Sir Leonardo, Komandan Militer Inggris, memburu pemberontak yang membunuh orang tuanya. Setelah berhasil menemukan si pemberontak dan membunuhnya beserta istri tapi menyisakan putri mereka. Balas dendam Leo tidak berhenti hanya dengan kematian pembunuh kedua oran tuanya, namun menjadikan putri si pemberontak sebagai pelampiasan amarah, nafsu, gairah dan perasaan lainnya. Apa yang terjadi dengan putri si pemberontak kemudian? Apakah dia akan bertahan atau menyerang balik seorang Leonardo?
Cerita lainnya :
1. Putri Jenderal bersama Mafia (Haile & Antonio)
2. Putri Duke bersama Bos Wine (Katy & Terios)
3. Cinta saudara Tiri (Eliza & Zane)
Mana cerita pemaksaan cinta yang paling kalian sukai? Jangan lupa dukung author yaaaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SariRani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CINTA SAUDARA TIRI
Leo berdiri dan berjalan kearah Bibi Ester.
"Dia ingin berkebun di kebunku ? Berani sekali memang wanita itu" ujarnya.
"Sepertinya begitu, Tuan. Dia memang berani. Dengan penampilan yang lusuh dan kotor, dia masih mau maunya membersihkan pondok sendiri" sahut Bibi Ester.
"Memang berani. Dia tidak berusaha kabur saja sudah aman. Baiklah, berikan apa yang dia mau. Lebih baik dia bisa berkebun dan kujadikan tukang kebun nanti di rumah ini" ucap Leo.
Bibi Ester menahan tawanya mendengar perkataan sang majikan.
"Yasudah, Bi. Terima kasih sudah mengecek dia. Bibi lanjutkan pekerjaan yang lain" perintah Leo.
"Baik, Tuan Muda" balas Bibi Ester lalu pergi menuju dapur.
Leo berjalan keluar rumah melalui pintu belakang dan melihat pondok dari jauh.
Ia bisa melihat ada aktifitas di pondok itu.
"Sudah 10 tahun aku tidak menempati pondok itu dan dia membersihkannya begitu saja" gumamnya.
"Wanita ini sangat menarik" lanjutnya dengan senyuman menyeringai.
Leo berdiri sekitar 15 menit menatap pondok dari kejauhan. Hingga suara Zane menyadarkannya.
"Selamat pagi, Tuan. Ini permintaan anda untuk wanita itu" ucap dokter pribadi serta asisten Leo dirumah.
Leo menoleh dan melihat Zane datang bersama Eliza, putri Bibi Ester dengan suami terdahulu.
Dan Zane adalah putra dari Pak Albert dengan istrinya yang telah tiada. Berarti Zane dan Eliza adalah saudara tiri.
Keduanya membawa masing masing barang belanjaan.
"Bagus, tolong berikan kepadanya di pondok" perintah Leo.
"Dan Eliza, aku minta tolong setelah memberikan perlengkapan wanita kepadanya, aku ingin kamu menemaninya membersihkan pondok dan menjadi temannya disini. Sekalian menjadi mata mata untuknya. Saat kepercayaannya muncul kepadamu, bisa saja suatu hari nanti ada hal rahasia yang ia sampaikan kepadamu selama pemberontakan Skotland ini berlansung dan belum berhenti" lanjutnya.
"Baik, Tuan Muda. Akan saya lakukan sesuai perintah" sahut Eliza.
"Antar Eliza menggunakan buggy car ya Zane sambil membawa barang barang belanjaan. Lalu segera kembali kesini karena ada yang ingin aku tanyakan padamu" intruksi Leo.
"Siap, Sir" balas Zane.
Lalu Leo masuk kembali ke dalam rumah. Sedangkan Zane dan Eliza pergi ke pondok belakang rumah dimana sandera pemberontak Skotland berada.
Sesampainya di pondok, Eliza turun terlebih dahulu dari kendaraan lalu berjalan mendekat hendak masuk ke pondok karena tidak melihat Agatha didepan.
Zane menurunkan barang barang.
"Permisi" sapa Eliza sopan.
Ia melihat isi pondok yang sudah lebih luang karena barang barang sudah banyak diluar dan semua ini usaha Agatha sendiri.
"Permisi, Nona. Saya Eliza, asisten rumah tangga di rumah Tuan Muda" sapa putri Bibi Ester lagi.
Lalu ia mendengar gemericik air dari dalam kamar mandi.
"Oh dia lagi di dalam kamar mandi" gumam Eliza.
"Yasudah aku infokan dulu aja buat baju barunya biar sekalian dipakai bersih" lanjutnya lalu berjalan mendekat ke dalam kamar mandi.
Tok...tok..tok..
"Maaf, Nona. Saya Eliza, asisten rumah tuan muda Davarza. Ini saya bawakan perlengkapan wanita untuk anda, ada beberapa baju dan dalaman, lalu ada alat rias, parfum, dan peralatan wanita lainnya" jelas Eliza sambil sedikit berteriak agar terdengar sampai kedalam kamar mandi.
Suara gemericik air berhenti.
"Baik, terima kasih, Nona Eliza" sahut Agatha.
"Sama sama Nona. Saya izin keluar pondok dulu sambil menunggu anda selesai bersih diri karena Tuan Leo memerintahkan saya untuk menemani anda membereskan pondok" ujar Eliza.
"Baiklah, saya juga hampir selesai. Jika anda mau menunggu, silahkan menunggu" ucap Agatha.
"Baik, Nona" sahut Eliza lalu berjalan keluar pondok.
"Barang barangnya aku taruh sini" ucap Zane saat melihat adik tirinya sudah keluar pondok. Tadi ia mendengarkan bahwa Agatha sedang mandi jadi ia tidak ingin masuk kedalam pondok.
"Terima kasih, kak" ujar Eliza dengan ekspresi malu malu.
Zane memberikan senyuman tipis dan mencurigakan, lalu tanpa mengeluarkan suaranya lagi, ia mengendari buggy car kembali ke pintu belakang rumah untuk menemui Leo.
"Sampai kapan kamu memanggilku kakak, Eliza" lirih pria itu.
Sedangkan Eliza melihat Zane menjauh darinya dan membuat detak jantungnya kembali tenang.
"Huft...bagaimana aku bisa bersikap biasa setelah kejadian tadi?" batinnya sambil meremas tangannya sendiri.
Flashback beberapa jam, saat Zane dan Eliza keluar berbelanja.
Mereka berdua berada di toko baju wanita.
"Pilihan pakaian sesuai seleramu saja Eliza" perintah Zane.
"Iya, Kak" sahut Eliza.
Saat wanita itu sibuk memilih belanjaan, Zane setia berjalan dibelakangnya, memperhatikan adik tirinya itu dengan pandangan aneh. Bukan sebagai saudara namun sepertinya sebagai wanita.
Lalu saat Eliza memilih dalaman untuk wanita sandera sang majikannya, mata Zane tak lepas darinya.
Sampai sampai, penjaga toko salah paham menilai hubungan mereka dan menyodorkan sesuatu yang membakar gairah.
"Wah wah wah, Nyonya yang masih muda beruntung mendapatkan pria seperti suami anda ini yang tidak lepas memandang anda dengan cinta" celetuk sang penjaga toko membuat Eliza menghentikan gerakan tangannya memilih lalu menatap kearah Zane yang juga menatapnya.
"Sebentar sebentar, saya jadi memikirkan produk panas untuk pasangan suami istri agar semakin terbakar gairah di ranjang" lanjut sang penjaga toko yang ceplas ceplos.
"Eh..tidak u.." belum juga Eliza menahan si penjual, udah keburu diperlihatkan lingerie khas wanita inggris tahun 1630-an.
"Bagaimana Tuan, apakah anda suka jika istri anda memakai pakaian sexy warna merah merona ini?" tanya si penjual kepada Zane.
"Uhuk..uhuuuk..." Zane malah terbatuk dan wajahnya seketika memerah.
"Hahahhahaa langsung batuk tuh suaminya, tanda suka tuh Nyonya" goda si penjual.
"Kami bukan suami istri, kami saudara" sela Eliza yang tidak tahan dengan omongan ngawur si penjual.
"Astaga, maaf maaf..kalian sangat cocok dan tidak terlihat seperti saudara, maafkan saya Tuan dan Nyonya eh Nona" ucap si penjual lalu menyembunyikan pakaian sexy yang ia bawa.
Zane menatap tajam kearah Eliza.
"Wanita ini..." batinnya.
"Saya beli baju merahnya, Tuan. Untuk istri masa depan saya" ucapnya membuat si Penjual kebingungan dan ragu.
"Apakah tuan serius?" tanya si penjual.
"Ya, kalau ada yang warna hitam, saya juga mau" jawab Zane dengan lugas.
Eliza mencoba tak menghiraukan perilaku kakak tirinya itu dan melanjutkan memilih pakaian pribadi untuk wanita. Ia segerakan agar cepat keluar toko ini karena malu.
Tak lama kemudian, Eliza dan Zane keluar toko sambil membawa tas belanja masing2. Mereka masuk mobil.
"Bagaimana kamu bisa mengakui ku sebagai saudaramu didepan orang yang tidak kita kenal hah? Seharusnya kamu ikuti saja permainan si penjual untuk memasarkan produknya" protes Zane.
"Kakak harus sadar bahwa kita memang saudara meskipun tiri. Aku sudah menolak kakak sejak sebulan lalu, kenapa kakak tidak menyerah juga dan mencari wanita lain?" balas Eliza.
"Jangan mimpi aku mencari wanita lain. Aku hanya ingin kamu. Kita baru menjadi saudara selama 10 tahun, tapi aku menaruh hati kepadamu selama 15 tahun" jelas Zane.
"Tidak, ini tidak bisa. Aku tidak ing..." belum juga selesai berbicara, mulut Eliza langsunh dibungkam oleh bibir kakak tirinya.
"Hmmmmp" suara erangan yang tertahan.
Kedua tangan Eliza ditahan oleh Zane.
"Hmmmpppp" wanita itu berusaha melepaskan diri dari cengkeraman saudara tirinya.
Bruuk!!
Ternyata Eliza memiliki kekuatan untuk melawan Zane. Ia mendorong pria itu sampai membentur pintu.
"KAK!!! JANGAN MELEWATI BATAS!" seru Eliza.
Bukannya marah, Zane malah tertawa.
"Wanitaku memang kuat. Aku harus memperbaiki fisikku untuk menahan seranganmu" sahutnya lalu membenarkan posisi duduk yang benar didepan kemudi mobil.
Eliza memalingkan wajah kesamping dan enggan menoleh kearah Zane. Hingga mobil berjalan pulanh, mereka tidak saling berbicara.
cerita nya seru👍