NovelToon NovelToon
ALUNA : Transmigrasi Cegil

ALUNA : Transmigrasi Cegil

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem / Teen / Transmigrasi
Popularitas:11.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dhanvi Hrieya

𝐀𝐥𝐮𝐧𝐚 𝐂𝐚𝐥𝐢𝐬𝐭𝐚 nyaris mati tenggelam dan saat matanya terbuka, ia mulai menyadari jika dunianya yang sekarang hanyalah dunia novel fiksi. Ia terbangun sebagai karakter figuran dalam sebuah novel 𝚝𝚑𝚛𝚒𝚕𝚕𝚎𝚛-𝚛𝚘𝚖𝚊𝚗𝚌𝚎 yang pernah ia bacanya. Sialnya lagi, Aluna bukan siapa-siapa hanya pemeran kecil yang dikenal sebagai biang kerusuhan. Tapi apa jadinya saat ia mulai menyadari, ulah kecilnya mengacaukan alur cerita?
Dalam usahanya untuk memperbaiki kesalahan dan bertahan hidup di dunia yang bukan miliknya, Aluna justru menarik perhatian empat karakter pria berbahaya. 𝐆𝐚𝐯𝐢𝐧𝐨, si obsesif yang tak bisa membedakan cinta dan obsesi. 𝐊𝐚𝐢, si manipulatif yang pandai bermain peran. 𝐉𝐚𝐲𝐝𝐞𝐧, si red flag yang sulit ditebak-beracun tapi memikat. Dan 𝐒𝐞𝐛𝐚𝐬𝐭𝐢𝐚𝐧, ketua geng motor yang haus kendali. Dunia novel mulai runtuh. Alur cerita berubah liar. Aluna jadi buruan. Kini, hanya ada dua pilihan: kabur atau menghadapi mereka satu per satu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhanvi Hrieya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6| Mengancam atau Diancam

Ketukan di daun pintu mengalihkan fokus Aluna dari layar smartphone, alis mata Aluna berkerut.

"Masuk!" seru Aluna menaikan intonasi nada suaranya.

Ponsel di tangannya diturunkan di saat pintu kamar terbuka, perempuan paruh baya yang berdiri di ambang pintu terbuka mengulas senyum sopan.

"Di bawah ada temannya Non Aluna, katanya udah ada janji sama Non Aluna."

Kedua kelopak mata Aluna berkedip dua kali, mendadak perasaannya tak enak. "Siapa Mbok? Si Karina?" tanya Aluna mengerutkan dahinya.

"Bukan Non," jawabnya cepat, "ini yang datang cowok, siapa tadi namanya ya..., ah! Katanya Sebastian. Iya itu namanya Non."

Aluna sontak saja terjun dari ranjang dengan mata terbelalak, reaksi sang nona muda mengundang kerutan di dahi pembantu.

"Mbok ngomong apa sama dia? Mbok bilang kalo aku ada di rumah? Mbok nggak ngomong kayak gitu 'kan, ya?" Aluna tampak panik.

Perempuan paruh baya itu meringis kecil, menatap takut-takut ke arah nona mudanya. Dari reaksi sang pembantu saja Aluna sudah dapat menebak, Aluna mengerang tertahan.

"..., kalo gitu gimana kalo Mbok balik lagi ke bawah dan ngomong kalo Non Aluna nggak ada di rumah," gumamnya hati-hati saat berbicara.

Aluna mendengus, dan melambaikan tangan. "Nggak perlu, udah terlanjur juga mau gimana lagi. Mbok turun aja duluan ke bawah, kasih itu anak minum dan cemilan."

"Baik, Non."

Pintu kamar kembali ditutup perlahan, kedua sisi pipi Aluna mengembung kesal. Ia pikir Sebastian akan menunggunya sampai besok pagi, siapa sangka jika pria itu malah mendatangi rumahnya.

"Udahlah, ini mah ceritanya maju kena mundur kena dah kek film Warkop aja," gerutu Aluna, menghentak-hentakkan kedua tungkai kakinya.

...***...

Langkah kaki Aluna melambat saat ia sampai di ruang tamu, atensi Sebastian bergerak ke arah Aluna. Aluna duduk berhadapan dengan Sebastian, jari jemari lentik di atas pangkuannya saling bertautan. Aluna mengulas senyum paksa untuk Sebastian, ekspresi wajah Sebastian acuh tak acuh.

"Mau ngehindar, huh?" Sebastian menarik naik sebelah alis mata tebalnya ke atas, melirik lurus ke mata Aluna.

Senyum karir di bibir Aluna mendadak memudar, ia menyandarkan punggung belakangnya di sandaran sofa. Aluna sudah berusaha membujuk Sebastian tapi, pria di depannya ini tak goyah sama sekali.

'Nyebelin banget ini cowok, dibujuk pakek cara lembut nggak mempan. Gue Aluna, nggak bakalan nyerah kek gitu aja.' Aluna melipat kedua tangannya di bawah dada merubah taktik.

"Ngehindar," ulang Aluna dengan ekspresi mencibir, "gue nggak pernah ngehindar, gue bukan pengecut. Soal apa yang terjadi antara gue dan si Jayden itu pure kecelakaan, gue bakalan nemuin si Jayden secepatnya tapi bukan sekarang. Kalo pun gue ke sana sekarang, gue kira nggak bakalan ada jalan penyelesaian di antara kita berdua."

Alis mata Sebastian yang naik sebelah langsung turun kembali, seringai terbit di bibir Sebastian. Gadis remaja di depannya itu terdengar sangat percaya diri, Sebastian mengetuk permukaan meja dengan jari jemari telunjuknya.

"Hei! Keknya lo salah paham Aluna. Siapa yang bilang Jayden mau berdamai sama lo, hidup dan mati lo ada di tangan Jayden. Bukan di tangan lo," balas Sebastian merendahkan intonasi nada suaranya, matanya mengedar menatap rumah besar yang kini ia datangi.

Aluna tanpa sadar menahan napasnya, mengangkat dagunya ke atas. Di luar terlihat tak kenal takut, jauh di dalam hatinya ia mulai ketar-ketir.

"Lo pikir keluarga angkat lo bisa nyelamatin lo? Lo salah, Aluna. Bahkan Jayden sangat mudah nyingkirin keluarga angkat lo dari dunia bisnis. Jangan lupa siapa lo dan siapa Jayden," sambung Sebastian pelan namun memastikan.

Kedua kelopak mata Aluna berkedip dua kali, Sebastian bangkit dari posisi duduknya. Mendengus mencibir keangkuhan Aluna—anak angkat, perempuan dengki yang tengah menggali lubang kuburannya sendiri.

Sebastian melangkah menuju pintu ke luar, Aluna berdiri mendadak kedua tangannya di lipat diturunkan dan mengepal.

"Gue emang nggak ada apa-apanya tapi, Sebastian kayaknya lo nggak sepenuhnya benar. Kalo gue hancur, gue bakalan nyeret lo," kata Aluna mengeraskan intonasi suaranya.

Langkah kaki Sebastian berhenti mendadak, alis matanya berkerut. Sebastian menoleh ke belakang, manik mata hitam kelamnya bersitatap dengan manik mata Aluna. Sebelah sisi bibir gadis remaja itu ditarik tinggi ke atas, Aluna melirik Sebastian dengan ekspresi rumit.

"Lo? Mau ngehancurin gue?" Sebastian mencemooh.

Kepala Aluna mengangguk tegas, "Yap! Lo pastinya tau siapa gue. Gue bukan cewek biasa, gue licik dan cerdik. Sebastian oh Sebastian, gue punya dua kartu bagus soal lo. Dari dua kartu yang gue punya, sangat mudah buat gue ngehancurin hidup lo. Well, lo bisa pilih di antara keduanya. Dikirim ke luar negeri, atau didepak dari persahabatan penting lo."

Sebastian tidak langsung membalas kedua matanya menyipit, beberapa detik kemudian kekehan renyah mengalun. Sebastian melangkah mendekati Aluna, kedua berdiri saling berhadapan. Kedua telapak tangan Aluna berkeringat, senyum miring di bibir gadis remaja itu masih bertahan.

"Apa yang lo—"

"Foto, gue punya foto lo balapan liar. Dan paling penting gue juga punya bukti kalo lo suka Zea. Dekatin dia di belakang Gavino, gimana? Bukankah dua kartu punya gue bagus banget. Lo tinggal pilih mau bantuin gue terhindar dari Jayden atau kita bisa hancur bersama-sama." Aluna mendongak, memotong perkataan Sebastian.

Otot wajah Sebastian kaku, matanya melototi Aluna. Aluna mengangkat kedua tangannya, menarik resleting jaket kulit hitam milik Sebastian ke atas. Telapak tangannya yang basah menepuk kecil kedua sisi dada bidang Sebastian, ia terkekeh ringan sebelum mundur dua langkah ke belakang.

Aluna merebahkan tubuhnya ke sofa kembali, tersenyum puas melihat ekspresi wajah Sebastian.

"Gue tau Bokap lo bukan orang penyabar, apalagi lo punya saudara seayah. Ah, bukan. Maksudnya gue anak pelakor yang siap sedia gantiin posisi lo, nilai lo nggak sebagus Jayden. Keluarga lo nggak sebaik Gavino, serta nggak sekuat Kai. Salah langkah Nyokap lo pun bakalan ikut terlantar, sementara Gavino. Lo dan gue tau, seberapa obsesnya dia sama Zea. Power keluarga Gavino bisa menenggelamkan lo," lanjut Aluna menampar Sebastian dengan fakta pahit yang ia tutup rapat-rapat.

Gigi geraham Sebastian bergemretak, manik mata hitamnya berkilat tajam. Tatapan mata Sebastian seperti binatang buas yang siap menerkam mangsa, deru napasnya tersengal-sengal dengan mata memerah.

"Lo..., brengs*k," maki Sebastian nyaris berbisik.

Kedua kelopak mata Sebastian tertutup menekan gejolak emosi di dalam dadanya, entah bagaimana gadis itu mengetahui fakta yang tak semua orang ketahui. Bahkan tiga sahabatnya tidak mengetahui rahasia gelap keluarganya, kelopak mata Sebastian kembali terbuka.

"Oke, gue bakalan bantuin lo. Sekali, dan lo harus tutup mulut lo. Sebelum gue bikin lo tutup usia," putus Sebastian serak.

Aluna mengangguk, Sebastian membalikkan tubuhnya melangkah terburu-buru menuju pintu keluar. Punggung belakang Aluna basah, jari jemari tangannya bergetar hebat. Embusan napas lega dari mulutnya mengalun, suara jantungnya berdebar keras.

"Gila! Gue rasanya mau mati berdiri. Tekanan aura Sebastian bikin gue sesak, untung gue baca flashback hidupnya. Kalo nggak, mampus gue." Telapak tangan Aluna mengusap dadanya naik-turun.

1
Jessica Elvira Aulia
lanjut🙏
Dhanvi Hrieya: 🫶🏻🫶🏻❤️❤️❤️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!