NovelToon NovelToon
Cinta Di Langit Tajmahal

Cinta Di Langit Tajmahal

Status: tamat
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan / Tamat
Popularitas:632
Nilai: 5
Nama Author: Siti Muarofah

❤️ CINTA DI LANGIT TAJ MAHAL 🕌✨

AARYAN, CEO muda yang dingin dan playboy, hidupnya berubah total saat bertemu MAHEERA, gadis suci yang mengajarkannya arti cinta sejati.

Meski ditentang keras oleh Ny. Savitri, ibu Aaryan yang angkuh, cinta mereka tetap bersemi. Bahagia sempat terjalin indah, hingga takdir berkata lain. Maheera harus pergi meninggalkannya lebih dulu.

Bertahun-tahun Aaryan hidup dalam kesepian, menyimpan rindu yang tak pernah mati. Hingga akhirnya, ia pun menyusul kekasih hatinya.

Kisah cinta abadi yang membuktikan, kematian pun tak mampu memisahkan dua jiwa yang saling memiliki. 🥹🕊️🖤

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Muarofah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: PERCAKAPAN DI MEJA MAKAN

Malam harinya, suasana di kediaman megah keluarga Singhania terasa begitu hening dan mencekam. Tidak seperti biasanya, malam ini tidak ada musik, tidak ada tawa, dan tidak ada pelayan yang berani bersuara keras. Semua orang berjalan hati-hati, seolah takut mengganggu ketenangan yang sebenarnya sangat berbahaya ini.

Di ruang makan utama yang luas itu, lampu kristal besar bergantung anggun di atas kepala, menerangi meja makan panjang yang terbuat dari kayu mahoni hitam yang sangat mahal. Di atasnya sudah tersusun rapi piring-piring keramik, gelas-gelas kristal, dan berbagai hidangan mewah yang terlihat sangat menggugah selera.

Namun, tak ada satu pun orang di sana yang memiliki nafsu makan.

MR. RANVEER duduk di kepala meja sebelah kanan. Pria paruh baya itu tampak tenang, wajahnya teduh dan bijaksana seperti biasa. Ia sedang melipat koran dengan gerakan santai, seolah tidak menyadari aura gelap yang sedang memenuhi ruangan itu.

Di sebelahnya, duduklah NY. SAVITRI. Wajahnya datar, tanpa ekspresi, tapi matanya terus melirik ke arah pintu utama dengan tatapan tidak sabar. Tangannya yang memegang sendok dan garpu terus mengetuk-ngetuk piring dengan ritme yang cepat, menandakan bahwa ia sedang sangat gelisah dan marah.

"Sudah jam berapa ini? Kenapa Aaryan belum pulang juga?" gerutu Ny. Savitri pelan, namun suaranya cukup terdengar jelas di ruangan yang sunyi itu.

"Sabar saja, Sayang. Mungkin dia sedang sibuk di kantor atau ada urusan mendadak," jawab Mr. Ranveer lembut tanpa menoleh.

"Sibuk apanya? Aku tahu dia pergi kemana! Dia pasti lagi sama wanita sialan itu lagi!" bentak Ny. Savitri tak kuasa menahan emosinya. Suaranya melengking membuat pelayan yang berdiri di pojok ruangan langsung menunduk takut.

Mr. Ranvier akhirnya menoleh, menatap istrinya dengan tatapan teduh namun tegas. "Savitri, jangan bicara seperti itu di meja makan. Ini tidak sopan. Dan lagi... biarkan Aaryan memilih jalan hidupnya sendiri. Dia sudah dewasa."

"Dewasa apaannya?! Kalau dia dewasa mana mungkin dia sebodoh itu tertipu oleh wanita rendahan?!" balas Ny. Savitri tak kalah keras. "Ranveer, kau ini bagaimana sih?! Putramu mau hancur masa depannya karena cewek kampung, tapi kau malah santai saja seperti ini?!"

Sebelum Mr. Ranveer sempat menjawab, suara langkah kaki yang berat dan tegas terdengar mendekat dari arah lorong.

AARYAN masuk ke ruangan itu.

Pria itu masih mengenakan setelan jas kerjanya yang sedikit berantakan, rambutnya agak berantakan, dan wajahnya terlihat sedikit lelah namun tetap memancarkan ketampanan yang mematikan. Ia berjalan mendekati meja makan, lalu menarik kursi dan duduk tepat di hadapan kedua orang tuanya.

"Selamat malam, Ayah, Ibu," sapanya singkat, lalu langsung mengambil gelas air putih dan meneguknya hingga habis setengahnya.

Suasana kembali hening. Hanya terdengar suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring saat mereka mulai menyantap makan malam yang sebenarnya terasa begitu hambar ini.

Ny. Savitri melirik tajam ke arah putranya. Ia menahan napas, mencoba mengumpulkan keberanian untuk memulai topik yang sudah ia siapkan sejak tadi.

"Aaryan..." panggil Ny. Savitri pelan, suaranya berusaha dibuat selembut mungkin meski terdengar sangat dipaksakan.

"Ada apa, Bu?" jawab Aaryan singkat tanpa menoleh, matanya fokus memotong daging di piringnya.

"Ibu dengar... akhir-akhir ini kau sering menghabiskan waktu di daerah pinggiran kota ya? Di tempat yang... hmm... kurang layak untuk orang selevel kita?" tanya Ny. Savitri mulai melancarkan serangannya.

Aaryan menghentikan gerakan tangannya. Ia perlahan mengangkat wajahnya, menatap lurus ke arah ibunya. Matanya yang tajam seolah bisa menembus pikiran wanita itu.

"Siapa yang bilang? Apa Ibu menyuruh orang mengawasiku?" tanya Aaryan dingin. Suaranya rendah namun penuh wibawa dan ancaman.

Ny. Savitri tersentak sedikit, tapi ia segera menenangkan diri. "Terserah kau mau pikir bagaimana. Yang jelas, seluruh kota tahu kalau putra tunggal keluarga Singhania sekarang sering terlihat bergaul dengan orang-orang kelas bawah. Ibu malu, Aaryan! Malu sekali!"

"Mereka bergaul dengan siapa itu urusan saya, Bu. Dan saya tidak melihat ada yang salah dengan itu. Manusia itu sama saja, yang membedakan hanyalah cara pandang orang tuanya sendiri," jawab Aaryan kalem tapi menusuk.

"Dasar bodoh! Kau memang tidak tahu apa-apa!" bentak Ny. Savitri sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi. Ia membanting sendoknya ke meja. "Kau pikir wanita yang kau dekati itu benar-benar mencintaimu? Kau pikir dia tulus?!"

Aaryan menegang. Otot rahangnya berdenyut kencang menahan emosi yang mulai meledak.

"Jangan pernah bicara buruk tentang dia di hadapan saya, Ibu. Saya peringatkan sekali saja," ucap Aaryan dengan nada yang sangat dingin, membuat suhu ruangan seakan turun drastis.

"Kenapa? Takut kebongkar apa?!" Ny. Savitri tertawa sinis. "Dia itu cuma mau uangmu, Nak! Dia itu miskin! Hidupnya susah! Tentu saja dia akan manis-manis di depanmu supaya kau mau membiayai hidupnya dan keluarganya! Itu semua sandiwara! Tipu musih!"

"CUKUP!!!" teriak Aaryan keras, memukul meja hingga gelas-gelas di atasnya bergetar hebat.

Ia berdiri dari duduknya, napasnya memburu karena marah besar. Bagaimana bisa ibunya sejahat itu menuduh Maheera yang begitu suci dan polos?

"Maheera bukan wanita seperti yang Ibu pikirkan! Dia jauh lebih baik, jauh lebih bersih, dan jauh lebih mulia daripada wanita-wanita sombong yang biasa ada di lingkungan kita!" seru Aaryan membela kekasihnya dengan penuh semangat.

"Dia tidak pernah minta uang sepeser pun dari saya! Dia tidak pernah minta harta! Justru sayalah yang selalu memohon supaya dia mau menerima apa yang saya berikan! Ibu tidak tahu apa-apa! Ibu cuma menilai orang dari baju dan dompet mereka!"

Mr. Ranveer yang sedari tadi diam menyimak, akhirnya angkat bicara. Suaranya tenang namun cukup keras untuk membuat kedua orang itu terdiam.

"Duduklah, Aaryan. Dan kau juga Savitri, tenangkan dirimu."

Aaryan perlahan duduk kembali, tapi tatapannya masih tajam dan penuh api.

"Ayah tahu..." mulai Mr. Ranveer pelan. "Ayah tahu selama ini kau suka bermain-main, Aaryan. Kau suka klub malam, kau suka wanita cantik, dan kau suka hidup bebas. Tapi akhir-akhir ini Ayah melihat perubahan besar pada dirimu."

Aaryan menatap ayahnya bingung.

"Kau terlihat lebih dewasa. Kau terlihat lebih bahagia. Dan yang paling penting... mata kau kembali bersinar seperti dulu sebelum kau mengenal dunia malam yang gelap itu," lanjut Mr. Ranveer lagi dengan senyum tipis.

"Jadi... kalau gadis itu benar-benar bisa membuatmu berubah menjadi lebih baik, kalau dia benar-benar bisa membuatmu bahagia tanpa harus merusak dirimu... menurut Ayah, itu hal yang bagus."

BRAKK!!!

Ny. Savitri langsung berdiri syok mendengar ucapan suaminya itu.

"Ranveer! Kau gila ya?! Kau mendukung hal gila ini?! Kau mau keluarga kita dipermalukan?! Kau mau harta kita habis dimakan orang asing?!" teriaknya histeris.

"Aku tidak membicarakan harta, Savitri! Aku membicarakan kebahagiaan anakku!" balas Mr. Ranveer tegas. "Kau terlalu sibuk dengan gengsi dan status sosial sampai lupa bagaimana cara mencintai keluarga sendiri!"

"Aku tidak mau tahu! Pokoknya selama aku masih jadi Ibu dia, aku tidak akan pernah mengizinkan wanita itu masuk ke rumah ini!" Ny. Savitri memeluk tangannya di dada, wajahnya memerah padam. "Dan dengar baik-baik ya Aaryan... minggu depan kau akan bertemu dengan Putri dari keluarga Verma. Dia cantik, kaya, dan berpendidikan. Kalian akan dijodohkan dan..."

PLAK!!!

Tangan Aaryan membanting pisau makan di atas meja dengan sangat keras tepat di hadapan ibunya.

"Aku tidak akan menikah dengan siapapun kecuali Maheera!" potong Aaryan tegas dan lantang. Matanya menatap tajam menembus jiwa ibunya.

"Dan Ibu perlu tahu... saya sudah memutuskan. Besok saya akan membawa Maheera ke rumah ini. Saya akan memperkenalkannya secara resmi sebagai calon istri saya. Dan saya harap... Ibu bisa bersikap sopan setidaknya untuk satu kali saja."

Deg!

Jantung Ny. Savitri seakan berhenti berdetak. Wajahnya pucat pasi mendengar niat putranya itu.

"Kau... kau berani membawanya ke sini? Ke rumahku?!" tanya Ny. Savitri tak percaya.

"Kenapa tidak? Dia wanita baik-baik. Dia pantas dihormati," jawab Aaryan dingin.

Setelah mengucapkan itu semua, Aaryan tidak lagi memiliki nafsu makan. Perutnya terasa penuh oleh emosi dan amarah. Ia berdiri dari kursinya dengan gerakan kasar.

"Saya selesai. Selamat malam."

Aaryan berbalik badan dan berjalan meninggalkan ruangan makan itu dengan langkah panjang dan cepat, meninggalkan kedua orang tuanya yang masih terpaku di tempat duduk mereka.

Begitu pintu tertutup, keheningan kembali menyelimuti ruangan itu. Namun, di dalam hati Ny. Savitri, api amarah itu membakar semakin besar.

*"Bagus... kalau kau memang membawanya ke sini... itu akan menjadi hari terakhir dia terlihat senyum..." bisik Ny. Savitri dalam hati, matanya memancarkan niat jahat yang begitu gelap dan menakutkan.

Ia tidak akan membiarkan Maheera menginjakkan kakinya di rumah ini dengan selamat. Jika gadis itu benar datang besok, Savitri sudah menyiapkan sebuah perangkap yang begitu mematikan untuk menghancurkan nama baik Maheera selamanya.

Malam itu menjadi malam yang sangat panjang dan penuh ketegangan. Di satu sisi Aaryan bersiap membela cintanya, di sisi lain ibunya bersiap melenyapkan kebahagiaan putranya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!