NovelToon NovelToon
Pesona CEO Latin

Pesona CEO Latin

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Beda Usia / Naik Kelas / CEO / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Chndrlv

Gadis piatu yang menanggung semua hutang ayahnya yang penjudi harus berjuang sendiri di ibukota. Rela hidup miskin di perantauan agar semua hutangnya segera lunas, hingga ia bertemu dengan pria yang menawarkan hidup berkecukupan.
Apakah Hana akan menerimanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chndrlv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Arrogant...

Beberapa orang memadati halte untuk berlindung dari air hujan.

Sebagian pakaiannya basah, Hana memeluk dirinya ketika angin kencang berhembus. Hujan semakin turun dengan derasnya.

Satu persatu orang yang menanti bersamanya menaiki tiap bus yang berhenti di halte, hingga menyisakan Hana seorang diri duduk meringkuk.

Sebuah mobil mewah berhenti di sisi depan halte, Hana menatap mobil tersebut menunggu sang pengemudi turun, namun selama 15 menit tak ada tanda-tanda pintu terbuka.

Mobil dengan kaca gelap tersebut menyulitkan Hana mengintip ke dalam. Ia mengalihkan pandangan ke arah lain.

Tak lama, mobil tersebut berjalan meninggalkan halte seraya menyipratkan air jalan yang kotor mengenai Hana.

Gadis itu terkejut dan memaki pengendara mobil tersebut. Kini, pakaiannya yang berangsur mengering kembali basah dan kotor. Dirinya basah kuyub seperti tikus got.

Hana sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk, beberapa menit yang lalu ia baru sampai di kos.

Hana nekat menerjang hujan lebat, berteduh atau tidak sama saja basah kuyup pikirnya.

Ia mencari kontak sahabatnya Salsa, lalu menelponnya.

"Halo, Na?"

"Sa, pekerjaan tempo har-"

"Untukmu masih ada, Na." Salsa memotong ucapan Hana dengan bersemangat.

"Aku ingin melamar di sana, Sa."

"Kau datang saja nanti malam. Kau bisa langsung bekerja, Na."

"Semudah itu?"

"Iya, Na. Tenang saja, aku yang akan mengurusnya. Jangan terlambat, Na. Jam 8 malam kau sudah harus ada di sana. Ok?"

"Ok, terima kasih, Sa."

Telepon terputus. Ia terkejut dengan proses pekerjaan yang ingin ia lamar, namun memilih tak memedulikannya. Hana justru senang, urusannya semakin mudah.

Jam 7 malam, Hana sudah berjalan menuju bar yang dimaksud oleh Salsa.

Ia masuk ke bar yang cukup elite setelah melakukan pemeriksaan oleh seorang penjaga di pintu masuk.

Suasana khas bar membuat Hana kikuk. Ia celingukan mencari sosok yang ia kenal. Langkah kakinya membawanya menuju meja bartender untuk bertanya.

"Apa kau yang bernama, Hana?" Ucap bartender yang seorang pria berusia 30 tahunan dengan paras yang menawan.

"Ya, saya." Hana bingung mengapa kedatangannya seolah seperti seorang tamu, padahal ia hanya calon pelayan di bar ini.

"Ikuti aku." Bartender meninggalkan tempatnya menuju sebuah pintu, Hana bergegas mengikuti pria itu.

Mereka masuk ke ruangan yang tak terlalu besar, seperti penyimpanan barang dengan beberapa rak yang tinggi.

Bartender yang memperkenalkan dirinya bernama Louis itu menjelaskan beberapa aturan bar dan apa saja tugas-tugas Hana sebagai seorang pelayan.

Hana mendengar dengan seksama. Lalu, Louis membuka pintu yang berada di balik rak, ia masuk dan tak lama kembali keluar membawa pakaian dan menyerahkannya pada Hana.

"Kau bisa berganti pakaian di sana." Louis menunjuk sebuah pintu yang bercat putih di sudut ruangan.

Louis mendekatkan bibirnya ke telinga Hana.

"Jangan lupa menguncinya." Louis mengedipkan sebelah mata dan meninggalkan Hana yang terdiam.

"Dia sudah datang?"

"Sudah, sedang berganti pakaian." Tangan lentik Louis dengan luwes meracik Margarita pesanan orang yang berbicara padanya.

"Bagus."

"Mengapa dia tak menjadi sepertimu? Dia cukup cantik." Louis meletakkan gelas berisi Margarita ke depan si empunya dengan gerakan anggun.

Salsa tersenyum kecil, ia duduk di balik meja bartender seraya mengaduk Margarita di depannya.

"Dia masih suci, Louis. Aku tak ingin meracuninya."

"Kau sungguh baik, tapi tidak dengan pekerjaanmu." Mereka berdua terkekeh pelan.

Hana muncul dari pintu, Salsa menghampirinya dan memeluk sahabatnya itu.

"Apa kau kesulitan, Na?"

"Tidak, terima kasih atas bantuanmu, Sa."

"Semoga kau betah di sini."

Hana mengangguk. Salsa berbisik pelan di telinga Hana.

"Kau harus pandai menjaga dirimu, Na. Semua orang di sini harus kau anggap virus. Jangan percaya pada siapapun. Ingat pesanku." Salsa menarik tangan Hana menuju kursi.

Gadis itu masih mencoba memahami maksud ucapan Salsa.

"Sebentar lagi, aku naik ke lantai atas. Kau ingat pesanku tadi, ok? Di sini kita sebagai orang asing."

Hana semakin bingung dengan ucapan Salsa.

"Hana, antarkan minuman ini ke meja nomor 2."

Louis meletakkan sebuah nampan berisi beberapa minuman.

Hana sigap melakukan pekerjaannya.

Hari pertama bekerja di bar berjalan mulus tanpa hambatan. Ia baru keluar dari bar sekitar pukul 4 pagi.

Setengah mengantuk, ia mempercepat langkahnya menuju kos. Rasa kantuknya tak tertahankan, sesekali ia berlari agar cepat sampai.

Begitu masuk ke kamar kos, ia segera membersihkan diri dan langsung tidur.

Beberapa hari berlalu, pagi itu ia kembali bekerja di perusahaan B. Dengan sisa uang yang diberikan oleh Luca, Hana tak lagi kelaparan. Ia makan dengan tepat waktu di luar jam bekerja.

Meskipun di perusahaan itu ia mendapatkan jatah makan siang, namun sudah beberapa bulan ia tak mendapatkannya lagi, karena jatah makannya sudah diblacklist oleh seseorang yang tak menyukainya.

Hana bisa menerima hal itu, ia pernah mengadukan hal tersebut, namun tak ada tanggapan. Ia berpikir untuk membiarkannya saja.

"Kenapa kau sering kali dipanggil oleh bos?" Tanya rekan sesama petugas kebersihan.

"Karena aku punya pekerjaan di sana."

"Untuk apa kau di sana?"

"Membersihkan lantai hingga tak ada noda sedikitpun." Hana sengaja memberikan jawaban asal.

Rekannya ini sungguh kepo dengan urusannya ketika beberapa hari ke belakang ia sering ke ruangan tuan Luca berada.

Usai mengenakan seragam, Hana bergegas menaiki lift menuju lantai 20. Hari ini ia akan memberikan jawaban atas penawaran bosnya beberapa hari yang lalu.

Tatapan tajam dari sekretaris pribadi Luca yang berpakaian menonjolkan lekuk tubuhnya yang aduhai, tak lupa dua kancing kemeja paling atas sengaja tak dipasang untuk memperlihatkan dadanya yang menyembul.

Hana berlalu masuk, ketika di persilakan.

"Permisi, tuan. Saya datang kemari un-"

"Apa jawabanmu?" Luca sudah menunggu Hana sejak pukul 7 untuk datang menemuinya.

Pria itu sudah tak sabar menerima jawaban dari gadis ini.

"Saya menolaknya, tuan. Anda bisa mencari orang lain yang lebih pantas."

"Baik, ayo kita mendaftarkan pernikahan kita." Luca berdiri dari kursi, pria itu seolah tak mendengar jawaban dari Hana.

Gadis itu mencoba menjelaskan kembali, takut bosnya itu salah mendengar.

"Aku tahu kau akan menolakku. Tapi aku tak menyangka kau tetap menolakku setelah malam itu." Luca menyeringai kecil menatap Hana.

"Anda kira saya akan luluh hanya karena itu?"

"Oh? Apa itu hal remeh bagimu?" Luca tersenyum sinis.

Hatinya sedikit tersentil ketika melihat Hana yang seperti menganggap hal tersebut tak berarti.

"Aah, ternyata kau perempuan seperti itu. It's ok. Aku tak masalah memilikimu yang terbiasa bebas."

Hana mengernyitkan keningnya. Atasannya ini semakin lama semakin tak sopan padanya, belum cukup mengambil ciuman pertamanya kini kembali merendahkan dirinya.

"Sungguh, saya tak menyangka anda akan mengatakan hal seperti itu." Dengan tatapan tak percaya ia menatap Luca dengan gelengan.

"Kau tersinggung karena benar?" Senyuman sinis menghiasi bibir tebal pria Latin itu.

"Benar ataupun tidak, itu bukan urusan anda. Dan anda tak berhak untuk menilai apapun tentang hidup saya."

Luca menghiraukan Hana yang sudah emosi.

"Kau marah karena aku mencuri ciuman pertamamu?" Tepat sasaran. Hana tak bisa menjawabnya.

Pria itu tersenyum senang.

"Aku tak menerima penolakanmu, Hana. Jadi kau cukup ikut aku dan daftarkan pernikahan kita dengan segera."

Hana terdiam, ia tak sempat berpikir saat tangannya ditarik menuju keluar ruangan.

Ruby yang sedang bersama Luca segera mengikuti langkah Tuannya.

Pemandangan itu tak luput dari sekretaris Luca yang mengejar, namun pria itu menyuruhnya untuk mengurus jadwalnya.

Sekretaris itu terlihat kesal, ia menghentakkan kakinya yang terbungkus heels merah ke lantai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!