ACT ZERO: Di Atas Malam yang Tinggi
- - -
Pada suatu malam yang dingin, seorang gadis ditemukan tak bernyawa di atap gedung sekolah.
Bunuh diri.
Selama tiga tahun, rumor-rumor dan spekulasi liar bermunculan di mana-mana. Namun tak ada satu pun pihak yang menghentikan karena semua siswi diperbolehkan untuk saling bercerita, memberikan pendapat masing-masing tanpa terkecuali.
Misalnya seperti ... kematian gadis yang diduga merupakan aksi pembunuhan.
Tidak ada yang tahu. Karena mereka yang mengetahuinya menyembunyikannya di dalam Drama.
Drama.
Panggung berisikan lima gadis bergerak melalui cerita yang akan dipertontonkan kepada para audiens. Di balik tirai berwarna merah ... sebelum lampu sorot dinyalakan dan musik dimainkan, ada berbagai macam hal yang perlu dilewati—alasan dari terciptanya sebuah Drama.
Act Zero.
- - -
Endiya Winter
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Endiya Winter, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ACT II: [Pertukaran Kamar Asrama]
[2 Bulan berikutnya: Kamis, 01 November]
Celah pintu yang bergesek pada permukaan lantai menghasilkan gelombang bunyi nyaring hingga ke ujung koridor. Pada permukaan keramik yang putih, terpantul seonggok bayangan hitam bergerak mengendap-endap memasuki salah satu ruangan. Plat kaca yang terpasang tepat sejajar dengan kedua mata orang dewasa, bertuliskan 'Ruang Kepala Administrasi'—merupakan salah satu tempat dari banyaknya ruangan di gedung sekolah yang tidak sembarang orang dapat memasukinya,
“Paman Riyan..” ...kecuali seseorang.
Ketika pintu terbuka, cahaya lampu yang berasal dari lorong koridor masuk secara merambat ke dalam ruangan. Satu lariknya membuat bayangan tubuh sang tamu menjadi tampak besar saat mengalami pembiasan. Objek hitam tersebut kemudian mengarah pada sesosok tubuh pria di atas kursi tempat bekerjanya.
Dia menegak habis sisa amerikanonya, mendesah lega, sementara kepalanya bergerak menari-nari ke kanan dan ke kiri. Lagu bergenre pop mengalun melalui headphone. Pada bait terakhir lagu tersebut dinyanyikan, kepala dan tubuhnya yang semula bergoyang-goyang mendadak berhenti dalam sepersekian detik terdengar suara derit pintu terbuka. Alih-alih menoleh atau memeriksa, dia malah diam sejenak dan berpikir tentang kehadiran tamu kala itu. Menurutnya sedikit aneh, suara derit pintu yang didengarnya tidak didahului oleh suara ketukan.
“Rinn?!” Riyan berseru, atensinya menangkap sosok seseorang yang rupanya tak lain adalah keponakannya sendiri. “Kau kemari lagi?” Dia tertawa kikuk, salah tingkah. Pikirnya dia sudah benar-benar lega karena yang menyaksikan pemandangan konyol ini bukanlah orang yang dapat membuatnya merasa malu seperti siswi atau guru. Tetapi dengan diciduk oleh keponakannya sendiri, rasa malu yang didapatnya justru jauh lebih besar—bocah itu bisa kapan saja menjadikannya sebagai bahan ejekan.
Karinn melirik pada sebuah speaker besar di dekat kaki meja, membatin bahwa tidak heran mengapa suaranya terdengar keras begitu ia masuk. Beruntungnya karet kedap suara pada pintu cukup berguna dalam situasi seperti ini.
“Pekerjaanku hari ini cukup banyak,” kata Riyan sembari melepas headphone-nya, memperbaiki posisi duduknya, juga jas hitamnya yang terpakai hanya tersampir di sebelah bahunya. “Entahlah pekerjaan dari sekolah, atau pekerjaan dari ayahmu. Semua terasa campur aduk dan itu membuatku gila setiap kali memikirkannya. Jadi aku mengerjakannya sambil menghibur diri seperti yang kau lihat sekarang.” Riyan mengacak rambut, merasa amat malu telah mengatakan alasan konyol tentang pekerjaannya. Namun ketika kalimat terakhirnya terucap, dia merasa keningnya tampak memanas karena tatapan seseorang. “Oi, kenapa wajahmu? Kenapa kau membuat wajah begitu? Kau heran? Apa ini pertama kalinya kau melihatku seperti ini?”
Karinn melipat dahi, menunjukkan reaksi kontra dari semua rangkaian pertanyaan sang pamannya. “Dulu ibu sering bercerita tentang kebiasaan paman yang nyaris gila karena pekerjaanmu sendiri. Ibu juga bilang kau tampak seperti anak remaja yang stres saat menghadapi ujian. Yah, jadi kupikir seharusnya aku bisa memaklumimu.”
“Kau memang ahlinya dalam mengejek. Kupikir sebaiknya aku tidak memaklumimu.” Riyan tersenyum menyeringai, puas dengan keberaniannya kali ini untuk membalas; impas. “Nah, ada perlu kau datang kemari? Jangan bilang kau keluar kelas sebelum waktunya untuk pergi ke kantin?”
Karinn cemberut, sepasang matanya terpicing, dan bibirnya gemetar siap menyalak. Namun apalah daya suaranya tertahan di kerongkongannya karena ia tahu topik 'siswi yang kabur sebelum pelajaran berakhir' sedang hangat menjadi perbincangan para guru. Tentu mustahil sang paman selaku kepala administrasi tidak mengetahuinya. “Lihat,” Karinn mengulurkan tangan, membawa atensi Riyan pada jam dinding. “Sudah waktunya istirahat.”
Riyan mengangkat bahu, manggut-manggut sembari berkata, “Lalu dari mana aroma ramen di seragammu? Kukira kau masih menyukai parfum beraroma rose musk seperti ibumu.”
Karinn menegak ludah, wajahnya mendadak pias dan pucat bagai terasi. Maka untuk mengakui perbuatannya, dia hanya terkekeh tanpa menyangkal macam-macam seperti biasanya.
“Kau akan abadi dalam topik pembicaraan guru. Jadi lupakan dan sekarang katakan apa keperluanmu datang kemari.”
Kedua mata Karinn langsung terbuka penuh semangat, sangat antusias. Tanpa basa basi lagi pun, dia bergegas menarik kursi kecil ke depan meja Riyan, lalu dengan nada lirih dia berkata, “Ini tentang Drama.”
Baru juga masuk ke dalam pembuka obrolan, mendadak Riyan bangkit dari kursinya. Persis di belakang meja kerjanya, terpasang jendela besar yang langsung mengarah ke halaman sekolah. Mereka yang berlalu lalang di sana tentu dapat kemungkinan untuk melihat apa-apa yang ada di balik kaca. Maka sebelum Riyan kembali ke kursinya, dia memastikan jendela tersebut sudah dalam keadaan tertutup gorden.
...• • • • •...
“Irene,” panggil Erica. Dia memeriksa arloji di pergelangan tangan kanannya, menunjukkan pukul 12 siang lebih sepuluh menit. “Sudah waktunya istirahat. Kau mau pergi ke kafetaria?”
“Pergilah tanpaku.”
Senyum Erica langsung pudar, tergantikan dengan bibirnya yang cemberut tanpa berani berkomentar. Dia tahu jawaban singkat dari si sobatnya itu bermakna bahwa ia ingin melanjutkan pekerjaannya sampai tuntas. Ditambah lagi dengan keputusannya yang menawarkan diri untuk membantu, jadi dia benar-benar tidak punya pilihan lain selain tetap tinggal. Yah, apa boleh buat. Sambil menahan perutnya yang keroncongan, Erica pun pergi ke rak berikutnya, membawa tiga kardus sekaligus dan memulai lagi menata buku-buku tersebut ke tempat yang sesuai.
Lima bulan lalu, perpustakaan ini telah resmi dibuka dan digunakan secara umum setelah melewati masa pembangunannya yang memakan waktu lebih dari setahun. Selain faktor kapasitas tempat dan jumlah buku yang kurang memadai, banyaknya minat dari para siswi juga menjadi alasan utama mengapa perpustakaan ini tidak tanggung-tanggung dalam menyediakan fasilitas yang dibutuhkan; seperti ruang baca yang nyaman, area diskusi kelompok, serta ruang komputer untuk mendukung kegiatan penelitian. Tentu dengan ukurannya yang lebih besar dari gimnasium ini, bisa diperkirakan ada ribuan buku yang dapat dimuat dalam rak.
Bayangkan saja jika setiap bulan mobil pengantar datang dengan membawa dua ratus buku, itu artinya bencana bagi mereka yang mendapatkan hukuman. Dan ini bukanlah kali pertama dua sahabat karib ini menjalaninya. Jauh sebelum perpustakaan baru dibangun, mereka sudah menghabiskan waktu bersama dengan buku-buku yang jumlahnya pun tidak dapat dihitung jari. Maka tak heran walaupun keduanya termasuk kutu buku, merekalah yang pertama-tama mengajukan kontra begitu mendengar berita pembangunan perpustakaan baru.
Benar, itu karena Irene sama sekali tidak bisa menghindar dari hukuman, juga Erica yang tidak bisa meninggalkan sobatnya seorang sendiri. Begitulah keduanya saling bertemu ... di tempat ini.
“Lepaskan aku!”
Dari pintu masuk, seorang gadis ditarik paksa. Dia memberontak dan terus berusaha menepis tangan si ketua kelas yang semakin kencang genggamannya di pergelangan tangannya.
“Bedebah, kau tidak dengar?! Kubilang lepaskan!”
Tanpa peduli seberapa keras Giselle mengoceh macam-macam, Karina tetap membawanya pergi berkeliling perpustakaan, mencari seseorang. Deretan rak pertama sampai separuhnya sudah dilewati, namun hasilnya tetap nihil. Sampai akhirnya di deretan rak paling belakang, dia melihat dari sejauh matanya memandang ... Irene yang sedang menaiki tangga guna mencapai rak buku teratas.
“Kenapa kau membawa si brengsek ini ke sini?” Erica yang pertama kali menyadari kedatangan mereka lantas bertanya.
“Aku butuh kesaksianmu, Irene.” Tanpa basa-basi, Karina langsung mengeluarkan ponselnya, siap merekam.
“Tunggu, apa maksudmu?” Irene bergegas turun dari tangga sembari mengamati tindakan si ketua kelas yang ternyata sungguhan melakukannya.
“Aku mau membawanya ke kantor guru. Jadi cepatlah..”
Namun di luar dugaan, Irene justru menyambar ponsel tersebut lalu mematikan tombol perekamnya. “Biarlah berlalu. Aku tidak ambil masalah.” Setelah mengembalikan ponselnya ke tangan Karina, dia berbalik badan dan melanjutkan lagi pekerjaannya.
“Apa? Yang benar saja? Irene? Kau sungguh menurut padanya?”
Giselle di sebelahnya berkacak pinggang, tersenyum menyeringai sembari berkata, “Lihat? Tanpa kesaksiannya kau tidak bisa menyatakanku bersalah. Ck, kau sungguh buang-buang waktuku.” Begitu menyelesaikan ucapan ketusnya, tanpa disuruh pun dia langsung melenggang pergi keluar perpustakaan, meninggalkan si ketua kelas yang masih diliputi kebingungan atas situasi konyol ini.
“Sebaiknya kau tidak perlu melakukannya,” kata Erica dengan suaranya yang lirih. Diam-diam dia bergerak ke sisi Karina, berbisik di dekat telinganya sambil mematikan Irene tidak menoleh ke belakang.
“Hu? Apa maksudmu?”
“Aku tidak mau menemukannya lagi di atap dalam keadaan terluka. Jadi mari kita cari solusi lain, ya?”
Karina terpaku. Namun tanpa perlu banyak berpikir atau mengingat, dia langsung mengerti. Lantas dia pun berjalan menghampiri Irene, berkata dengan dengan suara sedikit gemetar karena menahan amarah. “Jadi, setahun lalu itu ... kau terbaring di kamar selama tiga hari karena itu? Si brengsek itu?” Karina mengacak rambut, frustrasi. Informasi yang baru saja didapatnya sebenarnya bukanlah hal baru yang perlu diberi reaksi berlebihan, tetapi dia merasa amat kecewa setiap kali tahu bahwa kebenarannya persis seperti apa yang dikatakan pikirannya. Ditambah lagi pada saat itu mereka adalah teman sekamar, jadi dialah yang paling tahu bagaimana kondisi si ‘beruang laser’ yang garang itu terbaring lemah di ranjang tanpa bisa berterus terang apa yang telah dialaminya. “Irene, kau ... Kau sungguh keterlaluan! Kau keterlaluan, bodoh!”
Setelah turun dari tangga dan berhadapan langsung dengan Karina, Irene hanya menundukkan kepalanya, mengakui semuanya tanpa lagi menyangkal atau berkata bahwa dia baik-baik saja seperti biasanya. Erica yang ada di antara mereka pun juga tidak bisa bereaksi apa-apa selain diam dan memandangi permukaan lantai yang mendadak jadi menarik perhatiannya.
“Sekarang katakan padaku. Apa si brengsek itu yang memukulmu?”
Irene mengangkat kepalanya, mempertemukan sepasang mata mereka. “Kau meminta kesaksianku?”
“Ya. Sekarang juga aku akan membuatnya dikenakan poin minus.”
“...Aku tidak tahu.”
Sudah menduga jawaban itu yang akan keluar dari mulutnya, Karina pun langsung cepat menyambar kerah seragam Irene. Lalu di depan wajahnya dia menyalak, “Kau bedebah bodoh! Kau bodoh!”
“...Aku sungguh tidak tahu.”
“Apa lagi sekarang? Itu kata-kata barumu, hu?”
“Oi, aku sungguhan.”
“Kau kira aku akan percaya? Tidak! Kau—”
“Aku berkata jujur. Aku tidak tahu.”
Gelombang suara Irene yang masuk ke dalam telinganya bermakna bahwa apa yang dikatakannya adalah benar. Namun tetap saja ia tidak bisa semudah itu menerimanya sebagai satu-satunya jawaban, terlebih setelah mengingat kembali peristiwa mengerikan itu. Maka ia pun menoleh kepada Erica, meminta tanggapannya.
“...Itu benar. Dia bilang matanya tertutup kain hitam saat dia dipukuli,” katanya.
“Hu? Ditutup kain hitam?”
Erica mengangguk. “Tapi dia yakin kalau orang itu bukan Giselle karena....”
“Dia kidal,” lanjut Irene.
Tenaga di tangan Karina pun mendadak hilang, hingga tak sadar genggamnya di kerah Irene sudah terlepas tanpa si korban meminta. “Bagaimana kau tahu itu?”
Irene menyingkirkan rambutnya di ceruk lehernya, memperlihatkan sebuah goresan yang menyerupai bentuk kuku. “Jika dia menggunakan tangan kanan, mustahil jejak yang tertinggal di sini cuma satu goresan.” Sisi yang dimaksudnya adalah sisi kiri lehernya, yang apabila dilihat dari arah berlawanan (Karina) maka itu adalah kanan. Dan satu goresan tersebut berasal dari jejak kuku bagian jempol tangan kiri si pelaku yang menekan menekan area di sekitar trakea (saluran pernapasan) dan arteri karotisnya.
“Apa itu artinya bedebah itu punya kaki tangan?”
“....Kurasa tidak.”
“Kau tidak mencoba mencari tahu?”
“....Entahlah, aku tidak yakin.”
Karina memicingkan mata, melotot sinis pada si lawan bicaranya. “Oi! Bagimu ini lelucon, hu?”
“Ayolah...” Irene menyikut lengan Karina, membujuknya agar berhenti memelototinya. “Aku bahkan tidak tahu apa aku mengenalnya.”
“Ah, terserah..” Karina balik badan, beranjak pergi dengan menunjukkan bahasa tubuhnya yang tak acuh. Pikirnya sia-sia saja dia bersimpati padanya, sama sekali tidak ada yang berubah seberapa keras pun ia mencoba.
“Oi, Rina,” panggilnya. Si pemilik nama yang baru berjalan tiga langkah pun lantas berhenti. Kiranya Irene akan berterus terang tentang topik yang tadi dibahas, tapi ternyata dia malah bertanya, “Bagaimana keadaanmu? Kau oke?”
Dalam sepersekian detik, mendadak situasi berubah canggung. Membuat Karina yang wajahnya memerah padam karena geram, juga matanya yang melotot tajam berangsur-angsur reda dengan sendirinya.
Tiga puluh menit sebelumnya, tepatnya di Lab Kimia, terjadi kecelakaan praktikum yang cukup menegangkan. Para siswi kelas 11-2 yang awalnya sedang melakukan praktikum mengenai reaksi asam dan basa, dibuat panik begitu terdengar bunyi nyaring sebuah tabung reaksi yang pecah ke lantai. Pada tabung tersebut tertera nama zat asam klorida (HCl) pada label. Tentu mereka yang berada paling dekat dengan tempat jatuhnya tabung itu terkejut lebih dulu, yakni kelompok yang beranggotakan lima orang; Erica, Irene, Giselle, Fally, dan Audrey.
Dengan sigap, Irene pun langsung memunguti pecahan tabung kaca dibantu dengan anggotanya yang langsung bergerak mencari peralatan untuk membersihkan. Beruntungnya saat itu Bu Kaila sedang keluar untuk menerima telepon, jadi mereka bisa bergegas lebih cepat.
“Giselle, tolong ambilkan sapu tanganku.” Fally menunjuk kain bermotif kotak di dekat si pemilik nama yang kala itu menjadi satu-satunya orang yang bersantai di kursi.
Ya, di tengah kehebohan ini, muncul peristiwa lain yang justru malah membuat masalah baru. Saat Giselle memberikan sapu tangan tersebut dengan cara dilempar, kainnya mengenai tabung lain dan akhirnya jatuh ke tempat tabung asam klorida pecah. Keempatnya yang sedang bekerja dengan teliti pun dibuat tambah terkejut setelah sadar bahwa tabung yang pecah kali kedua itu adalah zat bernama natrium bikarbonat (NaHCO₃). Alhasil, kedua zat yang tercampur tersebut mulai bereaksi menghasilkan gas karbon dioksida (CO₂). Dalam ketegangan ini, Erica bergegas membersihkan tumpahan tersebut dengan sapu tangan, tanpa tahu bahwa tindakannya justru memperparah situasi karena sapu tangan tersebut menyerap sebagian asam dan menyebabkan peningkatan tekanan di dalam area pencampuran zat. Akibatnya, tekanan meningkat dan ledakan kecil dari pelepasan gas karbon dioksida pun terjadi.
Karina mengangguk sembari berkata, “Ya, aku oke. Bagaimana denganmu?”
Irene mengangkat bahu, seolah menunjukkan bahwa jawabannya ada di antara ya dan tidak.
“Kau brengsek. Aku benar-benar tidak paham apa yang ada di kepalamu itu.” Karina mendecak sambil geleng-geleng kepala. Ucapannya itu mengacu pada peristiwa kecelakaan praktikum di Laboratorium Kimia. Karena meja kelompoknya berseberangan dengan meja kelompok Irene, jadi dia sempat melihat siapa yang telah menyebabkan kecelakaan untuk pertama kali. “Bedebah itu. Kau tahu dialah yang telah menjatuhkan kedua tabungnya. Lalu kenapa kau menyerahkan diri untuk menanggung hukumannya? Oi, setidaknya buatlah dia dihukum bersamamu.”
“Hahh, masa bodoh. Melibatkannya malah akan menambah masalah.”
Karina makin menekuk muka, sebal. Lama-kelamaan telinganya jadi gatal tiap kali mendengar si beruang laser itu bersikap tak acuh pada Giselle. Padahal keadaan tidak berubah ataupun berbalik sedikit pun, tapi anehnya gadis itu selalu menunjukkan bahwa dirinya lebih tidak peduli ketimbang orang-orang yang hanya melihat lalu menilainya. Entahlah, dia memang sulit ditebak bahkan oleh Erica selaku sahabat dekatnya sendiri.
“Rina,” panggil Erica. “Tentang telingamu, apa ada masalah?”
Karina mematung, tahu bahwa pertanyaan itu juga mengacu pada kecelakaan praktikum di Laboratorium Kimia. Ya, singkatnya beberapa tahun lalu, dia sempat menjalani masa rehabilitasi karena pendengarannya terganggu akibat ledakan gas saat karyawisata. Bunyinya yang super keras itu nyaris membuatnya tidak bisa mendengar, sehingga ia mengalami syok berkepanjangan dan trauma terhadap suara keras. Pada kecelakaan di laboratorium, ledakan antara dua zat itu memanglah kecil, namun bagaimana ketika ledakan itu tercipta sampai akhirnya mengeluarkan suara, itu membuatnya gelisah karena ingatan buruk tentang traumanya berputar lagi di kepalanya.
Karina mengangguk. “Ya, aku oke. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”
...• • • • •...
Di bawah temaram lampu, atmosfer menegangkan menyelimuti seisi ruangan. Karinn menundukkan kepalanya, menggoyangkan kedua kakinya dengan gelisah sementara hatinya berkecamuk hebat. Obrolan tidak berlanjut dan kini keduanya hanya saling diam di tempat masing-masing. Lima menit sebelumnya, sama sekali tidak terbayangkan bahwa mereka akan berakhir bersitegang seperti ini.
Singkatnya, begitu Karinn berterus terang tentang alasannya datang, Riyan langsung menentangnya tanpa pikir panjang. Tentu jawaban kontra yang mendadak itu membuatnya panik bukan main. Pikirnya sang paman hanya kelelahan karena pekerjaannya hari itu, maka ia pun mencoba memberi sedikit waktu untuk mempertimbangkan. Namun sampai sepuluh menit berlalu, tidak terlihat adanya tanda-tanda obrolan akan berlanjut. Justru sebaliknya, kesibukan Riyan di depan laptop tanpa sedikit pun melirik kepada sang keponakan yang berwajah gelisah, lebih tampak seperti jawaban terakhir darinya.
“Aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja. Jadi untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, setidaknya kau sudah sembuh secara fisik.” Pada menit berikutnya, Riyan akhirnya membuka mulut.
“Itu mustahil. Kaulah yang paling tahu itu, paman.”
Benar, ia pun mengakui fakta bahwa Karinn punya dua macam luka di tubuhnya; yakni luka dengan bekas dan luka tanpa bekas. Selama ini dia menyimpannya di dalam kotak pandoranya, dan hanya Drama-lah satu-satunya kunci untuk membukanya. Jika kuncinya sudah berkarat, maka akan sulit membukanya sampai akhirnya tidak dapat dibuka. Jika memilih untuk menghancurkannya, maka sekarang pun adalah awal dari kehancuran kotak pandoranya.
“Aku butuh sedikit waktu untuk berpikir.” Riyan melepas kacamatanya, memijat pangkal hidungnya sejenak. Kepala bagian belakangnya terasa sakit setiap kali pikirannya berpusat pada sang keponakan, begitulah dia berakhir terjebak dalam dilema. “Seharusnya kau tahu kenapa aku mengeluarkan jawaban kontra, Rinn. Tapi yang kau pikirkan hanyalah Drama.”