Penyesalan selalu akan datang di akhir. Seperti yang sekarang aku rasakan. Awal nya setelah istri ku meninggal aku belum benar benar kehilangan nya. Bahkan saat dia meninggal dunia aku masih bisa tertawa dan merasa bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7.
Mata Ivan tampak membulat sempurna, kala mendengar ucapan yang keluar dari mulut selingkuhannya.
"Kan aku sudah pernah bilang, jangan pernah membahas soal perceraian lagi. Bercerai atau pun tidak dengan Renata. Aku akan tetap milikmu sayang, dan jika disuruh memilih antara kamu dan juga Renata. Aku pasti memilihmu cintaku Esther," ucap Ivan sembari mencium leher milik Esther.
Lalu baik Ivan maupun Esther terlihat menanggalkan semua kain yang menempel ditubuh ke duanya. Ke duanya mulai melakukan hal yang biasa dilakukan oleh pasangan suami istri yang sah di mata negara dan juga hukum.
"Apakah aku benar benar bisa mempercayai mu Ivan ku sayang," ucap Esther dengan nada yang terdengar begitu manja. Lalu Esther terlihat memegang benda pusaka milik suami dari sahabatnya itu. Guna melakukan sebuah pemanasan, sebelum sebuah permainan itu dimulai.
"Apakah aku itu pernah menipumu Esther, semuanya hal yang kamu mau selama ini selalu aku turuti. Contohnya saat kamu memintaku untuk pisah kamar dengan Renata, mengurangi jatah bulanannya. Lalu sisa uang itu aku berikan padamu. Terus apa kamu lupa, sudah 2 tahun lebih aku juga tidak pernah memberikan nafkah batin pada Renata, sesuai apa yang kamu inginkan," ucap Ivan sembari membuka tutup matanya. Wajah Ivan sungguh terlihat seperti orang yang keenakan.
Tak berselang lama.
Esther pun sekarang berpindah naik diatas tubuh Ivan, karena Esther sudah merasa puas memainkan benda pusaka milik Ivan.
"Mulai sekarang aku mohon, lebih baik jangan membahas soal perceraian antara aku dan juga Renata. Jika membahas hal itu, malah akan membuat hubungan kita itu merenggang. Lagian kamu tahu sendirikan, kedua orang tuaku begitu mencintai Renata. Mereka tidak akan pernah setuju jika aku sampai menceraikan Renata."
"Tapi kan kamu anak tunggal mas, masak kedua orang tuamu lebih memilih Renata dari pada kebahagiaan anaknya sendiri. Katamu, hidup dengan Renata membuat hidupmu menjadi tersiksa," ucap Esther dengan nada yang terdengar kesal.
Lalu Esther pun terlihat bangkit dan juga menjauh dari tubuh Ivan, kini Esther terlihat marah dengan memalingkan pandangannya ke arah lain. Dengan berdiri di sisi ranjang.
"Sayangku Cintaku Esther, aku bilang apa? Setiap membahas perihal perceraian ku dengan Renata. Pasti akan membuat mu kesal begini. Kamu kan tahu aku itu anak tunggal sayang, dan orang tuaku itu mengancamku, Jika sampai aku menceraikan Renata. Semua harta warisan seperti Rumah, Toko Bangunan dan juga Sawah yang ada didesa akan diwariskan pada Renata dan juga anaknya." Ivan terlihat juga bangkit dari ranjang tempat tidur, dia terlihat sedang merayu Esther yang sedang marah dan juga merajuk. Karena sekarang hasrat Ivan benar benar sudah sampai pada puncaknya.
Ivan benar benat tidak bisa menahan hasratnya lagi, apa lagi melihat tubuh Esther yang sekarang ini berada di sampingnya tanpa sehelai benang. Kulit kuning langsat bersih, dengan bagian dada dan juga pinggang yang menonjol, sungguh memang idaman bagi para pria.
Kadang Ivan sampai dibuat tidak habis pikir, kenapa penampilan dan juga tubuh Esther sangat berbeda jika dibandingkan dengan istrinya yang bernama Renata. Padahal keduanya bersahabat sejak keduanya itu masih kecil.
Melihat Esther hanya diam mematung, dan tidak merespon ucapan manisnya. Membuat Ivan pun akhirnya memilih langsung memulai permainan yang memang sedari tadi ingin dia mainkan.
Ivan pun menggendong Esther ala karung beras, lalu merebahkan dengan gerakan begitu hati hati diatas ranjang.
Esther terlihat tidak menolak apa yang kekasihnya gelapnya itu lakukan.
"Hiks hiks." Esther malah menangis, mengeluarkan air mata buayanya.
"Kenapa malah menangis?" Tanya Ivan bingung.
"Jadi kalau kamu menceraikan Renata, jadi kamu bakal gak punya apa apa dong mas?" Esther tampak menangis sesenggukan.
"Iya, kan mas udah bilang berkali kali. Sayang kalau mas itu ceraikan wanita itu, lagian udah lebih 2 tahun juga mas gak pernah memberi nafkah batin pada dia. Beneran sayang, jadi mas mohon jangan ngambek lagi. Yang penting tiap harikan kita selalu bersama. Kamu tahu, besok mas akan membelikan apartemen untuk kita tinggali bersama. Jadi kita itu gak perlu menyewa room atau kamar hotel lagi. Saat kita ingin menyalurkan cinta kita," ucap Ivan sembari mencium telinga Esther dengan gerakan yang begitu menggetarkan jiwa.
"Ta - tapi mas. Akh, geli mas. Buruan masukin aja mas, akunya juga enggak nahan." Esther pun memilih berbicara sembari sembari melakukan permainan surga dunia.
"Tapi apa sayang," ucap Ivan sembari memainkan goa kupu kupu milik Esther dengan lidahnya.
"Shhh, mas jangan dimainin terus dong, akunya gak nahan." Esther terlihat mengeliat liatkan tubuhnya kala mendapatkan sebuah sensasi kenikmatan ini.
"Ya gak papa, aku ingin selalu membuatmu puas sayang." Bisik Ivan tepat di telinga kekasihnya.
Membuat tubuh Esther semakin panas dingin dibuatnya.
"Tapi apa sayang, katakanlah," ucap Ivan dengan nada yang terdengar menggetarkan jiwa. Ivan pun akhirnya memasukkan miliknya kedalam goa kupu kupu milik Esther.
"Masak Renata enak enakan tinggal dirumah yang bagus. Dan aku malah mas kasih tinggal di apartemen subsidi yang murah. Kan tabungan mas hanya ada 200 juta plus bonus hari ini palingan sisa 20 jutaan," ucap Esther dengan nafas yang ngos ngosan dan disertai dengan suara desahan.
"Tenang sayang, ada sepetak sawah milik ayah ku yang didesa. Lahannya dibeli oleh PT KAI. Dan ayahku menerima uang 1 milyar. Aku diberi dia 300 juta. Nanti bisa buat beli apartemen yang lebih bagus dan juga mewah."
"Beneran mas?"
"Beneran sayang, kamu tahu. Itu berkah karena aku belum menceraikan Renata."
"Kok mas bisa bilang itu berkah," ucap Esther sembari mengernyitkan dahinya.
"Dulu, setelah mas menikah dengan Renata. Kedua orang tuanya itu kan meninggal. Mas kan memboyong Renata ke rumah yang mas beli secara kredit itu, jadi DP rumah uangnya dari separuh penjualan rumah orang tua Renata yang didesa. Dan separuhnya lagi 200 juta dipinjam sama kedua orang tuaku. Makanya sekarang yang 300 juta itu, ya uang yang orang tuaku pinjam dulu." Ivan tampak tersenyum jahat.
"Aduh, makasih banyak mas. Aku seneng deh kalau begini." Akhirnya kedua sejoli laknat itu melanjutkan permainan mereka sampai pagi.
****
Pukul 4 dini hari, Ivan memutuskan untuk pulang ke rumah. Karena besok sore kedua orang tuanya itu akan berkunjung. Untuk memberikan uang kepadanya sebanyak 300 juta.
Tentu saja Ivan akan membodohi Renata istrinya dengan segala tipu dayanya.
Agar uang milik Renata bisa Ivan ambil semuanya, dan bisa buat dia beli apartemen mewah untuk Esther.
Brakk
Pintu rumah dibuka dengan kasar oleh Ivan. Karena pengaruh alkohol 40% masih ada di tubuhnya.
Ivan berjalan tanpa melepas sepatu kotornya. Membuat rumah yang sudah payah Renata bersihkan menjadi motor kembali.
Padahal dengan tubuh ringkihnya istrinya itu kesulitan untuk membersihkan rumah.
Mata Ivan memicing tajam, kala melihat vase bunga kesayangannya yang seharga ratusan ribu itu pecah, bahkan pecahannya berserakan di lantai.
Mata Ivan memicing tajam ke arah lantai rumahnya yang kotor, dengan noda darah yang berceceran dilantai.
Lamat Lamat Ivan juga mendengar tangisan anaknya yang berada di dalam kamar.
Ivan pun buru buru masuk ke dalam kamar, alangkah terkejutnya Ivan. Menemui anaknya yang menangis sesenggukan dengan kamar yang berantakan. Dan posisi muntahan anaknya yang berceceran dimana mana.
"Dasar istri gak berguna," ucap Ivan dengan amarah memuncak sembari menggendong anaknya. Walaupun sebenarnya Ivan jijik dengan anaknya yang bau.
Ivan pun akhirnya mencari ke segala arah, keberadaan istrinya.
Ternyata Renata sedang meringkuk tiduran diatas sofa, bahkan darah Renata akibat pecahan beling. Juga terlihat mengotori sofa.
Amarah Ivan benar benar tidak terbendung. Apalagi saat melihat sofa kesayangannya itu kotor.
Dengan kasar, Ivan pun menarik kaos bagian punggung yang istrinya itu kenakan. Saking kurusnya Ivan begitu mudah, mengangkat tubuh istrinya.
"DASAR ISTRI GAK BERGUNA, CUMAN NYUSAHIN HIDUP ORANG SAJA."
Mata Renata tiba tiba membulat sempurna. Saking kagetnya, Renata sampai bangun dengan tidurnya.
Kala suaminya menarik kaos guna mengangkat tubuhnya. Tapi kaos yang suaminya tarik, mencekik leher Renata.
Bugh
Suara tubuh Renata yang dijatuhkan di atas lantai. Setelah suaminya mengangkat tubuh ringkih itu.
Kapan sihh moment pintarnya si Renata sbg wanita 👍😂
gimana kalau nanti karma nya dia juga merasakan sakit yg sama kaya istrinya, kanker prostat 😏😆
bukan nya menjalani hidup kali ke 2 Renata seperti harapannya dokter Leon?! 😁😁
dasar suami lucknut 😡😡