Follow IG aku yah @cynshindi
Gasuka skip!! no hate comment!
Karena suatu accident yang membuat Kynara Zulfah harus melewati malam panas bersama sang mantan. Hingga Tuhan menitipkan seorang malaikat kecil yang cantik kepada Kynara. Yang memiliki IQ di atas teman-teman seusianya.
Bagi Kynara, putrinya adalah prioritas dan kebanggaannya. Yang membuat ia memiliki tujuan untuk hidup setelah apa yang terjadi pada hidupnya.
Tetapi bayang-bayang pria yang merupakan mantan pacarnya dan sekaligus orang yang menodai dirinya kembali datang dalam kehidupan Kynara dan putri kecilnya.
Akankah mereka bersatu dalam indahnya besutan asmara? Atau hanya akan kembali menorehkan luka pedih dalam dada? Yuk simak kisahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cyn Shindi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TCGD-5 BELAJAR BERJALAN.
Seusai sarapan pagi, Tanisa memang berencana untuk mengajak Aileen ke butik. Tentunya dengan ditemani sang ibu. Kynara khawatir putrinya akan menggaduh nanti. Jadi ia harus ikut serta untuk memantau sang putri tetap dalam zona aman. Gadis kecil periang itu tak akan bisa diam, sebelum apa yang ia mau dikabulkan oleh ibunya. Sedangkan Kynara, wanita berhati lembut itu tidak akan tega menolak keinginan putri semata wayangnya itu.
Kynara bahkan kerap kali mengingatkan Tanisa agar jangan sering-sering mengiyakan permintaan Aileen. Tetapi sama seperti yang Kynara rasakan, Tanisa juga tidak tega melihat wajah cantik nan imut itu bersedih. Dengan bibir yang maju lima centi dan alis yang mengkerut serta pipi yang menggembung bagai balon.
"Myhh, ayo dong tepetan. Nanti telambat loh!" Ujar gadis kecil itu dengan tidak sabaran. Bahkan Aileen sampai menarik-narik kain gamis yang dikenakan sang ibu. Padahal Kynara sudah hampir selesai, tinggal memasang kaus kaki dan sepatu saja.
"Iya Nak, sebentar kalau Aileen tarik-tarik terus, nanti engga selesai-selesai loh." Sahut Kynara sembari berjongkok seraya membetulkan posisi sepatunya. Ia gandeng tangan sang putri menuju taxi.
"Ayo, Tan!"
"Jalan, Pak!"
***
Lima belas menit berselang, mereka akhirnya tiba di butik Tanisa yang ia beri nama 'TanTan boutique.'
Tanisa sengaja memberi nama tersebut, karena ia termotivasi dari Aileen. Ya, gadis cantik itulah yang kerap kali memanggil dirinya dengan sebutan Tan Tan.
"Halloo shemua! Aileen datang." Baru saja masuk ke dalam butik, gadis kecil itu sudah memberi sapaan hangat nan imut pada semua manusia yang ada di dalam.
"Hy Nona kecil," sahut mereka.
"Ayo Sayang ikut aunty. Nara kamu tunggu di ruangan aku yah."
Tanisa menggiring Aileen menuju ruang pengukuran agar gadis kecil itu bisa diukur tubuhnya. Seperti lingkar pinggang, lingkar dada dan lainnya. Dengan senang hati, Aileen mengikuti kemana sang aunty menggiringnya.
"Tolong kalian jahit design ini, dengan ukuran Aileen. Kalian pas kan ukuran pinggang dan dadanya. Buat semenarik mungkin, dan pastikan warna yang tidak terlalu mencolok." Ujar Tanisa pada salah satu pekerjanya.
"Baik, Nona."
"Aileen ikut sama aunty ini ya, Sayang."
"Mari Nona kecil, biar saya ukur terlebih dahulu." Terlihat karyawati itu mengambil sebuah alat panjang berupa meteran kain, kemudian mengukur tubuh Aileen dengan sedetail mungkin. Karena Tanisa tidak ingin ada yang cacat sedikitpun. Itulah Tanisa, ingin hasil yang selalu sempurna untuk setiap design yang ia buat.
"Diutull ya Aunty, Aileen mau yang wallna totlat ya, Aunty!" Gadis kecil itu masih diam mematung, namun mulut mungil itu sama sekali tak bisa berhenti berbicara.
Setelah diukur, Aileen berlari menuju ke ruangan pemotretan. Tanisa hanya diam tak mencegah, ia tahu gadis itu sudah memiliki minat dan bakatnya dalam bidang tersebut.
Ia biarkan saja Aileen melihat bagaimana jalannya pemotretan. Agar perlahan gadis imut itu bisa belajar. Tanisa rela cuan agar Aileen bisa menjadi gadis berbakat. Tanisa bukannya mau menyinggung Kynara, tetapi ia sudah mendapatkan izin dari Kynara.
"Aunty tantik, apa taball?" Aileen berusaha untuk akrab dengan salah satu model yang sangat diidolakan olehnya. Model yang sering sekali bercanda dengan dirinya, ia suka model wanita itu karena cantik katanya.
"Hy Nona kecil, aunty baik hari ini. Bagaimana dengan Nona?" Sapa balik si model tersebut yang diketahui bernama Bellie. Ia tersenyum tulus ke arah Aileen, kemudian ia kecup pipi chubby itu.
"Aileen good, aunty! Aileen mau diaddalin dalan tayak aunty, boleh yah." Ia kedipkan mata cantik itu berkali-kali, seraya merayu Bellie agar mau mengajarkan dirinya cara berjalan berlenggak-lenggok.
"Memangnya Nona kecil mau jadi model?" Bellie akan dengan senang hati mengajarkan gadis kecil berwajah imut itu untuk berjalan seperti selayaknya model cilik. Jika saja gadis kecil itu berkata mau!
"Mau dong, memangna Aileen enda tantik yah? Aileen tan duddak mau tantik tayak aunty."
"Okey, yuk kita belajar!"
Dan Bellie pun mengejar bagaimana cara berjalan selayaknya seorang model. Dengan cara fokuskan mata Anda pada sesuatu di depan.
Turunkan dagu Anda sedikit. Jangan tersenyum, dan tutup mulut Anda dalam posisi alami.
Tempatkan satu kaki di depan kaki satunya, dan berjalanlah dalam langkah-langkah panjang. Latihlah berjalan dengan memakai hak tinggi. Biarkan kedua lengan Anda menggantung di sisi tubuh, dan posisikan tangan dengan santai. Berjalanlah dengan irama, dan pertahankan irama tersebut dengan konsisten dalam setiap langkah Anda. Tampilkan pose Anda.
"Bagus! Terus, pinggulnya jangan lupa. Ayo Nona, terus ya seperti itu." Bellie terus memberi arahan sembari membuntuti Aileen yang tengah berjalan. Walaupun gadis kecil itu tidak mengenakan high heels seperti dirinya, tetapi Bellie merasa gadis kecil itu benar-benar mudah untuk menangkap semua teori yang ia berikan.
Bahkan dalam jangka waktu kurang dari dua jam, gadis kecil itu sudah bisa berjalan dengan baik.
"Aunty, Aileen udah benell yah?" Tanya Aileen ketika Bellie memberinya waktu untuk rehat.
"Sedikit lagi, Nona. Setelah itu Nona bisa berjalan dengan baik! Seperti model papan atas." Sahutnya.
"Lihatlah Tan, dia bahkan sangat bersemangat saat belajar berjalan bersama Bellie."
"Apa kau mau agar putri mu bisa sukses?"
"Kenapa kau masih bertanya? Tentu aku mau, aku mau dia bisa membanggakan ibu dan aunty nya."
Tanisa dan Kynara yang sedari tadi memantau Aileen dan Bellie dari kejauhan, sungguh dibuat takjub. Kynara takjub akan kelihaian sang putri. Wajah cantik itu adalah poin plus jika putrinya hendak menjadi seorang model.
"Hy Bellie." Sapa Tanisa. Dan Kynara mengikuti di belakangnya. Ia hanya tersenyum lembut pada Bellie yang dibalas secercah senyum indah juga oleh Bellie.
"Mommyh, Aunty, tadi Aileen diaddalin dalan tayak putli Ana, shama aunty tantik." Adunya pada sang mommy dan sang aunty.
"Coba mommy mau lihat."
"Aunty juga mau lihat dong!"
Dan gadis kecil itu pun mulai berjalan berlenggak-lenggok selayaknya model. Pinggul kecil itu terus ia gerakkan ke kanan dan ke kiri seirama dengan gerakan kakinya. Kedua tangannya ia biarkan tergantung dan rambut gelombang yang terurai indah itu menambah kesan estetika seorang Aileen.
"Wawww, anak mommy pinter banget. Sini mommy mau cium!"
Tanisa merecord sebuah video, saat tadi gadis kecil itu berjalan. Tanisa benar-benar takjub, bahkan Bellie saja tidak sesempurna itu. Tetapi gadis yang baru belajar dua jam yang lalu itu benar-benar membuat nya takjub.
"Aku akan posting ini di media sosial. Kalau video ini viral, butik ini pasti banyak pengunjung, Nara."
"Kamu coba aja, siapa tahu kan? Putriku nanti bisa menjadi jalan untuk butikmu agar bisa lebih terkenal lagi. Dengan begitu, putriku juga akan lebih belajar." Suara mendayu-dayu itu seakan memberi lampu hijau untuk Tanisa. Untuk bisa mendongkrak kepopuleran butik ini dan karir putrinya.
.
.
.
.
.
.
TBC!