NovelToon NovelToon
Target Di Balik Gerobak Penyamaran Sang Komandan

Target Di Balik Gerobak Penyamaran Sang Komandan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Dokter / Identitas Tersembunyi
Popularitas:9.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

​"Nikahi aku, Abang Tukang Bakso!"
​Demi menyelamatkan warisan Rumah Sakit dari ibu tiri yang kejam, Dokter Airine Rubyjane nekat menikahi Nata, pria penjual bakso di depan RS-nya. Airine pikir Nata hanyalah rakyat jelata yang mudah ia kendalikan.
​Namun, ia salah besar. Di balik celemek berminyak itu, suaminya adalah Arnold Dexter, Komandan Intelijen legendaris yang sedang dalam misi penyamaran mematikan.
​Satu per satu musuh Airine tumbang secara misterius. Saat cinta mulai tumbuh, Airine menyadari bahwa pria yang ia anggap "miskin" itu adalah predator paling berbahaya di negara ini yang sedang mengincar rahasia gelap kakeknya.
​"Aku bukan sekadar tukang bakso, Istriku. Aku adalah alasan musuhmu takut pada malam hari."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35: Siapa di Balik Layar?

"Nata, jangan buka buku itu sekarang. Tanganku... tanganku masih gemetar. Bisakah kita keluar dari ruangan ini dulu?"

Suara Airine nyaris tidak terdengar di tengah kebisingan taktis anggota tim Shadow Guard yang mulai mengamankan area perpustakaan. Ia berdiri mematung, menatap buku harian bersampul kulit hitam yang masih tergeletak di dasar brankas lantai kayu. Kata-kata terakhir Kakek Edward tadi seolah menjadi racun baru yang lebih mematikan daripada Cobra-9.

Arnold menoleh, matanya yang tajam melunak sesaat melihat istrinya yang tampak sangat rapuh. Ia segera melepas sarung tangan taktisnya yang kotor dan menggenggam jemari Airine. "Kita keluar dari sini, Airine. Satya, bawa buku itu dan tabung peraknya. Masukkan ke dalam kotak isolasi timah. Jangan biarkan siapa pun menyentuhnya tanpa perintahku."

"Siap, Komandan!" Satya bergerak cekatan, memasukkan barang bukti itu ke dalam koper khusus.

Arnold membimbing Airine keluar dari perpustakaan, melewati lorong-lorong rumah yang kini terasa asing dan dingin. Mereka berhenti di balkon belakang yang menghadap ke arah taman. Udara malam yang segar sedikit membantu Airine mengatur napasnya yang sesak.

"Airine, minumlah ini," Arnold menyerahkan sebotol air mineral yang ia ambil dari kantong taktisnya.

Airine meminumnya dengan rakus, lalu menyandarkan punggungnya di pagar balkon. "Nata... atau Arnold... apa maksud kakek tadi? Siapa yang mendanai proyek itu? Bukankah itu proyek ilegal yang dia bangun sendiri?"

Arnold menghela napas panjang, menatap lampu-lampu kota di kejauhan. "Di dunia intelijen, tidak ada proyek sebesar Cobra-9 yang bisa berjalan selama puluhan tahun tanpa 'restu' dari tingkat yang lebih tinggi. Edward Jane mungkin otaknya, tapi dia butuh perlindungan politik dan dana yang tidak terbatas."

"Maksudmu... pemerintah kita sendiri?" bisik Airine, matanya membelalak ngeri.

"Mungkin. Atau seseorang yang sangat dekat dengan kakekku dulu," Arnold mengepalkan tinjunya. "Edward menyebut nama kakekku, Alexander Dexter, sebagai orang yang dikhianati. Tapi bagaimana jika sebenarnya kakekku juga bagian dari mereka?"

"Tidak, Arnold. Jangan berpikiran buruk dulu," Airine meraih lengan Arnold, mencoba memberikan ketenangan yang ia sendiri tidak miliki. "Kakekmu adalah pahlawan negara. Dia tidak mungkin terlibat dalam pembuatan racun yang membunuh ayahnya sendiri."

"Itulah masalahnya, Airine. Di dunia ini, pahlawan dan pengkhianat seringkali hanya dipisahkan oleh satu lembar kertas kontrak," sahut Arnold pahit.

Tiba-tiba, Satya muncul di ambang pintu balkon dengan wajah pucat. Ia memegang tablet digital yang terhubung dengan enkripsi buku harian yang baru saja mereka temukan.

"Komandan... Anda harus melihat ini. Tim dekripsi baru saja membuka halaman pertama buku harian Edward Jane yang menggunakan kode digital tersembunyi."

Arnold menyambar tablet itu. Airine ikut mengintip dari balik bahu suaminya. Di layar itu, muncul sebuah pindaian dokumen transfer dana bertahun-tahun lalu. Ada sebuah logo yang sangat familiar bagi Arnold—logo dari unit intelijen pusat tempat Arnold bekerja sekarang.

"Dinas Intelijen Pusat?" Arnold tertegun, suaranya tercekat di tenggorokan. "Dana operasional Cobra-9 mengalir dari pos anggaran rahasia kantorku sendiri?"

"Lihat tanda tangannya, Arnold," bisik Airine, menunjuk ke bagian bawah dokumen digital tersebut.

Tanda tangan itu bukan milik Edward Jane. Itu adalah tanda tangan atas nama Jenderal Haryo, atasan langsung Arnold yang selama ini memberikan perintah untuk memburu Edward Jane.

"Jenderal Haryo... dia yang memberiku misi ini," Arnold tertawa getir, tawa yang penuh dengan amarah yang tertahan. "Dia mengirimku untuk menghancurkan laboratorium itu bukan untuk menghentikan racunnya, tapi untuk menghilangkan jejak keterlibatannya."

"Dan kakekku... kakekmu hanya dijadikan kambing hitam?" Airine menutup mulutnya dengan tangan. "Berarti selama ini kita hanya pion dalam permainan mereka, Arnold? Tuan Shen, Edward Jane... mereka semua hanya bagian kecil dari konspirasi Jenderal Haryo?"

"Sepertinya begitu," Arnold mematikan layar tablet dengan kasar. "Haryo ingin Cobra-9 yang sudah stabil. Dia ingin tabung yang ada di tangan kita sekarang. Itulah kenapa dia sangat ingin aku membawa 'sampel' kembali ke markas."

"Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Airine panik. "Jika kita kembali ke markas, kita akan mati. Jika kita lari, kita akan diburu sebagai pengkhianat negara."

Arnold menatap Airine, lalu menatap tim Shadow Guard-nya yang berdiri di kejauhan. "Satya! Berapa banyak orang di unit ini yang benar-benar setia padaku, bukan pada dinas?"

Satya berdiri tegak, memberikan hormat yang paling mantap yang pernah Airine lihat. "Dua puluh orang di rumah ini, Komandan. Kami semua adalah yatim piatu yang Anda selamatkan. Kami tidak melayani negara yang dipimpin oleh monster. Kami melayani Anda."

Arnold mengangguk. "Bagus. Matikan semua sistem pelacak di kendaraan kita. Kita tidak kembali ke markas. Kita menuju rumah aman di pinggiran Bogor. Dan Satya... siapkan konferensi pers rahasia. Jika kita harus jatuh, kita akan membawa Jenderal Haryo bersama kita."

"Tunggu, Arnold!" Airine menahan tangan suaminya. "Bagaimana dengan Kakek Edward? Dia sedang dalam perjalanan ke markas pusat dengan tim pengawal cadangan!"

Arnold tertegun. Ia menyadari satu hal yang mengerikan. "Sial! Tim yang membawa Edward itu... mereka bukan anak buahku yang asli. Mereka adalah tim kiriman langsung dari Jenderal Haryo!"

"Mereka akan membunuhnya di tengah jalan untuk membungkamnya!" teriak Airine.

"Kita harus memotong jalur mereka!" Arnold menyambar senjatanya lagi. "Airine, masuk ke mobil sekarang! Kita tidak punya waktu lagi untuk berdiskusi!"

Saat mereka berlari menuju mobil, sebuah helikopter hitam tanpa lampu navigasi tiba-tiba muncul di atas rumah Rubyjane. Suara tembakan mesin otomatis mulai menghujani taman, menghancurkan patung-patung marmer dan kaca-kaca jendela.

"TIARAP!" Arnold menarik Airine ke bawah perlindungan pilar beton. "Haryo tidak menunggu kita kembali. Dia ingin menghabisi kita di sini!"

Airine merasakan getaran di bawah kakinya akibat ledakan rudal kecil yang menghantam lobi depan. Di tengah kekacauan itu, ia menyadari satu hal: hidupnya sebagai dokter bedah yang tenang telah berakhir sepenuhnya. Sekarang, ia adalah istri seorang buronan paling berbahaya di negara ini, dan satu-satunya cara untuk bertahan hidup adalah dengan terus berlari di samping pria yang sangat ia cintai ini.

"Arnold, jika kita mati malam ini..." Airine berteriak di tengah kebisingan tembakan.

"Kita tidak akan mati!" Arnold mencium dahi Airine dengan cepat sambil membalas tembakan ke arah helikopter. "Pegang tas medismu! Kita akan keluar dari sini hidup-hidup, dan aku akan memastikan kamu bisa membedah wajah Haryo suatu hari nanti!"

...****************...

1
Abinaya Albab
beneran ini perang terakhir? duhhhh capek gk sih mereka baru mau bernafas lega ada lagi
Abinaya Albab: blm lagi bikin bakso urat ya Thor 😂🤭
total 2 replies
Abinaya Albab
baru ini aku baca novel yg tegangnya tak beesudahan... lanjut
Ariska Kamisa: terimakasih banyak kak 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
kakek jahat ga
aditya rian
sekalian updatenya banyak dong soalnya jadi penasaran banget
aditya rian
keren arnold
aditya rian
jangan marah dong... di awal jug udh bilang
hidagede1
ke inget nya sama jendral andika🤭
Ariska Kamisa: eehh??? 🤭🤭🤭
total 1 replies
umie chaby_ba
yah... thor.. ayo sih update nya yang banyak sekalian... aku ga sabaran
aditya rian: Airine mulai jeniusnya nih
total 2 replies
umie chaby_ba
ampe airine bingung manggilnya dua nama padahal satu orang 🤭🤭🫣
umie chaby_ba
waduh... judulnya aja bikin takutt... apakah... airine tidak terima dibohongi?
umie chaby_ba
hayoloh . ga bisa ngelak lagi nol
umie chaby_ba
Arnold udah demen banget nih
umie chaby_ba
bisa aja anjayy
umie chaby_ba
hayoloh....
umie chaby_ba
udah nge spill Mulu padahal Nata de Coco... tak mungkin Abang bakso seberani itu.. mikir dong airine...
Ariska Kamisa: aaa.. kaka niu bisa aja ceplosannya jadi mata de coco🤣🤣🤣
total 1 replies
umie chaby_ba
tuan Shen musuh sapa sih lu🫣
umie chaby_ba
udah komandan... cucu jenderal pula....👍
umie chaby_ba
secara komandan cuyyy....
umie chaby_ba
Arnold Dexter 😍
umie chaby_ba
tuan Shen ini.. jangan jangan orang terdekat 🫣
Ariska Kamisa: lanjut ikutin terus yaa biar tahu
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!