Aiden "The Ghost" Volkov adalah definisi dari kesempurnaan yang mematikan. Sebagai raja mafia penguasa jalur perdagangan gelap Eropa, ia dikenal dingin, tak tersentuh, dan sangat mencintai keteraturan. Hidupnya adalah tentang strategi, senjata, dan keheningan.
Namun, tatanan hidup Aiden hancur berantakan saat ia bertemu dengan Ziva, seorang gadis Indonesia yang tinggal di luar negeri dan bekerja sebagai kurir makanan paruh waktu. Pertemuan mereka dimulai dengan bencana: Ziva secara tidak sengaja menabrak konvoi mobil baja Aiden dengan skuter bututnya, lalu malah memarahi Aiden karena "merusak spion estetiknya".
Ziva bukan cewek tangguh yang jago bela diri; dia hanyalah gadis dengan tingkat keberuntungan negatif dan mulut yang tidak punya rem. Di saat musuh-musuh Aiden menggunakan peluru, Ziva menggunakan ketidaksengajaan—seperti menjatuhkan vas kuno seharga jutaan dollar tepat di kepala pembunuh bayaran yang sedang mengincar Aiden.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Peluru Nyasar dan Jantung yang Berdebar
Mansion Volkov baru saja pulih dari aroma sabun lemon, namun ketegangan di dunia bawah tanah Milan tidak pernah benar-benar mencair. Setelah insiden "gagang pel" yang legendaris, Aiden menyadari bahwa keamanan Ziva tidak bisa lagi diserahkan hanya pada keberuntungan dan insting semprul gadis itu. Musuh-musuh Aiden kini mulai menyadari bahwa titik lemah sang Raja Dingin bukanlah pada hartanya, melainkan pada seorang gadis Indonesia yang hobi memakai kaos partai di dalam mansion mewah.
Pagi itu, Aiden memutuskan untuk membawa Ziva ke tempat latihan menembak pribadinya yang terletak di rubanah tersembunyi. Tempat itu kedap suara, dingin, dan dipenuhi aroma mesiu yang tajam.
"Bang Don, kenapa kita ke sini? Gue lebih suka ke pasar kaget daripada ke gudang peluru begini," keluh Ziva sambil menenteng pistol berukir bunga matahari yang diberikan Aiden semalam. Pistol itu kini benar-benar memiliki gantungan kunci boneka beruang kecil yang berayun-ayun di bagian pegangannya.
Aiden berdiri di belakang Ziva, memperbaiki posisi berdiri gadis itu. "Dunia luar sedang tidak aman, Ziva. Lorenzo dan Moretti mungkin sudah hancur, tapi ada pihak lain yang mulai mengincar. Kau harus tahu cara menarik pelatuk sebelum mereka menariknya padamu."
Aiden melingkarkan lengannya dari belakang untuk membetulkan genggaman tangan Ziva pada pistol. Posisi ini membuat punggung Ziva menempel erat pada dada bidang Aiden. Ziva bisa merasakan detak jantung Aiden yang tenang namun kuat, sementara Aiden bisa mencium aroma sampo stroberi murah milik Ziva yang sangat kontras dengan bau oli senjata di ruangan itu.
"Fokus, Ziva. Lihat sasaran di depanmu. Tarik napas, tahan, lalu tekan pelan-pelan," bisik Aiden tepat di telinga Ziva.
Ziva mendadak merasa oksigen di ruangan itu menipis. Jantungnya berdebar, bukan karena takut pada pistol di tangannya, tapi karena kedekatan fisik yang begitu intim. "Ba-Bang... jangan deket-deket napasnya, geli tahu! Gue jadi nggak konsen nih, sasarannya jadi kelihatan dua."
Aiden tidak melepaskan genggamannya. "Itu artinya kau sedang gugup. Seorang mafioso tidak boleh gugup."
"Gue kan kurir seblak, bukan mafioso!" Ziva mencoba protes, namun akhirnya ia menarik pelatuknya.
BANG!
Peluru itu melesat, namun bukannya mengenai papan sasaran di depan, peluru itu justru memantul ke langit-langit, mengenai sebuah pipa besi, dan memantul kembali ke arah sebuah pajangan guci tua di sudut ruangan hingga hancur berkeping-keping.
"ASTAGA! GUCI LU PECAH LAGI, BANG!" teriak Ziva panik.
Aiden hanya bisa menghela napas panjang melihat pajangan seharga ratusan ribu dolar itu hancur karena peluru nyasar asistennya. "Itu... peluru nyasar yang sangat akurat untuk menghancurkan asetku, Ziva."
Latihan itu terhenti ketika Marco masuk dengan tergesa-gesa. Wajahnya pucat pasi. "Tuan! Ada penyusup di sektor barat. Mereka tidak menggunakan senjata api, tapi mereka menggunakan drone peledak. Sistem keamanan kita sedang berusaha meretas kendalinya, tapi salah satu drone berhasil masuk ke area ventilasi!"
Belum sempat Aiden merespons, suara dengungan tinggi terdengar dari langit-langit rubanah. Sebuah drone kecil dengan lampu merah berkedip muncul dari lubang udara.
"Ziva, tiarap!" Aiden menerjang Ziva, menjatuhkannya ke lantai tepat saat drone itu meledak di udara.
Serpihan logam berterbangan. Aiden melindungi tubuh Ziva dengan tubuhnya sendiri. Ledakan itu menyebabkan lampu-lampu di rubanah pecah, menyisakan kegelapan yang hanya diterangi oleh lampu darurat berwarna merah yang berputar-putar.
"Bang Don! Lu nggak apa-apa?" suara Ziva bergetar. Ia bisa merasakan sesuatu yang hangat menetes ke lengannya dari bahu Aiden. "Darah... Bang, lu berdarah!"
Aiden meringis pelan, luka goresan akibat serpihan drone merobek jas mahalnya hingga ke kulit. "Hanya goresan. Tetap di belakangku."
Aiden menarik Ziva bangkit. Mereka berlari menuju pintu keluar darurat, namun pintu itu terkunci secara otomatis karena sistem lockdown mansion yang sedang kacau. Suara langkah kaki sepatu bot terdengar dari koridor di luar. Ini adalah tim pembersih profesional, bukan sekadar preman jalanan.
Aiden menarik Ziva masuk ke dalam sebuah lemari penyimpanan senjata yang sempit. Ruangannya hanya berukuran satu kali satu meter, dipenuhi dengan kotak peluru dan laras senapan cadangan. Di dalam kegelapan yang sempit itu, mereka terpaksa berdiri sangat rapat. Dada mereka bersentuhan, napas mereka beradu dalam kesunyian yang mencekam.
Aiden memegang pistolnya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya membekap mulut Ziva agar suaranya tidak terdengar oleh para pengejar yang lewat di depan lemari.
Ziva menatap mata abu-abu Aiden yang kini berkilat dalam kegelapan. Di saat nyawa mereka terancam, Ziva justru merasa sebuah getaran aneh yang jauh lebih menakutkan daripada ledakan drone tadi. Jantungnya berdebar sangat kencang, hingga ia yakin Aiden bisa merasakannya melalui sentuhan tubuh mereka.
Aiden pun merasakan hal yang sama. Keberanian Ziva yang biasanya meledak-ledak kini berubah menjadi kerentanan yang membuat insting pelindungnya menggila. Ia menurunkan tangannya dari mulut Ziva, namun tidak menjauhkan wajahnya.
"Ziva," bisik Aiden sangat pelan, hampir menyerupai desis angin. "Kau takut?"
Ziva menelan ludah. "Kalau gue bilang nggak takut, gue bohong. Tapi gue lebih takut kalau lu mati di sini terus nggak ada yang bayarin utang seblak gue di warung Bang Jago."
Aiden tersenyum di tengah kegelapan. "Kau selalu punya cara untuk merusak suasana romantis, ya?"
"Romantis apanya! Kita lagi di dalem lemari, Bang! Bau oli lagi!" Ziva berbisik balik dengan nada kesal yang dibuat-buat untuk menutupi kegugupannya.
Tiba-tiba, suara tembakan terdengar dari luar, diikuti oleh teriakan Marco yang sedang membalas serangan. Aiden tahu ia harus bertindak. Ia menatap Ziva sekali lagi. "Tetap di sini. Jangan keluar sampai aku memanggil namamu. Paham?"
"Bang, jangan sok pahlawan deh. Itu di luar banyak orang jahat," Ziva menahan lengan Aiden.
Aiden mencium dahi Ziva dengan cepat—sebuah kecupan singkat yang penuh dengan emosi hidup yang mendalam. "Aku adalah Raja Mafia, Ziva. Mereka yang seharusnya takut padaku."
Aiden menendang pintu lemari dan keluar dengan serangan kejutan. Ia bergerak seperti bayangan, menembak dengan akurasi mematikan ke arah tiga pria bersenjata yang sedang mencari mereka. Gerakannya cepat, dingin, dan efisien. Setiap peluru yang keluar dari senjatanya adalah vonis mati bagi musuhnya.
Ziva, yang tidak tahan hanya berdiam diri, mengintip dari celah pintu. Ia melihat seorang musuh sedang membidik punggung Aiden dari balik tumpukan kotak peluru.
"BANG DON! AWAS!"
Tanpa pikir panjang, Ziva keluar dari persembunyiannya. Ia teringat latihan tadi. Ia tidak membidik orangnya, karena ia tahu ia tidak akan kena. Sebaliknya, ia membidik ke arah tabung pemadam api yang tergantung tepat di atas kepala si penyerang.
BANG!
Peluru nyasar Ziva menghantam katup tabung pemadam api. Tabung itu meledak, mengeluarkan busa putih pekat yang membutakan si penyerang dan membuatnya terlempar ke dinding.
Aiden segera berbalik dan menyelesaikan sisa musuh dengan cepat. Suasana kembali sunyi, hanya menyisakan suara desis gas dari tabung pemadam dan detak jantung mereka yang masih berpacu.
Marco dan pasukan Volkov akhirnya masuk, berhasil menetralisir seluruh area rubanah. "Tuan, area sudah bersih. Mereka adalah tentara bayaran dari kartel luar yang mencoba memanfaatkan kekacauan internal Moretti."
Aiden mengangguk kaku, lalu ia menoleh ke arah Ziva yang kini bajunya putih semua terkena busa pemadam api. Gadis itu tampak seperti donat gula yang habis jatuh ke lantai.
"Ziva... kau menyelamatkanku lagi," ucap Aiden sambil mendekat.
Ziva membersihkan busa di wajahnya. "Habisnya lu lama banget, Bang. Kalau nunggu lu sadar, mungkin punggung lu udah bolong. Tapi ya itu, guci lu pecah, sekarang tabung pemadam lu meledak. Lu jangan potong gaji gue ya?"
Aiden tidak menjawab dengan kata-kata. Ia menarik Ziva ke dalam pelukannya—kali ini di depan Marco dan belasan pengawalnya. Ia tidak peduli lagi dengan citra "Raja Dingin" yang ia sandang. Pelukannya sangat erat, seolah-olah ia sedang memegang satu-satunya hal berharga yang tersisa di dunia ini.
"Tuan..." Marco berdeham, merasa tidak enak mengganggu momen itu.
Aiden melepaskan pelukannya, namun tetap menggandeng tangan Ziva. "Obati lukaku, Marco. Dan Ziva... kau harus mandi. Kau bau busa kimia."
"Dih! Lu juga bau keringat, Bang! Bau keringat mafia sombong!" balas Ziva sambil menjulurkan lidahnya.
Saat mereka berjalan naik menuju lantai utama, Ziva merasakan tangan Aiden yang menggenggam jemarinya dengan sangat erat. Jantungnya masih berdebar, bukan lagi karena peluru nyasar atau ledakan drone, melainkan karena kesadaran bahwa di balik dinding es dan kekejaman seorang Aiden Volkov, ada sebuah hati yang hanya berdetak untuknya.
"Bang Don," panggil Ziva pelan saat mereka sampai di koridor.
"Ya?"
"Pistol gue tadi gantungan beruangnya ilang kena ledakan. Lu harus ganti pakai yang lebih gede."
Aiden menatap Ziva, lalu ia tertawa kecil—sebuah tawa yang tulus dan menghangatkan suasana koridor yang dingin itu. "Aku akan membelikanmu satu toko boneka jika itu yang kau mau, Gadis Semprul."
Ziva tersenyum lebar. "Nah, gitu dong! Itu baru bos idaman! Tapi baksonya tetep ya?"
Aiden hanya menggelengkan kepala, menyadari bahwa meski peluru sering menyasar di sekitarnya, panah cinta dari gadis semprul ini telah tepat mengenai sasaran di pusat jantungnya yang paling dalam. Malam itu, jantung yang biasanya dingin itu berdebar dengan ritme kehidupan yang baru, sebuah simfoni antara bahaya dan tawa yang hanya bisa diciptakan oleh seorang Ziva.