Kiran adalah wanita yang mempunyai wajah jelek, bahkan semua orang menyebutnya dengan sebutan wanita si buruk rupa. Kiran dijodohkan oleh orangtuanya dengan seorang pengusaha tampan bernama Viki.
Viki terpaksa menikahi Kiran untuk menyelamatkan perusahaan orangtuanya yang hampir bangkrut.
Kehidupan Kiran sangatlah menderita, hingga suatu saat Kiran memergoki Viki sedang selingkuh dengan wanita lain. Kiran memutuskan untuk bercerai dengan Viki, dan bertekad ingin membalaskan dendamnya kepada orang-orang yang sudah membuatnya menderita.
Akankah Kiran berhasil membalaskan dendamnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7 DESI
Kiran membalikan tubuhnya dan menatap pria itu dengan tatapan heran.
"Kenapa kamu tahu dengan namaku?" tanya Kiran.
"Duduk dan makan, nanti setelah makan aku akan kasih tahu siapa diriku."
Akhirnya Kiran pun menurut dan duduk, selama sarapan tidak ada pembicaraan sama sekali. Kiran benar-benar sangat penasaran dengan pria tampan yang berada di hadapannya itu.
Setelah selesai sarapan, pria itu pun mengajak Kiran ke ruangan tv dan duduk di sana.
"Cepat katakan, siapa kamu sebenarnya? kamu tidak berniat jahat kan, kepadaku?" seru Kiran.
"Apa kamu benar-benar sudah melupakanku, Kiran?"
Kiran semakin dibuat bingung, dia sama sekali tidak mengenal pria itu dan sekuat apa pun Kiran mengingatnya tetap saja Kiran tidak ingat akan pria itu. Kiran merasa kalau selama ini dia memang tidak punya teman karena semua orang tidak mau berteman dengannya.
"Aku sama sekali tidak mengingatmu," sahut Kiran.
"Padahal dulu aku selalu mengintip kamu dari balik dinding dan selalu membuat kamu kesal, karena aku suka mengganggumu tapi kamu sungguh melupakanku. Aku saja bisa langsung mengenalimu," seru pria itu dengan menyeruput kopinya.
Kiran mengerutkan keningnya, dia kembali mengingat siapa sebenarnya pria itu. Hingga beberapa saat kemudian, Kiran mengingat kalau waktu masih kecil dia memang selalu diganggu oleh seorang anak laki-laki yang menyebalkan.
Anak laki-laki itu adalah satu-satunya anak yang tidak takut melihat wajahku dan anak laki-laki itu selalu naik ke atas dinding pembatas dan mengganggu Kiran yang sedang belajar.
"Jangan-jangan kamu anak laki-laki itu."
"Akhirnya kamu mengingatku juga."
"Ternyata dunia sangat sempit ya, padahal kita sudah tidak bertemu puluhan tahun tapi kamu tetap saja mengingatku," seru Kiran.
"Karena wajah kamu tidak asing, jadi aku bisa langsung mengenalimu."
"Wajahku buruk rupa ya, makanya kamu langsung mengenaliku?" seru Kiran sedih.
"Tidak, kata siapa buruk rupa? kamu cantik kok, cuma tertutup saja dengan luka itu."
Seketika wajah Kiran bersemu merah menahan malu, karena pasalnya baru kali ini ada yang memujinya cantik apalagi orang itu seorang pria.
"Oh iya, nama kamu siapa? selama ini aku tidak pernah tahu namamu."
"Kamu itu saking kesalnya diganggu terus sama aku, sampai tidak tahu siapa namaku padahal dulu aku sering sekali memperkenalkan diri," sahut pria itu.
"Iya maaf."
"Nama aku Raj, Raj Aryan," seru Raj dengan mengulurkan tangannya.
Kiran dengan malu-malu membalas uluran tangan Raj membuat Raj menyunggingkan senyumannya.
"Oh iya, kalau boleh tahu tadi malam kamu kenapa? terus orang-orang itu siapa?"
Kiran pun akhirnya menceritakan semuanya kepada Raj, dan Raj tampak terkejut.
"Jahat sekali mereka," seru Raj.
"Aku benar-benar ingin membalas perbuatan yang sudah mereka lakukan kepadaku," sahut Kiran dengan mengepalkan kedua tangannya.
"Kamu yakin ingin membalas mereka? dengan cara apa?" tanya Raj.
Kiran terdiam sejenak. "Aku juga tidak tahu, bahkan aku juga tidak tahu bagaimana keadaan Papaku, apa dia masih hidup atau tidak," sahut Kiran sedih.
"Mau aku bantuin?" tawar Raj.
Kiran menatap Raj tidak percaya. "Apa kamu serius mau bantuin aku?"
"Memangnya wajah aku terlihat seorang pembohong? aku tidak pernah main-main dengan ucapanku," sahut Raj.
"Aku ingin membalaskan dendam aku kepada suami, mertua, dan selingkuhan suami aku," geram Kiran.
"Siapa selingkuhan suami kamu?" tanya Jay masih santai.
"Namanya Ishika."
Jay mengotak-ngatik ponselnya, lalu memperlihatkan foto seseorang kepada Kiran.
"Apa ini yang namanya Ishika?" tanya Jay.
"Iya, kenapa kamu tahu?"
"Dia seorang model papan atas, dia memang sudah banyak melakukan skandal dengan banyak pengusaha. Kalau begitu, kamu harus lebih segalanya dari dia."
"Maksud kamu?"
"Kamu harus operasi plastik untuk menghilangkan bekas luka kamu dan membuat wajah kamu semakin cantik baru kamu bisa membalaskan semua dendam kamu," seru Raj.
"Tapi Raj, aku takut."
"Itu terserah kamu saja, kalau kamu masih ingin ditindas sama mereka, ya sudah tetaplah seperti ini. Tapi, kalau kamu ingin membalaskan dendam kamu dan membuat mereka hancur, kamu harus mau berubah karena segala sesuatu itu butuh pengorbanan apalagi saat ini mereka sudah ingin menguasai harta kekayaan kamu."
Kiran kembali terdiam, di satu sisi Kiran memang merasa takut pada yang namanya operasi tapi di sisi lain, apa yang dikatakan Raj ada benarnya juga.
Cukup lama, Kiran terdiam hingga beberapa saat kemudian Kiran pun menghela napasnya.
"Baiklah, aku mau operasi plastik tapi kamu harus menemani aku," sahut Kiran mantap.
"Tenang saja, aku akan selalu berada di samping kamu. Siang ini juga, kita berangkat ke Korea aku punya kenalan dokter bedah plastik paling bagus di sana."
Kiran menganggukkan kepalanya dengan mantap, rasa dendamnya sudah mengalahkan rasa takutnya.
"Aku harus berubah, aku harus bisa membalaskan semua dendamku kepada orang-orang itu. Pa, mudah-mudahan saja Papa segera ditemukan karena menurut berita jasad Papa belum juga bisa ditemukan," batin Kiran.
Kecelakaan yang menimpa Papa Rahul sangatlah aneh, setelah menunggu aliran sungai tidak deras lagi, polisi dan tim SAR pun segera gerak cepat dan mereka pun menemukan mobil Papa Rahul yang tersangkut di bebatuan.
Polisi dan tim SAR sudah memeriksa mobil itu, ternyata sopir dan Pak Rahul sudah tidak ada di dalam mobil. Saat ini semuanya sedang berusaha mencari keberadaan sopir dan Pak Rahul.
***
Seperti yang dikatakan Raj, siang ini Raj dan Kiran sudah berada di Bandara. Mereka berdua akan bertolak menuju Korea, terlihat sekali dari tadi Kiran murung dan tidak bicara sama sekali.
"Kamu kenapa? apa kamu masih takut untuk melakukan operasi plastik? kalau takut jangan dipaksakan," seru Raj.
Dengan cepat Kiran menggelengkan kepalanya. "Tidak Raj, saat ini aku hanya sedang memikirkan Papa. Walaupun mustahil, tapi aku berharap ada keajaiban dan Papa segera di temukan dalam keadaan masih hidup," seru Kiran.
"Amin, jangan khawatir karena aku juga sudah memerintahkan anak buahku untuk selalu memantau berita mengenai pencarian Papamu."
"Terima kasih ya, Raj. Kalau tidak ada kamu, aku tidak tahu nasib aku akan seperti apa."
"Sama-sama, pokoknya selama masih ada aku di sampingmu, kamu jangan mengkhawatirkan apa pun."
Untuk sesaat Raj dan Kiran saling tatap satu sama lain, dari kecil Raj memang sudah menyukai Kiran. Raj tidak peduli akan wajah Kiran yang seperti itu karena Raj menyukai Kiran bukan di lihat dari wajahnya.
Berawal dari Raj yang suka memperhatikan Kiran murung karena tidak punya teman, dari sana Raj selalu mengganggu Kiran berharap Kiran akan merasa terhibur dan tertawa lagi.
Tapi sayang, waktu itu Raj harus pergi ikut bersama kedua orangtuanya. Sehingga Raj harus berpisah dengan Kiran, tapi setelah kedua orangtuanya meninggal akibat kecelakaan pesawat, Raj memutuskan untuk kembali ke Indonesia dan menjalankan bisnis orangtuanya itu.