Medina Khaled, gadis cantik bermata Hazel dari Ghaza yang telah di adopsi oleh seorang dokter relawan bernama Yasmin Ameena, dan suaminya bernama Ardan Mahesa, memiliki putra tunggal Rendra Mahesa.
Dokter Yasmin menolong Medina di bawah reruntuhan bangunan. Gadis itu masih bisa di selamatkan.
Dokter Yasmin merasa iba pada Medina yang sebatang kara, ia membawa Medina pulang ke Indonesia dan menjadikan nya anak angkat.
Setelah dewasa, Medina menolak tawaran dokter Yasmin untuk melanjutkan studinya di Amerika menyusul Rendra yang sudah disana. Medina ingin bekerja, belajar mandiri. Dokter Yasmin tidak ingin kehilangan Medina. Akhirnya ia menyuruh Rendra untuk pulang, dan menikahi Medina. Mau tak mau, ke-duanya harus menuruti keinginan dokter Yasmin, walau Rendra sudah memiliki kekasih. Rendra menyayangi Medina, tapi ia punya selera di luar sana. Membuat Rendra bermain di belakang Medina.
Bagaimana kah kelanjutan Rumah Tangga nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosseroo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Pagi itu, cahaya matahari menyelinap lembut lewat tirai kamar. Medina sudah terjaga lebih dulu. Ia duduk di tepi ranjang, memperhatikan wajah Rendra yang masih terlelap.
Ada rasa haru sekaligus berat di dadanya — besok, rumah ini akan kembali sepi tanpa sapaan lembut dari sesosok pria yang kini telah berstatus sebagai suaminya.
Pelan-pelan, ia membetulkan letak selimut suaminya, lalu beranjak menyiapkan sarapan sederhana. Aroma kopi dan roti panggang mengisi ruang makan. Tak lama, langkah kaki Rendra terdengar menuruni tangga.
“Kamu udah bangun dari tadi?” tanya Rendra dengan suara serak pagi.
“Iya, Mas. Aku pengin siapin sarapan buat kamu sebelum berangkat,” jawab Medina lembut sambil tersenyum.
"Bunda dan ayah kemana?"
"Bunda belum keluar dari kamar mas. Ayah kan masih belum pulang dari dinas luar kota."
"Oh iya.. "
Rendra mendekat, lalu berdiri di belakang istrinya. Ia merengkuh pinggang Medina dari belakang, menunduk dan berbisik di telinga Medina.
“Aku jadi berat ninggalin kamu…”
Medina terdiam sejenak. Hatinya bergetar, tapi ia mencoba tersenyum.
“Aku juga, Mas. Tapi ini kan tanggung jawab kamu sebagai pimpinan disana. Aku doakan semua lancar.”
Rendra menatap wajah istrinya dari sisi, seolah ingin menghafal setiap detailnya — mata bening, kulit halus, senyum yang selalu meneduhkan.
“Kamu jaga diri ya di sini. Jangan terlalu capek bantu Bu Fatimah.”
“Iya, Mas. Kamu juga jaga kesehatan. Jangan lupa makan dan jangan tinggalin sholat.”
"Siap, istriku..." jawabannya lalu mengecup pipi sang istri.
Saat sarapan, Yasmin datang ke ruang makan lalu ikut serta sarapan bersama. Yasmin menatap keduanya dengan senyum bangga.
“Sudah siap berangkat, Rendra?”
“Sudah, Bund. Doakan perjalanan lancar ya.”
“Pasti. Dan kamu, Medina, kamu beneran gak mau ikut saja dengan Rendra?" tanya Yasmin menatap menantunya, Medina hanya menggeleng pelan. "Kalau gitu, jangan sedih ya. Semua ini demi masa depan kalian.” godanya.
Medina mengangguk, menahan air mata yang nyaris tumpah. Medina mencoba untuk tetap tersenyum.
Beberapa jam kemudian, mobil mereka melaju menuju Bandara Soekarno-Hatta. Sepanjang jalan, keduanya lebih banyak diam. Hanya jari mereka yang saling bertaut, menggenggam erat — seolah takut kehilangan hangatnya sentuhan itu.
Saat tiba di area keberangkatan, Rendra menurunkan kopernya, lalu berbalik menatap Medina. Senyum lembut terukir di bibirnya.
“Sayang…”
“Hm?”
“Jaga hati kamu buat aku ya.”
Medina menatapnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
“Aku gak akan ke mana-mana, Mas. Hatiku kan cuma buat kamu.”
Rendra mendekat, memeluk Medina erat sekali. Helaan napas mereka berpadu, dan waktu seolah berhenti.
“Aku akan pulang secepat mungkin,” bisik Rendra di telinganya.
“Aku akan menunggu mu, Mas,” jawab Medina lirih.
Rendra mengecup kening istrinya — lama dan dalam.
“Aku pergi dulu, sayang. Assalamu'alaikum.”
“Walaikumsalam. Hati-hati di sana, Mas. Jangan lupa kabarin kalau udah sampai ya.”
Ia mengangguk, melangkah perlahan ke pintu keberangkatan. Medina berdiri di tempat, menatap punggung suaminya yang semakin jauh. Saat tubuh Rendra menghilang di balik pintu, setetes air mata akhirnya jatuh di pipinya.
“Semoga Allah jaga kamu di sana mas…” bisiknya, sambil menatap langit yang mulai terang. Perasaan Medina lebih berat, di banding saat dulu Rendra pergi.
Mungkin, karena status mereka yang kini berbeda. Dan hati yang sudah mulai menyatu, membuat hatinya terasa berat. Namun belum bisa untuk mengikuti nya pergi.
Dari kejauhan, Rendra menoleh sekali lagi — tersenyum tipis. Dalam hatinya, ia tahu, Medina akan menunggunya dengan tulus. Namun, di balik senyum itu, ada rahasia yang tak pernah ia ceritakan pada siapa pun. Sebuah perjanjian kelabu… dengan seseorang bernama Vanessa Queen, yang kini menantinya di Amerika.
Hubungan gelap yang sudah ia jalin sejak lama tanpa sepengetahuan bunda dan ayahnya. Hubungan yang saling menguntungkan bagi Rendra juga Vanessa. Namun Rendra pun tak tahu akan sampai kapan hubungan itu berlanjut.
...----------------...