NovelToon NovelToon
PESONA BRONDONG UGAL-UGALAN

PESONA BRONDONG UGAL-UGALAN

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / Diam-Diam Cinta / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Senja_Puan

"Mantan kabur, adiknya malah melamar? Dunia ini sudah gila!"
Bagi Cantik (26 tahun), hidupnya berakhir tragis saat rencana pernikahannya hancur karena Satria, sang calon suami, ketahuan selingkuh tepat sebulan sebelum hari H. Di tengah rasa sakit hati dan niatnya untuk menutup diri dari laki-laki, sebuah kekacauan muncul di depan pagarnya.
Bukan Satria yang datang meminta maaf, melainkan Juna (18 tahun), adik kandung Satria yang baru saja pamer foto ijazah SMA. Tidak tanggung-tanggung, bocah ugal-ugalan itu datang membawa rombongan motor sport, spanduk lamaran, hingga surat izin menikah dari ibunya sendiri!
Bagi Cantik, Juna hanyalah "bocil" bau matahari yang tidak tahu diri. Namun bagi Juna, Cantik adalah bidadari yang sudah ia incar sejak ia masih memakai seragam putih-abu.
"Lu itu berlian, Kak! Nggak pantes nangisin kerikil kayak Bang Satria. Daripada jadi mantan kakak, mending jadi istri adek. Gaskeun?!"
Sanggupkah Cantik mempertahankan tembok gengsinya mengahadapi pesona Juna?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6 Undangan Berlapis

Satu bulan telah berlalu sejak insiden "Cuka di Kedai Bakso" yang legendaris itu. Bagi Cantik, tiga puluh hari terakhir adalah proses dekonstruksi hati.

Dia belajar bahwa melupakan seseorang tidak butuh waktu bertahun-tahun jika orang tersebut memberikan alasan yang cukup kuat untuk dibenci.

Cantik sudah mulai kembali ke rutinitasnya sebagai wanita karier yang tangguh, meskipun setiap pagi ia masih harus berhadapan dengan gangguan frekuensi dari Juna—si brondong ugal-ugalan yang kini sudah naik pangkat menjadi "ajudan pribadi" tidak resminya.

Sore itu, langit Jakarta berwarna jingga keunguan, memberikan suasana tenang yang jarang terjadi.

Cantik sedang duduk di teras rumahnya, mengenakan kaus santai dan celana kain, menikmati segelas es teh manis yang es batunya mulai mencair.

Dia sedang menunggu Juna yang katanya sedang berjuang di antrean martabak telur "spesial pemicu rindu".

Ketenangan itu pecah saat sebuah mobil sedan hitam yang sangat ia kenali berhenti perlahan di depan pagar. Jantung Cantik mencelos sesaat. Itu mobil Satria.

Mobil yang dulu sering membawanya bermimpi tentang masa depan, tentang cicilan rumah, dan tentang nama anak-anak mereka.

Satria keluar dari mobil. Penampilannya berubah. Jika biasanya dia selalu tampak klimis dan rapi sebagai manajer muda yang menjanjikan, sore ini dia tampak kusam.

Kemeja birunya kusut, rambutnya tidak tertata, dan ada lingkaran hitam yang dalam di bawah matanya. Dia berjalan mendekati teras dengan langkah yang ragu, seolah setiap jengkal tanah yang ia injak adalah ranjau darat.

"Cantik..." sapa Satria pelan. Suaranya serak, kehilangan wibawa yang dulu sering dipujanya.

Cantik tidak berdiri. Dia tetap duduk tenang, menyesap es teh manisnya perlahan, lalu meletakkan gelas itu dengan bunyi ting di atas meja kaca.

"Mau apa lagi, Sat? Kalau lu datang buat minta maaf, gue udah maafin lu demi ketenangan batin gue sendiri. Tapi kalau lu datang buat minta balik karena baru sadar selingkuhan lu itu nggak seindah bayangan, mending lu putar balik sekarang sebelum gue panggil satpam."

Satria tersenyum kecut, sebuah senyum yang penuh dengan rasa malu dan kehancuran harga diri.

"Aku... aku nggak datang buat minta balikan, Cantik. Aku tahu aku sudah menghancurkan segalanya. Aku tahu aku laki-laki paling brengsek yang pernah ada di hidupmu."

"Bagus kalau lu sadar," sahut Cantik datar.

"Lalu?"

Satria merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah amplop panjang berwarna broken white dengan aksen emas timbul yang mewah.

Dia menyodorkannya dengan tangan yang sedikit gemetar. Cantik menerima amplop itu. Begitu jemarinya menyentuh permukaan kertas yang mahal itu, dia langsung tahu benda apa ini. Sebuah undangan pernikahan.

Di bagian depan, tertulis dengan tinta emas yang berkilau: The Wedding of Satria & Sintia.

Cantik tertegun sejenak. Ada rasa geli yang tiba-tiba merayap di ulu hatinya.

Dia membuka undangan itu, membaca detailnya. Resepsi akan diadakan di sebuah hotel berbintang minggu depan. Cepat sekali. Terlalu cepat untuk sebuah pernikahan yang sehat, namun sangat masuk akal untuk sebuah pernikahan "kecelakaan".

"Kami... kami akan menikah minggu depan," ujar Satria, suaranya terdengar hampa, sama sekali tidak ada nada bahagia layaknya seorang calon pengantin pria.

"Orang tua Sintia terus menekan. Perutnya sudah mulai kelihatan, Cantik. Aku harus tanggung jawab."

Cantik menutup undangan itu dengan bunyi plak yang mantap. Dia menatap Satria dengan tatapan yang kini bukan lagi penuh benci, melainkan penuh kasihan.

"Penghormatan? Lu bawa undangan pernikahan lu ke depan muka perempuan yang lu khianati sebulan lalu dan lu sebut ini penghormatan?"

"Aku cuma mau kamu tahu dari aku langsung, bukan dari media sosial," bela Satria lemah.

"Sat, dengerin gue," Cantik berdiri, melipat tangannya di dada.

"Lu datang ke sini bukan buat 'menghormati' gue. Lu datang ke sini karena lu pengen lihat gue hancur, kan? Lu pengen lihat gue nangis, melarang lu nikah, atau setidaknya memohon supaya lu jangan pergi. Lu pengen ngerasa masih punya kuasa atas perasaan gue supaya lu ngerasa lebih baik atas pilihan buruk yang terpaksa lu ambil."

Satria bungkam. Dia menunduk, menatap ujung sepatunya yang berdebu.

"Tapi sori, Sat. Harapan lu meleset jauh," lanjut Cantik dengan tawa hambar.

"Gue justru mau bilang terima kasih. Terima kasih karena lu sudah memilih Sintia. Dengan begini, Tuhan menjauhkan gue dari laki-laki yang nggak punya pendirian kayak lu. Bayangin kalau gue baru tahu sifat asli lu setelah kita nikah? Itu jauh lebih mengerikan daripada lihat undangan ini."

Tepat saat itu, raungan knalpot motor sport yang sangat familiar membelah kesunyian komplek. Juna datang dengan gaya khasnya—sedikit ugal-ugalan namun penuh perhitungan.

Dia melakukan pengereman mendadak yang menghasilkan decitan ban yang dramatis tepat di belakang mobil Satria.

Juna turun dari motor, masih mengenakan jaket denim dan helm hitamnya. Dia melangkah masuk ke halaman dengan kepercayaan diri setinggi langit. Begitu melihat Satria, matanya langsung menyipit tajam.

"Wih, ada hajatan apa nih? Ada mobil rongsokan parkir di depan wilayah kekuasaan gue?" teriak Juna lantang, suaranya memantul di dinding-dinding rumah.

Juna menghampiri mereka, melirik undangan yang dipegang Cantik, lalu merebutnya dengan gerakan kasar.

"Satria & Sintia. Wah, desainnya bagus ya. Klasik. Tapi sayang, isinya cuma berita duka buat masa depan lu, Bang."

"Juna, ini urusan orang dewasa. Kamu jangan ikut campur!" bentak Satria, mencoba mengembalikan sisa-sisa wibawanya sebagai kakak.

"Orang dewasa? Orang dewasa mana yang ngehamilin anak orang terus pamer undangannya ke mantan tunangannya?" Juna merangkul bahu Cantik dengan protektif, menariknya mendekat hingga Cantik bisa mencium aroma parfum Juna yang segar.

"Selamat ya, Bang Sat. Akhirnya lu resmi dapet 'hadiah utama' dari kebohongan lu. Jangan lupa jaga kesehatan ya,

denger-denger Sintia itu hobi belanja barang branded. Semoga gaji manajer lu cukup buat beli susu bayi sekaligus tas luxury setiap bulan."

Wajah Satria memerah padam. Dia mengepalkan tangan, tapi dia tahu dia tidak akan menang melawan Juna yang lincah dan berani.

"Udah kan acaranya? Udah pamer kan? Sekarang mending lu pergi," usir Juna sambil mengibaskan tangan seolah sedang mengusir lalat.

"Gue mau makan martabak telur spesial sama bidadari gue. Dan gue nggak mau selera makan gue rusak karena bau-bau kegagalan moral yang lu bawa."

Satria menatap Cantik untuk terakhir kalinya, berharap menemukan setetes saja rasa sedih. Namun yang ia temukan hanyalah Cantik yang sedang tersenyum tipis, bersandar di bahu Juna dengan nyaman.

Satria berbalik tanpa kata, masuk ke mobilnya, dan pergi dengan perasaan hancur yang anehnya justru dialami oleh si calon pengantin.

Cantik melihat mobil itu menjauh hingga hilang di tikungan. Dia mengembuskan napas panjang, seolah seluruh sisa beban di pundaknya ikut terbang bersama debu jalanan.

"Gimana, Kak? Puas?" tanya Juna sambil melepas helmnya, memperlihatkan rambutnya yang sedikit berantakan.

"Puas banget, Jun. Makasih ya," sahut Cantik tulus.

"Sama-sama. Oh iya, ini undangan mau diapain?" Juna mengangkat amplop mewah itu.

"Mau dikoleksi buat kenang-kenangan?"

Cantik tersenyum nakal. Dia mengambil kotak martabak yang dibawa Juna, membukanya hingga aroma telur dan daun bawang yang gurih menyeruak.

"Jadiin alas martabak aja, Jun. Martabak ini terlalu berminyak kalau langsung kena kardusnya. Biar tinta emas undangan itu kena minyak martabak, biar makin 'berkilau'."

Juna tertawa lepas.

Dia dengan senang hati merobek bagian depan undangan itu dan menjadikannya alas di bawah potongan martabak yang masih panas. Mereka berdua duduk di teras, makan martabak dengan lahap di atas undangan pernikahan Satria yang kini ternoda minyak dan remah-remah telur.

"Enak, Kak?"

"Enak banget. Rasanya kayak kemenangan," jawab Cantik sambil mengunyah.

"Lu tahu nggak, Kak? Kenapa gue semangat banget ngegas motor tadi?" Juna menatap Cantik dengan serius.

"Karena gue mau mastiin kalau saat laki-laki itu datang bawa kabar buruk, gue ada di sana buat ngasih tahu dia kalau lu sudah punya kabar yang jauh lebih baik."

"Kabar apa?" tanya Cantik bingung.

Juna mendekatkan wajahnya ke telinga Cantik, membisikkan sesuatu yang membuat pipi Cantik mendadak semerah stroberi.

"Kabarnya adalah... lu sebentar lagi bakal punya calon suami yang jauh lebih keren, lebih setia, dan tentunya lebih muda."

Cantik menjewer telinga Juna dengan gemas hingga cowok itu mengaduh kesakitan.

"Dih! Percaya diri banget lu! Belajar yang bener, ngegombal mulu"

"Itu bukan gombal, itu berasal dari hati yang tulus, Kakak Cantik!" Juna tertawa, suaranya menyatu dengan suara jangkrik yang mulai bermunculan.

Sore itu, di atas selembar undangan yang hancur, tanpa Cantik sadari, ia sedang belajar menutup bab lamanya.

Dia sadar bahwa terkadang, Tuhan harus mengambil sesuatu yang kita anggap berharga hanya untuk menggantinya dengan sesuatu yang jauh lebih nyata—meskipun sesuatu itu datang dengan motor sport, helm pink, dan mulut yang tidak bisa diam.

1
Yasa
Ceritanya kocagggg, konfliknya pas, ga bertele-tele, sat set kaya Juna. wkwk
D_wiwied
langsung serangan balik ya Jun, gaskeun Jun tunjukkan ke mereka mumpung ada penonton gratis di depan mata, sirik2 dah mereka biar sekalian kejang2 🤭😆🤣🤣
D_wiwied
ga ada kapok2 nya ya mereka ini, udah dipermalukan koq ya ttp ga sadar
D_wiwied
kan emang bang Sat kakakmu satu itu Jun 🤭🤣🤣
Dian Fitriana
update
Ganis
idih najong. PD banget sampean
Senja_Puan: Juna dong🤣
total 1 replies
Ganis
Kalah itu sama seblak juga
Ganis
Juna bener-bener bikin senyum-senyum 😄
Senja_Puan: iya kan kak🤭
total 1 replies
Ganis
Good Thor, ngakak🤣
Anisa675
Ya tuhan, masih mikirin rendang🤣 Bangke banget
Senja_Puan: Alasan Juna itu kak🤭
total 1 replies
Anisa675
bengek Juna🤣
Anisa675
anjay lngsung live stream🤣
Senja_Puan: Mantap ga tuh😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!