Kau tahu?!
Beberapa orang singgah untuk bersama dalam waktu yang lama, sementara yang lain singgah untuk menemani sesaat.
Pada suatu waktu, ada dia yang mungkin tanpa kehadirannya, kita sama sekali tidak dapat menahan sebuah penderitaan seorang diri.
..........
Verlaat Me Niet.
(Jangan tinggalkan aku)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kikan Selviani Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 06 {Mengenang}
***************
Happy reading.
*****************
•
•
•
🥀Apabila seseorang menginginkan kita dalam hidupnya, maka orang itu akan menyiapkan sebuah ruang istimewa untuk kita. Tanpa kita perlu bersusah payah untuk mendapatkan tempat itu.🥀
Verlaat Me Niet.
(Jangan tinggalkan aku)
•••
Alveno memandang lekat bingkai fotonya bersama Marsya lima tahun yang lalu. Veno ingat saat itu adalah hari ulang tahun pertama Acha setelah mereka menikah dan Veno pun sengaja mengerjai sang istri dengan bersikap menyebalkan sedari pagi. Ia ingin memberi kejutan spesial untuk istri tercintanya itu.
Segala rencana telah di siapkannya sematang mungkin agar tak menimbulkan kecurigaan dari Marsya. Veno bahkan sengaja berkomplot dengan kedua orang tua gadis itu yang berada di Pekanbaru.
Pagi itu, lima tahun yang lalu. “Mas. Apa kau tak melupakan sesuatu? ” cengir Acha memeluk lengan berotot Veno yang tengah membuka kulkas.
Dalam hati Alveno ingin sekali terbahak melihat wajah puppy milik Marsya. Namun ia berusaha menahan itu dengan bersikap seperti biasa. Mengangkat sebelah alis, Veno melihat Acha sekilas sebelum kembali melanjutkan acara minum paginya, “Ku rasa tidak. Ada apa?!” acuhnya.
Bibir Marsya mencibik, ia menghempas keras lengan berotot Veno. Lalu melipat tangan di dada. “Tidak tahu! Kau menyebalkan. Aku membencimu!” kesal Marsya lalu pergi meninggalkan Veno yang sekarang sibuk terkekeh sembari memegangi perutnya sendiri.
Kekesalan Marsya tidak berhenti di Alveno saja, wanita itu juga di buat kesal oleh Syakiera - wanita penyuka eyeliner yang mencetuskan sehidup semati dengannya itu. Syakiera melupakan hari kelahirannya. Parahnya, Kiera yang telah membuat janji untuk hangout di cafe dengan Marsya malah pergi berlibur bersama sang kekasih. Sahabatnya itu beralasan jika Niko — kekasih Kiera tak memiliki libur yang cukup untuk berkencan di hari lain.
Alhasil Marsya pun kembali pulang dengan misuh-misuh. Ketika tangannya baru saja berhasil membuka pintu apartemen Veno (rumah mereka) matanya melebar kaget. Semua orang yang di sayangnya berada di sana dengan atribut serta topi ulang tahun.
“SURPRISE!!!” pekik mereka secara serempak.
“M-mas.” cicit Acha haru ketika Veno mengerling jenaka kearahnya. Lelaki itu memegang sebuah cake berukuran sedang bertabur lilin-lilin kecil di atasnya.
🎶“Selamat ulang tahuuunn... Selamat ulang tahuuuuunnn ... Selamat ulang tahuuuunn Marsya ... Semoga panjang umur...”🎶
Netra Acha berkaca-kaca. Terlebih ketika Alveno telah berada di depannya lengkap dengan senyum nakal karna merasa puas telah berhasil mengerjainya, “Jangan lupa Make a wish dulu, sayang!” ungkap Veno kalem.
Marsya mengangguk, ia pun menumpukan kedua tangan di depan dada lalu menutup mata secara perlahan. “Aku harap, orang-orang yang ku sayang bisa hidup bahagia selalu.” doa wanita itu dalam hati sebelum kembali membuka mata.
Ia meniup habis semua lilin yang menyala, lalu tersenyum cerah menatap sekeliling.
“Selamat ulang tahun yaa sayang, Bunda dan Ayah menyayangimu.” doa orang tua Marsya.
“Sehat selalu ya, cantik. Agar selalalu bisa menemani lelaki menyebalkan itu.” doa Ibu Veno membuat tak hanya Marsya namun juga beberapa orang di sana terkekeh.
Minus Alveno karna sekarang lelaki itu tengah misuh-misuh sendiri di pojokan.
“Waaaa. Selamat ulang tahuuunnn, Acha!!! Aku mendoakan kebahagianmu selalu. Jangan pernah bosan berteman denganku yaa.” kikik Kiera setelah melepaskan pelukan eratnya.
Acha mengangguk, ia menjawil hidung bangir Kiera pelan. “Aku menunggu lama di caffe seperti orang bodoh.” gerutunya.
“Ma'afkan aku, hehehe.” cengir Kiera polos.
•
•
•
“Mas belum mengucapkan selamat padaku.” todong Marsya ketika tinggal berdua dengan Veno. Sementara yang lain sibuk dengan alat panggang yang telah di siapkan Al untuk pesta barbeque.
Mereka berada di bagian tertinggi gedung apartemen yang memang sengaja di sewa oleh Alveno untuk pesta kecil Marsya tersebut.
Menoleh sekilas, Veno tersenyum lembut lalu membawa kepala Marsya untuk rebah di bahunya. “Aku ingin menjadi orang terakhir yang mengucapkannya.” bisik Veno sembari menecup dahi Marsya lama.
Wanita itu tersipu. Dengan malu malu ia pun menyembunyikan wajah cantiknya dalam dekapan hangat Veno. Merasakan detak lembut jantung Pria itu.
“Sekarang kau yang terakhir.” cicit Marsya. Suaranya teredam dengan dada bidang Veno. “dalam segi apapun.” sambungnya lagi.
Veno merekahkan senyum, lalu sedikit menunduk untuk kembali mengecup dahi Marsya, “Aku mencintaimu. Ku harap kau selalu bahagia dan sehat agar bisa menemaniku lebih lama lagi. Melahirkan anak-anak lucu yang suatu hari akan memanggilku Ayah dengan riang ketika pekerjaan dunia melumpuhkanku. Selamat ulang tahun wanita tercintaku.” ucap Veno dengan satu tarikan nafas.
Air mata Marsya berderai. Ia pun seketika menghambur ke pelukan Veno dan terisak di sana. “Terimakasih, mas. Terimakasih karna telah mencintai wanita penuh kekurangan sepertiku. Aku juga mencintaimu.” dan - maaf telah menjadi egois karna itu. Sambung Marsya dalam hati.
Lagi, Veno tersenyum lembut. Ia mengusap surai panjang Marsya. Baru saja Veno ingin mencium bibir menggoda istrinya tersebut, suara cekikikan dari arah belakangnya membuat gerak Veno terhenti.
“Maaf mengganggu acara kalian. Tetapi — kita harus melepas lampion sekarang.” sela Kiera dengan cengiran aneh.
Veno mendengus. Namun ketika mendengar suara kekehan Marsya, ia pun ikut terkekeh tampan.
“Baiklah. Mari kita melepas lampion sekarang.” kata Veno menggenggam erat jemari Marsya.
Di bawah gelapnya malam bertabur bintang, Veno berjanji akan selalu membuat Acha-nya bahagia.
“Aku merindukanmu, sayang.” lirih Veno pelan di antara isak tangisnya, “apa kau ingin aku berbuat baik pada adikmu Icha?! Dia sakit. Apa ini sebuah hukuman darimu karna aku telah menyia-nyiakannya?!” sambung Veno, lagi.
•••
Dennis baru saja kembali dari ruang penyimpanan bahan makanan ketika melihat pintu ruangan Aisyah terbuka setengah. Ia melongokkan sedikit kepala, hendak mengintip keberadaan wanita itu di dalam sana. Sudut bibirnya tertarik secara serempak saat irisnya mendapati keberadaan Aisyah. Tengah menatap fokus selembar kertas di tangannya dengan dahi berkerut dalam.
“Diam seperti itu tetap saja cantik.” cibir Dennis terkekeh sendiri.
Ia menegakkan badan lalu bersandar di pintu coklat yang telah di buka penuh tersebut dengan tangan terlipat di depan dada. Dennis tersenyum kecil sebelum melarikan sebelah tangannya menyerong untuk mengetuk pintu sebanyak tiga kali.
“Apa aku mengganggu waktumu?” senyum Dennis ketika mata mereka bertemu.
Aisyah menggeleng dengan kekehan kecil memenuhi wajah cantiknya, “Tidak. Sejak kapan mas disana?” tanya Aisyah. Ia memberi isyarat kepada Dennis untuk semakin masuk ke dalam ruangannya.
“Baru saja.” senyum Dennis manis, ia menarik sebuah kursi kayu di sebelah meja dan duduk dengan nyaman. “Aku tak sengaja melihat ruanganmu terbuka saat akan kembali ke pantry.” lanjut Pria itu menambahkan.
Membuat Aisyah berucap Oh tanpa suara dengan anggukan kepala pelan.
“Apa kau sibuk?! ” tanya Dennis lagi menatap laporan yang tadi Aisyah periksa.
Aisyah mengikuti arah pandang Dennis dan menggeleng pelan setelahnya, “Tidak terlalu. Apa persediaan bahan telah habis?” tebak Aisyah benar.
Dalam satu bulan sekali, biasanya Aisyah memang akan pergi bersama lelaki itu untuk membeli persediaan bahan. Ia ingin memilih sendiri bahan berkualitas. Bukan tak dapat mempercayai para bawahannya sendiri, namun Aisyah hanya sudah terbiasa. Jika ia sedang sibuk dalam artian tak bisa pergi, barulah ia akan meminta bantuan langsung kepada asisten chef yang lain untuk menemani Dennis.
Terkekeh pelan, Dennis pun mengangguk membenarkan. “Ya. Tetapi... Apa kau tak berpikir bisa saja aku bertanya karna ingin mengajakmu kencan?!” cibir Dennis.
Aisyah memutar bola matanya sarkas. “Aku tahu kau tak akan berani mas. Ingat, aku ini sudah menikah.” ejek Aisyah dengan wajah datar sembari mengangkat jemari tangannya untuk memperlihatkan tempat cincin pernikahannya berada.
Meski berwajah datar, namun sebenarnya Aisyah hanya bercanda. Ia sangat suka melihat wajah tampan Dennis yang tampak kesal.
Dennis memasang wajah terluka yang di buat-buat, “Baiklah nona sold out. Kalau begitu mari berangkat sekarang. Jalanan akan semakin macet jika kita terus menunda.” kerling Dennis yang di balas dengusan kasar oleh Icha.
.
.
.
Mereka jalan bersisihan menuju kasir dengan Dennis mendorong troli. Tadinya Aisyah lah orang yang akan mendorong troli berisi bahan-bahan masakan untuk cafenya tersebut, namun idenya langsung di tolak tegas oleh Dennis.
Lelaki itu mengatakan jika itu adalah tugas seorang Pria. Alhasil, Aisyah pun mengalah dengan senyum terpaksa. Meski tengah berjalan bersisihan, namun tak ada yang bersuara di antara mereka. Baik Dennis ataupun Icha, keduanya sibuk dengan pemikiran mereka masing-masing.
Sampai ketika langkah Aisyah tiba-tiba berhenti, Dennis pun langsung menoleh dengan kening berkerut dalam. Lelaki itu bertanya ‘ada apa? ’ tanpa suara.
Aisyah menggaruk pelipisnya yang tak gatal. Ia merasa sidikit malu untuk menceritakannya kepada Dennis. Tapi -
“Ada apa?” tanya Dennis kembali mendekati Aisyah. Ia menatap wanita berambut panjang itu tepat di mata dengan sorot lembut. “kau melupakan sesuatu? ” tanya Dennis lagi.
Aisyah pun mengangguk ragu, “Mas duluan saja ke kasirnya. Aku akan menyusul nanti.” ucap Aisyah menambah kernyitan di dahi Dennis. “aku harus ke sana.” tunjuk Aisyah dengan kepala tertunduk malu.
Wajahnya bahkan terasa sangat panas sekarang.
Melihat kemana arah tunjuk Icha barusan, Dennis pun mengangguk mengerti. Ia mengulum senyum sebelum mengusap surai panjang Icha lembut, “Hati-hati. Aku akan menunggumu di kasir.” ujar Dennis, “Apa tak perlu ku temani?!” goda Pria itu menaik turunkan alisnya.
“Mas Dennis! ” keki Icha memekik.
Ia bahkan mendorong dada bidang Dennis kuat ke arah belakang. Untung saja lelaki tampan itu mempunyai reflek yang bagus. Jika tidak, betapa malunya Dennis nanti jika ia terjengkang ke belakang.
“Ya ampun! Aisyah.” batin Dennis meringis dalam hati. Ia baru teringat jika wanita itu adalah pemegang sabuk hitam taekwondo. “Tapi aku tetap suka!” tambah Dennis lagi dalam hati sembari cengengesan.
“Baiklah. Baiklah, maafkan aku. Aku akan menunggumu di kasir saja.” ungkap Dennis melambai sebelum meninggalkan Icha sendiri.
Wanita itu terkekeh kecil setelah memastikan kepergian Dennis. Ia pun mulai menelusuri jejeran rak yang menjual berbagai merek pembalut wanita tersebut.
Icha mengambil dan menyimpan beberapa bungkus pembalut yang biasa di pakainya ke dalam troli. Ia baru saja ingin berbalik pergi, ketika seseorang memegang bahunya pelan dari arah belakang.
“Permisi — apa boleh aku meminta tolong.”
Dahi Icha mengernyit bingung, ia merasa tak mengenal lelaki berwajah tampan di depannya sekarang. Seharusnya bisa saja Aisyah mengatakan tidak dan pergi mengingat ada Dennis yang masih menunggunya di meja kasir, namun ia memilih untuk tetap tinggal karna wajah lelaki di depannya ini benar-benar terlihat mengenaskan dan butuh pertolongan.
“Hm, pertolongan?!” tanya Icha membuat lelaki itu mengangguk cepat dengan senyum merekah lebar.
Menggaruk hidung mancungnya sesaat, lelaki itu menatap Icha ragu. “Sebenarnya aku di minta oleh adikku untuk membelikannya sebuah pembalut, sementara dia menungguku di mobil. Hanya saja — aku lupa menanyakan merek apa yang biasa di pakai oleh adikku.” ringis lelaki itu, “semuanya terlihat sama bagiku. Aku tak mengerti perbedaan sayap di depan gambarnya. Dan kebetulan aku melihatmu baru saja mengambil beberapa.” jujur lelaki itu dengan wajah merah padam. Sangat kontras dengan kulitnya yang seputih susu itu.
Tawa Icha hampir saja pecah jika ia tak mengingat sedang berada di tengah keramaian bersama orang asing sekarang.
“Tertawalah sepuasmu, nona. Tapi tolong bantu aku setelah itu.” pinta lelaki itu dengan wajah memelas.
“Baiklah. Berapa umur adikmu?!” tanya Icha membuat lelaki tadi mengulum senyum.
“Enam belas tahun.” jawabnya cepat.
Icha memperhatikan deretan pembalut di depannya dengan wajah serius. Sedangkan lelaki yang tadi meminta tolong padanya itu malah menatap Icha dengan wajah kagum. Meski di lihat dari samping, Icha masih terlihat sangat cantik. Itu yang membuat lelaki di sebelahnya tak dapat mengalihkan pandang dari wajah Icha sedari awal.
Sebenarnya ia bisa saja menelpon sang adik dan menanyakan merek apa yang biasa di pakai oleh adiknya. Tetapi lelaki itu malah meminta tolong pada seseorang yang tadi menarik perhatiannya namun terlihat tak tertarik padanya sama sekali.
Harga dirinya sebagai Casanova ternodai. Meski lelaki itu tak pernah benar-benar mengencani seorang wanita karna profesinya.
“Ini.” ujar Icha tiba-tiba menyodorkan sebungkus pembalut dengan gambar sayap putih di depannya, membuat lelaki itu berdeham keras karna merasa gugup.
“A-ah! Terima kasih.”
Icha tersenyum manis. “Tidak masalah. Sampaikan salamku pada adikmu ya.” kata Icha, wanita itu melambai singkat ketika akan berbalik pergi.
“Eoh! Aku akan mengatakannya. Sekali lagi terima kasih.” pekik lelaki itu ketika melihat Icha yang berada semakin jauh di depannya.
“Ya ampun. Aku lupa menanyakan namanya! ” rutuk lelaki itu. Ia menendang udara sekitar dengan kasar, “dasar Sean Putra, bodoh!!”
.
.
.
Bersambung...
ceritanya suka banget.
singkat padat jelas dan yg pastinya keren.hehe
kalo boleh tau, othor pindah lapak kah?
btw makasih banyak ya thor.
sukses dan sehat selalu ya thor 💗💗💗💗💗
tp kok belum banyak yang baca..
padahal debesss banget
tak terasa air mata mengalir....
cinta Aisyah begitu besar dan tulus untuk veno...
meskipun akhir nya icha tdk bs melawan penyakitnya...
tp di akhir hayat nya bs mendapatkan kebahagiaan..
icha bs bahagia thor...
dokter spesialis kanker...
wah,,jangan2 nnti icha jadi pasien nya...