikat benang merah. Wira menatap itu dengan bingung. Bukan emas. Bukan pusaka. Hanya benda-benda yang tampak sangat pribadi.

Raden Seta membungkuk dan membaca tulisan di lembar paling atas. Wajahnya langsung berubah.

“Ada nama ibu Wira di sini.”

Wira menoleh cepat. “Apa?”

Raden Seta menyerahkan lembar itu. Wira membaca satu baris yang paling atas, dengan tulisan yang lebih tegas daripada yang lain.

Larisa, saksi terakhir.

Wira membeku.

Danar menatapnya. “Itu nama yang ia pakai saat masuk ke ruang pengucapan terakhir.”

Wira memejamkan mata sejenak. Nama yang baru saja ia ucapkan, ternyata memang nama ibunya. Nama yang dijadikan pengunci, nama yang ditahan di ruang bawah, nama yang disembunyikan dari semua yang mengejar. Ia merasa seperti sedang memegang benang yang akhirnya menghubungkan semua simpul.

Panca menatapnya lalu ke lembar itu. “Jadi ibumu benar-benar masuk ke sini.”

Danar mengangguk. “Bersamaku.”

Ruangan mendadak sunyi.

Wira menatap ayahnya dengan tatapan lurus. “Kenapa dia masuk?”

Danar tidak segera menjawab. Ia menatap peti itu, lalu rak-rak di dinding, lalu pintu kayu yang tertutup papan silang. Ketika ia bicara lagi, suaranya lebih pelan dari sebelumnya.

“Karena aku yang memintanya.”

Wira membeku.

“Aku tahu mereka akan mengambilku,” lanjut Danar. “Aku tahu kalau aku dibawa sendirian, nama kalian akan habis ditutup. Larisa masuk untuk menahan sisa jalur agar kau tetap punya jalan.”

Wira menahan napas. Semua terasa berat dan tidak adil. Ibu masuk demi menahan jalur. Ayah dimasukkan sebagai bagian yang harus disimpan. Dan dirinya? Seolah ia memang sudah dipersiapkan sebagai orang yang akan datang belakangan untuk membuka semuanya kembali.

Ki Rangga menatap Danar. “Jadi kau sengaja mengirim Larisa ke sini.”

“Ya.”

“Dan setelah itu?”

Danar terdiam sesaat. “Setelah itu pintu ketiga ditutup dari dalam.”

Panca mengeluh pelan. “Tentu saja.”

Jaya yang sedari tadi memeriksa pintu kayu di ujung ruang tiba-tiba menoleh. “Ada suara lagi.”

Semua langsung diam.

Dari jauh, sangat samar, terdengar bunyi batu bergeser. Bukan dari lorong yang mereka lewati, melainkan dari jalur atas. Seseorang atau sesuatu telah berhasil masuk lebih dalam.

Arya menatap Watu. “Mereka sudah di ruang catatan.”

Watu mengangguk cepat. “Kalau begitu kita harus memutus jalur ini.”

Ki Rangga menatap Danar. “Benda penahan di mana?”

Danar mengambil napas panjang. “Di belakang pintu kayu.”

Wira menoleh ke pintu tua itu. “Kau bilang pintu terakhir?”

Danar mengangguk. “Di balik pintu itu ada ruang sisa. Dan di sanalah pengucapan terakhir belum selesai.”

Raden Seta menatap lembar kayu di tangan Wira. “Kalau Larisa saksi terakhir, maka dia mungkin masih berada di dalam ruang itu.”

Wira menatapnya tajam. “Masih hidup?”

Danar tidak langsung menjawab. Lama sekali. Dan justru diamnya itu membuat dada Wira semakin sesak.

Akhirnya ayahnya berkata, “Aku tidak tahu.”

Ruangan terasa lebih dingin.

Wira menatap Danar, lalu pintu kayu di ujung, lalu lembar bertulisan ibunya. Di kepalanya, semuanya bercampur: pengucapan, nama yang disembunyikan, pintu terakhir, Larisa, Danar, sisa yang belum selesai. Ia merasa ada sesuatu yang sangat besar menunggu di balik pintu itu, sesuatu yang mungkin menjelaskan mengapa ibunya harus menghilang.

Ki Rangga mengangguk ke arah Wira. “Kita buka sekarang?”

Wira menatap pintu kayu tua itu lama. Dari balik papan silang, terdengar seolah ada ruang yang bernapas pelan. Ia menelan ludah. Ia tahu semua jawaban tidak akan datang dari berlari lagi. Jika ada jalan terakhir, maka jalan itu ada di sana.

Ia mengangguk.

“Buka.”

Dan saat Ki Rangga dan Jaya maju ke pintu kayu itu, Wira merasakan sesuatu yang sangat lama bergerak di balik dinding, seperti masa lalu keluarga yang selama ini terkubur akhirnya mulai bangun dan menuntut untuk dilihat.

1
baca yg gue suka
nyampe chap ni isinya cuman kabur mlulu.
bukin pusing aja
baca yg gue suka
kalimat yg sama diulang2 terus
Filan
yang panggil itu bertentangan sama orang-orang yang datang kan?
Filan
kejam juga. mereka yang bakar kan?
Elisabeth Pasaribu
seru banget Thor, jangan lupa mampir ya di karya ku
B. Toon
Wah, mantap. Cerita baru lg, ini gak kalah seru sama 'Badai Pusaka di Tanah Gadhing'. Yang ini cerita fiksi di campur sejarah Kerajaan Nusantara. Smangat thor, ditunggu bab-bab selanjutnya /Good//Good/
Restu Agung Nirwana: Makasih bang, siap. Saya usahakan, ikutin trs petualangan Wira sama Panca bang. Jgn sampe ketinggalan 😄😄🙏🙏
total 1 replies
B. Toon
Wah, si Wira udah mulai nunjukin benih-benih calon pendekar 👍👍
Restu Agung Nirwana: Hehehe... iya donk 😄
total 1 replies
B. Toon
Makin menarik, dibikin penasaran trs 😄
Restu Agung Nirwana: makasih bang, baca sampai tamat ya 👍👍
total 1 replies
B. Toon
Seru thor, baru bab 1 udah di suguhi tragedi di desanya MC . Penasaran giman nasibnya Wira sama Panca nanti. Lanjut, jgn berhenti di tengah jalan thor 😄😄👍👍
Restu Agung Nirwana: iya bang, sat-set 😄😄😄😄
total 1 replies
Slow ego
wira... panca👍
Restu Agung Nirwana: 😄😄😄 terimakasih dukungannya,
ini komen pertama. Gimana kak ceritanya? minta pendapatnya. Kalau ada yg kurang, sebisa mungkin saya perbaiki 🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!