Kehilangan istri yang paling dicintai adalah sebuah duka yang paling besar yang dirasakan oleh Rengga Leksmana. Apalagi kepergian istrinya meninggalkan seorang anak yang baru saja lahir ke dunia ini.
Rasa sakit itu semakin bertambah parah ketika sebelum meninggal Rania meminta Rengga menikahi adiknya untuk menjadi ibu sambung bagi anak mereka.
Shania Isnari, gadis yang masih berusia 21 tahun itu harus mengubur impian dan cita-citanya demi keponakan dan wasiat terakhir sang kakak.
Pernikahan atas dasar keterpaksaan itu benar-benar penuh drama. Selama dua tahun Rengga tidak pernah menganggap Shania sebagai istrinya.
Hingga di akhir batas kesabaran, seorang lelaki yang menjadi cinta pertama Shania kembali muncul.
Mana yang akan Shania pilih? Rumah tangga yang menyakitkan atau kembali pada orang yang mencintainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mulyani Syahfitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masih Sulit
Shania menggerutu kesal mendengar bisikan Bayu beberapa saat tadi. Adik iparnya itu memang selalu saja sesuka hati. Apa dia pikir mudah merayu Rengga dengan cara seperti itu?
Lagi pula untuk tidur berdua bersama Rengga, tentu Shania juga belum siap. Ya, meski ada niat di hati untuk mengambil sedikit hati Rengga, tapi tetap saja sampai sekarang Shania juga belum rela untuk melepaskan sesuatu yang sangat berharga meski itu pada suaminya sendiri.
Shania ingin itu terjadi ketika mereka sudah bisa saling menerima nantinya.
Suara tangisan Zira membuat Shania terkejut. Dia langsung menoleh ke lantai atas. Rengga pasti membawa Zira ke kamarnya bersama Rania dulu. Ya, sesekali lelaki itu pasti tidur bersama Zira di sana, tentunya tanpa membawa Shania.
Karena tangisan Zira yang tidak berhenti, Shania tidak tahan dan akhirnya pergi menuju lantai atas dengan sedikit berlari.
Benar saja, semakin mendekati kamar itu semakin kuat pula terdengar suara tangisan bayi mungil itu. Shania mengetuk pintu sambil memanggil Rengga. "Mas! Zira kenapa?"
Tidak ada jawaban, tapi tidak lama pintu yang terbuka membuat Shania mematung sejenak. Rengga sedang menggendong Zira yang mengamuk hingga wajahnya terlihat memerah.
"Nggak tahu, tadi mau aku tidurin tapi dia malah nangis." Lelaki itu terlihat panik, dan itu membuat Shania langsung meraih Zira dari gendongan Rengga.
"Sayang, sstt ini bunda, nak. Diem ya, gak boleh nangis," Shania menimang Zira sambil menggoyangkan sedikit tubuhnya. Menepuk-nepuk pundak Zira dengan lembut.
"Kayaknya dia haus, Mas," ucap Shania sambil memandang sejenak ke arah Rengga.
"Susunya ada di sana," Rengga menunjuk ke atas ranjang dimana botol susu Zira tergeletak di sana.
"Shania tidurin di sana, boleh? Atau mau dibawah aja?" Shania bertanya lebih dulu, sebab dia selalu takut jika sudah menyinggung tentang almarhumah kakaknya. Rengga selalu membatasi gerak gerik Shania di rumah ini, apalagi jika bersangkutan dengan Rania.
"Di sana aja, aku mau tidur sama dia," ujar Rengga.
Shania mengangguk pelan. Dia langsung membawa Zira ke tempat tidur, meletakkan bayi itu di sana dan mulai memberikan dia susu sambil terus menenangkan Zira.
Entah kebetulan atau bagaimana, Zira mulai tenang, bahkan hanya dengan usapan dan pelukan dari Shania.
Rengga tertegun di tempatnya. Dia memandang nanar pada Shania. Ada bayangan Rania yang terlihat dalam diri istrinya itu. Ya, dia bisa merasakan jika Zira memang tidak bisa jauh dari Shania, bundanya.
Rengga menghela nafas, rasanya masih berat menerima pernikahan ini. Tapi melihat Zira yang sangat dekat dengan Shania membuat hatinya mulai tidak tega dan tersentuh. Nyatanya, keinginan dan permintaan Rania sepertinya tersampaikan juga pada putrinya.
Lima belas menit kemudian, Zira sudah tertidur pulas. Shania bangun perlahan, dia tersenyum dan mengusap wajah mungil itu sejenak dan setelah itu langsung menoleh ke arah Rengga. Lelaki itu duduk di kursi rias yang ada di kamar. Duduk dengan lamunan panjangnya.
"Mas,"
"Mas Rengga!"
Rengga terkesiap, dia langsung menoleh memandang Shania yang kini berjalan ke arahnya.
"Istirahatlah, Zira udah tidur. Nanti kalau dia gelisah, usap aja punggungnya, Zira suka digituin," ujar Shania.
Rengga mengangguk pelan.
"Shania keluar dulu," pamitnya dan setelah itu langsung berjalan keluar. Tapi setibanya di ambang pintu, dia kembali menoleh dan mendapati Rengga yang ternyata masih memandang ke arahnya.
"Shania nggak minta Mas ngelupain kak Rania, tapi Shania cuma ingin Mas lihat sedikit ke arah Shania, kalau sekarang Shania itu istri Mas."
Deg
Rengga langsung tertegun mendengar ucapan Shania.
Dia memandang nanar kepergian Shania dengan hati yang gelisah. Siapa yang tidak ingin hidup tenang dengan anak dan istri. Semua orang pasti ingin seperti itu.
Tapi sungguh, ini masih terlalu berat. Masih tiga bulan, dan rasa sakit itu masih sama. Bagaimana mungkin Rengga menerima pernikahan ini, pernikahan yang seharusnya tidak terjadi.
Menikah dengan adik iparnya sendiri. Itu hal yang sangat sulit.
...
Keesokan harinya, mereka melepas kepergian kedua orang tua Rengga yang akan pergi ke luar kota untuk seminggu ke depan.
Rumah akan sepi dan tentu saja itu membuat Shania pasti akan merasa sendiri.
"Baik-baik di rumah ya, harus rukun," ujar Bu Maryam pada putra dan menantunya. Dia sedang menggendong Zira saat ini.
Shania mengangguk pelan sambil tersenyum lembut dan menyalami punggung tangan mertuanya. "Iya, Ma. Mama dan Papa hati-hati di sana ya."
"Iya, tentu aja," jawab Bu Maryam. Dia mencium Zira dengan gemas. "Cucu nenek jangan nakal ya sayang, gak boleh nangis. Nanti nenek pulang beli oleh-oleh untuk Zira," seolah cucunya mengerti, wanita paruh baya itu berbicara dengan begitu serius. Dia tertawa saat melihat tawa Zira yang begitu gemas. Apalagi Tuan Sam.
Mereka sebenarnya berat untuk pergi dan meninggalkan cucu mereka. Tapi mau bagaimana lagi, Rengga dan Shania butuh waktu untuk saling menerima. Mungkin hanya dengan tinggal berdua seperti ini mereka bisa saling menerima dan mengerti.
"Kami pergi dulu," pamit Tuan Sam.
"Hati-hati, Pa, Ma," ujar Rengga. Dia juga menyalami punggung tangan kedua orangtuanya. Melepaskan kepergian mereka yang di antar oleh Bayu.
"Zira! Jadi wasit kalau ayah dan bunda kamu berantem ya!" seru Bayu yang sudah ada di dalam mobil.
Rengga hanya menyelis tajam pada adiknya itu. Menyebalkan memang, lelaki satu itu suka sekali menyindir dan bahkan tidak segan menganggu mereka.
Shania melambaikan tangannya dan sambil menggendong Zira. Tersenyum melepas kepergian kedua mertuanya. Dan sekarang, rumah sudah sepi kembali.
Dia menoleh, memandang Rengga yang langsung masuk ke dalam rumah tanpa memandang ke arah mereka lagi.
"Lihat ayah kamu, nak. Menyebalkan sekali 'kan. Doain bunda ya, biar bunda bisa buat ayah kamu Nerima bunda jadi istrinya." Shania mencium sayang pipi gembul Zira. Seolah mengerti bayi mungil itu malah tertawa gemas.
Shania membawa Zira masuk. Dan di ruang tengah Rengga duduk di dengan ipad di tangannya.
"Mas," panggil Shania. Dia membawa Zira dan duduk di samping Rengga.
Lelaki itu menoleh sejenak, dia tersenyum dan mengusap wajah putrinya dengan lembut.
"Malam ini kita tidur di kamar atas ya,"
Senyum Rengga langsung luntur.
"Kenapa?" tanyanya dengan nada dingin.
Shania terdiam beberapa saat, dengan jantung yang bergemuruh memandang raut wajah Rengga yang sudah berubah. "Shania ingin kita mulai semuanya dari awal. Kita gak bisa kayak gini terus 'kan?"
Rengga menghela nafas, memandang Shania dengan lekat.
"Mau sampai kapanpun, aku gak bisa gantiin Rania dengan siapapun, termasuk kamu."
Deg