gadis bernama Gabriela atau biasa di panggil El, berusaha membalas dendam nya kepada orang yang menyakitinya dan juga orang yang telah membunuh mama nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PrinsesAna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20
Saat ini El sedang dalam perjalanan menuju suatu. tempat dimana dia akan menahan Bima untuk sementara waktu.
Malam memang sudah cukup larut, tapi El sama sekali tidak takut berkendara di malam hari, sekali pun itu tempat sepi.
El terus berkendara menuju pinggir kota, memakan waktu tiga puluh menit, El pun sampai di depan sebuah gedung terbangkalai.
El sudah biasa ke tempat ini, tempat dimana dia selalu menenangkan diri dari berisik nya dunia.
El mengeluarkan kurai roda dan perlahan mengeluarkan Bima, setelah nya El segera masuk setelah melihat sekitar untuk memastikan tidak orang lain.
Tempat ini sangat aman, karena selama dia kesini tidak ada manusia lain yang dia temui, tapi tetap saja dia ingin memastikan agar dia bisa aman mengurung Bima di tempat ini.
"Bangun lo. " ucap El kepada Bima saat mereka sudah sampai di satu ruangan.
Seharusnya efek obat bius itu sudah habis, karena hanya satu jam setelah di suntikan.
El sudah mengikat tangan dan kaki Bima di atas tempat tidur yang tersedia di ruangan itu.
"Siapa lo, dan kenapa lo nyulik gue. " tanya Bima yang sedang berusaha melepaskan ikatan di tangan nya.
"Lo ga perlu tau siapa gue. " jawab El.
"Gila lo, gue ga ada urusan sama lo, kenal aja engga. " ucap Bima menatap tajam El.
"Lepasin gue cewek gila. " sentak Bima.
"Santai dulu, nanti lo juga bakalan lepas dari tempat ini, tapi sebelum itu rencana gue harus berhasil dan barulah lo bisa bebas. " ucap El menatap penuh ejekan pada Bima.
"Bangsa*, liat aja lo bakalan habis di tangan papa gue. " ancam Bima yang sangat yakin jika papa nya akan segera menemukan nya.
"Udah lo santai oke, karena papa tersayang lo itu ga akan bisa nemuin lo, dan saat ini apa yakin papa lo masih selamat dalam pertarungan dengan anak Venom. " ucap El membuat Bima terdiam.
Dari mana cewek ini tau mengenai diri nya dan juga papa nya serta anak Venom, siapa dia sebenarnya, batin Bima bertanya-tanya.
"Gue cabut, tuh makanan dan minuman, kalau lo masih mau hidup, atau sekalian aja kabulin pemberitaan yang papa lo bikin mengenai lo yang udah mati, karena mau balas dendam sama anak Venom. " ucap El segera pergi dari tempat itu.
"Lepasin gue bangsa*." teriak Bima yang tak lagi di dengar oleh El.
El sendiri sudah menutup pintu itu, dan ruangan itu tak akan mudah di temui oleh orang jika mereka masuk kedalam bangunan ini.
El duduk diam di dalam mobil sambil melihat rekaman cctv yang ada di dalam ruangan Bima.
"Kalau rencana gue udah beres, lo bakalan bebas. " ucap El saat melihat jika Bima seperti berteriak dan berusaha melepaskan ikatan di tangan nya.
"Gue ga sabar liat reaksi papa lo bagaiamana jika tau putra tersayang nya hilang. " kekeh El yang segera pergi meninggalkan tempat itu.
Terserah Bima saja mau berteriak sekuat tenaga nya, karena tidak akan ada orang yang mendengar di tengah hutan seperti ini.
El berkendara pulang menuju apartemen nya, waktu sudah menunjukkan hampir subuh, El sudah sangat mengantuk rasa nya tapi dia tak boleh sampai celaka juga.
hampir satu jam perjalanan , El pun sampai di dalam apartemen nya, El mengganti pakaiannya nya dan segera tidur, karena tidak mungkin besok dia harus bolos lagi.
El sungguh sangat menghindari terkena amukan ayah nya, karena banyak hal yang harus di selidiki mengenai Handaru dan juga Hana.
...
Pagi hari nya El bangun lebih cepat agar tidak telat lagi, dan pagi ini benar saja dia pergi sekolah sebelum bell masuk berbunyi.
"Pagi El. " sapa Risa yang masih terus berusaha untuk menjadi teman El.
"Hmm." jawab El dengan deheman, karena memang seperti itu lah dia biasa nya.
"Lo ga usah nyapa dia lagi Ris, udah jelas dia terang-terangan ga mau temenan sama lo. " ucap Ryan yang tidak suka melihat respon El saat di sapa oleh Risa dengan senyuman hangat.
"Apa sih Yan, justru gue pengen banget temenan sama El, dia jujur dan benar-benar tulus, ga sama dengan yang lain, kalau lo dan anak Venom ada mereka baru baik, beda sama El ada atau engga nya kalian tetap sama aja, ga munafik hanya karena ada lo dan mereka. "jelas Risa membuat Ryan terdiam.
"Tapi lo punya gue, ga harus punya teman seperti dia. " ucap Ryan membuat Risa mendengus.
"Beda Yan, gue mau beneran punya temen cewek yang apa ada nya, bukan yang selalu pura-pura baik hanya karena lo, gue juga ga mungkin temenan sama cowok terus. " ucap Risa membuat Ryan menghela nafas.
Di sisi lain El mendengar ucapan Risa dan Ryan, karena suara kedua nya yang cukup keras hingga dia dapat mendegar.
El sendiri tak peduli dengan omongan mereka, karena memang ini lah diri nya, dan takdir Risa masih jauh lebih baik dari diri nya.
Risa masih memiliki ibu yang sayang pada nya dan juga Ryan sebagai saudara nya serta anak Venom teman nya, sedangkan El sendiri sejak dalam kandungan sudah tidak di harapkan oleh ayah nya.
Dan sial nya dia harus kehilangan bunda nya, sejak kecil, pria yang seharusnya menjadi cinta pertama nya, justru menjadi luka mendalam bagi nya, dan saudara yang dia miliki satu satunya justru membenci nya juga.
Sahabat atau teman teman, bahkan El tidak memiliki itu semua, dia tidak tau bagaimana rasa nya memiliki seseorang yang berarti di dalam hidup nya, karena selama ini yang El dapatkan hanya kekerasan saja, karena itu dia tidak percaya kepada siapa, karena dia hanya memiliki diri nya sendiri untuk melindungi diri nya.
Jangan anggap dia egois, dia terlihat dingin dan cuek juga katus karena tidak ingin orang lain tau betapa menyedihkan nya kehidupan seorang Gabriela ini.
Orang lain memiliki tempat untuk pulang dan berlindung, sedangkan diri nya tidak punya itu semua, dia tak memiliki tempat pulang dan tidak memiliki tempat untuk berlindung, karena tempat yang dia punya hanya neraka dimana dia di hajar habis habisan oleh ayah kandung nya sendiri.
Mati, ya mungkin saja dia sudah lama mati hanya saja raga nya masih tetap hidup sampai saat ini, hanya saja perasaan nya yang sudah mati sejak lama.
Dan Risa justru memiliki tempat untuk berlindung dan pulang, jadi sudah jelas bukan jika kehidupan Risa lebih baik dari hidup El sendiri.