"Ais, menikahlah denganku." pinta Arthur, berjongkok di depan wanita cantik yang dua bulan lalu telah dia renggut kesuciannya.
Ais Atsila, wanita berumur dua puluh tahun itu harus merelakan mahkotanya diambil oleh pria yang tidak dikenalnya waktu di kota tempat ia akan mendaftar kerja.
Arthur Wiliam Leonardo, pria berusia hampir berkepala tiga. CEO di perusahaan Alison Group milik ayahnya. Memilih rela meninggalkan segala kemewahan dunia, demi wanita bernama Ais, yang sekarang sedang mengandung anaknya hasil dari malam kelam dua bulan yang lalu.
Seakan dunia terbalik, Arthur yang biasanya berada di ruangan ber-Ac, setelah menikah dengan Ais, Arthur bekerja dibawah teriknya matahari. Belajar hidup sederhana di desa terpencil. Mulai dari makan sederhana, bekerja, dan masih banyak lagi.
"Ais, cara nyangkulnya gimana?" Arthur berteriak pada wanita yang duduk di gubuk sawah. Dirinya benar-benar tidak tahu cara mencangkul yang benar.
Yukkk baca. Jangan sampai terlambat lhoo. Yuk lihat keseruan Arthur dan Ais.
Hanya UP di Hari Tertentu. Karena harus bagi waktu. Makasih...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zulfa Laeli Ahlina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berkhianat
Brak!
Mata merah menatap elang ke arah sang asisten yang tertunduk didepannya. Tangannya terkepal menahan amarah. Ini diluar dugaan. Dia kurang mengawasi sehingga terjadi hal seperti ini.
"Siapkan pesawat!" dia duduk dengan hembusan napas kasar.
Sang asisten mengangguk dengan cepat. Lalu segera membalikkan badan dan pergi. Menjalankan perintah dari atasannya.
"Kamu harus bertanggungjawab dengan apa yang kamu perbuat!" bentaknya seorang diri.
Kacamata dilepas dan diletakkan diatas meja kaca. Tangan dilipat didepan dada. Dering ponsel terdengar memenuhi ruangan. Mengusik indera pendengaran pria yang kini duduk di kursi kebesarannya.
Segera dia raih ponsel yang baru dibeli beberapa minggu yang lalu. Mengetik sandi awal dan mengangkat panggilan dari sekretarisnya.
"Oke. Saya akan segera kesana." setelahnya panggilan ditutup secara sepihak olehnya.
Pria itu bangkit dari tempat duduknya. Mengancingkan kemejanya dan mengambil kacamata hitam. Dengan gerakan santai, dia memakainya seperti biasa.
Dia berjalan keluar dari ruangan tempat dirinya bekerja. Berjalan ke arah lift yang dirancang khusus untuknya seorang. Tombol ditekan dengan tangan kanan. Pintu lift terbuka, dia segera masuk.
Tak butuh sampai satu menit, kini dia sudah berada di lantai dasar. Para bawahannya menunduk hormat tatkala dia lewat. Pintu mobil dibuka oleh bodyguard yang diseleksi dengan sangat teliti.
"Silakan, bos."
Pria itu segera masuk ke dalam mobil. Tak membalas ucapan sang bodyguard. Dia sedang memendam amarah. Tidak boleh dikeluarkan sekarang. Waktu yang tidak tepat.
"Pesawat sudah siap untuk penerbangan kali ini, bos. Pilot mengatakan, kita akan terbang sepuluh menit lagi." sang asisten membungkuk hormat dan memberitahukan pada pria yang kini sudah duduk di dekat jendela pesawat.
"Oke." balasnya singkat.
Sepuluh menit yang dikatakan oleh sang asisten terbukti. Pesawat take off dengan lancar. Mengudara dilangit yang cerah dan bersih. Terlihat indah dan memanjakan mata.
"Silakan dinikmati." pramugari pilihan berbadan ideal menghampiri, menyajikan hidangan khas kepada pria yang kini tengah memandang ke luar jendela.
Setelah dua tahun lamanya, dia akhirnya pulang. Pelarian yang dia tuju sudah berakhir. Kini dia kembali. Bersiap bertemu seseorang yang seharusnya sudah dia lupakan.
"Jon, kemarilah!"
Sang asisten segera bangkit. Berjalan menghampiri bosnya. "Iya, bos?"
"Duduk!"
Jon segera duduk di kursi kosong sesuai perintah bosnya. "Kapan ini terjadi?"
"Kemarin."
"Apa masalahnya?"
"Wanita."
Brak!
Amarah yang tadi disurut kini meluap lagi. "Apa dia berkhianat?"
Jon mengangguk, itu yang dia tahu.
"Dasar bajingan! Beraninya dia berkhianat! Aku tidak akan mengampuninya! Awas saja! Ku bunuh dia kalau sampai berita ini benar!" gertaknya setelah melihat sang asisten mengangguki ucapannya.
Kembali dia memandang keluar jendela. Tak nafsu lagi untuk berkata apapun. Apalagi makan, mengunyah dan menelan.
***
"Arthur! Keluar kau!"
Makan malam keluarga seketika terhenti saat mendengar teriakan seseorang. Mereka semua kenal dengan suara itu. Suara yang sudah lama tidak mereka dengar.
Tak berapa lama, muncullah seorang pria dengan wajah tak kalah tegasnya dengan Arthur. Semua terkejut melihat siapa yang datang. Ini bagai mimpi.
Sang papa bangkit dari kursinya. Begitupun Arthur, tak menyangka jika kakaknya akan kembali secepat ini.
"Kau harus mati!" bentaknya, melangkah dan mencengkram sekua tenaga kerah baju yang Arthur pakai.
Buk!
"Bangsat kau!"
Buk!
"Bajingan!"
Buk!
"Akan ku bunuh kau, Arthur!"
Prang!
Piring yang dipakai Arthur makan malam jatuh ke lantai. Mengenai sandal yang Arthur pakai. Nasi berceceran. Terlihat menjijikkan.
"Albert!!! Arthur!!!" bentak sang papa yang sudah tidak tahan melihat kebrutalan kedua anaknya.
Kedua pria pemimpin perusahaan itu tak menghiraukan ucapan sang papa. Albert yang terus memukul dengan niat membunuh adiknya karena amarah dan Arthur yang merasa tidak terima dengan kebrutalan sang kakak.
"Aksa! Arga! Arsen! Cepat lerai mereka!" bentak sang papa pada tiga pria yang duduk tenang di kursinya.
Tiga pria itu langsung berdiri. Berjalan bersamaan dan melerai Albert dan Artur yang sedari tadi sibuk saling memukul satu tangan.
"Berhenti, kak!" bentak Arsen pada kedua kakaknya yang tidak mau berhenti.
Sang mama berteriak, "Cukup!!!"
Seketika ruang makan mendadak hening. Alarm suara sang mama memang sangat mempan. Berlaku bagi semua orang yang sudah mendengarnya.
"Kalian sudah besar. Pemimpin perusahaan. Apa yang menjadi masalah kalian sehingga bertengkar hingga ingin membunuh? Apa kalian lupa kalau kalian adalah saudara?" tanya sang mama dengan napas tak beraturan. Menahan emosi.
Albert mendecih, melirik sekilas ke arah sang adik yang sedang mengusap darah yang mengalir dari sudut bibirnya.
Arthur terus mengusap darah yang mengalir menggunakan kaos yang dia pakai. Tak mempedulikan tatapan orang yang ada disekitarnya. Rasa perih dan pening lebih mendominasi dari apapun saat ini.
"Saudara? Cih! Berkhianat!"
"Berkhianat? Jadi kakak sudah tahu semuanya? Ternyata bibir lebih dipercaya daripada kenyataan." balas Arthur ketika mendengar jawaban Albert.
"Kenyataan bahwa kau yang berkhianat dengan wanita lain?"
Arthur maju selangkah. Menatap tajam ke arah sang kakak tanpa ada rasa takut. "Suatu hari nanti, kakak akan melihat kebenarannya. Siapa yang berkhianat dan siapa yang benar." setelahnya Arthur pergi. Tangannya masih sibuk mengusap darah yang terus mengalir. Tak mau berhenti.
Adik Arthur yang bernama Alea mengikuti dari belakang. Berjalan dibelakang kakaknya menuju kamar yang terletak di lantai dua.
Sedangkan di ruang makan, sang mama menghampiri Albert. Membawanya menuju kamar yang milik Albert yang sudah tidak dipakai lagi.
"Bukankah mama sudah berulang kali katakan padamu. Jangan pernah mengingat dia. Dia sudah bukan milikmu lagi. Dia milik adikmu. Ingat itu." tegas sang mama sembari membersihkan luka diwajah tegas putra pertamanya.
Albert tak merespon. Dia diam seperti patung. Memilih seperti itu agar amarahnya mereda.
"Carilah wanita yang membuatmu bisa melupakan dia. Lalu temui mama. Jadikan dia menantu mama." lanjut sang mama.
"Tidak ada wanita yang bisa membuatku lupa dengannya, ma. Hanya dia yang selalu ku ingat." balas Albert, suaranya datar. Tak bertenaga.
"Bodoh."
Di kamar lain, Arthur duduk dengan tatapan kosong. Disampingnya, Alea sedang sibuk membersihkan luka diwajahnya. Rasa perih kini sudah tidak terasa lagi. Dingin. Alhkohol.
"Sebenarnya aku tidak suka dengan kak Kirei. Tapi, aku memilih diam. Sejak awal kakak dekat, aku sudah menduga perpecahan ini akan terjadi. Dia tidak seperti yang terlihat. Dia lebih menjijikkan dari binatang sekalipun." ucap Alea, yang berhasil membuat Arthur menoleh.
"Maksudmu? Kau tahu sesuatu juga tentang dia?" tanya Arthur.
Alea mengangguk. "Aku melihatnya bermain kuda di hotel dengan pacarku, kak." wajah cantiknya datar. Tak ada rasa sedih yang terlihat. Tapi, Arthur bisa merasakan kesedihan luar biasa dari adik cantiknya ini.
Sepuluh tahun bukanlah waktu yang singkat. Namun, yang singkat adalah pengkhianatan. Terjadi dengan cepat dan membekas.
*
*
*
Bersambung...
Seru ngga? Ikuti terus yaa. Jangan lupa kenangannya yaa. Maaciw.
Selamat Hari Raya Idhul Adha bagi kalian yang merayakan. Jangan lupa bagi potongan dagingnya yaa buat Author. Wkwkwk.
are you kidding?