Kenzo Arkana adalah definisi hidup dari kekejaman. Sebagai raja penyelundup barang terlarang, ia memerintah dunianya dengan tangan besi dan hati yang membeku. Baginya, wanita hanyalah gangguan tak berguna hingga malam itu, di sudut remang kelab eksklusifnya, seorang wanita lancang bernama Aara datang mengusik ketenangannya.
Aara bukan wanita biasa. Di balik gaun merah yang menggoda dan sikap centilnya, ia adalah agen rahasia elit yang sedang menjalankan misi mustahil: menjatuhkan kekaisaran Kenzo. Ia harus memikat sang "Monster" untuk mencuri rahasia terdalamnya.
Namun, di dunia di mana pengkhianatan dibayar dengan nyawa, siapa yang akan terjatuh lebih dulu? Apakah Aara berhasil menuntaskan misinya, atau justru ia yang terjerat dalam kegelapan Kenzo yang mematikan?
Satu rayuan. Satu misi. Satu taruhan nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelabuhan Air Mata
Langit yang membentang di atas dermaga pribadi Teluk Utara terlihat suram, terselubung oleh gumpalan mendung kelabu yang tebal, seperti pantulan diam-diam dari alam yang memahami bahwa sesuatu yang tak biasa sedang berlangsung di bawahnya. Di sana, sebuah pertemuan janggal tapi penuh risiko tengah bergulir; sebuah transaksi besar yang memiliki potensi untuk mengubah lanskap ekonomi gelap negara secara drastis. Udara terasa penuh dengan kelembapan dan membawa bau tajam garam laut, berpadu dengan aroma solar yang pekat serta sengatan dari karat yang memudar pada kontainer-kontainer raksasa yang disusun menyerupai labirin besi, menghadirkan suasana tersembunyinya kejahatan di balik bayangan besi kokoh.
Kenzo Arkana berdiri diam di tepi dermaga, tubuhnya tegak meski disapu angin laut yang menerjang dengan kuat. Jubah panjang berwarna hitam yang menyelubunginya ikut terangkat dan bergerak liar mengikuti setiap hembusan angin yang bertubi-tubi. Sosoknya tampak teguh dan penuh wibawa, menjadi pusat gravitasi yang menarik perhatian siapa saja di lautan manusia rahasia ini. Di sisinya, Aara terlihat sedikit kontras dengan keadaan sekitarnya. Mantel bulu sintetis putih yang melapisi tubuhnya memberikan kesan feminin dan elegan, meskipun kehadirannya adalah bagian dari sandiwara besar yang terencana dengan matang. Dengan gerakan anggun yang juga penuh dengan kepercayaan diri ia melingkarkan tangan pada lengan Kenzo, seolah mempertegas perannya sebagai "wanita simpanan" yang dimanja. Sesekali, tanpa ragu, ia melontarkan keluhan ringan tentang angin laut yang merusak gaya rambutnya, menunjukkan ekspresi jengkel yang sama-sama palsu namun meyakinkan.
"Kenzo, Sayang... kenapa kita harus di sini? Tempat ini kotor dan bau," keluh Aara dengan nada centil, kepalanya bersandar di bahu Kenzo. Matanya, di balik kacamata hitam besar, bergerak liar merekam setiap detail: jumlah penjaga, posisi penembak runduk di atas crane, hingga nomor seri kontainer yang sedang diturunkan.
"Diamlah, Aara. Ini adalah alasan kenapa kau bisa memakai mantel mahal itu," jawab Kenzo dingin, namun ia membiarkan tangan Aara tetap melingkar di lengannya.
Sebuah mobil sedan hitam tua meluncur pelan dan berhenti beberapa meter dari mereka. Vico, sang tangan kanan, segera mendekat dan membukakan pintu. Dari dalam mobil, keluar seorang pria dengan langkah pincang. Wajahnya adalah pemandangan yang mengerikan separuh kulitnya melepuh karena bekas luka bakar yang sudah mengeras.
Itu adalah Marco 'Si Jagal'.
Aara merasakan aliran adrenalin yang murni di nadinya. Ini adalah pria yang ada dalam data Kenzo semalam. Targetnya.
"Tuan Arkana," suara Marco terdengar parau, seperti gesekan batu di atas aspal. "Aku tidak menyangka kau akan mengundangku kembali ke tempat ini setelah apa yang terjadi di dermaga selatan."
Kenzo melepaskan tangan Aara dengan kasar dan melangkah maju. "Aku tidak mengundangmu untuk bernostalgia, Marco. Aku mengundangmu untuk menyerahkan kunci enkripsi jalur laut yang kau curi dari organisasiku."
Marco tertawa, sebuah suara yang tidak enak didengar. Ia melirik ke arah Aara, matanya yang kuning menatap wanita itu dari atas ke bawah dengan tatapan menjijikkan. "Dan siapa kecantikan kecil ini? Mainan baru untuk menggantikan kesunyianmu, Kenzo? Dia terlalu manis untuk berada di antara kita para monster."
Aara memberikan senyum manja yang provokatif. "Aku bukan mainan, Tuan Wajah Rusak. Aku adalah masa depan yang tidak akan pernah kau miliki
Kenzo memberi isyarat, dan Vico mengeluarkan sebuah koper kecil berisi uang tunai dalam jumlah besar. Sementara itu, Marco mengeluarkan sebuah flash drive berwarna perak.
"Di sini ada semua data yang kau butuhkan, Kenzo. Tapi ada satu hal yang tidak kau ketahui," Marco menyeringai, memperlihatkan gigi-giginya yang hitam. "FBA sudah berada di sini sejak satu jam lalu. Dan kurasa... wanitamu ini tahu banyak soal itu."
Suasana seketika membeku. Para pengawal Kenzo langsung mencabut senjata mereka dan mengarahkannya pada Marco, sementara Vico dengan cepat menodongkan pistol ke arah kepala Aara.
"Aku sudah curiga sejak awal!" geram Vico. "Tuan, biarkan aku menghabisi pelacur ini sekarang!"
Aara tidak bergerak. Jantungnya berdetak kencang, namun wajahnya tetap tenang. Ia menatap Kenzo yang masih membelakanginya. "Kenzo... kau percaya pada pria yang sudah mengkhianatimu demi kartel lain?"
Kenzo berbalik perlahan. Matanya tidak menunjukkan emosi apa pun. Ia berjalan mendekati Aara, mengambil pistol dari tangan Vico, dan menempelkan moncong senjata yang dingin itu tepat di dahi Aara.
"Katakan padaku, Aara... apakah ada tim yang sedang mengepung tempat ini?" tanya Kenzo rendah.
Aara menatap langsung ke mata Kenzo. Di saat maut mengintai, ia tidak lagi menggunakan nada centil. "Jika ada tim di sini, Kenzo, mereka tidak akan membiarkan Marco berdiri di depanmu. FBA menginginkan kepalamu, dan mereka menginginkan Marco mati. Jika aku mata-mata mereka, kenapa aku masih berdiri di sampingmu tanpa perlindungan?"
Kenzo menatap Aara lama sekali. Ketegangan di antara mereka begitu pekat hingga suara ombak pun terasa hilang. Tiba-tiba, Kenzo memutar senjatanya dan menembak tepat ke arah bahu Marco.
BANG!
Marco terjatuh sambil mengerang kesakitan.
"Aku tahu FBA ada di sini, Marco. Karena aku yang memanggil mereka," ucap Kenzo dingin. "Tapi aku memanggil mereka untuk menjemput mayatmu, bukan untuk menangkapku."
Seketika, suara sirene meraung dari kejauhan. Lampu-lampu biru dan merah mulai terlihat di gerbang masuk dermaga. Kenzo menarik tangan Aara dengan kasar.
"Lari!" perintahnya.
Di tengah hujan peluru yang mulai berterbangan antara anak buah Kenzo dan pasukan FBA yang datang menyerbu, Kenzo dan Aara berlari menuju kapal cepat yang sudah menunggu di ujung dermaga. Marco, yang masih hidup namun terluka, mencoba meraih kakinya, namun Aara dengan dingin menendang wajah pria itu hingga ia tersungkur kembali.
"Itu untuk 'rekan' yang kau bunuh," bisik Aara, meski ia tahu rekan itu hanya karangannya. Baginya, melenyapkan Marco adalah bonus dari misi ini.
Mereka melompat ke atas kapal tepat saat sebuah ledakan menghancurkan tumpukan kontainer di belakang mereka. Mesin kapal menderu, membelah ombak malam yang gelap, meninggalkan pelabuhan yang kini menjadi lautan api.
Di atas kapal yang berguncang hebat, Kenzo menyudutkan Aara di dinding kabin. Ia mencengkeram kedua tangan Aara di atas kepala wanita itu.
"Kau tahu, Aara... malam ini kau membuktikan sesuatu," napas Kenzo terasa memburu di wajah Aara.
"Apa?" tanya Aara terengah-engah.
"Bahwa kau adalah pembohong yang hebat. Dan aku... aku mulai menyukai kebohonganmu," Kenzo mencium Aara dengan ganas di tengah suara gemuruh mesin dan ombak, sebuah ciuman yang menandai bahwa hubungan mereka kini telah melampaui batas agen dan target.
Namun, di balik ciuman itu, Aara menyadari satu hal yang mengerikan. Kenzo sengaja mengorbankan Marco dan jalur pengirimannya hanya untuk menguji kesetiaan Aara. Pria ini siap membakar dunianya sendiri hanya untuk memastikan siapa yang berada di pihaknya. Dan Aara baru saja menyadari, ia kini benar-benar terjebak dalam kegelapan yang tak memiliki jalan keluar.