Sabrina Maureen mati sebagai pembunuh bayaran.
Dia bangun… sebagai wanita hamil yang sedang sekarat.
Di dalam tubuh Sabrina Tanjung, pewaris konglomerat yang disekap kakaknya sendiri, dia tidak diberi waktu untuk memahami takdir barunya.
Bayinya lahir di lantai dingin. Darah mengalir. Dan kematian menunggu di depan pintu.
Tapi mereka lupa satu hal.
Dia bukan korban.
Dengan bayi di pelukannya, Sabrina melarikan diri dari neraka, hanya untuk jatuh ke tangan Adrianus Halim, sang taipan, pewaris imperium bisnis yang dingin, manipulatif, dan terbiasa mengendalikan segalanya.
Termasuk dirinya.
Adrian mengurungnya dalam pernikahan paksa.
Kakaknya menginginkan kematiannya.
Dan sindikat yang dulu ia layani… kini memburunya.
Semuanya terhubung.
Berkolaborasi untuk menghancurkannya.
Dunia mengira Sabrina akan tunduk.
Mereka salah.
Karena wanita ini pernah membunuh untuk bertahan hidup...
dan sekarang, dia punya alasan untuk menjadi lebih kejam.
Membunuh… atau kehilangan anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Tes DNA
Dewan direksi keluarga Halim duduk mengelilingi meja bundar esok paginya. Tuntutannya satu: Tes DNA.
Ruang rapat utama itu terasa seperti lemari es raksasa. Pendingin udara dipasang pada suhu terendah, membuat uap dingin nampak samar di bawah lampu neon yang menyilaukan. Sabrina duduk di kursi kulit yang keras, memeluk Sebastian yang tertidur lelap dalam balutan kain flanel biru.
Ngilu di jahitan bawah perutnya kembali menari, seakan ada benang yang ditarik paksa dari dalam daging yang belum menutup sempurna. Ia mengatur napas, menekan rasa nyeri itu dalam-dalam ke dasar kesadarannya. Handuk medis yang terselip di balik korsetnya terasa lembap oleh sisa pendarahan. Tubuhnya masih berbau besi, bau darah nifas yang belum hilang sepenuhnya, kontras dengan aroma parfum kayu cendana milik para pria tua di depannya.
Adrian duduk di kepala meja. Pria itu menyilangkan kaki, menatap deretan direksi dengan mata yang redup namun mematikan.
"Ini penghinaan," ucap Adrian pelan. Suaranya menggema di dinding kedap suara. "Kalian mempertanyakan otoritas saya dengan meminta bukti biologis anak saya sendiri?"
"Ini bukan soal otoritas, Adrian," sahut pria tua berkacamata tebal di ujung meja. Pramono Halim. Paman tertua yang memegang divisi keuangan. "Ini soal kepastian hukum dan warisan klan Halim. Rumor yang disebar Kania semalam sudah sampai ke telinga pemegang saham di Singapura. Nilai saham kita goyang dua persen pagi ini."
Pramono menggeser sebuah map perak ke tengah meja.
"Keluarga besar butuh transparansi. Sabrina Tanjung bukan berasal dari garis keturunan yang kita kenal. Kita nggak tahu apa yang terjadi di gunung itu saat dia menghilang."
Adrian mencondongkan tubuhnya ke depan. "Lihat mata bayi itu."
Adrian menunjuk ke arah Sebastian yang sedikit menggeliat. Di balik kelopak mata mungil yang setengah terbuka, nampak jelas perbedaan warna irisnya. Biru laut di sebelah kanan, dan cokelat gelap di sebelah kiri. Heterokromia.
"Fenotip langka ini mengalir di gen Halim sejak tiga generasi lalu," desis Adrian tajam. "Kakek buyutku memilikinya. Aku memilikinya meski tipis. Sekarang Sebastian lahir dengan tanda itu. Apa itu belum cukup bagi kalian?"
Pramono mendengus sinis, tak terkesan. "Genetik bisa dimanipulasi secara visual, Adrian. Atau mungkin itu cuma kebetulan biologis yang luar biasa. Di dunia bisnis, kita nggak percaya pada keajaiban iris mata. Kita percaya pada data genomik."
Sabrina menunduk, menatap pucuk kepala Sebastian. Insting monster di dalam tubuhnya menggeliat. Ia bisa saja melompat melintasi meja ini dan mematahkan leher Pramono dalam tiga detik menggunakan pulpen besi yang tergeletak di sana. Tapi ia bukan lagi pembunuh bayaran Maureen yang bebas. Ia adalah ibu yang sedang dikepung serigala.
"Transparansi." Sabrina mengeja kata itu dengan nada hambar. Ia mendongak, menatap Pramono tepat di titik antara kedua matanya. "Maksud Anda, Anda ingin memastikan apakah rahim saya membawa aset atau sampah?"
Beberapa direktur berdeham canggung. Mereka nggak menyangka perempuan yang baru melahirkan ini punya keberanian untuk bicara sesegar itu.
"Bahasa Anda kasar sekali, Sabrina," cibir Pramono. "Tapi ya, begitulah faktanya. Kami butuh sampel darah hari ini juga. Dokter pribadi keluarga, Dokter Tirta, sudah menyiapkan peralatannya di lab bawah tanah kediaman ini."
Sabrina melirik ke arah Adrian. Suaminya itu hanya diam, mengamati istrinya dengan tatapan yang sulit dibaca. Adrian tidak membela lebih jauh, tapi juga tidak memaksa. Pria itu sedang menonton bagaimana Sabrina menangani tekanan ini.
"Gimana kalau aku menolak?" tanya Sabrina.
"Maka Sebastian nggak akan pernah diakui dalam akta keluarga," jawab Pramono cepat. "Dia nggak punya hak atas nama Halim. Dan kamu tahu apa artinya bagi anak yang nggak punya nama di dunia kita, kan?"
Cengkeraman Sabrina pada tubuh bayi itu mengerat sejenak. Ia merasakan detak jantung Sebastian yang halus di dadanya. Ancaman Pramono bukan cuma soal uang, tapi soal perlindungan. Tanpa nama Halim, Sebastian hanyalah sasaran empuk bagi siapa pun yang ingin menghancurkan Adrian.
"Oke," jawab Sabrina pendek.
Adrian mengangkat alisnya. "Kau yakin, Sabrina?"
"Nggak ada yang perlu disembunyikan, kan?" Sabrina berdiri perlahan, menahan ringisan saat otot perutnya menegang. "Tapi aku punya syarat. Aku mau sampel itu diambil di depanku, diproses di depanku, dan aku mau melihat tabungnya setiap detik sampai mesin sekuensing bekerja."
Pramono tertawa remeh. "Kamu pikir kami ini sindikat kriminal yang bakal menukar sampel?"
"Di ruangan yang penuh dengan orang yang ingin anak ini menghilang, saya nggak percaya pada siapa pun kecuali mata saya sendiri," sahut Sabrina dingin.
Adrian berdiri, merapikan jasnya yang tanpa celah. "Lakukan. Siapkan lab. Saya mau hasilnya keluar dalam enam jam."
Mereka bergerak menuju laboratorium medis pribadi Halim yang terletak di sayap timur mansion. Tempat itu lebih mirip instalasi rumah sakit militer. Dindingnya dilapisi baja tahan karat dengan pencahayaan putih yang memuakkan.
Dokter Tirta sudah menunggu di sana. Pria itu mengenakan jubah putih steril, tangannya terbungkus sarung tangan lateks. Di atas meja metal, beberapa tabung vakum berlabel ungu dan jarum suntik sekali pakai sudah berjejer rapi.
"Kenapa jarum itu diarahkan ke saya juga?" Sabrina menghentikan langkah tepat di depan meja lab. Matanya menatap tajam ke arah baki berisi dua set alat pengambilan sampel darah. "Yang kalian ragukan adalah Adrian ayahnya atau bukan. Ambil darah Adrian, bandingkan dengan Sebastian. Selesai."
Dokter Tirta melirik ke arah Pramono, lalu kembali menatap Sabrina dengan wajah kaku.
"Untuk akurasi seratus persen sesuai standar protokol Halim, kami butuh profil genetik lengkap," jelas Dokter Tirta. Suaranya sedikit bergetar. "Dengan menyertakan DNA Ibu, lab bisa melakukan eliminasi gen maternal. Jadi, sisa penanda genetik pada bayi bisa dipastikan secara mutlak berasal dari pihak Ayah atau bukan. Tanpa DNA Ibu, probabilitasnya cuma sembilan puluh sembilan persen. Keluarga Halim cuma menerima hasil yang mutlak."
"Alasan yang bagus untuk kembali menguras darahku," desis Sabrina.
Ia merasakan invasi lagi. Setelah perutnya dibelah paksa, kini mereka ingin menyedot isi nadinya. Sabrina menatap Adrian. Pria itu sudah lebih dulu menyingsingkan lengan kemejanya, membiarkan asisten dokter mengikat karet tourniquet di lengan bawahnya.
"Lakukan saja, Sabrina," ucap Adrian tanpa menoleh. "Buktikan pada mereka kalau rahimmu nggak membawa sampah."
Sabrina meletakkan Sebastian di atas meja periksa yang beralaskan kain lembut. Bayi itu menggeliat kecil, mengeluarkan suara rengekan halus yang membuat dada Sabrina berdenyut panas. Naluri keibuannya menjerit, menolak membiarkan benda tajam apa pun menyentuh kulit suci anaknya.
"Saya cuma butuh sedikit sampel dari tumit bayi ini, Nyonya," ucap Dokter Tirta.
Sabrina menyipitkan mata. Ia memperhatikan gerakan Dokter Tirta saat pria itu mengambil kapas alkohol. Mata Sabrina bergerak seperti kamera pemantau, merekam posisi tabung, urutan label, hingga ke arah mana mata dokter itu melirik.
Dokter Tirta sempat melirik ke arah pintu keluar, tempat Kania berdiri diam dengan wajah yang dipoles sangat pucat.
Ada yang nggak beres.
Otak pembunuh Sabrina langsung memetakan celah. Dalam prosedur tes DNA, sabotase paling mudah dilakukan pada tahap pelabelan atau penambahan zat kimia tertentu ke dalam tabung yang bisa merusak struktur kromosom sampel. Atau, tabung itu sudah berisi sampel darah lain yang identitasnya sudah disiapkan sebelumnya.
"Tunggu," potong Sabrina saat jarum itu hampir menyentuh kaki Sebastian.
Dokter Tirta berhenti. "Ada apa?"
"Ganti tabungnya." Sabrina menunjuk tabung berlabel ungu yang dipegang asisten dokter. "Gunakan tabung baru yang masih dalam segel plastik itu. Dan saya mau Adrian yang membuka segelnya."
Wajah Dokter Tirta berubah sedikit kaku. "Ini prosedur standar, Nyonya. Semua tabung di sini sudah steril."
"Buka yang baru. Sekarang." Suara Sabrina bukan lagi permintaan, tapi perintah eksekusi.
Adrian melangkah maju. Tanpa banyak bicara, ia mengambil kotak plastik berisi tabung vakum baru, merobek segelnya di depan semua orang, dan menyerahkannya pada Tirta.
Kania yang berdiri di ambang pintu tampak meremas tas tangannya. Kuku-kukunya yang merah menekan kulit tas hingga membekas.
Sabrina memperhatikan Dokter Tirta yang kini berkeringat di bawah lampu lab. Pria itu dengan gemetar menusukkan jarum ke tumit kecil Sebastian. Bayi itu menangis kencang saat darah merah segar mulai merembes keluar.
Tangisan Sebastian terasa seperti pisau yang mengiris jantung Sabrina. Ia menahan napas, tangannya gemetar ingin merenggut anaknya kembali. Tapi ia harus bertahan. Ini adalah ujian pertama untuk legitimasi hidup Sebastian.