Steven ---seorang Gumiho yang telah tertidur selama 1000 Tahun demi untuk naik tingkat menjadi seorang dewa. Namun di hari terakhirnya, seorang manusia mengacaukan pengorbanan nya.
Setengah kekuatan yang di miliki Steven berpindah pada manusia itu. Membuat dirinya harus tertunda menjadi dewa.
Zoelva Erlangga---- gadis lemah yang selalu di bully oleh ketiga Kakak dan ibu tirinya setiap kali Ayah nya tidak ada. Namun segalanya berubah saat kekuatan asing melindungi nya dan menjadikan nya sangat kuat.
Steven yang menginginkan kekuatan nya kembali. Namun Zoe yang merasa bisa melawan ibu tiri serta ketiga Kakak tirinya dengan kekuatan itu. Justru menolak untuk mengembalikan kekuatan tersebut.
Sementara Rahasia lain telah menantinya.
Bagaimana kisahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ROGUES POINEX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekuatan
Mata Tina melotot lebar, urat-urat di lehernya menegang saat melihat darah segar mengucur dari tangan putranya. "KURANG AJAR KAMU! BERANI-BERANINYA KAMU MENYAKITI ANAK KANDUNGKU!" teriaknya histeris.
Tina melangkah maju dengan penuh amarah. Tangannya yang gemetar sudah terangkat tinggi di udara, siap melayangkan tamparan keras yang biasanya membuat Zoe tersungkur. Namun, kali ini berbeda. Sebelum telapak tangan itu menyentuh kulitnya, gerakan Zoe seolah didorong oleh insting purba yang tak kasat mata.
Tangan Tina tertahan di udara, dicengkeram oleh hawa dingin yang mendadak muncul di antara mereka. Seluruh pelayan di ruangan itu menahan napas--- suasana menjadi begitu sunyi hingga detak jantung pun terdengar. Mereka ngeri melihat transformasi Zoe yang biasanya rapuh menjadi begitu mengerikan.
"Lalu aku harus apa, Ma?" tanya Zoe. Suaranya datar, tanpa emosi, namun mengiris udara. "Apa aku harus berdiri diam, tersenyum manis, dan membiarkan Dika mencambukku dengan ikat pinggang itu sampai kulitku mengelupas? seperti yang selalu kalian lakukan?"
Tina tertegun. Ia membenci sorot mata itu—sorot mata yang tidak lagi mengandung ketakutan. Dulu, Zoe akan bersimpuh, mencium ujung kakinya sambil terisak memohon ampun. Namun sekarang, sepasang mata itu menatapnya balik dengan kedinginan yang mampu membekukan sumsum tulang.
"Ada yang salah dengan anak ini," batin Tina merinding.
Tiba-tiba, iris mata Zoe berpendar, berubah warna menjadi perak cair yang berkilau mistis. Detik itu juga, penglihatan Zoe terdistorsi. Dunianya berputar. Di depannya, sosok Tina memudar, digantikan oleh bayangan seorang nenek tua berpakaian kumal dengan wajah yang dipenuhi kerutan hitam membusuk.
Zoe tersentak. Ia mundur beberapa langkah, jantungnya berdegup kencang. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali hingga bayangan mengerikan itu sirna, mengembalikan wajah merah padam ibu tirinya.
"Apa aku salah lihat?" batin Zoe, napasnya memburu.
"Kurang ajar kamu, ya! Sudah berani melawan sekarang, haa?!" bentak Tina lagi, mencoba menutupi kegelisahannya sendiri.
Zoe berdiri tegak, auranya berubah menjadi dominan. "Ingat satu hal, Ma. Ini adalah rumahku. Darah papaku mengalir di setiap fondasi bangunan ini. Kalian hanyalah orang asing yang datang membawa koper kosong dan mengaku sebagai keluarga."
Ia melangkah maju, memperkecil jarak hingga Tina bisa merasakan hawa dingin yang keluar dari tubuh Zoe. "Berterima kasihlah karena Papa masih cukup baik hati untuk menampung kalian. Jadi, jangan pernah sekali pun mencoba merasa berkuasa di tanah yang bukan milikmu."
Zoe melengos pergi tanpa menunggu jawaban. Di belakangnya, Milo menggeram rendah ke arah Tina sebelum mengikuti tuannya dengan langkah yang tenang namun mengancam.
Zoe terduduk kaku di tepi ranjang yang berderit pelan. Napasnya memburu, tidak beraturan. Ia mengangkat kedua telapak tangannya ke depan wajah, menatap jemari yang masih terasa panas dan bergetar hebat.
"Ada apa sebenarnya dengan diriku? Kenapa aku bisa sekuat itu?" bisik Zoe, suaranya parau seolah tertahan di tenggorokan. "Tadi itu... aku hampir meremukkan leher Dika seolah dia hanya segumpal jerami. Kekuatan ini bukan milikku, Milo. Itu tidak masuk akal."
Milo kini meringkuk di sudut ruangan dengan telinga tegak dan tatapan penuh selidik. "Nona, sejak Anda melangkah melewati pintu kamar ini, bulu kudukku tidak bisa tenang," sahut Milo dengan suara berat yang penuh kecurigaan. "Tubuh Nona mengeluarkan aroma hewan yang sangat pekat dan sesuatu yang... kuno. Aura yang melingkupi Nona saat ini terasa dingin dan tajam, sangat berbeda dari Nona Zoe yang kukenal."
Zoe bangkit dengan gerakan yang tidak wajar—terlalu luwes dan cepat. Ia berjalan mendekati cermin besar di sudut kamar.
"Aku jatuh ke dasar jurang yang seharusnya meremukkan tulang-tulangku," gumam Zoe sambil menyentuh permukaan kaca, menatap pantulan matanya yang kini tampak lebih pekat. "Tapi saat aku terbangun, rasa takutku menguap begitu saja. Keberanian ini terasa asing, seolah disuntikkan paksa ke dalam nadiku. Dan lihat ini..."
Zoe memperlihatkan kulit yang mulus tanpa cacat. "Luka goresan dan memar di tubuhku hilang sepenuhnya tanpa bekas dalam sekejap. Ini mustahil bagi manusia biasa."
"Dan kenyataan bahwa Nona bisa mendengar serta menjawab setiap perkataanku dengan sejelas ini..." Milo berdiri, perlahan mendekati Zoe namun tetap menjaga jarak. "Itu adalah keanehan yang paling mengerikan dari semuanya. Sesuatu telah 'ikut' pulang bersama Nona dari jurang itu."
Zoe mengepalkan tangannya, menatap pintu kamar yang terbuat dari kayu jati solid, besar dan menjulang tinggi. Sebuah ide gila melintas di benaknya.
"Kalau begitu, mari kita buktikan seberapa jauh 'keanehan' ini telah merasukiku," ucap Zoe dingin.
Milo tersentak, telinganya tegak karena cemas. "Nona! Apa yang ingin Nona lakukan? Jangan bertindak gegabah!"
"Jika aku memang menjadi kuat, aku harus membuktikannya. Pintu ini... pintu ini cukup kokoh untuk menahan beban ratusan kilogram," Zoe berdiri tegak di depan pintu, memasang kuda-kuda. "Jika aku hanya manusia biasa, tanganku akan patah atau tubuhku akan remuk saat menghantamnya. Tapi jika tidak..."
Zoe memejamkan mata, memusatkan seluruh emosi dan energi asing yang bergejolak di dalam dadanya ke ujung kepalan tangannya. Milo menahan napas, memalingkan wajah karena tidak sanggup melihat majikannya mencelakai diri sendiri.
BRAAAKKKK!!!
Bukan sekadar suara benturan, tapi ledakan kekuatan yang mengerikan. Pintu jati yang berat itu terlepas sepenuhnya dari engselnya, melesat seperti anak panah, melayang keluar dari lantai lima menuju kehampaan di bawah sana.
DUAGH!
Suara hantaman benda padat di lantai dasar terdengar begitu memuakkan, diikuti oleh jeritan melengking yang menyayat udara.
"AARRGGGGGGKKKK!!!"
Zoe tertegun, melangkah mendekat. Di bawah sana, ia melihat pemandangan yang mengerikan--- pintu besar itu mendarat tepat di atas tubuh Maudy yang kebetulan sedang melintas. Zoe berdiri mematung, melihat kekuatannya sendiri dengan tatapan yang sulit diartikan—antara ngeri dan kepuasan yang mulai tumbuh.
Di bawah sana, suasana seketika mencekam. Maudy hanya sempat meringis kesakitan sebelum matanya memutar ke atas dan jatuh pingsan. Semua orang yang menyaksikan kejadian itu membeku.
Dika yang lehernya masih memerah, Alfa, Surya, dan Jimmy—yang baru saja bisa bernafas karena Zoe—kini kembali gemetar hebat dengan wajah pucat pasi. Sementara Tina, yang sedang memegang kapas untuk mengobati luka Dika, hanya bisa menganga dengan tangan yang menggantung di udara.
"A--apa itu? Apa yang baru saja jatuh?" tanya Alfa dengan suara terbata-bata, nyaris seperti bisikan.
"I--itu terlihat seperti pintu... tapi bagaimana mungkin?" sahut Surya, suaranya hilang timbul.
"ASTAGA! MAUDY! MAUDY DI BAWAH SANA!" teriak Tina histeris, memecah keheningan yang mencekam tersebut saat ia menyadari putrinya tertimbun pintu raksasa yang jatuh dari langit-langit.
Di atas sana, sang pelaku utama berdiri tegak di pembatas lantai lima. Zoe menunduk, menatap kekacauan di ruang tamu bawah dengan tatapan yang sedingin es kutub. Tidak ada penyesalan, tidak ada ketakutan.
Zoe perlahan mengangkat telapak tangannya sendiri, memperhatikannya dengan seksama seolah baru saja menemukan senjata rahasia yang paling mematikan.
"Kau benar, Milo," bisik Zoe, suaranya terdengar sangat tenang namun mengintimidasi. "Aku tidak kembali sendirian ke neraka ini. Ada sesuatu yang ikut terbawah bersamaku. Kekuatan ini... kekuatan yang akan memastikan bahwa mulai detik ini, akulah yang akan memegang kendali atas rasa sakit mereka."
Matanya kembali menatap tubuh Maudy yang tak berdaya."Kalo begitu... inilah saatnya untuk pembalasan."
•
•
•
BERSAMBUNG
tapi semoga stev adalah jodoh Zoe dan nanti anak" mereka mewarisi kekuatan orang tuanya, pasti seru tuh...ayo Thor tambah semangat, buat ceritanya tambah menarik dan seru 💪💪💪💪😘😘😘😘