Karya pertama ku. jangan ada plagiat di antara kita❌❌❌
Apa jadinya, jika sang putri mafia, bertransmigrasi ke dalam sebuah novel cinta remaja. Menjadi tokoh figuran sebagai sahabat sang Antagonis wanita.
Yang akan mati di bunuh oleh sang Antagonis pria.
Sang antagonis pria, yang di gambar kan sangat terobsesi dengan sang protagonis wanita.
Dia yang akan membunuh sang antagonis wanita beserta kedua sahabat nya.
Namun sang Antagonis pria pun mendapat kan akhir yang buruk.
Mampu kah sang penjelajah waktu ini, merubah alur novel asli?
Atau, dia akan mati sama seperti di novel yang pernah ia baca?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sang senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
memberi balasan
Ardiansyah dan Sean sedang bermain PlayStation di ruang keluarga. Suara tembakan dari permainan yang mereka mainkan sesekali memecah keheningan mansion keluarga Sudibyo.
Namun, fokus Ardiansyah sebenarnya tidak sepenuhnya berada pada permainan itu. Berkali-kali ia melirik ke arah lantai atas, tepatnya ke arah kamar Amelia.
Ia menunggu.
Menunggu efek racun yang telah ia kirimkan melalui hadiah beberapa hari lalu mulai menunjukkan hasil.
Jika kemarin Amelia masih terlihat bugar, mungkin hari ini Racun itu mulai bekerja.
Setidaknya, Amelia seharusnya terlihat pucat, lemas, pusing, atau bahkan muntah-muntah. Racun itu memang bekerja perlahan, tetapi pada tahap ini gejalanya sudah seharusnya muncul.
Tak lama kemudian, suara langkah kaki terdengar dari atas tangga.
Sean dan Ardiansyah secara refleks menoleh.
Amelia muncul dari lantai dua dengan penampilan yang sangat rapi.
Wajahnya terlihat segar tanpa sedikit pun tanda-tanda sakit. Ia hanya mengenakan riasan tipis yang membuat kecantikannya tampak alami. Rambut hitam panjangnya digerai bebas hingga mencapai pinggang.
Hari itu ia mengenakan kaus putih polos yang dipadukan dengan jaket Levi's hitam. Celana jeans panjang dan sepatu kets putih melengkapi penampilannya.
Sederhana.
Namun tetap menarik perhatian.
Penampilannya memberi kesan tomboy, bebas, dan penuh percaya diri.
Deg!
Jantung Ardiansyah seakan berhenti sesaat.
Tidak ada gejala apa pun.
Tidak ada tanda keracunan.
Tidak ada yang salah pada Amelia.
Yang ada justru seorang gadis yang terlihat lebih sehat dibandingkan beberapa hari sebelumnya.
"Apa-apaan ini?" batin Ardiansyah.
Tatapannya tanpa sadar terus mengikuti setiap gerakan Amelia.
Sayangnya, Amelia menangkap semua itu.
Ia melihat kebingungan yang terpancar jelas di wajah Ardiansyah.
Namun Amelia memilih bersikap seolah tidak mengetahui apa pun.
Dengan langkah santai, ia melewati Sean dan Ardiansyah begitu saja.
Saat punggungnya membelakangi kedua pria itu, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang penuh arti.
Belum jauh ia melangkah, suara Sean menghentikannya.
"Mau ke mana, Dek?" tanya Sean penasaran.
Amelia menoleh sekilas.
Tatapannya datar.
"Bukan urusan lo."
Sean terdiam.
"Gak usah sok peduli sama urusan gue."
Setelah mengatakan itu, Amelia kembali melanjutkan langkahnya.
"Lia!"
Sean berdiri dari sofa.
"Gue ini abang lo! Nyokap sama bokap nitipin lo ke gue!"
Amelia berhenti.
Sean melanjutkan, "Kalau lo mau pergi, setidaknya gue harus tahu. Nanti kalau bokap sama nyokap nanya, gue bisa kasih jawaban."
Amelia tertawa kecil.
Namun tawa itu tidak mengandung sedikit pun kehangatan.
Yang ada hanyalah sindiran.
"Gak perlu sok peduli."
Tatapannya berubah dingin.
"Meski gue kehilangan sebagian ingatan, gue masih ingat kok apa yang udah lo lakuin ke gue selama ini."
Sean langsung membeku.
"Jadi gak usah sok berperan jadi abang yang baik."
"Lia..."
"Elo gak cocok buat peran itu."
Wajah Sean menegang.
"Elo... elo kok bisa ingat soal itu?"
Kecurigaan mulai muncul di wajahnya.
"Atau jangan-jangan selama ini elo cuma pura-pura amnesia?"
Sean menatap Amelia tajam.
"Jangan bilang semua ini cuma sandiwara supaya bisa cari perhatian keluarga?"
Tuduhan itu membuat Amelia tertawa.
Namun kali ini tawanya terdengar lebih menyeramkan.
Perlahan ia menoleh.
Tatapan matanya menusuk lurus ke arah Sean.
Aura di sekitarnya berubah.
Gelap.
Dingin.
Menekan.
Sean yang biasanya selalu percaya diri mendadak merasa terintimidasi.
Bahkan Ardiansyah, yang selama ini menyembunyikan sisi psikopatnya dengan sangat baik, ikut merasakan bulu kuduknya meremang.
Amelia menatap Sean tanpa berkedip.
"Elo pikir..."
Suaranya terdengar pelan.
"Perhatian elo itu sesuatu yang gue inginkan?"
Sean terdiam.
Jawaban Amelia datang tanpa ragu.
"Enggak."
"Elo gak layak mendapatkan perhatian dari gue."
Kalimat itu menghantam Sean lebih keras daripada tamparan.
"Elo bahkan gak layak masuk dalam daftar orang yang gue peduliin."
Setelah mengatakan itu, Amelia berbalik dan berjalan pergi.
Sean masih mencoba memanggilnya.
"Lia! Tunggu!"
Namun Amelia sama sekali tidak menoleh.
Ia terus berjalan hingga menghilang dari pandangan mereka.
Ruangan itu menjadi sunyi.
Beberapa saat kemudian, Ardiansyah bersandar di sofa.
"Gila."
Sean menatapnya.
"Adek lo berubah banget."
Ardiansyah menyeringai tipis.
"Jangan-jangan dia emang cuma pura-pura lupa."
Sean mengernyit.
"Maksud lo?"
"Biar bisa nyingkirin Sofia dari keluarga lo."
Seketika wajah Sean berubah tidak senang.
"Tutup mulut lo."
Nada suaranya dingin.
"Amelia tetap adik kandung gue."
"Tapi—"
"Vonis amnesia itu dari dokter."
Sean memotong ucapan Ardiansyah.
"Gak mungkin juga Lia nyuap dokter cuma buat ngusir Sofia dari rumah ini."
Ardiansyah mengangkat bahu santai.
"Ya siapa tahu."
Sean semakin kesal.
Namun Ardiansyah malah tersenyum mengejek.
"Sekarang sok jadi abang baik?"
"Cukup menarik."
Setelah itu ia kembali fokus memainkan stik PlayStation.
*
*
Sementara itu, di luar mansion, Amelia sedang berjongkok di dekat mobil Ardiansyah.
Tangannya bergerak cekatan.
Ia mengutak-atik bagian tertentu dari kendaraan tersebut.
Wajahnya terlihat tenang.
Seolah sedang melakukan pekerjaan biasa.
Padahal apa yang ia lakukan sangat berbahaya.
"Ini cuma balasan kecil."
Amelia tersenyum tipis.
"Salah sendiri berani nyentuh gue duluan."
Selain memodifikasi sistem kendaraan, ia juga menyelipkan alat multifungsi ciptaannya sendiri.
Perangkat kecil itu mampu melacak lokasi sekaligus merekam suara dan gambar secara diam-diam.
Setelah selesai, Amelia segera menjauh.
Ia memilih bersembunyi sambil menunggu.
Tidak lama kemudian, Ardiansyah keluar dari mansion.
Tanpa curiga sedikit pun, ia masuk ke mobilnya dan melaju meninggalkan kediaman keluarga Sudibyo.
Beberapa menit berlalu.
Amelia yang memantau dari perangkatnya tersenyum puas.
"Masuk perangkap."
Di sebuah jalan menurun yang cukup curam, Ardiansyah mendadak menginjak rem.
Namun pedal itu tidak memberikan respons.
Wajahnya langsung berubah pucat.
"Sial!"
Ia menginjak rem berulang kali.
Tetap tidak berfungsi.
Melihat kendaraan lain berada di depannya, Ardiansyah segera membanting setir untuk menghindari tabrakan.
Mobil itu menerobos pembatas jalan.
Brakkk!
Kendaraan tersebut menghantam pohon besar dengan keras.
Beruntung Ardiansyah masih sadar.
Dengan tubuh penuh luka ringan akibat benturan, ia segera keluar sebelum mobil itu mengeluarkan asap tebal.
Tak lama kemudian—
BOOM!
Mobil kesayangannya meledak.
Ardiansyah menatap kendaraan yang telah menjadi rongsokan itu dengan wajah suram.
"Itu mobil hasil kerja keras gue..."
Amarah perlahan memenuhi dadanya.
"Siapa yang ngelakuin ini?"
Kecurigaannya langsung mengarah kepada Seseorang dan Amelia.
Namun ia segera menggeleng.
"Mustahil."
"Gadis itu gak mungkin senekat ini."
Pikirannya kemudian beralih kepada keluarga William.
Atau mungkin seseorang dari masa lalu nya.
Saat sedang berjalan tertatih-tatih di pinggir jalan, sebuah mobil mewah berhenti di dekatnya.
Kaca mobil perlahan turun.
Seorang pria tua berwibawa terlihat di dalamnya.
Kakek Grisyam.
"Masuk."
Ardiansyah akhirnya menurut.
Mobil itu kemudian membawanya menuju mansion utama keluarga William.
Di sana, Grisyam tinggal seorang diri, ditemani para pelayan dan anak buah kepercayaannya.
Setelah luka Ardiansyah diobati, sang kakek memandang cucunya dengan sorot mata lembut.
"Apakah kau masih belum mau kembali ke rumah ini?"
Ardiansyah menggeleng tegas.
"Tidak, Kek."
"Aku sudah bahagia dengan hidupku sekarang."
Tatapannya berubah dingin.
"Dan aku juga tidak ingin bertemu pria brengsek itu."
Grisyam menghela napas panjang.
Wajah tuanya tampak lelah.
"Baiklah."
Jika itu keputusanmu, kakek tidak akan memaksa."
Beliau kemudian berdiri.
"Tapi bawalah mobil yang sudah kakek siapkan untukmu."
Ardiansyah langsung menggeleng.
"Kek, aku gak bisa menerimanya."
Grisyam menatapnya tajam.
"Kalau begitu, mulai sekarang jangan pernah menganggap ku sebagai kakekmu."
Ardiansyah terdiam.
Ia tahu.
Di balik ancaman itu, tersembunyi rasa sayang yang begitu besar.
Sementara Grisyam perlahan meninggalkan ruangan.
Menyisakan Ardiansyah seorang diri dengan berbagai pikiran yang berputar di dalam kepalanya.
Dan tanpa ia sadari, di suatu tempat, Amelia sedang tersenyum puas sambil memperhatikan seluruh rekaman yang berhasil dikirim oleh alat pelacaknya.
Permainan baru saja dimulai sayang.