Satu tahun lalu, Michael—sang pewaris SM Corporation—diselamatkan oleh wanita bertopeng misterius berjuluk "Si Perempuan Gila". Terpaku pada mata indahnya, Michael berjanji akan memberikan apa pun sebagai balasan hutang nyawa.
Kini, Michael dipaksa menikahi Ashlyn, putri konglomerat manja yang ia anggap membosankan dan lemah. Michael tidak tahu bahwa di balik sikap manja dan keluhan konyol istrinya, Ashlyn adalah sang legenda bertopeng yang selama ini ia cari.
Permainan kucing dan tikus dimulai. Di siang hari ia menjadi istri yang merepotkan, namun di malam hari, ia adalah ratu kegelapan yang memegang nyawa suaminya sendiri. Akankah Michael menyadari bahwa wanita yang ia tidak sukai adalah wanita yang paling ia gilai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelindung di Balik Layar
Malam semakin larut, namun mansion Michael masih terasa berdenyut oleh ketegangan yang tak kasat mata. Setelah mengantar Ashlyn pulang ke rumahnya sendiri, Michael tidak langsung tidur. Ia duduk di ruang kerjanya, menatap rekaman CCTV dari galeri Tante Linda tadi sore.
Ia memutar ulang bagian di mana Ashlyn berbisik pada Clara. Michael tidak bisa mendengar suaranya, tapi ia melihat ekspresi Clara yang berubah dari angkuh menjadi pucat pasi seolah sedang melihat malaikat maut.
"Siapa kau sebenarnya, Ashlyn?" gumam Michael sambil meraba-raba pemantik api di mejanya.
Sementara itu, di kediaman Ashlyn yang terlihat feminin dan penuh dengan barang-barang bermerek, suasana sangat berbeda. Begitu pintu terkunci, Ashlyn langsung menendang sepatu hak tingginya ke sembarang arah. Wajah manisnya hilang, digantikan oleh sorot mata tajam yang dingin. Ia menekan sebuah tombol tersembunyi di balik lemari pakaiannya. Rak-rak baju itu bergeser, menampakkan sebuah ruang kendali kecil yang dipenuhi layar monitor.
"Lapor," ucap Ashlyn singkat sambil mengenakan tactical suit hitam yang melekat ketat di tubuhnya.
"Nona, pengiriman logistik SM Corporation sedang dibuntuti oleh kelompok tentara bayaran di sektor timur. Tampaknya orang itu tidak main-main dengan ancamannya untuk merusak bisnis Tuan Michael," suara asistennya terdengar dari earpiece.
Ashlyn tersenyum miring. Ia tidak bisa membiarkan aset Michael hancur—bukan karena cinta, tapi karena itu akan mengganggu rencananya. Ia segera merogoh sebuah topeng cantik miliknya, menutupi matanya hingga hanya menyisakan bibirnya yang cantik.
"Aku akan turun tangan sendiri. Michael terlalu kaku untuk menangani tikus-tikus seperti mereka."
Ashlyn melompat keluar dari jendela lantai dua, mendarat dengan senyap diatas rumput. Dengan kecepatan luar biasa, ia memacu mobil hitamnya menuju sektor timur.
Di Sektor Timur, 30 Menit Kemudian...
Suara desingan peluru memecah kesunyian malam di gudang pelabuhan. Michael ternyata sudah ada di sana lebih dulu, terjebak di balik tumpukan kontainer bersama dua pengawalnya. Mereka terdesak.
"Tuan, jumlah mereka terlalu banyak!" Teriak salah satu pengawal Michael.
Michael mengokang pistolnya, matanya menyapu area sekitar dengan penuh amarah. Tepat saat seorang penembak jitu dari arah gedung sebelah hendak menarik pelatuk ke arah kepala Michael, sebuah pisau lempar perak melesat menembus udara dan menancap tepat di tenggorokan penembak jitu itu.
Srett!
Sosok wanita bertopeng hitam dengan mawar terukir emas itu muncul dari kegelapan, bergerak secepat bayangan di antara kontainer. Ia sengaja tidak menggunakan senjata api; ia menggunakan dua bilah belati pendek, menebas musuh dengan presisi seorang algojo.
Michael terpaku sejenak melihat aksi wanita itu. Si Perempuan Gila.
Hanya dalam waktu lima menit, area itu bersih. Wanita itu berdiri di atas tumpukan palet, menatap Michael dari kejauhan. Michael segera mengejarnya, melompati rintangan demi rintangan.
"Tunggu! Siapa kau sebenarnya?!" teriak Michael.
Setelah sekian lama, akhirnya Michael melihat wanita itu kembali. Wanita itu berhenti sejenak, menoleh ke arah Michael. Ia tidak bicara, tapi ia melakukan sesuatu yang membuat jantung Michael berhenti berdetak sesaat. Ia mengangkat tangannya, lalu menjentikkan jarinya ke udara ke arah Michael—sebuah gerakan yang sangat mirip dengan cara Michael menjentik dahi Ashlyn.
Ingin sekali Michael mengikat wanita itu secepatnya. Namun sebelum Michael bisa mendekat, wanita itu melompat ke arah kegelapan dan menghilang.
Michael berdiri mematung di tengah hujan yang mulai turun. Ia merogoh sakunya tangannya sedikit gemetar. Aroma yang ditinggalkan wanita itu... aroma vanilla yang samar, bercampur dengan bau mesiu.
‘Ashlyn?’ batin Michael menepis pikiran gilanya. ‘Tidak mungkin. Ashlyn sekarang pasti sedang tidur sambil memeluk boneka beruangnya.’
Namun, kecurigaan itu kini telah tumbuh menjadi api yang tidak bisa padam. Michael kembali ke mansionnya dengan pakaian yang sedikit berantakan. Ia langsung menuju ruang rahasia di bawah perpustakaannya. Di sana, deretan senjata kelas militer tersusun rapi—namun bukan untuk dijual sembarangan. Michael adalah sosok yang memastikan bahwa senjata-senjata ilegal yang masuk ke kota ini tidak jatuh ke tangan sindikat yang salah. Ia adalah "Penyaring" berdarah dingin.
"Tuan, pengiriman tadi malam sudah diamankan," lapor tangan kanannya, Rans. "Tapi... wanita bertopeng itu. Dia meninggalkan sesuatu."
Rans menyerahkan sebuah pisau lempar perak. Michael meraba-raba ukiran di gagang pisau itu. Sangat halus, sangat presisi. Hanya ada satu bengkel senjata di dunia yang bisa membuat ini, dan pemiliknya sudah meninggal lima tahun lalu. Ayah Ashlyn.
Rahang Michael mengeras. "Cari tahu di mana Ashlyn berada sekarang. Jangan lewatkan satu detik pun."
Sementara itu...
Ashlyn sedang duduk di bar mewah miliknya yang dikelola oleh sekretaris setianya. Ia mengenakan gaun sutra merah, tampak sangat kontras dengan luka goresan kecil di lengannya yang baru saja ia tutup dengan plester transparan.
"Nona, Michael mulai melacak sumber pisau itu," bisik sang sekretaris.
"Biarkan saja. Kalau dia tidak bisa menemukan jejaknya, dia bukan Michael yang ku ingat," sahut Ashlyn santai sambil menyesap minumannya. "Dia pikir dia sedang membersihkan kota dengan mengontrol lalu lintas senjata? Dia tidak tahu kalau aku yang memasok senjata-senjata 'bersih' itu ke gudangnya lewat jalur anonim."
Tiba-tiba, pintu bar terbuka. Michael masuk dengan aura yang sanggup membekukan ruangan. Ia tidak basa-basi, langsung berjalan ke arah meja Ashlyn dan duduk di hadapannya.
"Jam dua pagi, Ashlyn. Dan kau ada di bar?" Michael menatapnya tajam, matanya tertuju pada lengan Ashlyn yang tertutup syal.
"Michael! Kamu mengagetkanku! Aku kan tidak bisa tidur karena takut kejadian di galeri tadi," rengek Ashlyn, langsung berubah menjadi mode manja. "Aku butuh minuman hangat agar tenang. Kenapa wajahmu seram begitu?"
Michael tidak menjawab. Ia tiba-tiba meraih tangan Ashlyn, menarik syal itu sedikit. Ia tidak menemukan luka karena Ashlyn sudah sangat ahli menyembunyikannya, tapi ia mencium sesuatu.
"Bau mesiu," desis Michael. "Kenapa calon istriku yang manja ini berbau seperti medan perang?"
Ashlyn tertawa renyah, meski hatinya waspada. "Mesiu? Oh! Mungkin karena tadi aku menyalakan kembang api di balkon? Aku kan merayakan kemenanganku atas Clara! Kamu aneh deh."
Michael terdiam sejenak. Ia melihat ke arah dahi Ashlyn yang masih sedikit kemerahan. Tanpa peringatan, ia kembali menjentik dahi itu. Plak!
"Aduh! Michael! Kamu ini hobi banget ya menyiksa jidatku!"
"Itu agar kau bangun dari mimpimu," ucap Michael. Ia mendekatkan wajahnya, suaranya kini berbisik sangat rendah.
"Wanita bertopeng tadi... dia menjentikkan jari padaku. Gerakannya persis seperti yang sering kulakukan padamu. Kebetulan yang lucu, bukan?"
Ashlyn tertegun sesaat, tapi ia langsung memasang wajah polos paling menyebalkan yang ia punya. "Wanita bertopeng? Maksud kamu apa? Jentik jari? Wah, apakah dia melakukan aksi yang keren padamu? Ayo, coba ceritakan padaku!" Tenang, sangat tenang. Ashlyn tau, kalau Michael sedang mencurigainya.
Michael berdiri, ia merasa sedang berbicara dengan tembok yang dilapisi permen karet—manis tapi sulit ditembus. "Pulang sekarang. Aku akan mengantarmu. Dan jangan pernah berpikir untuk keluar rumah lagi malam ini."
Saat mereka berjalan menuju mobil melewati pilar-pilar bar, Ashlyn diam-diam merogoh saku jas Michael saat dia berpura-pura tersandung. Ia berhasil mengambil chip memori kecil dari saku Michael—chip yang berisi data transaksi senjata ilegal yang sedang dikerjakan Michael.
‘Maaf, Michael,’ batin Ashlyn sambil tersenyum manja di balik pundak Michael. ‘Bisnis ini terlalu bersih kalau kamu yang pegang. Aku butuh sedikit 'kekacauan' untuk memancing pembunuh ayahku keluar.’
Michael membukakan pintu mobil dengan kasar. "Masuk."
"Galak banget sih, calon suamiku sayang!" seru Ashlyn sambil masuk ke mobil, bersiap untuk babak kucing-kucingan berikutnya.
Malam semakin dingin saat Michael mengantar Ashlyn sampai ke depan rumahnya. Suasana di dalam mobil terasa kaku. Michael masih memikirkan wanita bertopeng itu, sementara Ashlyn sibuk berpura-pura mengantuk, kepalanya bersandar di jendela kaca.
"Tidurlah yang nyenyak, Michael. Jangan biarkan imajinasimu tentang 'wanita bertopeng' mengganggu mimpimu," ucap Ashlyn dengan nada menggoda, karena sedari tadi dia memperhatikan Michael seperti orang yang tengah berpikir.
Michael tidak menjawabnya, ia hanya menatap Ashlyn lekat-lekat sambil melambaikan tangan dengan ceria, lalu melompat turun dan masuk ke rumahnya.
Begitu pintu tertutup, Ashlyn langsung menuju ruang kerjanya. Ia memasukkan chip yang ia ambil dari saku Michael tadi ke dalam komputer supernya. Layar monitor langsung menampilkan grafik transaksi senjata yang sedang direncanakan Michael untuk minggu depan.
"Sudah kuduga," gumam Ashlyn, matanya yang tajam menatap satu nama vendor di layar. "Michael... kau masuk ke lubang buaya. Vendor ini bekerja untuk kelompok yang membunuh ayahku."
Ashlyn menyadari bahwa Michael sedang mencoba membeli stok senjata besar-besaran untuk dimusnahkan agar tidak beredar di pasar gelap. Itu adalah niat baik Michael—membersihkan kota. Namun, vendor tersebut sebenarnya berniat menyergap Michael saat transaksi berlangsung.
"Nona, apa kita harus memberitahu Tuan Michael?" tanya asistennya lewat sambungan telepon.
"Tidak. Dia terlalu sombong untuk mendengarkan 'calon istrinya yang manja'," Ashlyn tersenyum miring sambil meraba-raba kalung peninggalan ayahnya. "Biarkan dia melakukan transaksinya. Aku yang akan membereskan para pengkhianat itu dari kejauhan. Michael harus tetap percaya bahwa dia adalah orang paling berkuasa di sini, padahal akulah yang menjaga jalannya tetap bersih."
Keesokan Harinya...
Michael datang ke apartemen Ashlyn tanpa pemberitahuan. Ia menemukan Ashlyn sedang duduk di taman belakang, mengenakan topi pantai besar dan sibuk memberi makan ikan di kolam dengan gerakan yang terlihat sangat malas.
Michael berjalan mendekat, bayangannya menutupi kolam ikan itu. Ashlyn menengadah. "Michael! Tumben sekali datang pagi-pagi? Mau mengajakku belanja?"
Michael tidak menjawab. Ia berlutut di samping kursi Ashlyn, menatap matanya dalam-dalam. "Aku akan pergi keluar kota selama dua hari untuk urusan bisnis. Tetaplah di rumah. Apapun yang terjadi, jangan keluar dari gerbang ini."
Tumben sekali, kapan terakhir kali ia begitu perhatian begini? Ashlyn bisa merasakan kekhawatiran yang tulus di balik nada bicara Michael yang kaku. Michael ingin menjauhkan Ashlyn dari lokasi transaksi yang berbahaya itu.
"Kenapa? Kamu takut aku kangen ya?" goda Ashlyn sambil merogoh saku jas Michael secara iseng, hanya untuk menggoda.
Michael menangkap pergelangan tangan Ashlyn, lalu seperti biasa, ia menjentik dahi Ashlyn pelan. Plak!
"Aku takut kau akan merepotkanku dengan tagihan belanja yang aneh-aneh kalau aku tidak ada," dusta Michael. Ia melepaskan tangan Ashlyn dan berdiri. "Ingat pesanku, Ashlyn. Jangan keluar rumah."
Begitu Michael pergi, Ashlyn berdiri dan membuang topi pantainya ke kursi. Ia menekan sebuah tombol di jam tangannya. "Siapkan helikopter pribadi di titik koordinat B. Michael akan berangkat ke dermaga seberang. Kita harus sampai di sana sebelum dia."
Ashlyn menatap langit dengan tatapan dingin. "Kau ingin membersihkan dunia ini, Michael? Mari kita lakukan bersama, meski kau tidak akan pernah tahu kalau aku ada di sampingmu."