Lima mahasiswa KKN terjebak di Desa Larangan, desa gaib yang tidak ada di Google Maps.
Hari ketiga, Rani hilang dari kamar terkunci. Di kasurnya hanya ada selendang merah dan tanah kuburan. Kepala desa cuma bilang: "Tumbal pertama sudah diambil."
Setiap jam 01.00, gamelan dari hutan memanggil nama mereka. Sosok wanita berkebaya merah menatap dari sumur tua belakang balai desa.
Ternyata 7 tahun lalu ada mahasiswi KKN dibunuh dan dibuang ke sumur itu. Arwahnya menuntut 5 nyawa.
Mereka harus temukan tulang mahasiswi itu sebelum purnama, atau jadi penghuni tetap desa. Masalahnya, satu orang harus jadi tumbal sukarela untuk turun ke sumur.
Akankah mereka pulang selamat? Atau pulang tinggal nama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahrani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 6 Tumbal Yang Tertukar
Purnama menggantung bulat di atas Desa Larangan. Cahayanya tidak kuning keemasan, tapi pucat kebiruan seperti mayat. Tepat setelah suara lolongan terakhir dari arah hutan, lampu petromak di posko kami padam serentak.
Gelap.
Hanya suara napas delapan orang yang terdengar memburu, bercampur dengan detak jantungku sendiri yang rasanya mau copot.
“Woi, senter mana senter?!” bisik Rendi, ketua KKN kami, suaranya bergetar menahan takut.
“Baterainya... habis semua, Ren,” jawab Sinta lirih dari pojok. Dia dari tadi memeluk lutut, matanya kosong sejak kejadian di sumur kemarin. Sejak Ardi... hilang.
Ardi. Anggota KKN kami yang turun ke sumur untuk mengambil selendang merah milik Mbak Dewi, kembang desa yang katanya mati bunuh diri tiga tahun lalu. Ardi naik lagi, tapi bukan Ardi yang kami kenal. Sorot matanya kosong, dan dia terus menggumam, “Udah dibayar... udah dibayar...” sebelum akhirnya lari ke hutan saat purnama muncul tadi.
Kami belum menemukannya.
Cklek.
Suara pintu posko terbuka pelan. Padahal jelas-jelas sudah kami kunci dari dalam dan ganjal dengan meja.
Angin malam yang membawa bau anyir tanah kuburan menyusup masuk, membuat bulu kudukku berdiri semua. Bersamaan dengan itu, terdengar suara langkah. Sret... sret... Seperti ada yang menyeret kain panjang di lantai tanah.
“Mbak Dewi...” desis Sinta, suaranya hampir tidak terdengar.
Dari kegelapan di ambang pintu, muncul siluet. Tinggi, rambut panjang terurai menutupi wajah, memakai kebaya merah yang warnanya terlihat hitam di bawah sinar purnama. Selendang merah yang Ardi ambil dari dasar sumur itu, melilit di lehernya. Ujung selendang menjuntai sampai lantai, dan dari ujung itulah asal suara sret... sret... tadi.
Dia tidak masuk. Hanya berdiri diam di sana, menunduk. Bau melati bercampur tanah basah langsung memenuhi posko. Pekat. Memualkan.
Rendi memberanikan diri. Dengan suara yang dia paksa tegar, dia bertanya, “Mau... mau apa kamu ganggu kami? Kami cuma KKN, mau bantu desa...”
Pelan, sosok itu mengangkat wajahnya.
Ya Tuhan.
Wajahnya bukan wajah Mbak Dewi yang cantik di foto-foto almarhum. Wajahnya bengkak kebiruan, bola matanya hanya putih semua, dan dari sudut bibirnya menetes air cokelat kental yang jatuh ke lantai. Pletuk. Pletuk.
Tapi yang membuat darahku berhenti mengalir adalah bibirnya yang bergerak. Suara yang keluar bukan dari mulutnya, tapi bergema langsung di dalam kepala kami semua. Berat, parau, seperti berasal dari dalam sumur.
“Satu sudah dibayar. Kurang enam.”
Satu sudah dibayar. Ardi. Jadi Ardi adalah tumbal pertama?
“Pergi dari sini! Kami nggak mau jadi tumbal!” teriak Bayu, anggota paling berisik di kelompok kami. Dia melempar gelas kaca ke arah sosok itu.
Pecah.
Tapi gelas itu seperti menembus tubuhnya, menghantam dinding belakang dan pecah berhamburan. Sosok itu tidak bergeming. Sebaliknya, dia mengangkat tangannya yang pucat dengan kuku-kuku panjang menghitam. Dia menunjuk. Tepat ke arah Sinta.
Sinta yang dari tadi diam, tiba-tiba mendongak. Matanya yang kosong kini mendelik, dan dari mulutnya keluar suara yang sama persis dengan suara gaib tadi. “Sinta. Malam ini. Di bawah pohon beringin.”
Setelah kalimat itu selesai, tubuh Sinta ambruk. Pingsan.
Bersamaan dengan itu, sosok di pintu memudar menjadi asap hitam dan hilang ditelan kegelapan malam. Lampu petromak menyala lagi, seolah tidak pernah mati.
Tapi kami tahu, semua barusan itu nyata. Bau melati dan tanah kuburan masih pekat. Dan di lantai, tepat di mana tetesan cokelat dari bibir sosok itu jatuh, ada tujuh lubang kecil yang menghitam, seperti terbakar.
Kami berdelapan. Ardi hilang. Sinta ditunjuk. Tinggal enam. Pas seperti hitungannya: "Kurang enam".
Malam itu tidak ada yang bisa tidur. Kami berdelapan... ralat, bertujuh, berjaga di posko sampai adzan subuh. Sinta belum sadar. Napasnya ada, tapi badannya dingin seperti mayat.
Paklik Joyo, kepala dusun yang pertama kali mengantar kami ke posko, datang pagi-pagi membawa ubi rebus. Wajahnya langsung pucat saat melihat raut kami yang seperti mayat hidup dan Sinta yang terbujur kaku.
“Anak-anak sudah melanggar, ya?” tanyanya pelan, lebih ke pernyataan daripada pertanyaan.
“Melanggar apa, Paklik?” Rendi yang menjawab, suaranya serak.
Paklik Joyo tidak langsung jawab. Dia menatap keluar jendela, ke arah pohon beringin raksasa di ujung desa yang bahkan siang hari pun terlihat gelap di bawahnya. “Pohon itu. Sumur itu. Waktu purnama pertama... jangan pernah ada di luar. Apalagi mengambil barang dari dalam sumur.”
“Ardi... Ardi ngambil selendang merah, Paklik. Katanya buat bukti kalo Mbak Dewi dibunuh, bukan bunuh diri,” jelasku.
Paklik Joyo menghela napas panjang. Tubuhnya yang tua terlihat semakin ringkih. “Mbak Dewi memang dibunuh. Ditumbalkan. Tiap 10 tahun sekali, saat purnama pertama setelah musim panen, Desa Larangan harus bayar. Kalau tidak ada yang sukarela... ya ‘mereka’ yang akan memilih.”
Ditumbalkan. Kata itu seperti palu godam yang menghantam kepalaku.
“Jadi... Ardi...” Rendi tidak sanggup melanjutkan.
“Sudah dibayar,” potong Paklik Joyo. “Tapi tumbal untuk 10 tahun ini harus tujuh orang. Perawan desa untuk penjaga sumur, enam pemuda untuk penjaga hutan. Mbak Dewi adalah perawan desa 3 tahun lalu. Dia lari, jadi tumbalnya tidak sah. ‘Mereka’ marah. Sekarang mereka nagih, lengkap dengan bunganya.”
Tujuh orang. Kami bertujuh di posko sekarang. Sinta ditunjuk untuk menggantikan Mbak Dewi sebagai perawan desa. Dan enam sisanya... kami. Untuk penjaga hutan.
Tubuhku lemas. Jadi ini kenapa desa ini namanya Desa Larangan. Larangan untuk didatangi orang luar saat purnama pertama.
“Lalu... gimana cara batalinnya, Paklik? Kami bisa pergi dari desa ini sekarang?” tanya Dina, satu-satunya anggota cewek selain Sinta.
Paklik Joyo menggeleng lemah. Matanya berkaca-kaca. “Tidak bisa, Nduk. Begitu kalian injak tanah desa ini saat purnama, nama kalian sudah dicatat di ‘sana’. Kalian pulang pun... ‘mereka’ akan ikut. Sampai lunas.”
Pulang tinggal nama. Judul KKN kami ini ternyata bukan sekadar judul seram-seraman. Ini peringatan. Kami pulang... tinggal nama saja.
Siang itu, Sinta akhirnya bangun. Tapi dia bukan Sinta lagi. Dia duduk tegak, menatap kosong ke arah pohon beringin. Lalu dengan suara yang bukan suaranya, dia berkata, “Malam ini. Jam 12 malam. Di bawah beringin. Kalau tidak datang... satu posko ini yang mati.”
Setelah itu dia pingsan lagi.
Kami bertujuh menatap satu sama lain. Rasa takut, putus asa, dan marah bercampur jadi satu. Kami mahasiswa. Kami terpelajar. Tapi di hadapan aturan gaib desa ini, semua gelar dan logika kami tidak ada harganya.
Rendi menggebrak meja. “Gak bisa gini! Kita harus lawan! Kita bakar aja pohon beringinnya!”
“Jangan, Le!” Paklik Joyo langsung mencegah, wajahnya panik. “Nek mbok bakar, bukan cuma kalian. Satu desa iki iso ilang kabeh! Disapu bersih!”
Jadi kami tidak bisa lari, tidak bisa lawan. Hanya bisa pasrah?
Malam merayap datang lebih cepat dari biasanya. Atau mungkin hanya perasaanku saja. Jam dinding di posko menunjukkan pukul 23.30.
Sinta sudah didudukkan di kursi, diikat tangannya dengan tali rapia oleh kami. Bukan untuk menyakitinya, tapi untuk mencegah ‘sesuatu’ yang menguasai tubuhnya berjalan sendiri ke beringin.
Tepat jam 00.00, angin berhenti bertiup. Jangkrik berhenti mengerik. Anjing di seluruh desa melolong panjang bersamaan, menciptakan koor kematian yang memekakkan telinga.
Dan Sinta, dengan mata tertutup, mulai bicara lagi. Suaranya menggema.
“Waktunya bayar.”
Tali rapia yang mengikat tangan Sinta putus seperti benang. Dia berdiri, matanya masih tertutup, dan mulai berjalan. Lurus. Ke arah pintu. Ke arah pohon beringin.
Kami mau mencegah, tapi kaki kami seperti dipaku ke lantai. Tidak bisa bergerak. Hanya bisa melihat Sinta berjalan keluar posko, menembus kegelapan malam purnama, menuju takdirnya sebagai tumbal.
Dan dari arah hutan, kami mendengar suara gamelan. Tabuh, kenong, saron, dan gong. Bertalu-talu, mengiringi langkah Sinta. Mengiringi tumbal kedua Desa Larangan.
Kurang lima.