NovelToon NovelToon
Permainan Panas Dibalik Kasus Gelap

Permainan Panas Dibalik Kasus Gelap

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir / Bad Boy
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Azura Cimory

Demi uang sepuluh milyar, Sean Yuritama rela bekerja sama dengan Christaly Jane untuk menemukan anak dari seorang miliarder yang telah lama menghilang. Jika bukan demi melunasi hutang-hutangnya, detektif swasta berparas tampan itu tidak akan sudi bekerja sama dengan gadis cerewet dengan segudang masalah. Sehingga mereka terlibat perdebatan hampir setiap waktu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azura Cimory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Apakah Suatu Kebetulan?

Siang hari itu langit tampak berwarna biru cerah, awan seputih kapas bergulung-gulung lalu perlahan tertiup angin. Udara yang bersih tak tercemar polusi dari kendaraan bermotor terasa sejuk dan melegakan.

Sejauh mata memandang tampak sawah terasiring yang hijau membentang berumpak-umpak rapi. Tersusun seperti layaknya anak tangga berbentuk setengah lingkaran.

Angin yang sepoi-sepoi menggoyang tanaman padi, hingga seolah-olah mereka melambaikan tangan menyambut kedatangan Sean dan Christaly di desa terpencil yang akan dijadikan markas utama selama mereka melakukan penyelidikan.

Belum pernah selama hidupnya Christaly melihat pemandangan yang begitu indah, hamparan sawah, pepohonan, dan pegunungan di latar belakang. Sejenak, dia berhenti untuk mengagumi keindahan ciptaan Tuhan yang begitu sempurna.

Christaly menghirup udara sebanyak mungkin ke dalam paru-parunya sambil memejamkan mata menikmati desiran angin.

Suasana di desa itu benar-benar membawanya kembali pada kenangan masa lalunya saat dia pergi ke Sukabumi untuk mengunjungi neneknya. Kedamaian alam, udara yang segar dan bersih, dan suara gemerisik angin menggesek dedaunan.

“Hei, ayo cepat. Kamu mau sampai kapan berdiri di sana kayak orang bodoh begitu, hah?”

Omelan dari Sean sontak membangunkan lamunan setengah sadar Christaly. Sekali lagi dia mengedarkan pandangannya lalu berbalik sambil balas mengomel.

“Huh! Dasar laki-laki, mana tahu dia betapa indahnya alam,” ujar Christaly. Dia mempercepat langkahnya, mengekor di belakang Sean. “Omong-omong, rumah yang akan kita tempati itu masih jauh nggak sih? Aku capek, nih.”

“Kita udah mau sampai, kok. Nah, itu dia rumah yang akan kita tempati,” sahut Sean sambil menunjuk ke arah sebuah rumah kecil yang terbuat dari papan. “Ingat, ya, Chistaly. Selama kita di sini kamu harus pura-pura jadi adikku supaya nggak dicurigai orang. Ngerti, nggak?”

“Iya, iya. Cerewet kamu, ah. Kamu sudah mengatakan itu berulang kali dari tadi pagi.” Christaly menyahut cepat-cepat.

“Awas saja kamu, ya, kalau kamu sampai kelupaan. Aku bakal potong komisim sebanyak lima belas persen,” ancam Sean.

“Enak saja, nggak bisa begitu dong. Diperjanjian kan nggak ada kesepakatan yang seperti itu,” protes Christaly kesal.

“Diperjanjian memang nggak ada, tapi ini akan masuk ke perjanjian yang nggak tertulis,” jawab Sean dengan seenaknya. “Ingat, Christaly. Di sini aku atasanmu. Jadi, aku bebas mau melakukan apa saja kepadamu. Termasuk memotong komisimu kalau kamu membuat kekacauan.”

“Kamu ini benar-benar, ya. Keterlaluan!” geram Christaly merah. “Maumu sebenarnya apa, sih, Sean?!”

“Jelas, kan, kalau aku mau kamu jangan sampai membuat kekacauan? Kalau kamu nggak bertingkah dan bikin kacau, ya, kamu bakalan tetap dapat jatah sesuai dengan kesepakatan pertama,” jawab Sean. “Tapi, kalau kamu bikin kekacauan, aku akan memotong komisimu sebanyak lima belas persen setiap kali kamu bikin masalah. Kalau dua kali kamu bikin kacau, maka aku akan memotong komisimu sebanyak tiga puluh persen. Dan itu berlaku untuk kelipatan lainnya.”

“Huh! Dasar kejam!” maki Christaly sambil dia menyeret kopernya dengan lebih cepat. Dia berjalan mendahului Sean. “Kamu ini manusia apa bukan, sih? Nggak punya perasaan.”

Sean menyusul Christaly, berjalan lebih cepat. “Hei, aku begini itu demi kebaikanmu, tahu! Kalau kamu nggak diancam begitu, kamu nggak akan berhati-hati dalam bertindak. Akan seenaknya saja. Itu berbahaya dan berisiko membuat misi penyelidikan kita gagal,” bantah Sean keras.

“Ingat, Christaly. Misi kita ini bukan main-main, kalau kita gagal maka nyawa kita akan melayang. Jadi, nggak boleh ada kesalahan apalagi kecerobohan. Mengerti?!”

Christaly tidak menghiraukan Sean. Dia terpukau oleh rumah kecil yang berada di hadapannya. Rumah itu terbuat dari kayu. Tampak sederhana tapi sangat nyaman di pandang mata.

Ada banyak sekali tanaman di halamannya. Beraneka ragam bunga kampung yang bermekaran warna-warni. Beberapa ada juga yang di gantung di teras. Rumah itu dicat warna kuning cerah yang dikombinasi dengan hijau muda.

Warna mencolok yang tampak tidak serasi itu, entah mengapa justru menjadi selaras dengan banyaknya rumpun bunga warna-warni dan latar belakang rumah yang berwarna hijau tua dari pepohonan.

“Cepat buka pintunya, Sean. Aku udah nggak sabar pengen masuk dan lihat-lihat isinya,” kata Christaly sambil dia mengedarkan pandang ke seluruh bagian depan rumah dengan kagum.

“Iya, iya. Cerewet.” Sean maju dan mengeluarkan kunci dari saku celana jinsnya. Dia memasukkan anak kunci yang dibawanya lalu memutarnya sebanyak dua kali. Dua kali suara klik pun terdengar dengan segera.

Sean meraih daun pintunya lalu menariknya terbuka. “Sudah, Tuan Putri. Silakan masuk lebih dulu,” kata Sean mengejek Christaly.

“Sialan kamu!”

Rumah yang Sean dan Christaly tempati letaknya cukup terpencil. Hanya ada satu rumah lain di sana, itu pun jaraknya cukup jauh. Rumah yang mereka tempati sendiri Sean sewa dari seorang penduduk yang akan pergi merantau ke Kalimantan satu keluarga.

Sebelum mereka berangkat ke Malang, dibantu Vera, Sean mencari rumah di daerah sekitar desa yang dia jadikan target penyelidikan yang disewakan atau melalui sebuah situs di internet.

Setelah mendapatkan rumah yang cocok, Sean membuat janji temu langsung untuk mendiskusikan harga sewa sekalian pembayaran begitu dia sampai di Malang. Dan dalam praktiknya, justru bukan Sean yang banyak mengambil peran dalam negosiasi harga. Melainkan, Vera. Dia secara aktif bernegosiasi dengan si pemilik rumah hingga mencapai kesepakatan harga yang jauh lebih murah dari sebelumnya.

“Hem, rumah ini lumayan juga,” kata Christaly. “Ruang tamunya cukup luas dari yang aku bayangkan.”

Christaly duduk di dipan kayu yang ada di ruang tamu. Dia melepaskan ransel yang digendongnya di sebelahnya lalu dia meregangkan tangannya. Sean masuk lalu menutup pintu dari dalam. Dia menyalakan lampu lalu menaruh ranselnya di lantai yang hanya disemen.

“Kata si pemilik rumah di rumah ini ada dua kamar, ruang tengah, dapur, dan satu kamar mandi. Artinya kita harus gantian kalau mau ke kamar mandi. Seru sekali, bukan, karena kita bisa sering mandi berdua?” kata Sean dengan maksud yang sudah sangat jelas ke mana arah pembicaraannya.

Christaly menutup mulutnya dengan punggung tangan saat dia menguap. “Uh! Aku mengantuk. Aku mau lihat kamarku dulu,” sahutnya sambil dengan enggan bangkit berdiri. “Kamu mau kamar yang di depan atau di belakang?”

“Aku yang tidur di kamar depan. Kamu tidur di kamar yang  belakang atau terserah kamu mau tidur di mana,” jawab Sean agak sinis karena Christaly mengabaikannya.

“Huh! Padahal aku ingin kamar yang di depan, yang ada jendelanya itu. Tapi, ya sudahlah. Aku malas berdebat. Ngantuk.”

Christaly mengambil koper dan ranselnya. Lalu sambil terus saja menguap dia pergi ke kamar tidurnya. Begitu juga dengan Sean. Setelah dia kembali mengunci pintu dia mengambil ransel beserta koper yang di bawanya masuk ke kamar. Setelah itu dia membukai gorden jendela dan mulai mengamati kondisi di luar.

“Semua ini apa nggak terlalu kebetulan?”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!