NovelToon NovelToon
Berawal Dari Perjodohan

Berawal Dari Perjodohan

Status: tamat
Genre:Dosen / Percintaan Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:76.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Fi

Menerima perjodohan dan mencoba menjalani pernikahan dengan baik adalah niat Zia setelah memutuskan setuju menikah dengan Zio. Namun, yang terjadi setelah menikah justru sebaliknya. Zio–suaminya justru mengajak Zia berteman dan berpisah jika suatu hari nanti salah satu dari mereka menemukan cinta yang sesungguhnya. Bagaimana kelanjutan kisah mereka? Akankah mereka menemukan cinta yang lainnya, atau justru benih cinta tumbuh diantara keduanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Fi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Zia menggulir layar gawainya dengan pandangan fokus tertuju pada beberapa website yang menyediakan lowongan pekerjaan pada kafe-kafe. Ia terlihat sangat antusias membaca satu per satu persyaratan yang tertera di sana dan memastikan bahwa jaraknya tidak begitu jauh dari rumah Zio agar dia tidak kesulitan pulang pergi. 

Setelah melihat salah satu kafe yang cukup dekat, Zia langsung mengambil tangkapan layar dan segera bergegas mengganti baju. 

“Ah, aku lupa belum banyak bajuku yang dibawa ke sini. Semoga baju ini sopan deh untuk pertemuan pertama.” Zia mengambil blous putih dan celana hitam kulot dari lemari, lalu mulai mengenakannya dengan rapi. 

Wanita bertubuh mungil itu berdiri di depan cermin, menyisir rambut sebahunya memastikan bahwa dandanannya sudah sempurna. Ia memoles wajahnya dengan bedak tipis-tipis, sementara bibir berisinya dibalut dengan lipstik nude yang membuatnya tampak sangat anggun. 

“Okay, deh. Sepertinya sudah cukup. Aku harus ke sana sebelum restoran tutup,” ungkapnya pada diri sendiri. 

Ia menyabet tas yang berada di gantungan balik pintu, kemudian langsung keluar untuk menghampiri ojek online yang sudah di pesannya saat berjalan ke depan rumah. Tak menunggu waktu lama, karena ternyata tukang ojek sudah menunggu di depan rumahnya. Zia langsung menaikinya setelah menggunakan helm dan setelah itu kendara roda dua itu meluncur menuju alamat tujuan. 

Sekitar tiga puluh menit kemudian motor berhenti tepat di depan sebuah restoran mewah. Zia langsung turun setelah memberikan bayaran, dan berjalan dengan tegak untuk menemui pemiliknya. Sejujurnya ia merasa tak percaya diri karena restoran ini terlihat begitu selektif dalam memilih koki. Tak mungkin asal koki saja yang bekerja di sini, tetapi dengan modal nekat yang ia miliki, Zia tetap berjalan ke depan. 

Banyak tatapan yang tertuju padanya karena wajah cantiknya dan tubuhnya yang sexy. Zia benar-benar menjadi pusat perhatian mereka semua yang berada di sana. 

Melihat seorang pelayan yang melintas, Zia tersenyum padanya begitu pun pelayan itu. “Halo selamat siang, Nona. Apakah ada yang bisa saya bantu?” tanyanya dengan ramah. 

Zia mengangguk cepat. “Benar, saya seorang koki dan saya ingin melamar pekerjaan di sini. Saya melihat lowongan pekerjaan dari sebuah web, maka dari itu saya ingin mencobanya,” ujar Zia. 

“Baik, mari saya antarkan Anda untuk menemui atasan. Kebetulan beliau ada di dapur,” katanya. 

Zia dan pelayan tersebut langsung berjalan ke belakang. Ia melihat bangunan ini yang sangat cantik dan mewah di saat yang bersamaan. Harum makanan tercium di inderanya dan membuat Zia merasa betah berada di sini. Ia berharap bahwa atasan akan menerimanya dengan baik karena ia merasa bahwa dirinya dan tempat ini memiliki ikatan yang tak bisa dijelaskan. Zia tak mengerti apa yang dirasakannya saat ini, tetapi ia meyakini bahwa tempat ini seperti telah menjadi tujuannya sejak awal. 

“Pagi, Ibu,” sapa pelayan tadi pada seorang wanita empat puluh tahunan yang sedang memeriksa bahan makanan di lemari pendingin. 

Zia merasa sungkan memperhatikan wanita di depannya yang terlihat begitu berwibawa. Ia mengenakan kemeja maroon ketat serta rok selutut yang membuatnya tampak tegas oleh tampilannya yang memukau. “Ada apa?” tanyanya. 

Ia melihat ke arah Zia sekilas, tetapi pandangannya kembali menatap sang pelayan yang hutang penjelasan. “Ini seseorang ingin melamar pekerjaan di sini sebagai koki, Bu. Untuk lebih lanjutnya Ibu bisa mewawancarai dia,” katanya. 

“Ah gitu, baiklah. Terima kasih sudah mengantarnya kemari,” sahutnya. 

Dari suaranya wanita itu terdengar cukup ramah. Zia bisa menilai seseorang dari nada bicara dan pandangannya, dan ia melihat wanita itu seseorang yang baik. Entah bagaimana ke depannya, Zia hanya berharap bahwa wanita itu bisa menerimanya di sini sebagai salah satu kokinya. 

“Namamu siapa?” tanyanya. 

“Nama saya Zia,” jawabnya. 

“Nama yang cantik. Apakah saya boleh melihat berkas-berkas yang kamu bawa? Sepertinya saya tertarik padamu,” katanya dengan tatapan penuh harap. 

“Ibu maaf, tapi saya tidak membawa berkas apa pun kecuali kartu kependudukan. Saya dari kampung, jadi saya tidak membawa apa pun kemari. Tapi percayalah, sebelum ini saya memang bekerja di restoran. Jadi, saya mohon kebaikan Ibu untuk menerima saya dengan jalan lain karena saya tidak membawa apa pun yang Ibu butuhkan,” ungkap Zia. 

Wanita itu rupanya melihat kejujuran dalam tatapan Zia yang polos dan penuh harap. Ia tampak mengangguk-anggukkan kepalanya pelan. “Baiklah, jika begitu saya memberimu kesempatan untuk masak satu kali. Jika masakanmu sesuai dengan selera saya, maka saya akan menerimamu bekerja di sini. Tapi jika tidak sesuai dengan yang saya harapkan, maka jangan berharap lebih.”

“Baik, Bu. Saya akan mencobanya.”

Setelah itu Zia langsung melepaskan tasnya, menggunakan celemek dan mulai mengambil bahan-bahan untuk membuat cumi asam pedas yang pernah ia lakukan. Zio pernah memberinya tip karena ia melakukannya dengan baik, maka dari itu Zia ingin mengulangnya. Ia pikir atasan restoran ini pun pasti menyukai resep Zia. 

Butuh waktu sekitar lima belas menit sebelum akhirnya Zia menyelesaikan masakannya dan menghidangkan sepiring cumi pedas manis pada wanita bernama Ruri itu. 

Ruri tampak menyendoknya dan mulai memakannya sedikit. Dalam hati Zia berdoa agar Ruri menyukai masakannya karena hanya itu yang Zia bisa lakukan untuk diterima bekerja di sini. 

“Zia, selamat kamu bisa bekerja di sini mulai besok,” tegas Ruri. 

Mendengar itu kedua mata Zia membulat sempurna. “Ibu, terima kasih,” ucapnya dengan nada begitu bahagia. 

1
Adelia Rahma
lelaki mah suka begitu
Adelia Rahma
makanya furguso jgn sok sok an gk ngakuin Zia istri.. akhirnya kamu sendiri kan yg kebakaran jenggot
Adelia Rahma
kau memang bodoh
Adelia Rahma
tetap semangat 💪💪💪💪 Zia buatlah dirimu se enjoy mungkin jgn pikiran apapun krn dr awl sdh di tetap kan kalian cuma teman
Adelia Rahma
nah lo kebakaran jenggot kan.. makanya jadi cowok jgn egois
Adelia Rahma
yeee dia melarang orang membahas nya eh malah dia sendiri yang nanti membuka kedoknya
Adelia Rahma
nah lo Zio deg degan kan
Adelia Rahma
nah kan baru aja sehari dia yg ngomong eh malah dia yg sakit hati.. makanya jadi cowok jgn cepat mengucapkan kata ² yg sgt menyakitkan karena wanita itu paling igt dgn sejarah
Adelia Rahma
syukur deh Zia di terima kerja jd dia gak kepikiran terus tentang pernikahan nya
Adelia Rahma
semangat 💪💪💪 Zia
Adelia Rahma
bagus Zia lama lekas Zio sendiri yg bucin ke kamu
Adelia Rahma
dgn terpaksa mengangguk drpd brhrap byk
Adelia Rahma
awal yg membagongkan bgi Zia
Adelia Rahma
belum bisa komen bnyt
Rosmina Sumang
makax jgn ditutupi
Rosmina Sumang
zio sggu terlalu tdk ada perhatian sm skli. lbh baik berpisah
Rosmina Sumang
zia tdk peka pdhal sdh berumur 36
CupcakeHugs
Thor update crazy dong ...... author baik.. pinter... update crazy ya 😙👍👍
Margaretha Indrayani
happy ending. makasih thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!