NovelToon NovelToon
SI JUTEK DAN PAK DOSEN KILLER

SI JUTEK DAN PAK DOSEN KILLER

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen
Popularitas:8.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nina Sani

Ana—si “Jutek" cantik yang keras kepala—tidak pernah takut pada siapa pun di kampus. Kecuali satu orang yang benar-benar membuatnya naik darah: **Adi**, dosen muda yang terkenal killer, dingin, dan terlalu sexy untuk diabaikan.

Pertemuan mereka selalu penuh ketegangan—tatapan tajam, debat panas di kelas, dan permainan kecil yang hanya mereka berdua pahami.

Ana yakin ia membenci Adi.
Adi justru menikmati setiap detik perlawanan itu.

Namun di balik kebencian yang keras dan gengsi yang tinggi, ada sesuatu yang perlahan tumbuh—**panas, berbahaya, dan semakin sulit disembunyikan.**

Karena kadang…
orang yang paling ingin kita lawan adalah orang yang paling membuat jantung kita berdebar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Sani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERTEMUAN YANG TAK DISENGAJA

Suatu sore pasca kelas Psikologi Sosial, Ana merasa sumpek, ia hanya menginginkan satu hal: ketenangan.

Setelah seharian penuh dijejali teori Psikologi yang menguras otak, diskusi kelas yang panas, dan—yang paling menyebalkan adalah bayangan wajah dosen barunya yang terus-menerus mampir di pikirannya tanpa izin, Ana merasa butuh istirahat mental. Sendirian.

Kenapa sih dia harus ikut-ikutan muncul di otakku juga? gerutunya dalam hati sambil menyampirkan tas di bahu.

Langkahnya membawa ia menuju sebuah kafe yang merangkap toko buku kecil yang tersembunyi di sudut ujung jalan tempat kampus Ana berada. Tempat ini bisa dibilang sebagai "suaka" pribadinya. Tempat ia bersembunyi sejenak dari hiruk pikuk kehidupan, mencari ketenangan.

Suasananya hangat dengan aroma biji kopi yang baru digiling bercampur dengan bau khas kertas buku lama. Di cafe itu, ada satu sudut favorit Ana: sebuah meja kayu di samping jendela besar yang menghadap langsung ke jalanan, tempat ia bisa menghilang dari dunia selama berjam-jam.

Namun, sore itu semesta tampaknya sedang ingin bermain-main dengan kesabarannya.

Pertemuan Tak Terduga di antara Rak Buku

Di sisi lain ruangan, di antara deretan rak buku yang menjulang, seorang pria berdiri dengan gestur tenang. Adi baru saja menyelesaikan jam kantornya yang melelahkan.

Jauh sebelum ia terbang ke Australia untuk menempuh gelar doktoralnya, Adi memang sudah sering mengunjungi kafe ini. Baginya, tempat ini adalah pelarian yang sempurna. Mungkin karena kafe ini menyajikan kopi berkualitas dengan harga yang tergolong mahal bagi kantong mahasiswa; itulah alasan mengapa suasananya tetap tenang, tidak dipenuhi oleh kerumunan remaja yang sibuk berswafoto dengan segelas latte.

Jari-jarinya yang panjang menyusuri jajaran buku, lalu berhenti pada sebuah buku dengan desain sampul yang cukup simpel: Atomic Habits karya James Clear. Ia membalik buku itu, membaca sinopsisnya sekilas, lalu mengangguk kecil.

“Lumayan juga buat ngisi waktu,” gumamnya pelan.

Tanpa ia sadari, tujuannya dan tujuan seorang mahasiswi yang keras kepala bernama Ana adalah titik yang persis sama: meja di sudut jendela.

Beberapa menit kemudian, Ana berjalan mendekat dengan segelas kopi di tangan kiri dan sebuah buku tipis di tangan kanan. Ia sudah membayangkan betapa nikmatnya menyeruput kopi sambil baca buku dan sesekali menonton rintik hujan atau orang-orang yang berlalu-lalang di luar sana. Namun, begitu langkahnya tinggal beberapa senti dari meja itu, dunianya mendadak berhenti berputar.

Seseorang sudah berdiri di sana, membelakanginya. Dan ketika pria itu menoleh karena merasakan kehadiran seseorang di belakangnya, mata mereka bertemu dengan cara yang canggung. Ana membeku. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat, karena kaget yang luar biasa.

“Pak… Adi?” suaranya nyaris mencicit. Adi pun tampak sedikit tersentak. Alisnya terangkat di balik kacamata tipisnya. “ Lho, Ana?”

Keheningan sempat mengambil alih selama beberapa detik.

Mereka berdua terpaku, berdiri seperti patung di tengah kafe yang tenang. Ana langsung melirik ke arah meja kecil di sudut jendela. Itu mejanya. Wilayah kekuasaannya tiap dia ke kafe ini. Dan sekarang, dosen killer-nya itu berdiri di sana seolah ia adalah pemilik sah tempat tersebut.

Serius? Ini nyata? Dari sekian banyak kafe di kota ini, kenapa dia harus mendarat di sini? batin Ana berteriak frustrasi. Dan dari sekian banyak orang di dunia, kenapa ia harus berpapasan dengan orang yang paling ingin ia hindari?.

Diplomasi Perebutan Meja Sudut

Ana menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kesabaran dirinya. “Ternyata Bapak juga ke sini,” katanya dengan nada sedatar mungkin. Adi mengangkat buku di tangannya sedikit, seolah itu adalah paspor legalitas kehadirannya di sana. “Kadang-kadang. Tempat ini memang nyaman buat baca buku.”

Ana hanya bisa menggigit bibir bawahnya. Tentu saja ia tahu tempat ini nyaman, justru itulah masalahnya!.

Ia berdiri ragu. Jika orang di depannya ini adalah teman seangkatannya, atau bahkan kakak tingkat sekalipun, ia pasti sudah mengajak duduk bersama atau malah mengusirnya dengan setengah bercanda.

Tapi ini kan Pak Adi!.

Si dosen muda berusia tiga puluh dua tahun yang sudah menyandang gelar Doktor dari kampus bergengsi di Australia. Pria yang karier akademiknya melesat seperti roket karena kecerdasannya yang di atas rata-rata. Perbedaan usia sembilan tahun di antara mereka, ditambah status dosen-mahasiswa, membuat Ana merasa tidak enak untuk bersikap terlalu galak—meskipun hatinya sangat ingin melakukan itu.

“Silakan saja, Pak,” kata Ana akhirnya, sambil sedikit menggeser tubuhnya memberi jalan. “Saya cari tempat lain saja.”

Adi memperhatikannya dengan seksama. Ia bisa melihat kilat kekecewaan di mata Ana, meskipun gadis itu berusaha menutupinya dengan kesopanan formal. “Tempat ini favorit kamu?” tanya Adi tiba-tiba.

“Biasa aja, pak.” jawab Ana cepat. Terlalu cepat, hingga terdengar agak ketus dan seperti kebohongan yang nyata.

Adi menyunggingkan senyum tipis—jenis senyum yang sering membuat mahasiswi lain di kelas merasa gugup karena karismanya, tapi bagi Ana, itu adalah senyum penuh kemenangan yang menyebalkan.

“Kalau begitu kita sama.”

Ana mengerutkan kening. “Maksudnya?”

Adi menunjuk kursi di seberang meja kayu itu. “Ini juga tempat favorit saya. Saya selalu duduk di sini setiap kali mampir.”

Ana memicingkan mata. Bener-bener ya ini dosen, nggak mau kalah banget, gerutunya. Suasana menjadi canggung. Ana yang merasa "kalah wilayah" memutuskan untuk mundur. “Ya sudah, Pak. Saya pindah saja ke depan.”

Namun, saat ia berbalik, suara Adi yang santai menghentikannya. “Kalau kamu mau… kita bisa duduk berdua di sini. Mejanya cukup besar untuk dua buku dan dua kopi.”

Ana berhenti. Ia menoleh kembali dengan ekspresi tidak percaya. Adi sudah lebih dulu duduk di kursi dekat jendela, mulai membuka plastik pembungkus bukunya dengan tenang.

“Dan saya janji,” lanjut Adi tanpa menatapnya, “saya nggak akan nyuruh kamu menjawab pertanyaan Psikologi apa pun di sini. Ini zona bebas tugas.”

Ana menatapnya lama. Ia menangkap binar jahil di mata Adi—sebuah sisi yang tidak pernah terlihat di ruang kelas yang kaku. Ana mendengus kecil, menimbang-nimbang. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling kafe, dan benar saja, tidak ada kursi kosong lagi yang tersisa.

Akhirnya, dengan gerakan yang sedikit terpaksa, Ana duduk di kursi seberang Adi. Ia membuka bukunya dengan suara "plak" yang agak keras, tanda ia masih sedikit protes.

Adi melirik sekilas dari balik bukunya. “Kamu marah sama buku itu atau sama orang yang duduk di depan kamu?”

“Enggak, Pak!” jawab Ana spontan dengan nada yang sedikit terlalu tinggi, yang justru semakin menegaskan kalau dia memang sedang kesal.

“Hm…” Adi bergumam pendek, lalu kembali fokus pada bacaannya.

*

Beberapa menit berlalu dalam diam yang intens. Hanya terdengar suara denting sendok kecil menabrak cangkir dan lembaran kertas yang dibalik. Namun, Adi tampaknya tidak tahan untuk tidak menggoda mahasiswinya yang tampak sangat serius itu.

“Kalau saya tahu kamu sering duduk di sini,” kata Adi santai sambil tetap menunduk, “mungkin saya bisa memberi tugas tambahan setiap sore.”

Ana langsung menurunkan bukunya, menatap Adi dengan tatapan tajam yang bisa melubangi tembok. “Pak!”

“Ya?” Adi akhirnya mengangkat wajah, menatap Ana dengan ekspresi polos yang dibuat-buat.

“Kalau Bapak berani kasih saya tugas tambahan di luar kelas juga…” Ana menggantung kalimatnya, mencari ancaman yang tepat.

“Saya akan…?” pancing Adi, alisnya terangkat menantang.

Ana terdiam sejenak, lalu berkata dengan nada kesal yang dicampur sedikit keberanian bercanda, “Saya akan pindah kafe ke luar kota sekalian!”

Adi tertawa kecil. Kali ini bukan tawa sinis yang biasa ia keluarkan saat melihat mahasiswanya salah menjawab pertanyaan di kelas, melainkan tawa yang tulus dan renyah. Sialnya, tawa itu terdengar sangat menyenangkan di telinga Ana. Dan entah kenapa, senyum yang merekah di wajah pria itu membuatnya terlihat... terlalu ganteng! Skala kegantengannya mendadak naik ke level yang tidak sopan bagi kesehatan jantung dan kewarasan batin Ana. Dalam hati, Ana mengumpat, Bisa nggak, sih, mukanya dikondisikan sedikit saja biar nggak terlalu meresahkan?.

Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, suasana di antara mereka tidak lagi terasa seperti medan perang. Di sudut kecil kafe itu, di antara aroma kopi dan deretan buku, Ana menyadari bahwa dosen killer tapi ganteng-nya ini mungkin tidak seburuk yang ia bayangkan. Meskipun tetap saja, pria di depannya ini adalah orang paling menyebalkan yang pernah ia temui.

Sore itu, di balik kepulan uap kopi yang hangat, benteng pertahanan Ana perlahan retak. Ternyata, batas antara rasa benci dan rasa kagum memang setipis lembar kertas. Ketegangan di kelas Psikologi Sosial mendadak terasa jauh, tergantikan oleh percakapan-percakapan sederhana yang mulai meruntuhkan tembok di antara mereka.

1
Fitriani
😄😄
Murni Asih
dr pertama sy lngsng suka
dr pertama cerita nya kngsng seru ka
Nina Sani: makasih ya kak, stay tune ikutin kelanjutannya😇
total 1 replies
Sartini 02
kayaknya menarik ya kak Krn masih bab 1
lanjut kak....🤭🙏👍
Nina Sani: siaap 😇😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!