Rumi terlempar ke dunia otome game yang sedang digandrungi. Tapi, dia bukan tokoh utama wanitanya.... Dia cuma seekor kucing!
Berbekal pengetahuan akan seluruh akhir cerita bersama tiga pangeran, Rumi bertekad mengatur jalur romansa agar semuanya berakhir bahagia.
Namun, kehidupan tidak pernah sesederhana permainan game....
Tiga pangeran berarti tiga jalan hidup. Tiga pilihan. Dan hubungan yang perlahan menghancurkan dari dalam.
Apakah yang dia ketahui masih cukup? Ataukah, pada akhirnya Rumi tidak bisa melakukan apa-apa....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rootea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 16 - Putra Mahkota
Setelah lebih dari satu tahun di sini, ada hal sangat menarik yang baru aku sadari; sepertinya aku punya bakat menjadi mata-mata.
Biarpun buluku berwarna oranye keemasan yang cukup mencolok, aku bisa menyelinap dan menyembunyikan diri di berbagai sudut istana dengan mudah. Sejauh ini aku tidak pernah tertangkap—yah, kecuali waktu mau mengambil daging asap dari dapur.
Di luar insiden itu, aku bisa menjajaki area manapun di istana, termasuk menguping di aula singgasana, berjalan-jalan di ruang penyimpanan, dan mengunjungi kamar para pangeran.
Yang paling sering aku datangi adalah kamar Caelian. Raien lebih sering mendapat tugas di luar istana selama berminggu bahkan bulan, sehingga kamarnya nyaris tidak pernah berpenghuni. Sementara Havren…. Entahlah. Jadwalnya terlalu aneh. Seringkali aku tidak menemukannya di sana, dan ketika dia akhirnya ada di kamar, Havren… selalu menyadari keberadaanku.
Sejujurnya, itu sedikit membuatku takut. Kadang-kadang—hanya kadang-kadang—Havren terlihat seperti mencurigai bahwa aku…. yah… bukan kucing sungguhan.
Atau mungkin itu hanya perasaanku saja.
Keseharian pangeran termuda dan pangeran tertua amat bertolak belakang. Sementara Havren sulit sekali ditemukan dan sering muncul di tempat-tempat aneh, Caelian memiliki jadwal yang amat terstruktur. Bahkan, aku bisa bilang dia bangun pada jam yang sama setiap harinya.
Kegiatannya selalu dimulai di aula singgasana, menghadiri pertemuan kerajaan. Menyaksikannya di sana sungguh membuatku terkagum-kagum. Tidak hanya sekali aku melihat menteri tua berkeringat dingin karena argumennya dipatahkan oleh Caelian. Setiap kali berbicara, Caelian selalu terdengar tenang, yakin; tanpa perlu meninggikan suara, dia menguasai ruangan. Sepanjang sidang, Kaisar terlihat puas dan seringkali hanya mengangguk-angguk dan mendukung saran dari sang putra mahkota.
Hari itu sidang tengah membahas laporan baru-baru ini mengenai kerusuhan di wilayah kecil selatan Kaelros. Keberlanjutan dampak dari gagal panen memicu keresahan warga, sementara pejabat lokal dikabarkan memeras rakyat dan menyelewengkan bantuan pangan dari istana. Kini sebagian warga mulai menolak membayar pajak dan melancarkan protes.
Raien menawarkan pengerahan pasukan untuk menumpas kelompok yang dianggap memprovokasi rakyat secara terbuka sebelum situasinya membesar.
Sementara itu Caelian menyarankan penyergapan dan penangkapan diam-diam terhadap pejabat korup serta pemimpin kerusuhan. Juga pengawalan tinggi pada distribusi bantuan pangan.
Pada akhirnya, usulan Caelian yang diterima. Wilayah konflik itu pun akan ditangani tanpa melibatkan pasukan garis depan yang berada di bawah komando Raien.
Caelian hampir selalu menghabiskan harinya di ruang kerja. Entah itu membaca bertumpuk laporan, menulis surat, atau menandatangani dokumen yang seolah tiada habisnya. Terkadang makanan diantarkan ke ruangannya dan seringkali terlupakan karena ia terlalu fokus bekerja.
Melihatnya seperti itu kadang membuatku ingin melompat ke atas meja dan memaksanya beristirahat.
Pernah satu kali kulakukan, dan aku langsung diusir dari sana.
Cara Caelian mengusir pun teramat elegan. Dia hanya menatapku sepintas, memanggil pelayan, lalu menyuruh mereka membawaku keluar. Sepertinya gangguanku tak lebih dari sepintas angin lalu baginya. Setelah satu kali itu, tidak pernah lagi aku lakukan.
Yang sangat membuatku terkesan ialah caranya menghadapi para bangsawan. Hanya melihat wajah-wajah penjilat itu saja sudah membuatku emosi. Segala pujian kosong, senyum palsu, dan maksud tersembunyi itu membuatku muak. Sementara Caelian selalu bisa menanggapi mereka dengan tenang. Tidak kelewat ramah, tidak pula dingin. Ia selalu pintar berkata-kata tanpa kehilangan kontrol akan situasi.
Terkadang aku menyaksikannya mengunjungi wilayah di luar istana dan menyapa rakyat. Tanpa penyamaran dan dengan penjagaan ketat. Ia selalu memberi perhatian secukupnya. Kemanapun ia melangkah, keberadaannya serupa matahari pagi. Sekali waktu aku bahkan melihat seseorang hampir menangis hanya karena Caelian mengingat nama keluarganya.
Sedikit menakutkan, tapi, aku juga paham. Seperti tiba-tiba dinotis oleh idola.
Kadangkala di sore hari ia berkuda hingga keluar istana. Beberapa kali Jovienne pergi bersamanya. Kali lain ia berlatih anggar bersama salah satu ksatria atau putra bangsawan tertentu.
Lalu, malam harinya, dia akan membaca. Hampir selalu di waktu yang sama.Setelah itu dia akan tidur di jam yang sama pula.
Kehidupannya begitu teratur.
Begitu disiplin.
Sungguh, dia benar-benar seorang putra mahkota yang sempurna.
Tidak salah untuk menjadi pasangan protagonis wanita!
Hmmmm,
Apa sebaiknya Caelian kujodohkan dengan Jovienne supaya aku naik level jadi kucing ratu? HAHAHA!
Selama mengamati Caelian aku dibuat terkagum-kagum—itu jelas—sekaligus juga…apa ya… ada sesuatu yang tidak bisa aku definisikan dengan baik.
Caelian terasa… jauh.
Seperti ada tembok kokoh dan tinggi di sekelilingnya, yang tidak terbuka untuk siapapun.
Yang ia lakukan begitu sempurna, begitu efisien. Sama sekali tak menyisakan cela. Tapi juga…detached. Seolah ia tidak benar-benar tertarik pada apapun.
Apa itu hanya efek dari beban berat sebagai pewaris tahta?
Entahlah.
...*...
...*...
...*...
Aroma teh memenuhi ruangan kecil itu. Bukan ruangan semegah aula utama istana, namun nyata dipergunakan untuk kegiatan yang tidak kalah penting. Cahaya sore menyinari meja rendah tempat seperangkat porselen tertata sempurna.
Caelian duduk di salah satu kursi di hadapan meja itu, posturnya yang tanpa cela menopang cangkir teh yang belum benar-benar ia sentuh. Di hadapannya, sang permaisuri tampak sedang dalam suasana hati yang baik.
“Aku mendengar kau menangani insiden di istana dengan baik.”
Caelian tidak segera menjawab, hanya mengangkat pandangannya dari permukaan teh dan tersenyum samar. “Keributan kecil seperti itu tidak perlu dikhawatirkan.”
Elowenne Lysarent mengangguk dan menyesap tehnya perlahan. “Putri Solmara itu tampaknya mudah dialihkan.” Sang permaisuri berkata, suaranya terdengar lembut. “Sungguh hal yang menenangkan.”
Caelian tidak menanggapi.
“Solmara terlalu lama hidup jauh dari konflik.” Wanita itu melanjutkan. Cangkir ditangannya ia letakkan ke atas piring kecil tanpa menimbulkan suara sedikitpun. “Mereka dibesarkan dengan cara yang… unik. Sesuatu yang berbeda dengan Kaelros.”
Sebongkah gula batu ditambahkan ke dalam cangkir, diikuti denting pelan suara sendok yang mengaduk.
“Mereka tidak berbahaya.” Sang permaisuri kembali berkata.
Kalimatnya ringan. Sepintas lalu tak lebih dari sebuah pernyataan.
Perintah di baliknya terselubung apik.
Caelian mengangguk samar.
“Kau membuat keputusan yang tepat.”
Mata sebiru langit menatap ke luar jendela, pada patung Thaelgor yang membentangkan sayapnya di hadapan gerbang istana.
“Tadi pagi Kaisar menerima utusan dari House Edevane.” Suara lembut sang permaisuri kembali terdengar. “Mereka meminta hak kepemilikan tambang diperpanjang.”
Tidak ada perubahan berarti di wajah Caelian mendengar informasi itu.
“Mereka cukup berani.”
Senyum di wajah sang permaisuri tinggal lebih lama. Jemari indah mengetuk pelan sisi cangkirnya. “Dua tahun lalu mereka tidak akan berani mengajukan permintaan itu.” Suaranya tetap ringan, mengimplikasikan apa yang terjadi dalam susunan sosial Kaelros. Tentang keluarga-keluarga bangsawan kecil yang mulai naik; nama-nama lama yang jatuh.
“Aku sudah meminta Karsten menghentikan distribusi baja mereka untuk sementara.”
Tatapan mata Caelian bergeser dari jendela. “Mereka akan menyerah sebelum musim dingin tiba,” ucapnya.
Sang permaisuri tersenyum senang. “Tepat sekali. Kau mengerti betapa aku tidak menyukai kekacauan.” Ia berujar lembut seraya menatap putranya. “Setiap orang perlu berada pada tempatnya.”
Caelian mengusap perlahan telinga cangkirnya.
“Tugasmu,” permaisuri melanjutkan perlahan, “memastikan mereka tidak lupa.”
Angin sore berhembus memainkan tirai tipis di sisi jendela. Di luar ruangan, istana Astryion tampak damai dengan aktivitasnya yang terkontrol. Di tengah ketenangan sore itu, Caelian duduk dengan postur tanpa cela—
Tanpa seorang pun benar-benar tahu apa yang ia pikirkan.
...*...
...*...
...*...
Laporan dari utara tiba menjelang sore hari.
Waymoor kembali disebut di dalamnya. Beberapa rombongan dagang jalur utara gagal mencapai tujuan. Dua penginapan ditemukan kosong dalam keadaan kacau dan jejak kekerasan.
Orang-orang yang dicurigai bagian dari Dresval, lebih tepatnya grup tentara bayaran di perbatasan, terlihat di sekitar pegunungan.
Sepasang mata sebiru langit menyapu isi laporan itu, menelusuri baris demi barisnya. Tidak ada perubahan berarti pada wajah tenang itu.
Tatapannya tinggal beberapa detik lebih lama pada salah satu bagian laporan, sebelum kemudian dokumen itu ditutup perlahan.