Mendapat beasiswa di Universitas ternama di Ibu kota Seoul membuat gadis cantik bernama YURIE berurusan dengan 7 pria tampan, dari keluarga terpandang dan kedudukan besar di Universitas tersebut.
Sebut saja pria-pria tampan itu adalah Y7. Pria yang sudah dijodohkan oleh para orang tua mereka. Diantara mereka YUDANTA HUGO lah yang paling tampan, angkuh, sombong, cuek, serta dingin.
Tak disangka YURIE tertarik pada salah satu Y7.
"Kau tahu sedang berhadapan dengan siapa???" YUDANTA HUGO
"Maaf itu tidak penting. Awas aku sudah terlambat!" YURIE
**
•Bagaimana kisah mereka? antara YUDANTA HUGO dengan YURIE?
•Siapakah dari Y7 yang berhasil membuat YURIE tertarik? bahkan itu pandangan pertama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanzhuella annoy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 07. Sapu Tangan
Tidak ingin larut dalam kesedihan. Yurie menyeka air matanya. Noda kuning dari minuman itu mengotori baju kemeja yang dia kenakan.
Yurie ingin mencari toilet, membersihkan wajah serta rambutnya karena tadi dia langsung berlari kearah taman.
Tatapannya tertekun melihat uluran tangan memegang sapu tangan, mengusap kepalanya. "Dia memang sudah keterlaluan," ucapan itu membuat Yurie mendongak, ingin tahu siapakah pria yang baik hati tersebut.
DEG
Matanya membulat dengan mulut menganga ketika mengetahui sosok pria tersebut. "Se-senior...." Gumam Yurie dengan terbata-bata.
Tanpa mengatakan apa-apa lagi Yunis berbalik dan berjalan meninggalkan Yurie yang terbengong dengan tangan memegang sapu tangan yang diletakan Yunis sebelum pergi.
"Terima kasih senior...." Ucap Yurie berharap ucapan terima kasih itu didengar oleh Yunis.
+++
Di toilet wanita
Yurie membasuh seluruh wajahnya. Dengan bantuan sapu tangan dia membersihkan rambut yang terkena jus kemasan tadi.
"Biar aku bantu," ucap gadis yang dapat diperkirakan seusia dirinya, berarti dia juga mahasiswi baru. Tanpa mendengar jawaban dari Yurie, gadis tersebut merampas sapu tangan dan membersihkan rambut serta noda di baju kemeja yang dikenakan Yurie.
Yurie menurut saja karena masih kaget. "Cukup, biar aku sendiri," ucap Yurie.
"Kenalkan namaku Shailene. Aku juga mahasiswi baru." Gadis berambut pendek tersebut memperkenalkan diri.
Yurie mengangguk, melemparkan senyuman. "Kamu pasti sudah tahu namaku," ucap Yurie dengan raut wajah sendu karena kejadian tadi masih terbayang-bayang.
"Yurie, nama yang cantik seperti orangnya, dan juga pemberani." Senyuman mengembang di bibir Shailene.
"Kamu bisa saja," Yurie sedikit terkekeh.
"Kita teman!" Shailene mengulurkan tangan.
Mendengar kalimat tersebut membuat Yurie menunduk. Dia tahu bahwa Shailene adalah orang kalangan atas, tidak pantas menjadi sahabatnya. Sedangkan dirinya adalah berasal dari keluarga sederhana dan banyak kekurangan.
"Kamu tidak malu memiliki sahabat seperti ku?" tanya Yurie.
Mata Shailene menyipit, pertanyaan Yurie membuatnya tak paham. "Kenapa harus malu? malah aku beruntung punya sahabat yang cantik serta pintar," ucapnya dengan jujur.
"Aku berasal dari desa, sedangkan kamu bera-----" Mendapat kode dari telunjuk Shailene di bibirnya membuat Yurie mengatupkan mulutnya.
"Arti sahabat sejati itu tak memandang dari segi apapun. Setia, jujur, penuh kasih itulah maknanya." Tangan Shailene terulur menepuk pundak Yurie.
Kepala itu mendongak, menatap Shailene yang sedang mengembangkan senyuman tulus. "Terima kasih!" Ucap Yurie, membalas senyuman manis itu.
+++
Tanpa mereka sadari ternyata peserta ospek telah berkumpul di lapangan kampus. Sedangkan Yurie bersama Shailene saking asiknya bercerita tak mengetahui hal itu, hingga membuat mereka terlambat selama 15 menit.
Sejak tadi nama mereka dipanggil tetapi sosok yang dimaksud tak kunjung datang. Melihat hal itu membuat Yudanta murka dan mengumpat tak jelas kepada dua peserta ospek, terutama Yurie.
"Hmm....sejak tadi nama kalian telah dipanggil berkali-kali. Peserta ospek saat ini sedang berkumpul di lapangan." Suara bariton yang berasal dari belakang mereka membuat obrolan dua sahabat ini terhenti. Mereka serempak menoleh.
DEG
Pria tampan dengan gaya coolnya tengah berdiri, menatap mereka silih berganti.
"Senior Yunis," gumam Shailene dengan wajah berseri-seri, karena tak pernah menyangka diberi kesempatan bertatap muka sedekat ini bahkan berbicara dengan mereka.
"Segeralah bergabung sebelum mendapat masalah." Usai mengatakan itu Yunis berbalik, melangkah.
"Terima kasih sapu tangannya senior," seru Yurie.
Yunis berbalik, melemparkan senyuman. Senyuman yang berhasil menggetarkan jiwa. Yurie maupun Shailene seakan dihipnotis untuk sesaat. Mereka tidak sadar dengan keadaan sekarang. Bukannya bergegas untuk bergabung malah mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Yurie.....Yurie..... mahasiswi berasal dari desa x!" Suara itu memekakkan telinga bagian seluruh kampus mendengar panggilan tersebut.
...Bersambung ...
mkn ya gak pernh up2 lgi