NovelToon NovelToon
MATA SAKTI

MATA SAKTI

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Action / Raja Tentara/Dewa Perang
Popularitas:33.7k
Nilai: 5
Nama Author: samsu234

"Dulu aku hanyalah sampah yang diinjak-injak, kurir miskin yang tak punya masa depan. Namun, satu tetes darah dewa mengubah segalanya. Dengan Mata Sakti ini, tidak ada rahasia yang tersembunyi, tidak ada musuh yang tak punya celah, dan tidak ada harta yang tak bisa kuraih. Dunia modern ini akan bertekuk lutut di bawah tatapanku!"

#urban_fantasi #romance#cultivasion

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERJAMUAN BANGKAI DAN CAHAYA MERAH

Mansion Wijaya tidak lagi memiliki keindahan. Bangunan yang tadinya merupakan simbol kemewahan Jakarta itu kini hanyalah bangkai beton yang menganga. Langit di atasnya tertutup oleh abu yang beterbangan, sisa dari material bangunan yang terurai menjadi partikel halus akibat ledakan energi Arka.

Arka berdiri di pusat reruntuhan, namun ia tidak lagi berpijak pada bumi. Sepatu hitamnya melayang beberapa inci di atas puing-puing yang masih membara.

Sensasi itu datang lagi: Absolute Perception.

Dunia di mata Arka tidak lagi terdiri dari bentuk dan warna, melainkan aliran frekuensi. Ia bisa mendengar detak jantung tikus yang ketakutan di bawah tanah, ia bisa merasakan gesekan molekul udara yang mendingin karena kehadirannya, dan yang paling menyiksa—ia bisa melihat sisa-sisa "jejak jiwa" Malakai yang tertinggal di udara. Jejak itu berwarna perak metalik, tajam seperti silet, dan berbau seperti kematian yang steril.

"Tuan... Arka..."

Suara Tuan Yan pecah, tersangkut di tenggorokan. Pria tua itu berdiri di kejauhan, wajahnya berlumuran debu putih. Ia melihat tuannya, namun sosok yang ia kenal sebagai pemuda yang penuh dendam telah hilang. Yang ada di sana hanyalah sebuah tungku energi berjalan dengan tato naga yang berdenyut di lehernya, seolah-olah tinta hitam itu adalah pembuluh darah baru yang memompa kekuatan murni.

Arka tidak menyahut. Ia perlahan meremas secarik kain gaun Maria di tangannya. Begitu kuatnya cengkeraman itu hingga kain tersebut mulai terbakar biru dan lenyap menjadi ketiadaan.

“Dia bukan ibu kandungmu. Dia adalah penjaramu.”

Kalimat itu berputar di kepalanya seperti gergaji mesin. Arka tertawa kecil—sebuah suara yang lebih mirip retakan es di musim dingin. Sepanjang hidupnya, ia menganggap Maria sebagai satu-satunya alasan untuk tetap menjadi manusia. Dan sekarang, realitas itu dipreteli dengan cara yang paling hina oleh seorang utusan dari langit.

"Yan," panggil Arka. Suaranya tidak lagi berat, tapi sangat tenang. Ketenangan yang lebih menakutkan daripada kemarahan.

"I-iya, Tuan?"

"Ambil daftar aset Klan Wijaya. Semua yang tersisa. Aku ingin kau menjual semuanya dalam waktu enam jam. Tidak peduli harganya jatuh. Aku butuh likuiditas."

Tuan Yan mengerutkan kening, bingung di tengah ketakutannya. "Tapi Nona Clarissa... dia masih di hanggar. Apa kita akan—"

"Clarissa hanyalah sebuah pion yang sudah patah, Yan," Arka menoleh, dan untuk pertama kalinya, Yan melihat mata itu dengan jelas. Mata kiri yang menghisap realitas dan mata kanan yang menciptakannya. "Jangan buang waktu untuk sampah yang sudah aku hancurkan jiwanya."

Arka kemudian mendongak. Di langit yang pekat, bintang jatuh berwarna merah darah itu semakin membesar. Itu bukan meteorit. Itu adalah sebuah pesan. Sebuah Will atau kehendak dari entitas yang jauh lebih tinggi.

Tiba-tiba, tato naga di leher Arka merayap naik, melilit telinganya. Sebuah bisikan serak, seperti gesekan sisik pada batu, terdengar langsung di otaknya.

"Telan bintang itu, Nak... jangan biarkan mereka mengambilnya kembali."

Arka menyipitkan mata. "Siapa kau?"

"Aku adalah apa yang kau inginkan. Aku adalah nadi yang kau bangkitkan. Aku adalah rasa sakitmu yang diberi bentuk."

Tanpa peringatan, bintang merah itu menghantam atmosfer dengan ledakan sonik yang memecahkan semua kaca di radius tiga kilometer. Cahaya merahnya menyelimuti Jakarta, mengubah malam yang gelap menjadi lautan darah yang mengerikan. Bintang itu meluncur lurus ke arah reruntuhan Mansion Wijaya—tepat ke arah jantung Arka.

Arka tidak menghindar. Ia justru membuka dadanya luas-luas.

BUM!

Tabrakan itu tidak menghancurkan tubuhnya. Sebaliknya, energi merah itu masuk ke dalam luka terbuka di dadanya yang tadinya berpendar bening. Serat-serat hitam dan putih di lukanya kini menjalin warna merah, menciptakan pola "Mahkota Berduri" yang melingkar di ulu hatinya.

Rasa sakitnya absolut. Arka merasa seolah setiap atom di tubuhnya sedang dibelah dengan kapak tumpul, lalu dijahit kembali dengan kawat berduri. Ia jatuh berlutut, raungannya menggetarkan tanah Jakarta hingga gedung-gedung di Sudirman bergoyang.

Di dalam penglihatan batinnya, Arka melihat sebuah menara yang menembus awan. Menara yang disebut Malakai sebagai "Puncak Menara Langit". Di sana, ia melihat Maria—atau sosok yang menyerupainya—duduk di atas singgasana kristal, menatapnya dengan mata dingin yang tidak menunjukkan cinta sedikit pun.

"Jadi ini permainannya?" gumam Arka di tengah siksaan energinya. Keringat darah menetes dari pelipisnya. "Kalian menciptakan naga hanya untuk melihat seberapa kuat dia bisa terbakar?"

Ia bangkit berdiri. Kekuatannya kini tidak lagi terasa meluap-luap, melainkan terkumpul padat di satu titik. Sayap energi transparan di punggungnya memadat menjadi sayap naga yang kelam, seolah-olah terbuat dari obsidian cair.

Ia menoleh ke arah Tuan Yan yang sudah pingsan karena tekanan energi tadi. Arka mengibaskan tangannya, mengirimkan selapis energi pelindung ke tubuh pria tua itu.

"Istirahatlah, Yan. Besok, dunia ini tidak akan lagi mengenal hukum yang lama."

Arka melangkah keluar dari abu. Di gerbang mansion, puluhan mobil mewah hitam sudah mengepungnya. Itu adalah pasukan elit dari sisa-sisa Konsorsium yang mencoba mengambil kesempatan di saat Arka terlihat lemah. Ratusan pria berpakaian taktis keluar dengan senjata yang sudah dimodifikasi untuk membunuh kultivator.

"Arka! Serahkan Mata Sakti dan Artefak Merah itu, atau Jakarta akan menjadi kuburanmu malam ini!" teriak seorang pimpinan tim dengan megafon.

Arka menatap mereka seperti seorang kaisar menatap semut yang mencoba mencuri remah roti.

Ia menjentikkan jarinya.

Bukan api, bukan ledakan. Tapi dalam satu kedipan mata, gravitasi di area gerbang meningkat seribu kali lipat. Mobil-mobil baja itu merosot, gepeng menjadi lempengan besi dalam sekejap. Tulang-tulang para prajurit itu hancur bahkan sebelum mereka sempat berteriak. Darah mereka terperas keluar dari pori-pori, menciptakan genangan merah yang sempurna di atas aspal.

Hanya butuh tiga detik untuk menghabisi seratus pasukan elit.

Arka terus berjalan, melewati tumpukan daging dan besi itu tanpa menoleh. Di matanya, Jakarta kini hanyalah sebuah panggung sandiwara yang sudah selesai masa tayangnya.

Ia meraih ponselnya yang masih berfungsi di saku jasnya yang hancur. Ia menekan sebuah nomor yang sudah lama ia simpan namun tak pernah ia hubungi. Nomor milik pimpinan tertinggi bawah tanah Asia.

"Halo?" suara di seberang sana terdengar berat dan penuh wibawa.

"Ini Arka," ucap Arka datar. "Siapkan perjamuan untuk seluruh pimpinan klan besok pagi di Tower Regalia. Katakan pada mereka, ini adalah perjamuan terakhir sebelum aku menghapus nama mereka dari sejarah."

"Tuan Arka... Anda yakin? Konsorsium Pusat tidak akan diam saja."

"Aku justru berharap mereka datang," jawab Arka sambil menatap tato naga di tangannya yang kini memegang api merah yang berdenyut. "Aku butuh bahan bakar yang cukup untuk membakar pintu langit."

Ia mematikan telepon.

Arka berdiri di tepi jalan layang, menatap lampu-lampu Jakarta yang mulai redup di bawah dominasi cahaya merah di langit. Ia tahu, mulai malam ini, ia bukan lagi seorang pemuda yang mencari keadilan.

Ia adalah bencana yang sedang mencari penciptanya.

Dan saat ia melangkah masuk ke dalam bayangan malam, tato naga di lehernya membisikkan satu hal terakhir yang membuat jantung Arka berdegup lebih kencang dari sebelumnya.

"Ayahmu... dia tidak menunggu di langit, Arka. Dia sedang menunggumu di dasar neraka yang kau buat sendiri."

Arka akan mendatangi Tower Regalia bukan sebagai tamu, tapi sebagai algojo. Namun, di tengah perjamuan, sebuah peti mati perak dikirimkan langsung dari Dunia Atas. Di dalamnya bukan mayat, melainkan sesuatu yang akan membuat Arka mempertanyakan setiap inci dari kekuatan Mata Saktinya.

1
SANG
Jangan kasih kendor💪👍
the misterius author 🐐: kalau kasih kendor rugi thor 🤣
total 1 replies
SANG
Semoga sampai tamat💪👍
SANG
Lanjutkan aksimu Thor💪👍
SANG
Basmi sampai tuntas
SANG
Musnahkan
SANG
Hancurkan
SANG
Keren bro💪👍
Manusia Ikan 🫪
ooi apa maksud nya nih di telanjangi🥴.... waduh
the misterius author 🐐: wkwkwk
total 3 replies
Mamat Stone
/Determined/
Mamat Stone
/Angry/
Mamat Stone
/Panic/
Mamat Stone
/Doubt/
Mamat Stone
lanjutkan Thor 🧼
Mamat Stone
tetap semangat Thor
Mamat Stone
/Determined/
Mamat Stone
/Angry/
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Manusia Ikan 🫪
huuu cit cit cit
Manusia Ikan 🫪
apasiiih, suaranya gitu/Facepalm/
Manusia Ikan 🫪: wkoakwoakwoa🥴
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!