Di dunia di mana energi gaib dan iblis berkeliaran, Nam Ling adalah pemburu iblis yang telah hidup lebih dari seratus tahun berkat kekuatan pedang abadi yang menyatu dengan dirinya. Dulu seorang prajurit kerajaan yang terhormat, dia kehilangan segalanya ketika iblis membanjiri daratan dan membunuh orang tersayangnya.
Setelah menghabiskan abad untuk memburu makhluk kegelapan, Nam Ling tiba di Desa Hua—tempat yang dikabarkan menjadi sarang energi jahat baru yang lebih kuat dari iblis biasa. Di sana, dia bertemu dengan Yue Xin, seorang gadis muda yang memiliki kemampuan melihat jalur energi gaib dan menyimpan rahasia besar tentang asal-usul kekuatan pedang Nam Ling.
Saat makhluk kegelapan yang lebih kuat mulai muncul dan mengancam keselamatan seluruh daratan, Nam Ling harus memilih antara melanjutkan dendam pribadi atau bekerja sama dengan Yue Xin dan penduduk desa untuk menghentikan bahaya yang akan menghancurkan dunia. Di balik pertempuran yang tak berkesudahan, tersembunyi rahasia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keiro_ganteng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6 – PERTAHANAN SEGEL YANG MELEMAH
Getaran tanah yang terjadi setelah pembukaan ruang bawah tanah masih terasa saat matahari mulai menyinari atap rumah-rumah di Desa Hua. Nam Ling berdiri tepat di depan pintu masuk ruang bawah tanah, matanya merah menyala terang sambil mengamati setiap gerakan makhluk yang tadinya terjebak dalam penyegelan. Udara dingin yang membawa aroma tanah liat dan energi gelap menyelimuti seluruh area sekitar halaman tengah desa.
“Segel mulai melemah dengan cepat,” ucap Nam Ling dengan suara rendah namun jelas terdengar oleh semua orang di sekitarnya. “Energi dari Gunung Tianwu dan serangan energi jahat dari luar membuat kekuatan penyegelan keluarga Wei semakin memudar.”
Pak Zhang yang berdiri di sebelahnya mengangguk dengan wajah penuh kekhawatiran. “Kita sudah merasakan getaran sejak kemarin malam, Pak Nam Ling. Seolah-olah ada sesuatu yang ingin keluar dari dalam tanah sendiri.”
Sementara itu, Yue Xin mendekat dengan hati-hati, tangannya sedikit terangkat ke arah udara sambil menutup satu mata. “Jalur energi di sekitar sini seperti tali yang akan putus, Pak,” katanya dengan suara pelan. “Saya bisa melihatnya mulai terputus-putus, terutama di bagian kanan halaman tengah desa.”
Nam Ling mengikuti arah yang ditunjuk Yue Xin. Di sana, tanah mulai memerah sedikit dan mengeluarkan asap hitam tipis. Beberapa makhluk yang mirip dengan yang pernah mereka temui kemarin mulai muncul perlahan dari bawah tanah—tubuh mereka lebih kecil tapi lebih banyak jumlahnya, dengan mata yang menyala seperti bara api gelap.
“Jangan biarkan mereka menyebar ke seluruh desa!” teriak Chen Feng yang sudah bersiap dengan tombaknya. Beberapa pria desa lain segera mengikuti, membentuk lingkaran pelindung di sekitar wanita dan anak-anak yang sudah berkumpul di halaman rumah kepala desa.
Nam Ling mengeluarkan pedangnya dengan perlahan. “Saya akan menangani yang keluar dari bawah tanah ini,” ucapnya sambil melangkah maju. “Yang lain jaga agar tidak ada yang bisa mendekati kelompok keluarga desa ini!”
Sebelum makhluk pertama bisa menyerang, bilah pedang abadi menyambar dengan cepat—CLASH! Bunyi benturan membuat makhluk itu terpental mundur dan menghilang dalam secercah asap hitam. Namun bukan satu saja yang muncul; belasan makhluk kecil serupa mulai keluar dari berbagai sisi halaman tengah desa.
Saat itu, Yue Xin mengambil tongkat kayu yang sudah disiapkannya sebelumnya. “Pak Nam Ling, saya bantu dari sisi sini!” teriaknya sambil berlari ke arah sudut kanan di mana beberapa makhluk mulai berkumpul. Dia mengayunkan tongkatnya dengan tepat, mengenai salah satu makhluk di kepalanya dan membuatnya menghilang dalam percikan cahaya merah muda.
Chen Feng bersama beberapa pria desa segera mendukungnya, menggunakan alat kerja dan tombak untuk menghalangi serangan dari makhluk yang lebih kecil. Meskipun bukan pejuang profesional, semangat mereka untuk melindungi desa membuat mereka bertahan dengan gigih.
Sementara itu, Nam Ling telah menghadapi lebih dari sepuluh makhluk sekaligus. Setiap gerakan pedangnya mengalir seperti tarian—cepat namun terkontrol, menghalangi setiap serangan tanpa kesulitan. CLANG! CLANG! Bunyi benturan berulang kali menggema saat dia memblokir serangan dari berbagai arah sekaligus.
“Kenapa makhluk ini bisa muncul begitu banyak?” gumam Pak Zhang yang membantu mengamati sekeliling. “Bukannya segel keluarga Wei sudah kuat?”
Nam Ling menghela nafas sambil melanjutkan perkelahiannya. “Segelnya memang kuat dulu,” jawabnya sambil mengayunkan pedang untuk menghancurkan tiga makhluk sekaligus. “Tapi energi dari luar—baik dari bandit maupun dari Gunung Tianwu—telah membuat segel itu terkoyak sedikit demi sedikit. Seolah ada yang sengaja mengganggunya dari dua arah sekaligus.”
Setelah beberapa saat, semua makhluk yang muncul dari bawah tanah berhasil diatasi. Nam Ling menurunkan pedangnya, matanya mulai mereda warna meskipun tetap waspada. Yue Xin datang menghampirinya dengan tangan yang sedikit gemetar tapi wajahnya penuh semangat.
“Kita berhasil, Pak!” katanya dengan senyum. “Tapi saya merasa ada sesuatu yang tidak beres. Makhluk-makhluk ini muncul terlalu banyak dan terlalu cepat seperti dipanggil saja.”
“Kamu benar,” ucap Nam Ling sambil menyentuh tanah dengan ujung pedangnya. “Ada bekas mantra pemanggilan di tanah ini. Bukan hanya energi yang membuat segel melemah—ada yang sengaja memanggil mereka keluar untuk menyebarkan kekacauan.”
Pak Zhang mendekat dengan langkah cepat. “Kalau begitu desa ini tidak aman lagi bahkan di dalamnya sendiri, Pak Nam Ling. Kita harus melakukan sesuatu sebelum segel itu benar-benar hancur dan yang lebih besar muncul.”
Nam Ling menatap ke arah Gunung Tianwu yang puncaknya masih tertutup awan. “Segel utama ada di sana,” katanya dengan tegas. “Keluarga Wei menyegel sumber utama energi jahat di kaki gunung ratusan tahun yang lalu. Sekarang karena segel di desa mulai melemah, sumbernya pasti juga mulai terganggu. Besok pagi saya akan pergi ke sana—tapi sebelum itu, kita perlu memperkuat segel di desa ini terlebih dahulu.”
“Bagaimana cara memperkuatnya, Pak?” tanya Yue Xin dengan mata penuh rasa ingin tahu.
Nam Ling menatapnya dengan pandangan hangat. “Kamu bisa melihat jalur energi, bukan? Maka kamu bisa membantuku. Kita akan membuat lapisan energi pelindung tambahan di sekitar desa malam ini. Dengan menggabungkan kemampuanmu melihat jalur dan kekuatan pedang ini, kita bisa memperkuat segel tanpa harus menunggu lama.”
Pak Zhang mengangguk dengan tegas. “Kita akan membantu sebisa mungkin, Pak Nam Ling. Semua pria desa siap untuk berjaga malam dan membantu jika ada yang diperlukan.”
Saat itu, semua orang merasakan getaran lembut dari arah Gunung Tianwu. Seolah merespons rencana mereka, langit di atas gunung mulai berubah warna menjadi kehitaman pekat meskipun bulan seharusnya bersinar terang.
Nam Ling menyipitkan matanya. “Waktu tidak terlalu banyak lagi,” gumamnya pelan. “Mari kita segera memperkuat segel desa sebelum malam ini berlalu.”