Aurin Josephine— tidak pernah menyangka, niatnya kabur dari perjodohan yang diatur paman dan bibinya justru menyeretnya ke dalam pernikahan tak terduga dengan pria asing, malam itu.
Gallelio Alastar, seorang CEO dingin yang mati rasa, mengubur perasaannya bersamaan dengan istrinya lima tahun lalu. Pernikahan itu tidak pernah ia inginkan. Bahkan terasa seperti pengkhianatan pada janji yang pernah ia berikan.
Namun di rumah yang sama, di bawah satu atap yang terasa asing, Aurin mulai mengenal sisi lain pria itu.
Dan untuk pertama kalinya, ia bertekad… membuatnya jatuh cinta lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaluBerkarya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6. Peringatan Ayuna.
"Papi, jangan...."
Suara itu terdengar sangat lirih. Suara anak kecil yang tengah menangis tersedu itu seketika membuat Gallelio menghentikan tindakan gilanya. Napas pria itu masih memburu hebat. Dia memandang telapak tangannya yang gemetar dan memar serta berdarah, lalu tatapannya beralih pada dua sosok yang kini berdiri di ambang pintu kamar.
Dua orang itu menatapnya dengan tatapan penuh ketakutan. Seorang gadis kecil menyembunyikan tubuhnya di balik punggung Bibi nya, memandang Gallelio dengan linangan air mata yang membasahi pipi mungilnya.
"Sial!" umpat Gallelio rendah. Entah sejak kapan mereka berada di sana dan menyaksikan kehancurannya yang memuakkan ini.
"Kenapa kamu membawa anak itu ke sini, Ayuna?!" bentak Gallelio menatap tajam adiknya, Ayuna Alastar.
Pandangannya kemudian beralih pada putrinya sendiri, Geanetta Putri Alastar, dengan sorot mata tajam yang sama sekali tidak bersahabat. Bukannya rasa iba yang muncul, Gallelio justru tampak semakin tersulut emosi melihat kehadiran bocah itu.
"Bawa anak itu keluar! Jangan pernah berani membawanya masuk ke kamarku lagi. Cepat!" perintah Gallelio dengan suara yang menggelegar.
Ayuna tersentak. Dia segera merengkuh bahu mungil Geanetta yang mulai terguncang karena isak tangis yang tertahan. Tanpa berani membantah kakaknya yang sedang kerasukan amarah, Ayuna segera membawa keponakannya itu menjauh dari sana sebelum mental bocah itu semakin hancur.
Gallelio kembali sendirian. Dia memejamkan mata erat, mencoba meredam denyut di kepalanya yang sudah ingin pecah, sementara bayangan masa lalu dan kenyataan pahit malam ini terus berperang di dalam benaknya.
*****
"Sayang... jangan... jangan menangis ya..." ujar Ayuna sambil terus mengusap lembut punggung gadis berusia lima tahun itu.
Mata Ayuna berkaca-kaca. Pikirannya terus memutar kembali suara Gallelio yang menggelegar saat mengusir mereka berdua. Rasa sakit di hatinya kian menyesakkan saat melihat betapa rapuhnya keponakannya ini di hadapan ayahnya sendiri.
"Anet tidak menangis kok, Uty!" sahut Geanetta dari balik punggung Ayuna.
Bocah itu berusaha terdengar tegar, namun Ayuna bisa mendengar dengan sangat jelas betapa suaranya gemetar karena rasa takut.
"Masa Anet jadi cengeng? Kan kata Uty, Anet harus jadi anak pintar. Iya, kan?" lanjutnya berusaha menghibur sang bibi.
Upaya Geanetta yang berpura-pura kuat justru membuat pertahanan Ayuna runtuh. Dia menangis histeris, tak sanggup lagi menahan rasa sesak yang menghimpit dada melihat ketulusan bocah sekecil itu.
"Iya, Anet harus jadi anak yang pintar ya!" ujar Ayuna pelan sembari terus mengelus punggung keponakannya dengan penuh kasih sayang.
"Ih, Uty yang cengeng. Masa menangis sih?"
"Enggak, kata siapa Uty menangis? Uty hanya sedang kelilipan... eh, mungkin karena mengantuk kali ya. Huammm!" Ayuna membuka mulutnya lebar-lebar untuk menguap, mencoba segala cara demi mengelabui bocah itu agar tidak melihat kesedihannya.
"Masa mengantuk begitu?" Geanetta bertanya penasaran.
Dia menatap wajah Ayuna dengan sangat teliti. Tangan kecilnya kemudian terangkat, mengusap butiran air mata yang jatuh membasahi pipi Ayuna.
"Jangan cengeng, Uty. Lihat Anet!" ujarnya sambil memaksakan sebuah senyuman manis.
Namun, senyuman manis bocah itu hanya bertahan sekejap. Setelah tersenyum, tiba-tiba saja bahu kecilnya terguncang. Geanetta tertunduk dan mulai menangis sesenggukan, menumpahkan segala rasa takut dan sedih yang sejak tadi dia tahan sekuat tenaga.
"Hais... kan kamu menangis sekarang. Katanya tidak cengeng, hmm?"
"Uty... Papi kenapa marah-marah ya? Dia marah sama Anet lagi ya? Anet ada buat salah ya, Uty? Tapi hari ini Anet sudah jadi anak yang baik kok..." rintih gadis kecil itu di tengah isaknya yang memilukan.
"Enggak, sayang... Astaga. Anet anak yang baik, tidak nakal. Buktinya sama Uty, Anet gadis kecil Uty yang pintar dan penurut. Jadi... Papi marah bukan karena Anet kok..." ujar Ayuna sambil memeluk tubuh kecil itu dengan sangat erat.
"Sudah, paling besok Papi juga sudah baik lagi. Anet sekarang tidur ya. Ingat besok harus ke sekolah. Oh iya, pulang sekolah nanti Uty ajak beli es krim, bagaimana? Mau tidak? Kalau tidak mau, Uty ajak... siapa ya... ajak Om Eza kali ya?"
"Hah? Kan Om Eza masih di luar negeri, Uty."
"Ya sudah kalau nanti dia pulang... jadi Anet tidak mau nih ceritanya?"
"Mau! Jangan ajak Om Eza ya... Ini Anet bobok kok, tapi harus dipuk-puk ya, Uty!"
"Iya, sayang... iya. Tidur ya!"
Ayuna ikut berbaring di sisi Geanetta. Dia menepuk-nepuk punggung gadis itu dengan irama yang teratur. Secara perlahan, Geanetta mulai memejamkan matanya yang masih tersisa sembab. Hembusan napasnya mulai terdengar halus dan tenang, meski sesekali tubuhnya masih menyisakan sesenggukan kecil yang tertahan di dalam tidurnya.
...----------------...
Ayuna memastikan napas Geanetta sudah benar-benar teratur sebelum dia beranjak dari tempat tidur. Dengan langkah yang dipacu rasa geram sekaligus sedih, dia kembali menuju kamar kakaknya. Pintu yang tidak tertutup rapat itu dia dorong dengan kasar.
BRAK!
Di dalam sana, Gallelio masih terduduk di lantai yang berantakan, dikelilingi pecahan gelas dan barang yang berserakan.
"Puas kamu, Kak? Puas kamu membuat keponakanku itu menangis lagi? Puas!" pekik Ayuna setelah memastikan pintu itu tertutup rapat agar tidak membangunkan Geanetta lagi dengan teriakannya.
"Kali ini apa lagi sebabnya? Bisa tidak kalau ada sesuatu yang membuat Kakak marah, jangan melimpahkan kepada orang lain apalagi kepada anak kecil seperti itu. Bisa tidak, Bajingan!" lanjut gadis itu dengan napas yang memburu.
Ayuna tersenyum kecut. "Kakak selalu saja begitu. Anet itu anak kecil, Kak. Anak yang tidak tahu apa-apa. Wanita itu... Kak Sera tidak akan pernah bangkit lagi. Dia tidak akan pernah kembali asal Kakak tahu!"
"Ayuna!" bentak Gallelio sambil berdiri tegak dan melangkah mendekat ke arah adiknya.
"Jangan lancang! Kamu tanya kenapa aku marah? Bilang sama ibumu itu bahwa aku tidak akan pernah menganggap gadis itu istri! Istriku hanya Sera! Bilang padanya sekarang bahwa pernikahan kami tadi hanya kebodohan, cepat!" titahnya dengan penuh penekanan.
Ayuna bergeming. Dia berusaha mencerna kalimat kakaknya dengan bingung. Istri? Pernikahan itu kebodohan? Apa sebenarnya yang terjadi selama kakaknya pergi tadi?
"Maksudmu apa, Kak?"
"Sialan, sekarang keluar kalau tidak tahu apa-apa!" bentak Gallelio lagi.
"Ya bagaimana aku bisa tahu kalau Kakak bicaranya setengah-setengah begitu!" teriak Ayuna tidak mau kalah.
"Dan oh ya, apa pun itu, hanya satu yang mau aku bahas di sini. Sampai kapan, Kak?" tanya Ayuna dengan suara yang bergetar menahan amarah. "Sampai kapan Kakak mau memperlakukan Anet seolah dia adalah sampah di rumah ini?"
Gallelio tidak bergeming. Dia masih mendekap pigura foto itu seperti hanya benda itu satu-satunya yang bisa memberinya napas untuk bertahan hidup.
"Dia tidak mengerti apa-apa! Dia hanya anak kecil yang merindukan ayahnya!" bentak Ayuna lagi, dan kali ini air matanya benar-benar jatuh. "Kalau Kakak mau marah pada takdir, jangan Anet yang jadi sasarannya. Dia tidak memilih untuk lahir jika hasilnya harus kehilangan Ibunya sendiri!"
Gallelio mendelik tajam. Sorot matanya yang merah bertemu dengan tatapan tajam Ayuna. Detik itu juga, memori pahit yang selama ini dia kunci rapat kembali menghantam kesadarannya.
Ayuna masih ingat dengan jelas hari itu. Lima tahun yang lalu, di koridor rumah sakit yang dingin, Gallelio jatuh terduduk saat dokter keluar dan menggeleng lemah. Pria itu menolak melihat bayi yang baru lahir, bahkan saat suster mencoba memberikannya ke dalam pelukan Gallelio. Mendapati kenyataan bahwa istrinya meninggal karena melahirkan membuat Gallelio hancur seketika. Dunianya benar-benar ikut terkubur bersama Sera.
"Bawa pergi anak itu! Dia yang membunuh istriku! Bawa pergi!"
Teriakan histeris Gallelio saat itu masih terngiang jelas di telinga Ayuna. Sejak hari itu, Gallelio melarang siapa pun membawa Anet masuk mendekatinya dan bahkan di larang keras masuk ke dalam kamar utamanya. Kamar yang seharusnya menjadi tempat Sera membesarkan anak mereka kini berubah menjadi kuil pemujaan atas rasa kehilangan yang tidak pernah sembuh. Bagi Gallelio, Anet adalah pengingat hidup bahwa Sera sudah tiada.
"Anet masuk ke sini hanya karena dia mendengar Kakak berteriak. Dia cemas padamu!" Ayuna menyeka air matanya dengan kasar. "Tapi apa yang Kakak lakukan? Kakak mengusirnya seolah dia adalah orang asing yang paling menjijikkan."
"Keluar, Ayuna," desis Gallelio rendah. Suaranya terdengar seperti sebuah peringatan terakhir.
"Aku akan keluar. Tapi ingat satu hal, Kak. Wajah Anet, matanya, bahkan caranya tersenyum... itu semua adalah peninggalan Kak Sera. Jika Kakak terus membencinya, itu artinya Kakak sedang membunuh bagian dari Kak Sera yang masih tersisa di dunia ini."
Setelah mengucapkan kalimat telak itu, Ayuna berbalik dan meninggalkan kakaknya sendirian dalam kegelapan yang semakin menyesakkan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...