Asha, seorang gadis SMA yang gemar membaca, tanpa sengaja menemukan sebuah novel romantis bergenre dark yang langsung menarik perhatiannya. Awalnya hanya iseng, ia mulai membaca kisah kelam penuh obsesi, cinta yang beracun, dan tokoh antagonis yang kejam namun memikat. Tanpa sadar, ia terbawa suasana hingga larut malam.
Namun saat ia terbangun, dunia di sekelilingnya terasa asing.
Asha terkejut ketika menyadari bahwa dirinya bukan lagi berada di dunianya sendiri, melainkan masuk ke dalam novel yang semalam ia baca. Lebih buruk lagi, ia bukan tokoh utama yang memiliki perlindungan plot, juga bukan antagonis yang berkuasa melainkan hanya seorang figuran.
Seorang figuran yang dalam cerita aslinya dikenal karena satu hal: tergila-gila pada sang antagonis.
Dan yang paling mengerikan, Asha tahu persis bagaimana akhir dari karakter itu nasib paling mengenaskan yang bahkan tak layak disebut sebagai akhir bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
06
Di dalam kelas yang heningnya seperti kuburan, Melody duduk tegak di barisan depan. Dia mencoba memasang wajah paling cerdas, mata melotot menatap papan tulis, dan tangan yang seolah-olah sibuk mencatat. Dia bertekad menjadi siswi teladan demi menghindari masalah dengan guru Matematika mereka, Pak Bambang, yang terkenal galak dan hobi melempar penghapus kalau ada murid yang melamun.
“Ayo Asha, eh Melody! Fokus! Masa depan lo di dunia ini tergantung pada nilai-nilai ini juga!” batinnya menyemangati diri sendiri.
Namun, saat Pak Bambang mulai menuliskan rumus bertingkat di papan tulis, nyali Melody menciut.
“Anjirr... ini angka kenapa ada kuadratnya? Terus kenapa mendadak ada akar di dalam akar? Perasaan gue nyimak dari tadi, tapi kenapa di otak gue isinya cuma lirik lagu dangdut sama bayangan jengkol goreng Emak?” keluhnya merana dalam hati.
Melody memijat pelipisnya, menatap nanar ke arah angka-angka yang tampak seperti cacing kepanasan itu. Matanya melirik ke samping, ke arah Rere yang sudah tertidur pulas di balik buku paket yang berdiri tegak.
“Melody Fanyera!” suara menggelegar Pak Bambang membuat Melody hampir melompat dari kursinya.
“I-iya, Pak?” sahut Melody refleks berdiri tegak seperti sedang upacara.
“Tumben kamu memperhatikan. Biasanya sibuk ngaca pakai bedak setebal tiga senti. Sekarang, coba kamu kerjakan soal di papan tulis!”
Melody menelan ludah kasar. Ia melirik papan tulis, lalu melirik Pak Bambang. Mampus gue. Ini mah namanya keluar dari mulut buaya, masuk ke mulut dinosaurus!
Dengan langkah gontai dan keringat dingin yang mulai bercucuran, Melody maju ke depan. Di sudut kelas, ia bisa merasakan tatapan tajam dari arah belakang. Ia tahu, di sana ada meja para tokoh utama. “Tuhan, kalau bisa transmigrasi lagi sekarang, tolong pindahin gue ke meja makan aja, jangan di depan papan tulis ini!” doanya dalam hati sambil memegang spidol dengan tangan gemetar.
"Buruan! Ngapain kamu malah bengong pegang spidol? Mau nunggu spidolnya bertelur?" bentak Pak Bambang yang sudah mulai tidak sabar.
Melody mematung. Matanya menatap angka-angka itu seolah-olah sedang membaca mantra pemanggil setan. Dari pojok belakang, suara tawa kecil terdengar. Itu suara Jigar yang sedang menahan tawa, sementara Galen hanya memperhatikan dengan raut geli. Kaisar? Cowok itu tetap seperti biasa, bersandar di kursinya dengan wajah datar tanpa ekspresi, tapi tatapannya yang dingin terasa menusuk punggung Melody.
"Aduh... aduh, Pakkk!" rintih Melody tiba-tiba. Suaranya dibuat sedramatis mungkin, persis akting antagonis yang mau pingsan di novel-novel.
"Kenapa lagi kamu?!"
"Aduh, Pak... perut saya sakit banget! Kayaknya usus saya melilit gara-gara kebanyakan makan seblak tadi," ucap Melody sambil meringis kesakitan. Tapi anehnya, tangannya malah memegang dahi dan kepalanya sendiri, bukan memegang perut.
Kelas seketika hening. Jigar yang tadi cuma senyum tipis, sekarang meledak tertawa. "Woi, Mel! Sakit perut kok yang dipegang jidat? Pindah ya ususnya ke otak?"
Wajah Melody langsung memerah seumur-umur. Aduh, bego! Grogi banget gue gara-gara ditatap Kaisar!
Pak Bambang menatap Melody datar, seolah-olah sedang melihat alien. "Melody... kamu tahu bedanya perut sama kepala, kan?"
"T-tau, Pak! Maksud saya, saking sakit perutnya, rasa sakitnya itu merambat sampai ke saraf-saraf otak, Pak! Benar-benar migrain perut ini namanya!" kilat Melody asal bunyi.
"Halah, alasan saja kamu karena tidak bisa jawab! Duduk!" bentak Pak Bambang.
Melody langsung lari menuju bangkunya secepat kilat sebelum Pak Bambang berubah pikiran. Begitu duduk, ia menenggelamkan wajahnya di atas meja, benar-benar malu sampai ke ubun-ubun.
"Malu-maluin banget lo, Mel," bisik Rere yang ternyata sudah bangun gara-gara keributan tadi.
"Diem lo," sahut Melody dari balik lipatan tangannya.