Kisah yang menceritakan perjalanan sepasang Suami Istri, Darma dan Arsyla yang belum juga dikaruniai sang buah hati karena penyakitnya. Demi mendapatkan keturunan, Darma menikah lagi dengan seorang Wanita. Adakah laki laki yang bisa menerima kekurangan Arsy akan penyakitnya?
Penasaran? ikutin yuk, jalan ceritanya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Takut kehilangan
Arsy merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur, sedangkan Darma masih di ruang kerjanya.
Darma yang sedari tadi sibuk dengan komputernya, ditelinga Darma masih terngiang ngiang akan semua ucapan dari Ibu nya.
Darma segera menepis fikiran buruknya agar tidak terhasut oleh ucapan Ibu nya, bayangan Darma soal pernikahannya tidak sesuai apa yang diharapkannya. Darma sangat mengharapkan segera mendapatkan keturunan, namun harus melalui proses yang teramat sulit dan susah untuk dimengerti.
Darma ingin segera masuk kamar, tapi takut Istrinya pun juga belum tidur, Darma mencoba menyibukkan dirinya dengan komputernya.
Bagaimana caranya agar Arsy segera sembuh, dan sampai kapan aku akan bersabar menunggunya. Aku lelaki normal, dan tentu saja aku menginginkannya. Aaaah..! Batin Darma dengan bayangan yang membuatnya frustasi.
Akhirnya Darma pun masuk kamar untuk segera tidur karena kedua matanya sudah tidak bisa diajaknya untuk kompromi, Angga pun menatap wajah istrinya dengan lekat. Ditatapnya dengan seksama, ada perasaan terluka diraut wajah istrinya. Darma pun tidak sanggup menatap wajah istrinya yang begitu polos.
Darma melangkahkan kakinya dengan pelan, dan tidur disamping Arsy. Darma ingin memeluk istrinya tak kuasa, takut nafsunya akan berlabuh. Dengan berat Darma menahan niatnya, Darma pun mencoba memejamkan kedua matanya agar bisa tertidur dengan pulas.
Namun itu semua sulit untuk Darma, karena perasaannya yang sedang berkecamuk, tidak sadar Darma pun tertidur dengan pulas dan tidak sadar telah memeluk tubuh istrinya, Arsy pun membalasnya dengan cara memeluk tangan Darma seperti sedang memeluk boneka kesayangannya.
Pagi pun telah mereka jumpai, suara alarm telah membuyarkan mimpi indahnya. Angga yang masih bergelayut dengan posisi memeluk istrinya. Arsy pun sangat nyaman diperlakukan dengan lembut.
"Mas, aku lepas ya.." aku mau bangun dan shalat subuh, ayo dong Mas, kita shalat subuh, nanti keburu kesiangan loh.." ucap Arsy.
"Sebentar dulu sayang.." aku masih sangat merindukanmu." Jawab Darma.
"Tapi nanti kesiangan loh Mas, dan aku juga tidak akan pergi kemana mana,dan pastinya aku aman," ucap Arsy merengek.
"Baik lah, aku pun akan segera bangun dan shalat." Jawab Darma.
Kini keduanya melaksanakan shalat subuh berjama'ah di Masjid, karena jarak rumahnya tidak lah jauh.
Semua menatap pasangan Arsy dan Darma selalu terkagum kagum karena keserasian diantara keduanya.
Setelah selesai melaksanakan shalat subuh, Darma dan Arsy segera pulang dan menikmati secangkir teh hangat tanpa gula.
Keduanya duduk santai dan menikmati udara pagi di taman di belakang rumah. Tiba tiba dikagetkan suara yang tidak asing menyapanya.
"Arsy.. Darma.. kalian sedang apa disini?" sapa Ibu Ferly.
"Ibu.. " anu... Arsy dan Mas Darma sedang menikmati suasana pagi hari Bu.." Oh ya, apakah Ibu mau kubuatkan teh? " jawab Arsy dan bertanya kembali sambil menawarkan minuman kepada Ibu mertuanya.
"Ibu tidak terbiasa minum teh, " jawabnya.
"Iya sudah kalau begitu, Ibu masuk kedalam ya... " ucap Ibu Ferly.
"Baik Bu.. " jawab Arsy. Sedangkan Darma hanya diam menjadi pendengar setia untuk istrinya.
Keduanya masih menikmati secangkir teh hangatnya, rasa dinginnya serasa menusuk tulang.
Karena merasa sudah cukup menikmati udara pagi hari, Arsy maupun Darma segera untuk masuk kedalam kamar untuk membersihkan diri.
Sesampai nya dikamar, Arsy yang lebih duluan untuk mandi, sedangkan Darma menyibukkan dirinya diruang kerja. Karena tidak mungkin untuk mandi bersama, karena pastinya akan terhambat keinginannya.
Setelah Arsy selesai, giliran Darma untuk segera mandi.
Keduanya pun sudah rapih dengan penampilannya masing masing, Darma pun sudah sangat rapi dalam berpenampilannya karena Arsy yang menyulapnya hingga Darma terlihat lebih tampan. Semua wanita akan terkagum akan ketampanannya.
Setelah semuanya sudah merasa tidak ada yang tertinggal, Arsy dan Darma menuruni tangga.
Kedua orang tua Darma menatap menantunya serasa berbeda dengan yang sebelum menikah. Ibu Ferly selalu bersikap sangat baik dengan Arsy, tetapi sejak Arsy dinyatakan memiliki penyakit kanker rahim, Ibu Ferly banyak berubah atas perlakuannya kepada Arsy.
Begitu juga dengan Arsy, kini Arsy merasakan sikap Ibu ferly terhadapnya dan Ibu Ferly menjadi berubah sejak Dokter mengatakan penyakitnya. Namun Arsy sendiri mencoba untuk tetap bersabar menghadapi semua ini, meski terkadang Arsy sendiri merasa takut, jika orang orang yang dahulu selalu bersikap baik dan menyayanginya lalu tiba tiba berubah menjadi sebuah rasa benci, bahkan bisa lebih dari itu. Fikir Arsy dengan perasaan yang susah diajaknya untuk kompromi.
"Ibu.. Ayah.. maaf, jika Arsy sudah membuat Ayah dan Ibu menunggu lama." Ucap Arsy sedikit gugup.
" Tidak apa apa, Arsy.." ayo kita sarapan bersama, jangan sungkan dirumah Darma, dan sekarang ini juga sudah menjadi tampat tinggal kamu. " Ucap Ibu Ferly.
"Baik Bu.. " Jawab Arsy.
Kini semuanya tengah menikmati sarapannya masing masing. Namun tidak bagi Arsy, mulutnya Arsy kini terasa ada yang menyumpalnya. Fikir Arsy.
Dengan terpaksa Arsy menyuapi mulutnya walau susah untuk menelannya.
Setelah selesai sarapan pagi, Arsy mengantar suaminya sampai didepan rumah.
"Mas.. hati hati selama diperjalanan, oh iya, nanti aku bawakan bekal waktu jam makan siang boleh, kan? " tanya Arsy.
"Tentu saja boleh, nanti kamu minta sama supir untuk mengantarnya. Kalau gitu, Mas berangkat ya sayang... " ucap Darma lalu mencium kening Arsy mesra, begitu juga dengan Arsy, mencium punggung tangan suaminya lembut.
"Hati hati Mas.. jangan nakal. " Ucap Arsy.
"Tenang saja, cinta nya Mas, hanya untukmu seorang sayang.. " jawab Darma dengan senyum manisnya.
Keduanya sama sama melambaikan tangannya. Di tatapnya bayangan Darma sampai menghilang, Arsy baru masuk rumah.
Sebelum Arsy melangkahkan kakinya ke anak tangga, Ibu Ferly menghampiri Arsy.
"Arsy... " Ibu Ferly memanggil.
"Iya Bu.. ada apa? " jawabnya.
"Hari ini teman Yona mau datang ke rumah, Ibu minta agar kamu tidak salah paham jika terlihat dekat Darma. Karena Darma sudah menganggapnya sudah seperti adik sendiri. " Ucap Ibu Ferly mengingatkan.
Seketika itu juga, jantung Arsy terhenti karena kaget dengan ucapan Ibu Ferly.
"Baik Bu.." jawab Arsy pelan.
Arsy langsung menaiki anak tangga dengan perasaan yang berkecamuk mengingat akan ada wanita yang mau datang ke rumah, entah kenapa sejak dinyatakan mengidap penyakit kanker, bawaannya Arsy sensitif dan membuatnya banyak fikiran.
Semoga bukan pertanda buruk untukku. Batin Arsy sembari menaiki anak tangga.
Sesampai dikamar Arsy mencoba menghubungi orang tuanya, agar kegundahan nya sedikit berkurang.
Halo Ma.. apa kabarnya? " sapa Arsy di telfon.
"kabar Mama baik baik sayang.. kamu sendiri bagaimana kabarnya sayang? " tanya Ibu nya balik.
"Kabar Arsy juga baik Ma.. " tapi sedikit... tiba tiba Arsy tidak dapat melanjutkan ucapannya.
"Sedikit kenapa sayang... kenapa kamu gantung ucapan kamu. Oh iya bagaimana hasil pemeriksaan kemarin, hasil nya negatif, kan sayang? " jawab Ibu nya dan bertanya lagi.
"Po.... posi...tif Ma..." jawab Arsy terbata karena lidah terasa tidak mampu untuk mengucapkannya.