NovelToon NovelToon
Sisi Misterius Salsa

Sisi Misterius Salsa

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Cinta Seiring Waktu / Penyelamat
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

"Menikahlah dengan cucu keluarga Wijaya, setelah kakek meninggal. "
"Menikah!, sekarang? "ucap Salsa terkejut.
Salsa tidak percaya dengan ucapan kakeknya yang terbaring lemah di rumah sakit, tiba-tiba saja dia harus menikah dengan cucu temannya yang seorang polisi bernama Rian.
karena itu wasiat kakeknya yang sudah membesarkan dirinya setelah kedua orang tuanya meninggal, dirinya pun pergi ke kota membawa alamat, surat wasiat yang akan diberikan oleh keluarga Wijaya dan cincin pertunangan mereka.
Tapi Salsa menutupi identitas aslinya yang bisa melihat arwah, karena Rian orang yang sensitif jika menyangkut masalah seperti itu.
Tapi kemampuan special Salsa itu bisa membantu Rian memecahkan beberapa kasus yang sulit untuk di pecahkan.
bagaimana cerita pernikahan mereka yang banyak sekali perbedaan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 30.Siang yang bikin gugup dan ketakutan.

Selama hampir satu jam lamanya, Rian tidak bergerak sedikit pun. Ia duduk diam di sana, mempertahankan posisinya agar bahunya tetap nyaman menjadi sandaran tidur Salsa. Kakinya yang mula-mula bersila kini mulai terasa kaku dan pegal, bahu kanannya perlahan terasa kebas dan mati rasa karena beban kepala Salsa yang bersandar terus-menerus. Namun, Rian sama sekali tidak berniat membangunkan gadis itu atau menggeser tubuhnya sedikit pun. Ia hanya menatap tenang wajah damai di sampingnya, sesekali menyesuaikan napasnya agar tidak menimbulkan suara yang mengganggu ketenangan itu. Pikiran-pikiran tentang kasus 'Si Sepatu Hak Merah' yang tadinya memenuhi kepalanya kini tersimpan rapi di sudut paling jauh dalam ingatannya, tergantikan oleh sosok wanita yang kini menjadi istrinya itu.

Di luar jendela, sinar matahari pagi semakin meninggi, namun suasana di ruang tamu itu tetap hening dan damai. Sesekali angin sejuk dari kipas angin berhembus pelan, menerbangkan helai rambut Salsa hingga menyapu lembut di pipi dan leher Rian. Setiap kali itu terjadi, jantung Rian kembali berdegup kencang, sensasi geli dan hangat yang menjalar membuatnya harus menelan ludah dengan susah payah. Ia sadar betul bahwa situasi ini sangat tidak wajar, apalagi mengingat hubungan mereka yang baru berjalan beberapa bulan dan didasari oleh sebuah perjanjian. Namun anehnya, hatinya merasa nyaman, sangat nyaman, seolah momen ini adalah hal yang paling wajar terjadi di dunia.

Tak lama kemudian, kelopak mata Salsa mulai bergerak-gerak pelan. Napasnya yang tadinya sangat teratur kini sedikit berubah ritmenya. Perlahan namun pasti, ia membuka matanya yang masih terasa berat dan kabur. Pandangannya masih buram, perlahan berusaha menyesuaikan diri dengan cahaya ruangan. Hal pertama yang ia sadari adalah sesuatu yang keras namun hangat di bawah kepalanya. Ia mengerjap beberapa kali, lalu mengangkat sedikit wajahnya.

Seketika itu juga, mata Salsa membelalak lebar. Wajah Rian ada tepat di hadapannya, hanya berjarak beberapa sentimeter saja. Tatapan mata pria itu menatapnya lekat-lekat, dengan ekspresi yang sulit diartikan, campuran antara rasa geli, lelah tertahan, namun juga lembut.

"Eh?!" seru Salsa kaget, langsung melompat mundur sedikit dan duduk tegak. Wajahnya seketika memerah padam hingga ke telinga. "K-kak Rian?! Sejak kapan... eh, aku... aku tidur di sini?"

Rian berdeham pelan, lalu berusaha mengubah ekspresi wajahnya menjadi datar dan wajar, berusaha menyembunyikan rasa gugup yang sebenarnya masih melanda dirinya. Ia menggerakkan bahunya yang kaku itu berulang kali, mencoba mengembalikan aliran darah yang sempat terhenti.

"Baru sebentar kok," jawab Rian berusaha terdengar santai dan biasa saja, meski nada bicaranya sedikit lebih tinggi dari biasanya. "Kamu lewat, terus langsung nyandar saja. Aku tidak enak kalau membangunkanmu, kelihatannya tidurnya nyenyak sekali."

Salsa menepuk-nepuk pipinya sendiri dengan kedua tangan, merasa sangat malu dan bodoh. Ia benar-benar tidak sadar apa-apa tadi, saking mengantuknya ia bahkan mengira bahu bidang milik suaminya itu adalah bantal empuk di kamarnya. Namun, saat pandangannya jatuh ke arah bahu kemeja yang dipakai Rian, wajahnya yang sudah merah padam kini berubah menjadi pucat lalu kembali merah, kali ini jauh lebih parah.

Di bahu kanan kemeja Rian yang berwarna biru muda itu, terlihat jelas noda basah yang cukup besar dan menggelap. Itu adalah bekas air liur yang keluar dari mulutnya saat ia tidur dengan sangat nyenyak tadi.

"AMPUN! ASTAGA!" pekik Salsa histeris, matanya terbelalak menatap noda itu dengan rasa tidak percaya dan malu yang luar biasa. "K-kak Rian... ini... ini... astaga, maafkan aku! Aku tidak bermaksud... aku benar-benar tidak sadar! Ya Tuhan, baju kak jadi kotor begini!"

Rian yang baru menyadari hal itu pun menoleh sebentar ke arah bahunya, lalu kembali menatap Salsa yang sudah terlihat sangat panik dan ingin sekali menghilang dari dunia ini. Rian sebenarnya merasa tidak masalah, baginya itu hal sepele, tapi melihat wajah istrinya yang sudah mau menangis karena rasa bersalah, ia justru merasa kasihan.

"Ah, ini? Tidak apa-apa, Sal. Cuma sedikit air liur saja, nanti aku cuci. Tidak usah dipikirkan," ucap Rian berusaha menenangkan, sambil melambaikan tangan seolah hal itu bukanlah masalah besar. "Kamu tidak perlu merasa bersalah begini, sungguh."

Namun kata-kata itu sama sekali tidak mempan di telinga Salsa. Gadis itu merasa sangat tidak enak hati. Bagaimana mungkin ia bisa menodai baju suaminya dengan hal semacam ini? Bagi Salsa, ini adalah bencana besar dan penghinaan tersendiri.

"Tidak bisa! Ini salahku, aku yang bikin kotor! Biar aku bersihkan sekarang juga!" seru Salsa bersikeras. Ia segera mengulurkan kedua tangannya, lalu mulai mengelap-ngelap noda basah itu dengan telapak tangannya, berusaha sekuat tenaga agar noda itu hilang secepat mungkin. "Ayo hilang... ayo hilang... ya ampun, kenapa bisa sebanyak ini sih..."

"Hei, Salsa, sudah... tidak perlu dielap-elap begitu, malah makin melebar nanti," kata Rian mencoba menahan tangan gadis itu, berusaha menghentikan gerakan yang justru membuat noda itu semakin merembet ke mana-mana. "Katakanlah aku sudah maafkan, ya? Sudahlah, jangan dipikirin lagi."

"Enggak! Harus bersih! Aku tidak tenang kalau begini terus!" tolak Salsa, tangannya terus bergerak mengusap, menekan, dan menarik bagian kain kemeja itu dengan panik. "Biar aku yang tanggung jawab, ini salahku sepenuhnya..."

"Aduh, sudah kubilang tidak apa-apa—"

Rian berusaha menahan pergelangan tangan Salsa agar berhenti, sementara Salsa berusaha melepaskan diri dan terus mengelap. Terjadilah tarik-menarik kecil antara mereka berdua. Salsa menarik sedikit bagian depan kemeja Rian ke arahnya, sementara Rian menahan dan berusaha menjauhkan diri pelan-pelan.

Namun, di saat itu... terdengar suara "SRRET!" yang cukup keras dan nyaring.

Gerakan mereka berdua seketika terhenti. Suasana ruang tamu yang tadinya agak riuh oleh keributan kecil itu mendadak berubah menjadi hening total, senyap hingga suara jatuhnya jarum pun terdengar jelas.

Salsa menatap lekat-lekat bagian dada kemeja Rian yang kini robek cukup besar, tepat di bagian sisi kiri dan tengah. Kain kemeja yang tadinya utuh itu kini terbelah, memperlihatkan kulit putih, dada bidang, dan otot-otot yang kencang milik suaminya yang terlatih akibat pekerjaannya sebagai polisi. Angin sejuk dari kipas angin seolah lewat tepat di bagian yang terbuka itu, membuat rambut halus di dada Rian sedikit bergerak.

Salsa terdiam terpaku. Matanya terbelalak, mulutnya sedikit menganga karena kaget yang berlipat ganda. Tangannya masih menyentuh ujung kain yang sobek itu, namun ia sama sekali tidak berani bergerak atau menarik tangannya kembali. Jantungnya berdetak begitu kencang hingga rasanya mau melompat keluar dari dada.

Rian pun ikut membatu di tempatnya. Ia menunduk sebentar melihat kerusakan pada bajunya, lalu kembali mengangkat wajah menatap Salsa. Jarak wajah mereka kini kembali menjadi sangat dekat, bahkan lebih dekat dari sebelumnya karena tarikan tadi. Napas mereka saling bertemu, mata mereka saling terkunci dan tidak mau berpaling. Di udara yang hening itu, ada sesuatu yang berubah. Suasana yang tadinya kacau dan malu-malu kini berubah menjadi hangat, mendebarkan, dan terasa begitu romantis. Waktu seolah berhenti berputar, hanya ada mereka berdua di sana, tenggelam dalam tatapan mata yang penuh dengan rasa yang belum sempat diungkapkan.

Wajah Salsa memerah semakin dalam, rona merah itu menjalar hingga ke lehernya. Ia bisa mencium aroma tubuh Rian yang khas, bau sabun dan sedikit keringat yang ternyata membuat jantungnya semakin tak karuan. Di sisi lain, Rian menatap bibir Salsa yang sedikit terbuka, lalu kembali ke manik mata gadis itu yang berkilauan. Ada dorongan kuat dalam dirinya untuk mendekatkan wajahnya lebih jauh lagi, namun akal sehatnya masih menahan diri.

Hening itu berlangsung cukup lama, hingga akhirnya kesadaran perlahan kembali merayap masuk ke dalam pikiran mereka berdua. Dengan gerakan yang sama-sama kaku dan gugup, mereka berdua perlahan-lahan bangkit berdiri secara bersamaan. Mata mereka masih saling menatap sesaat sebelum sama-sama membuang muka dengan wajah yang bersemu merah.

"A-Aku... aku masuk kamar dulu! Mau... mau ganti baju!" ucap Rian terbata-bata, suaranya terdengar berat dan gugup. Ia segera memegangi bagian bajunya yang robek, lalu bergegas melangkah cepat menuju tangga.

"A-Aku juga! Aku mau... mau beres-beres di kamar! Maaf ya Kak! Benar-benar maaf!" sahut Salsa dengan nada yang hampir tidak terdengar, ia pun langsung berlari kecil naik ke atas, menghilang di balik pintu kamarnya secepat kilat seolah ada sesuatu yang mengejarnya.

Mereka berdua masuk ke kamar masing-masing, menutup pintu dengan pelan namun hati mereka sama-sama berdegup kencang, bergemuruh kencang akibat peristiwa singkat namun penuh makna itu.

Sementara itu, di sebuah gedung apartemen bertingkat di sisi lain kota, suasana pagi itu berubah menjadi penuh keluhan dan kemarahan warga. Mulai dari lantai bawah hingga lantai paling atas, penghuni apartemen itu keluar dari kamar atau unit mereka dengan wajah masam dan ekspresi jijik.

"Pak penjaga! Pak! Ini air apa baunya?! Bau banget, amis dan bau busuk!" teriak seorang ibu-ibu sambil memegang hidungnya.

"Betul itu, Pak! Air keran di kamar mandi sama di dapur semuanya bau! Warnanya juga keruh, agak kemerahan sedikit! Kami mau mandi, masak, atau minum jadi tidak enak begini!" tambah warga lainnya yang ikut berkumpul di koridor.

Pengawas apartemen itu, seorang bapak paruh baya yang tampak kebingungan, terus mengangguk-angguk mendengarkan keluhan para penghuni. Ia pun sudah mengecek keran di ruang pos jaga, dan benar saja, air yang keluar berwarna keruh serta mengeluarkan bau yang sangat tidak sedap, bau amis yang tajam bercampur bau busuk yang menyengat hidung.

"Baik, baik Bapak, Ibu... saya akan periksa ke atas sekarang juga. Kemungkinan ada kotoran yang masuk ke tandon airnya. Sabar ya sebentar, saya naik ke atas sekarang juga!" ujarnya berusaha menenangkan warga, lalu segera bergegas menuju tangga darurat yang mengarah ke atap gedung.

Sesampainya di atap gedung, angin bertiup cukup kencang. Di sana berdiri sebuah tandon air berukuran sedang, terbuat dari bahan fiberglass berwarna putih yang sudah agak kusam karena debu dan usia. Pengawas itu mengeluarkan senter dari saku celananya, lalu mendekat ke arah penutup tandon yang terbuka sedikit. Aroma busuk dan amis itu semakin menyengat hidungnya saat ia semakin mendekat, membuatnya ikut merasakan rasa ingin muntah.

"Apa yang masuk ke dalam ini ya... sampah? Atau bangkai tikus besar?" gumamnya sendiri sambil mengerutkan kening, berusaha tetap tenang. Ia memposisikan tubuhnya di pinggir tandon, lalu mengarahkan cahaya senter ke dalam, menyorot ke permukaan air yang tampak tenang dan diam.

Awalnya pandangannya hanya menangkap pantulan cahaya dan warna air yang keruh kecokelatan. Namun, saat ia menggerakkan cahaya senternya sedikit ke tengah, matanya menangkap sesuatu yang mengapung di permukaan air itu, agak jauh dari bibir tandon. Sesuatu yang panjang, berwarna hitam pekat, dan melayang-layang mengikuti gerakan air.

"Rambut...?" bisiknya, rasa penasaran berubah menjadi rasa tidak nyaman yang tiba-tiba. Ia memfokuskan cahayanya tepat ke benda itu. Semakin ia lihat, semakin jelas bentuknya. Itu bukan sekadar potongan rambut, melainkan rambut panjang yang sangat banyak, menutupi sebagian besar kepala dari sosok yang berada di bawahnya.

Jantung pengawas itu seolah berhenti berdetak saat cahayanya jatuh ke bagian tubuh lainnya yang ikut mengapung. Di sana, terlihat jelas punggung dan sepasang bahu yang tertutup kain berwarna putih abu-abu. Kain itu adalah seragam sekolah. Sosok itu mengapung dalam posisi tengkurap, diam dan kaku, terendam sebagian dalam air yang keruh itu.

"TUHAN! ITU... ITU APA?!" teriaknya histeris, mundur terhuyung-huyung ke belakang hingga punggungnya menabrak tembok pembatas atap. Wajahnya seketika pucat pasi, keringat dingin langsung membasahi seluruh tubuhnya. "MAYAT! ADA MAYAT DI DALAM TANDON AIR! ASTAGA! MAYAAAAAT!"

Ia berbalik badan, berlari terhuyung-huyung kembali menuju tangga, berteriak sekuat tenaga sambil terus berulang kali meneriakkan kata yang membuat bulu kuduk siapapun yang mendengarnya meremang. Di belakangnya, di dalam tandon air yang menjadi sumber air bersih seluruh penghuni apartemen itu, tubuh gadis berusia sekolah menengah itu tetap diam mengapung, seragam abu-abu-nya kini basah kuyup dan kotor.

1
💝F&N💝
lanjut.
up nya tiap hari doooooooo😅🙏
💝F&N💝
ini kapan up lagi
paijo londo
thor mampir kyaknya seru nih🤭🤭
💝F&N💝
up lagi
💝F&N💝
good👍👍👍👍👍 aku suka alurnya.
bagus banget
bisa dinikmati
lanjut 👍👍👍👍👍
Sahabat Oleng
aku mampir thor 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!