NovelToon NovelToon
Terjerat Cinta Sang Kapten

Terjerat Cinta Sang Kapten

Status: sedang berlangsung
Genre:Enemy to Lovers
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Rita Sri Rosita

Kirana, putri seorang menteri yang sedang naik daun, datang ke pedalaman demi meningkatkan citra politik ayahnya. Bersama reporter Carmen dan kameramen Dion, dia membuat konten kemanusiaan mengajar anak-anak desa dan memberi bantuan bersama prajurit TNI.
Kapten Damar ditugaskan mengawal kunjungan itu. sanf kapten menganggap Kirana hanyalah bagian dari panggung politik yang penuh pencitraan.
Semua berjalan lancar, hingga segerombolan pemberontak bersenjata menyerbu desa. Dalam kekacauan dan tembakan yang membabi buta, Damar harus membawa Kirana menyelamatkan diri ke dalam hutan.
Terpisah dari rombongan dan jauh dari sorotan kamera, Kirana untuk pertama kalinya menghadapi dunia tanpa privilese. Di tengah bahaya dan perjuangan bertahan hidup, tumbuh perasaan yang tak seharusnya ada antara seorang perwira yang terikat sumpah dan putri pejabat yang mulai melihat arti ketulusan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kapten Damar Yang Bikin Penasaran

Latar belakang Kapten Damar yang penuh rahasia membuat Kirana penasaran, siang itu mereka makan bersama anak-anak desa di lapangan terbuka suasana makan siang itu riuh dengan suara anak-anak dan penduduk desa.

Namun perhatian Kirana fokus tertuju kepada kapten Damar, matanya tak lepas memperhatikan gerak gerik kapten Damar.

Kirana mulai memperhatikan cara kapten Damar makan, cara kapten Damar berbicara, dan cara kapten Damar tersenyum.

“Kalau diperhatikan, dia lumayan juga,” gumam Kirana dalam hati, tanpa dia sadari sudut bibirnya ikut terangkat.

Dan di sisi lain meja, Carmen yang duduk bersebelahan dengan Dion menangkap pemandangan itu, lenganya menyikut Dion pelan.

“Shoot, cepat,” bisiknya seraya melirik kearah Kirana.

Dion mengernyit nampak bingung awalnya, namun Dion cepat paham, dia langsung mengangkat ponselnya diam-diam dan merekam.

Carmen dan Dion saling berpandangan, lalu tersenyum penuh arti.

“Tatapan penuh kekaguman,” bisik Carmen Dion mengangguk setuju.

"Apa gue up aja ke media sosial," Celetuk Dion

“Jangan dulu,” jawab Carmen.

“Lucu juga ngeliat mereka begitu,” kata Carmen lagi.

Sementara itu, Kirana masih tenggelam dalam pikirannya sendiri, tatapannya terus mengikuti gerakan Damar.

Saat seorang anak kecil menjatuhkan sendoknya, Damar dengan sabar memungutnya.

“Pelan-pelan makannya,” kata Damar lembut.

“Siap, Kapten.” jawab anak itu sambil tertawa.

Kirana mengamati semuanya tanpa disadari dia ikut tertawa.

“Dia cukup memiliki daya tarik,” pikir Kirana masih menatap Kapten Damar penuh kekaguman.

Namun tiba-tiba Damar mengangkat wajahnya, tatapan mereka bertemu, mata Damar yang tajam, langsung menangkap Kirana yang sedang memperhatikannya.

Kirana tersentak dia buru-buru menunduk dana0 pura-pura sibuk dengan makanannya.

“Duh ngapain sih gue liatin dia?” celetuk Kirana pelan menggerutu memaki dirinya sendiri.

Damar tidak berpikir apa-apa dia hanya menatapnya sebentar sebelum kembali berbicara dengan anak-anak.

Namun tatapan singkat itu tanpa di duga membuat Kirana semakin terobsesi dengan kapten Damar.

Sore harinya, suasana desa mulai tenang, tanpa sorotan kamera dan tanpa ditemani anak buahnya, Kapten Damar terlihat berjalan keluar dari desa bersama beberapa anak.

Mereka berjalan menuju sebuah sungai yang cukup jauh dari desa itu, Kirana yang sejak siang memperhatikan kapten Damar segera bangkit dari kursinya.

“Aku cuma mau jalan-jalan,” gumamnya pada diri sendiri, lalu diam-diam Kirana mengikuti mereka dari belakang sedikit menjaga jarak.

Anak-anak itu tertawa riang di sepanjang jalan, dan akhirnya mereka sampai di sebuah sungai kecil yang airnya terlihat sangat jernih.

Beberapa anak langsung berlari dan melompat kedalam air sungai itu.

“Kapten!” teriak salah satu dari mereka.

Damar menoleh lalu tersenyum, setelah itu Damar berjalan sedikit menjauh dari kerumunan anak-anak, sedang Kirana bersembunyi di balik pohon besar sambil terus mengintip.

Lalu tiba-tiba Damar melepas jaketnya kemudian kaosnya.

“Hah, dia buka baju?” celetuk Kirana refleks.

Kirana buru-buru menunduk, namun rasa penasaran membuat matanya perlahan menatap ke arah kaptem Damar, tubuh Kapten Damar terlihat atletis dan kekar, bekas luka kecil tampak samar di bahu dan lengannya.

“Ini bukan kejahatan, aku tidak sengaja melihat,” gumam Kirana mencoba meyakinkan dirinya sendiri.

Damar kemudian melangkah ke sungai dan membenamkan tubuhnya ke dalam air, kini yang terlihat hanya bagian dada dan bahunya.

Kirana menelan ludah masih menatap Damar dari kejauhan.

“Aku tidak tertarik padanya,” bisiknya. “Aku cuma penasaran.” katanya berhenti sejenak.

“Ya, walaupun dia tampan dan tubuhnya juga bagus.”

Tanpa sadar Kirana menelan ludah.

Tiba-tiba Damar menyelam ke dalam air, dalam hitungan detik dia tidak muncul lagi.

Kirana mulai panik mencari sosok Damar.

“Dia ke mana?” gumamnya sambil menoleh ke segala arah, matanya mencari-cari Damar di permukaan air yang tenang.

“Jangan-jangan," Wajahnya langsung pucat.

“Dia dimakan buaya?!” kata Kirana panik, Kirana beranjak hendak berlari memanggil bantuan.

Namun saat dia berbalik seseorang sudah berdiri tepat di belakangnya.

Kirana menabrak dada orang itu dan hampir terjatuh. Kapten Damar dengan cepat menangkap tubuhnya.

Mata mereka bertemu Damar tersenyum tipis lalu,

“Mbak Kirana ngintip saya?” tanya Damar santai, matanya menyelidik.

Wajah Kirana seketika merah padam.

“Nggak! Saya nggak sengaja lewat!” bantah Kirana cepat sambil menggeleng.

“Saya tahu Anda mengikuti saya,” kata Damar tenang.

“Jangan menuduh! Saya cuma kebetulan lewat.” sahut Kirana kikuk mencoba mengelak.

Damar mengangkat alisnya sedikit, masih menatap Kirana penuh selidik.

“Hoody merah Anda sangat mengundang perhatian.”

Kirana langsung menunduk melihat pakaian yang dia kenakan. Kirana seketika panik, Damar tersenyum tipis.

“Saran saya, kalau mau menguntit seseorang, jangan pakai sesuatu yang terlalu mencolok.” Celetuk Damar sedikit menahan tawa.

“Saya tidak mengintip!” protes Kirana kesal dia mencoba melepaskan diri dari pegangan Damar, Kirana langsung berlari sekencang mungkin menjauh dari Damar.

“Memalukan!” gerutu Kirana sambil berlari kecil.

Dari belakang Damar hanya menatap punggung Kirana yang semakin menjauh.

Namun beberapa saat kemudian Damar berjalan bergegas mengikuti Kirana bukan untuk mengejarnya.

Melainkan memastikan Kirana tidak tersesat atau celaka di hutan.

“Benar-benar wanita yang merepotkan,” gumam Damar pelan.

1
sitanggang
mcnya ternyata goblok🤦🤦
Rosie: Baca J.R.R Tolkien aja cocok buat anda jangan novel online.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!