''Semua laki-laki sama, termasuk kamu."
Duniaku hancur saat tahu Ayah punya keluarga lain. Malam itu juga, aku pergi meninggalkan rumah, kenangan, dan laki-laki yang paling mencintaiku tanpa satu pun kata pamit. Bagiku, cinta hanya sebuah kepalsuan.
Lima tahun berlalu, aku kembali sebagai wanita mandiri yang keras hati. Namun, takdir mempertemukanku lagi dengannya di sebuah persimpangan.
Dia tidak lagi mengejarku. Dia hanya memilih duduk di sampingku saat aku menangis, mendengarkan tanpa banyak tanya, dan menjagaku dari kejauhan.
Apakah aku sanggup membuka hati, saat bayang-bayang pengkhianatan Ayah masih menghantui? Bisakah aku berdamai dengan luka, jika memaafkan saja terasa begitu mustahil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Tepat pukul delapan pagi, mobil Farez sudah terparkir di depan pagar. Aku melangkah keluar dengan setelan kerja yang kaku, mencoba menyembunyikan kerapuhan di balik riasan yang tajam. Farez tidak banyak bicara, ia hanya membukakan pintu dan menatapku sejenak dengan sorot mata yang seolah tahu bahwa hari ini akan menjadi medan perang bagiku.
Selama perjalanan menuju butik Wira Pratama Holdings, keheningan di dalam mobil terasa begitu berat. Farez mengemudi dengan satu tangan, sementara tangan lainnya sesekali bergerak gelisah di atas tuas transmisi, seolah ingin meraih tanganku namun ia urungkan. Ia tahu, di balik sikap diamku, ada badai yang siap meledak.
Begitu mobil berhenti di depan butik megah itu, napas duniaku seolah terhenti.
Melalui kaca jendela mobil, aku melihat pemandangan yang menghancurkan sisa-sisa ketenanganku. Di depan teras butik yang mewah, Pak Wira Ayah sedang berdiri berdampingan dengan seorang wanita anggun yang mengenakan kebaya sutra mahal. Istri pertamanya. Di depan mereka, Bagaskara sedang menunjukkan sesuatu di ponselnya, dan sedetik kemudian, tawa pecah di antara mereka bertiga.
Tawa itu... terdengar begitu bahagia. Begitu tanpa beban.
Seketika, suara teriakan histeris Ibu lima tahun lalu berputar kembali di kepalaku. "Siapa mereka, Mas?!" Suara tangis Ibu yang luruh di lantai marmer dingin, aroma hujan malam saat kami terusir, dan ribuan kebohongan Ayah tentang "perjalanan bisnis" yang ternyata adalah waktu untuk tertawa bersama keluarga ini, semuanya menyerangku sekaligus.
Dadaku terasa menguap, hampa namun sesak luar biasa. Rasa mual merangkak naik ke kerongkonganku. Laki-laki itu tertawa di atas reruntuhan hidup kami.
Tanpa sadar, tanganku terkepal begitu kuat di atas pangkuan. Aku tidak lagi merasakan kuku-kukuku yang mulai menembus kulit telapak tangan. Aku hanya ingin rasa sakit fisik ini mengalihkan rasa perih di jantungku. Darah segar mulai merembes di sela jari-jariku, namun aku tetap diam, menatap pemandangan "keluarga sempurna" itu dengan pandangan yang kian mengabur.
Tiba-tiba, sebuah kehangatan yang kokoh menyelimuti kepalan tanganku.
Farez. Ia tidak berkata apa-apa. Ia tidak bertanya "kenapa". Ia hanya meraih tanganku, perlahan namun pasti memaksa jemariku untuk melonggar dari telapak tangan yang terluka. Ia menggenggam tanganku erat, seolah ingin menyalurkan seluruh kekuatannya untuk meredam getaran hebat di tubuhku.
Farez menatapku dalam diam, sorot matanya yang soft-spoken seolah berkata, "Jangan hancur di sini, Rana. Aku ada di sampingmu."
Aku memejamkan mata, menghirup aroma kayu cendana dari tubuhnya yang kini mengubur bau ketakutan dalam kabin mobil. Di luar sana, Ayah masih tertawa, namun di sini, di bawah genggaman Farez, aku dipaksa untuk kembali menapak bumi.
Farez tidak langsung membukakan pintu untukku. Dia menatapku, lalu beralih menatap luka di telapak tanganku yang mulai meneteskan darah ke atas rok kerjaku. Rahangnya mengeras. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia meraih ponselnya dan mendial sebuah nomor.
"Bayu, handle pertemuan di Wira Pratama sekarang. Katakan pada Pak Wira dan Bagaskara ada kendala teknis di kantor pusat yang harus saya selesaikan bersama Ibu Rana secara mendadak. Kirim laporan auditnya padaku lewat surel," perintah Farez, suaranya dingin dan mutlak, tidak menerima bantahan.
Begitu panggilan berakhir, dia segera memutar kemudi dengan gerakan tajam. Mobil menderu, meninggalkan halaman butik megah itu sebelum Ayah atau Bagaskara sempat menyadari keberadaan kami.
Aku hanya bisa terdiam, menyandarkan kepala pada sandaran kursi dengan napas yang masih tersengal. Pemandangan tawa mereka bertiga seolah masih tertempel di korneaku, membakar setiap inci kewarasanku.
"Kita mau ke mana, Rez? Aku harus profesional..." suaraku bergetar, nyaris tidak terdengar.
"Profesionalisme tidak menuntutmu untuk bunuh diri secara perlahan, Rana," sahut Farez tanpa menoleh. Dia memacu mobilnya menjauhi area elit itu, menuju ke arah pinggiran kota yang lebih sepi.
Dia menghentikan mobil di bawah deretan pohon peneduh yang rindang, jauh dari kebisingan gedung pencakar langit. Farez mematikan mesin, membuat kesunyian segera menyergap kabin mobil. Dia tidak langsung bicara. Dia mengambil kotak P3K dari laci dasbor, lalu meraih tanganku yang masih terkepal.
Dengan sangat hati-hati, dia membuka jemariku satu per satu. Matanya meredup saat melihat empat luka bulan sabit yang cukup dalam di telapak tanganku.
"Jangan pernah lakukan ini lagi," bisiknya, suaranya parau. Dia mulai membersihkan darah itu dengan kapas alkohol. Rasa perihnya menyengat, tapi aku tidak mengaduh. Rasa perih di tanganku masih kalah jauh dengan rasa terbakar di dadaku.
"Mereka tertawa, Rez..." air mataku akhirnya luruh, jatuh tepat di atas punggung tangan Farez yang sedang mengobatiku. "Saat aku dan Ibu berjuang setengah mati untuk menyambung hidup, mereka sedang merayakan kebahagiaan di sana. Semua itu... seharusnya milik Ibu."
Farez berhenti sejenak, membiarkan aku terisak. Dia menempelkan plester dengan gerakan yang sangat lembut, lalu tanpa diduga, dia menarikku ke dalam pelukannya. Dia tidak berkata "sabar" atau "lupakan saja". Dia hanya membiarkan pundaknya menjadi tempat kotor bagi air mataku dan riasanku yang luntur.
"Aku tahu, Na. Aku tahu," gumamnya di telingaku, tangannya mengusap punggungku dengan ritme yang menenangkan. "Tapi kalau kamu hancur sekarang, mereka menang. Kita akan ambil kembali semuanya, tapi tidak dengan cara menyakiti dirimu sendiri seperti ini."
Di dalam pelukannya, di tengah kesunyian pinggiran Jakarta, aku menyadari bahwa Farez adalah satu-satunya orang yang tidak hanya melihat kesuksesanku, tapi juga melihat setiap serpihan hancur yang coba kusembunyikan dari dunia.