Masa-masa sekolah memang paling indah dan mendebarkan. Banyak drama dan kisah cinta yang begitu manis. Ini hanya kisah tentang anak-anak remaja yang duduk di SMA. Tentang, persahabatan, cinta, pendidikan, dan keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rustina Mulyawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 21 Perasaan Cemburu
Hari berganti lagi. Pagi kini menyambut hari yang baru. Mentari menggantikan sif malam yang sudah usai waktu bekerjanya. Suara bising mulai terdengar dari luar. Kendaraan yang berlalu lalang, serta orang-orang yang sibuk dengan aktivitas masing-masing. Alarm membangunkan Aksa yang masih berat untuk bangun membuka kelopak matanya. Namun, ia harus memaksakan diri untuk bangun karena kesibukan hari ini sudah menantikan dirinya.
Tubuhnya menggeliat merenggangkan setiap otot ditubuhnya yang terasa kaku. Setelah merasa lebih baik ia beranjak dari ranjangnya dan keluar dari kamar untuk menyapa Ibunya yang kini sibuk di dapur menyiapkan berbagai macam sarapan untuk putranya itu.
Namun, Aksa tertegun saat mendapati sosok orang yang ia bawa semalam itu sedang asik membantu Ibunya memasak di dapur sambil terus mengoceh dan bercerita kepada Santi. Bahkan sesekali tawa lepas keluar dari mulut Ibunya mendengarkan cerita gak jelas yang tidak berarah dari Aditya.
"Suasana apaan ini? Kalian terlihat sangat akrab, " ujar Aksa sambil berjalan mengambil gelas dan menuangkan air putih dari teko untuk ia minum.
"Kamu sudah bangun?" Santi bahkan sampai tidak sadar dengan kehadiran Aksa karena saking seriusnya mengobrol dengan Aditya.
"Iyah, Tante begitu ceritanya. Makannya sampai sekarang, aku sangat takut sama hantu. Untunglah ada anak Tante yang baik ini, yang bersedia menolong aku yang tidak berdaya ini, " Aditya masih melanjutkan obrolan tentang ceritanya tadi.
"Benarkah? Syukurlah kalau begitu. Tante harap, kalian bisa lebih dekat lagi dan lebih akrab mulai sekarang, " balas Santi terdengar sangat antusias meladeni cerita Aditya sambil memasak.
"Kalian sedang mengobrol tentang apa? " tanya Aksa yang kini mulai kepo dan penasaran cerita apa yang Aditya ceritakan sampai Santi begitu bersemangat dan terhibur seperti ini. Rasanya sudah lama sejak ayahnya koma, Aksa tidak pernah melihat tawa lepas dari Ibunya itu.
"Adit bercerita tentang mengapa ia sampai bisa takut sama hantu. Dan katanya, semalam ia juga pingsan karena melihat sosok kuntilanak, " jelas Santi membocorkan sedikit dari cerita Aditya tersebut.
"Hah?! Ibu percaya sama omong kosong dia? Kuntilanak apanya?" Dalih Aksa dengan ketus sambil mendesah pelan.
"Hei? Semalam itu memang kuntilanak tahu! Gue tahu karena auranya sangat kuat. Sejak kecil terkadang gue memang suka melihat mereka, " kekeh Aditya tidak mau kalah.
"Sudahlah. Terserah loh mau menganggapnya apa?" sahut Aksa dengan datar dan dingin melengos pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap ke sekolah.
Aditya hanya mendesis pelan dengan sikap acuh tak acuh dari Aksa.
"Tante percaya kan sama aku? " tanya Aditya lagi dengan wajah polos ia menatap Santi seperti anak kecil yang sedang meminta pembelaan darinya.
Santi tersenyum lebar. "Iyah, Tante percaya kok. Nah, kamu sudah memotong wortelnya?" Santi mengambil mangkuk yang berisi wortel iris yang dikerjakan oleh Aditya. Ia pun memasak wortel itu dengan mi bihun yang tipis dan lembut.
Adit tidak memalingkan wajahnya dari menatap Santi dengan tatapan yang nanar. Ia sempat mengkhayal andaikan saja ia bisa melakukan semua ini bersama dengan Ibunya. Lagi-lagi hatinya terasa hampa dan kosong karena tidak punya kenangan apapun bersama Ibunya. Dan ia merasa beruntung dengan dan bersyukur sebab takdir telah membawanya kepada Aksa dan bertemu dengan Santi sebagai gantinya. Meskipun ia bukan Ibunya, Aditya bisa merasakan kehangatan seorang Ibu dari perlakuan Santi. Dan itu membuat memori yang kosong mulai terisi dengan sesuatu yang indah untuk ia kenang.
"Apa kamu suka mi bihun goreng? " tanya Santi memecahkan lamunan Aditya tentang dirinya.
"Yah. Aku sangat suka." Aditya berdiri dan mendekat pada Santi untuk mencicipi bihun goreng yang baru saja matang itu. Sikapnya yang tidak canggung terhadap Santi membuat ia terlihat seperti anak dan ibu kandung yang asli. Padahal mereka tadinya dia orang yang asing dalam beberapa jam kebelakang. Namun, sikap ceria Aditya membuat Santi merasa santai dalam memperlakukan dirinya.
"Em, enak sekali. Wah, masakan Tante memang yang terbaik! " Aditya memuji denga penuh semangat sambil mengacungkan kedua jempol terbaiknya untuk Santi.
"Syukurlah kalau memang enak." Santi mengelus kepala Adit dengan lembut sambil tersenyum lebar. Lagi-lagi Aditya tertegun sebentar karena setiap perlakuan yang diberikan oleh Santi membuat hatinya terasa begitu hangat sepert musim semi dengan bunga-bunga yang bermekaran di dalamnya. Aditya tidak bisa menahan senyumnya yang sumringah.
Santi menata meja makan menyiapkan segalanya untuk sarapan pagi ini. Aditya tentu saja membantu sedikit dalam penataannya. Tidak lama kemudian, Aksa keluar dari kamar mandi dan masih bertelanjang dada. Ia melihat Santi bersama Adit yang begitu serasi seperti ibu dan anak kandung. Aksa tanpa sadar menyinggung senyum kecil lalu masuk ke kamar untuk memakai baju seragamnya.
Setelah selesai, ia keluar bergabung di meja makan untuk sarapan besama. Ia duduk berhadapan dengan Ibunya sementara Aditya duduk di samping keduanya. Namun cenderung posisi kursi yang di duduki nya lebih dekat dengan Santi.
Santi mengambil satu pahan ayam goreng dan memberikannya kepada Adit. Melihat Santi yang begitu memperhatikannya merasa sangat cemburu. Lagi pula, mereka baru kenal untuk saling memberi perhatian layaknya ibu dan anak.
"Hei? Apa dia Ibumu? Sejak tadi kamu terus saja mencuri perhatiannya dari gue, " geram Aksa merasa kesal karena seperti dijadikan anak titi oleh Santi karena Aditya. "Ibu? Aku sangat terluka, " tambahnya kemudian.
"Wlee!" Aditya mengejeknya dengan menjulurkan lidah kepda Aksa seperti anak kecil. Tingkahnya yang kekanak-kanakan itu membuat Aksa mulai merasa muak kepadanya.
"Sudahlah. Kenapa kamu marah-marah? Ini, makanlah yang banyak, " lerai Santi membujuk Aksa dengan memberinya bagian dada ayam.
"Ibu?! " panggilnya dengan nada marah dan merajuk. Santi tahu betul kalau Aksa saat ini sedang merasa cemburu kepada temannya dan entah kenapa ia senang menggodanya seperti ini.
Santi tersenyum kecil. "Baiklah. Ini untuk putraku tersayang. Makan yang banyak yah? " ujar Santi juga mengambil sepotong paha ayam goreng untuk diberikan kepada Aksa.
Lantas, Aksa hanya mendengus kesal sambil melirik Aditya yang nampak asik dan tidak sungkan makan dengan lahap. Sikapnya itu memang sedikit menyebalkan bagi Aksa.
"Aku sudah kenyang. Aku berangkat dulu yah, Bu, " ucap Aksa menaruh sendok dan gapunya di atas piring yang masih menyisakan banyak makanan.
"Sayang, kenapa kamu makan sedikit sekali? Ini masih terlalu pagi. Habiskan dulu sarapan kamu, " sahut Santi sedikit merasa bersalah.
"Aku pergi! " Aksa tidak mendengarkan Santi dan hanya pergi begitu saja tanpa menoleh ke belakang lagi.
"Sepertinya dia cemburu padaku, " ujar Aditya menunjukkan penyesalan kepada Santi.
"Tidak papah. Dia hanya tidak terbiasa karena dia anak tunggal. Mungkin jika dia punya saudara akan lebih bagus, " balas Santi sambil tersenyum.
"Kalau begitu, apa aku bisa menjadi saudaranya? " tanya Aditya tiba-tiba memasang wajah serius nan berkaca-kaca.
"Apa? " Santi terkejut karena tidak menduga Aditya akan meminta hal seperti itu dipertemuan pertama yang tidak sengaja ini.
Aditya tersenyum lebar kemudian. "Bercanda. Jangan dianggap terlalu serius, " sambungnya sambil melahap kembali makanan di depannya.
Walau Aditya berkata bahwa itu cuma candaan. Tapi entah kenapa Santi merasakan kalau ucapannya tadi itu memang berasal dari hatinya.
"Bukankah kamu satu kelas dengan Aksa? Kalau begitu, Tante boleh minta tolong sama kamu? Tante khawatir perutnya akan sakit karena tadi makan sedikit. Tolong kamu bawakan bekal untuknya dan berikan nanti disekolah yah? " pinta Santi kemudian.
"Baiklah."